
"Lepas!" teriak Indah sambil mengibaskan tangan seseorang yang menariknya. "Kenapa chef Bram selalu saja melindungi mereka? Apa karena mereka sahabat chef Bram?"
Bram terkejut, ia tidak menyangka gadis polos di depannya ternyata sudah tahu banyak lebih banyak dari yang ia tahu, "Jadi kamu tahu_!"
Indah menghapus air matanya dan memandang Bram dengan remeh, "Apa karena aku dari kampung hingga semua orang menganggapku bodoh? Asal chef Bram tahu, aku tidak sebodoh itu."
Indah tidak berniat untuk kembali ke ruangan itu, ia lebih memilih berlalu pergi sedangkan Bram masih terpaku di tempatnya menatap kepergian Indah.
"Jadi sikap ini yang Bima maksud? Jadi Indah sudah tahu semuanya?"
Bram pun memilih kembali ke ruangan Renata,
"Kemana saja sih Bram, lama banget?" tanya Bima yang hampir saja menyusulnya, ia juga melihat tangan Bram yang tidak membawa apapun, "mana makanannya?"
Tapi Bram bukannya menjawab, ia lebih tertarik untuk menatap Bima dan Renata bergantian.
"Bram, ada apa?" tanya Renata yang masih duduk di atas tempat tidur.
"Kalian_!" Bram mengangkat jari telunjuknya dan mengarahkan kedua orang yang ada di depannya, "Kalian benar-benar berhasil membuat seseorang kehilangan kepercayaannya pada orang lain."
"Bram, kamu bicara apa sih?"
Bram tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Bima, ia memilih berlalu begitu saja dan menutup pintu kamar itu dengan sangat kasar.
__ADS_1
Bima yang merasa ada masalah serius segera berpamitan pada Rena dan mengejar Bram.
Bram sudah hampir menaiki mobilnya tapi segera pintu yang di telah di buka itu di tahan oleh Bima,
"Bram, jelaskan ada apa sebenarnya?"
Bram menatap tajam pada Bima lalu ia mendorong tubuh sahabatnya itu hingga mundur beberapa langkah, "Lo benar-benar ya, Lo tahu hari ini indah datang ke sini?"
"Indah?"
"Iya. , dia lihat kamu bermesraan dengan Renata!"
Seketika kaki Bima terasa lemas, ia sampai jongkok di tempatnya mengusap wajahnya secara kasar menggunakan kedua tangannya.
Bima pun kembali berdiri dan meletakan tangan sebelahnya ke bahu Bram, "Aku pinjam mobil kamu ya, sekalian titip Rena!"
Walau sekesal apapun di pada sahabatnya itu tetaplah dia sahabatnya, "Semoga berhasil!"
"Hmmm!"
Bram pun memundurkan langkahnya, ia segera memberi kesempatan untuk Bima masuk ke dalam mobil.
Indah yang sudah berada di dalam taksi terus menangis, bahkan sampai sopir taksi itu tidak berani bertanya apapun melihat penumpangnya tengah menangis.
__ADS_1
"Mas Bima jahat banget sih sama Indah. Bisa tidak sih dia mengatakan yang sejujurnya, tidak perlu kucing-kucingan begini, Indah juga punya perasaan!"
Berkali-kali ponselnya berdering, dan semuanya dari Bima. Bima terus melakukan panggilan tapi Indah terus merejecknya.
Ia memang ingin membalas apa yang di lakukan Bima dan Renata terhadapnya, tapi ternyata tetap saja ia tidak sekuat itu untuk melakukan sejauh ini.
"Apa aku ke rumah orang tua mas Bima? Iya, aku harus tahu semuanya!" Indah segera menghapus air matanya, "Pak kita putra balik, kita ke alamat xxx!" ucapnya pada sopir taksi.
"Baik nona."
Bima yang mengejar, mengira Indah akan pulang ke apartemen dan ternyata di sana ia tidak menemukan siapapun.
"Indah, kamu di mana?" gumamnya saat memeriksa semua ruangan dan ternyata masih kosong, "apa mungkin sama pria itu lagi!?"
Bima pun kembali menyambar kunci mobilnya dan ia pun pergi untuk menemui Dava, ia tahu di mana Dava tinggal.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...