Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"

Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"
Ke pantai


__ADS_3

Bima menunjukan beberapa gambar Indah, semuanya di penuhi dengan gambar Indah. Indah begitu cantik di bawah langit senja.


"Ini bagus banget mas, kirimin ke aku ya mas!"


"Baiklah!"


Bima pun segera melakukan apa yang di perintahkan oleh Indah. Ia mengirim beberapa foto yang baru saja ia ambil. Hingga tiba-tiba ponselnya berdering, sebenarnya ini entah sudah beberapa puluh kali.


"Mas kenapa nggak di angkat? Siapa tahu penting!"


"Nggak usah, nanti aja!"


Itu adalah telpon dari Rena. Ia begitu malas menjawab telpon dari Rena.


"Kenapa tadi tidak jawab pesan aku?"


Pertanyaan Bima berhasil mengalihkan perhatiannya dari foto-foto itu.


"Ohhh itu_!"


Aku nggak mungkin kan bilang kalau selama di kampus bahkan si pria menyebalkan itu menyita ponselku ....


"Itu mas, di kelas soalnya. Jadi aku silent!"


"Benarkah? Tapi di langsung di baca!"


Dia benar-benar ya, berani-beraninya dia baca pesan aku ....


"Iya mas, pas mau bales langsung di tegur sama dosen!"


"Ohhhh!"


Bima pun kembali fokus pada langit senja yang sebentar lagi akan berubah menjadi gelap,


"Bagus ya?"


"Iya!"


Indah terpancing untuk ikut melihatnya.


Hal yang terindah adalah bisa sama kamu, mas ....


Indah bukannya menatap ke langit tapi ia malah menatap wajah suaminya yang begitu tampan di tanah sinar senja membuat garis wajah Bima semakin jelas.


Lukisannya begitu indah ...., rasanya ingin sekali menyentuhnya ....


Saat jakun Bima bergerak naik turun, Indah hanya bisa menelan Salivanya.


Ternyata Bima menyadari kalau Indah sedang memperhatikan wajahnya, ia pun menoleh dengan cepat hingga membuat wajah mereka begitu dekat.


Mata mereka saling bertemu, tatapan Bima beralih pada bibir merah nan Basar milik Indah. Beberapa hari ini bibir itu telah membuatnya gila, ia tidak bisa memikirkan hal lain selain bibir itu. Bayangan Indah menciumnya malam itu seakan selalu menari-nari di pelupuk mata. Bahkan ia tidak pernah membayangkan hal itu dari Rena.


Bima semakin mengikis jarak di antara mereka, hingga akhirnya bibir itu kini saling bertaut.


Bima menarik tengkuk Indah dan memperdalam ciumannya. Seakan dahaga yang ia alami beberapa hari ini terobati sudah.


Bima bahkan enggan untuk melepaskan bibir Indah, tangan Indah kini sudah mencengkeram kemeja Bima, menahan gejolak dalam dadanya. Ia juga tidak ingin ciuman itu segera berakhir.


Krukuuukkkkk


Tapi ternyata takdir berkata lain, perutnya berkomentar membuat Bima menjauhkan bibirnya.


Ha ha ha ....


Mereka saling tertawa,


"Kamu lapar ya?"


"Iya, aku dari pagi kan belum sarapan!" Indah bahkan tidak makan apapun semenjak berangkat. Di kampus bahkan ia tidak nafsu untuk makan karena Dava terus mengikutinya.


Krukyuuuuukkkk


Hal yang sama juga terjadi pada perut Bima, kembali mereka tertawa.


"Mas Bima juga lapar?"


"Iya!"


Bima pun langsung terdiri dan menarik tangan Indah,

__ADS_1


"Waktunya cari makan!"


Mereka pun bergandengan tangan menyusuri pasir pantai, sedangkan tangan kiri Bima memegang sepatu Indah.


Hingga mereka sampai di sebuah kedai makan tidak jauh dari bibir pantai,


Bima memesan berbagai makanan untuk mereka makan,


"Makanlah!"


"Ini banyak sekali mas, memang siapa yang apa habiskan?"


"Kita!"


"Memang habis?"


"Pasti habis!"


Mereka pun mulai makan, Indah benar-benar kalap. Ia bahkan tidak telaten menggunakan sendok. Ia memilih memakai tangan karena akan lebih mudah saat mengambil daging kepiting.


Bima tersenyum melihat tingkah Indah,


"Aku masih dalam tahap pertumbuhan mas, jadi wajar dong kalau makanku banyak!"


"Iya, habiskan!"


Hingga sebuah saos menempel di sudut bibir Indah. Bima yang sudah menyelesaikan makannya memilih untuk memperhatikan Indah yang masih asik makan.


Tangannya terulur dan menghapus saos dan bumbu yang menempel di sudut bibir Indah.


"Ada bumbu tadi!"


"Ini lapnya mas!"


Bukannya mengelapkan pada kain itu, bima malah memasukkan jarinya ke dalam mulut,


"Ihhh jorok mas!?"


"Siapa bilang, ini masih! Sudah lanjutkan makannya, atau mau nambah lagi?"


"Udah kenyang mas!"


Setelah Indah menyelesaikan makannya, Bima pun segera membayar makanannya.


"Memang di sini ada penginapan?"


"Ada!"


"Boleh mas menginap? Indah capek banget!"


"Boleh! Kita cari resort deket-deket sini ya, biar besok pagi bisa langsung lihat matahari terbit!"


Indah hanya mengangukkan kepalanya.


Mereka pun akhirnya menuju ke sebuah resort kecil yang paling dekat dengan pantai.


"Mandilah, aku akan Carikan baju ganti buat kamu!"


"Iya mas, tapi jangan lama-lama. Aku takut!"


"Iya, hanya di dekat-dekat sini aja kok!"


Setelah Bima pergi, Indah kembali menutup pintunya.


Ia tersenyum ketika mengingat bagaimana Bima menciumnya tadi.


"Ahhhh, aku malu ....!"


Indah menepuk-nepuk pipinya. Walaupun ini bukan pertama kalinya, seingatnya ini untuk kedua kalinya walaupun sebenarnya ini ketiga kalinya.


Indah memilih mencari ponselnya, tapi belum sampai ia menghubungkan ponselnya ke carger tiba-tiba ponselnya berdering. Telpon dari seseorang yang tidak ia kenal.


"Nomor siapa?"


Indah ragu untuk menjawabnya. Tapi beberapa detik kemudian ponsel ga berdering dari nomor yang sama.


"Jangan-jangan penting!?"


Indah pun segera menerimanya,

__ADS_1


"Hallo!"


"Hallo Indah, ini aku Rena!"


Rena ...., kenapa dia menelponku?


"Iya Rena, ada apa?"


"Apa Bima bersamamu?"


Hahhhhh???


"Maksudku, seharian ini dia tidak ke kantor. Ada beberapa pekerjaan yang seharusnya di kerjakan hari ini!" Rena segera meralat ucapannya.


Ohhh, aku pikir .....


"Iya Rena, apa mas Bima tidak menghubungimu?"


"Tidak, bahkan dia tidak membalas pesanku!"


"Hari ini mas Bima nemenin aku ke pantai, karena kemalaman jadi sekalian kami nginep di resort, rencana pulang besok pagi!"


"Hanya berdua?"


"Iya, kami kan suami istri!"


"Ahhh iya. Ya udah pesan aja sama Bima. Suruh hubungi aku ya nanti!"


"Iya!"


Tiba-tiba sambungan telpon terputus,


"Aneh banget dia, suami suami siapa, kenapa juga dia yang uring-uringan!? Jadi kesel!"


Indah pun melanjutkan rencananya mencas ponselnya dan segera ke kamar mandi. Ia sekalian mencuci baju kotornya agar besok sudah bisa di pakai lagi.


Ia keluar dengan mengenakan baju mandi, tapi Bima belum juga kembali.


"Sudah hampir satu jam, kira-kira dapat nggak ya mas Bima!"


Baru saja ia berencana untuk menyusul, pintu sudah di ketuk dari luar.


"Buka pintunya, Ndah! Ini aku!"


Indah tersenyum dan buru-buru membuka pintunya.


"Mas, kok lama sih?"


"Maaf, susah banget nyari baju yang pas buat kamu. Jadi aku cuma dapat ini!"


Dua kaos berukuran XL,


"Cuma atasan, trus bawahannya mana?"


"Ini!" Bima menunjukkan celana kolor pria. "Banyak toko yang sudah titip karena aku belinya kemalaman!"


"Nggak pa pa deh, aku pakek ini aja!"


Indah pun mengambil kaos oblong besar berwarna putih itu dan membawanya ke kamar mandi dan mengganti baju mandinya dengan kaos oblong itu.


Indah keluar dengan malu-malu, Bima yang hendak bergantian ke kamar mandi begitu tercengang melihat Indah yang terlihat seksi dengan kaos oblong kebesaran yang di pakainya hingga menampakkan paha mulus Indah.


"Mas!?"


"Ahhh iya!"


"Cepetan mandi, airnya dingin banget. Nanti kalau malam-malam mas Bima nggak akan berani mandi!"


"I_Iya, aku mandi!"


Bima dengan cepat masuk ke kamar mandi. Ia takut tidak akan bisa tahan jika terus menatap tubuh seksi Indah.


Indah yang sudah sangat lelah dan merasakan tubuhnya sudah segar, segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, hanya dalam hitungan menit saja ia sudah masuk ke alam mimpi.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2