Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"

Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"
Perubahan nasib


__ADS_3

"Mama, kenapa mama di sini?" tampak Bima mengedarkan pandangannya, ia melihat sekeliling mamanya tapi tidak menemukan siapapun atau apapun kecuali dua buah koper besar di tangannya dan penampilan sang mama yang berantakan.


"Bima!?" nyonya Rose akhirnya berhambur memeluk Bima.


"Kita masuk dulu, ma!"


Bima pun mengajak mamanya ke dalam,


"Siapa, Bim?" tanya Renata yang baru saja keluar dari dalam kamarnya, "Mama!?"


"Tolong ambilkan minum buat mama ya Ren!" pinta Bima saat Renata hendak mendekati sang mama.


Terlihat sekali wajahnya tidak suka, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti perintah Bima, ia berjalan ke dapur untuk mengambilkan segelas air dan membawanya ke depan.


"Ini ma!"


Nyonya Rose pun segera meneguk minumannya,


"Apa yang terjadi ma?" tanya Bima lagi. Renata kini juga sudah ikut duduk di sofa tapi di sofa yang berbeda.


"Mama di usir, Bim dari rumah. Hadi sama Indah itu benar-benar tidak punya perasaan!"


"Ma, sudahlah jangan menyalahkan orang lain atas apa yang telah mama perbuat. Trus mama tadi datang ke sini sama siapa? Di mana mobil mama?"


"Mama tinggal di tempatnya Bram, tadi mama ke sini di anter sama Bram!"


"Trus Bram nya?"


"Dia ada urusan katanya, salam saja tadi sama kamu!"


"Ya sudah. Kalau begitu mama tinggal di sini saja sama Bima dan Renata sampai Bima dapat tempat tinggal baru!"


"Maksud kamu?" Renata dan mamanya bertanya secara bersamaan.


"Kita tidak mungkin tinggal di rumah sebesar ini dengan keadaan ekonomi kita yang sekarang. Jadi aku sengaja jual apartemen buat beli rumah yang kecil saja biar sisanya bisa aku buat modal usaha."


"Tapi kamu kan masih kerja, Bim! Kenapa repot-repot cari modal usaha?" tanya Renata, ia benar-benar terkejut mendengar pernyataan Bima.


"Aku sudah mengundurkan diri!"


"Hahhhh, kamu benar-benar gila!" Renata begitu terkejut hingga ia berdiri dari duduknya.


"Aku tidak mungkin kerja satu tempat dengan Indah, jadi mengertilah!"


"Kamu itu terlalu polos Bima, mama benar-benar nggak ngerti cara berpikir kamu. Mama nyerah sekarang!?"


"Memang sudah seharusnya begitu ma. Biarkan Bima membuktikan, meskipun dengan keringat Bima sendiri Bima bisa bangkit."


"Entah lah, mama mau istirahat. Di mana kamar mama? Mama sudah pusing, mau mandi trus istirahat."


"Kamar yang paling ujung ma!"


Nyonya Rose pun kembali berdiri, "Bawakan koper mama ya, tangan mama capek!" ia pun mulai berjalan, tapi baru beberapa langkah dan nyonya Rose kembali berhenti,

__ADS_1


"Panggilkan mama tukang pijat, badan mama rasanya kaku banget kelamaan tidur di depan butik!" ucapnya dengan angkuh membuat Renata semakin kesal pada mama mertuanya itu, rasanya ingin sekali menyobek mulutnya yang licin itu.


Nyonya Rose pun kembali berjalan meninggalkan mereka. Kini Renata kembali menatap Bima.


"Bim, kamu serius dengan yang kamu katakan?"


"Hmm!"


"Kenapa?"


"Kamu sudah tahu masalahnya jadi jangan mempersulit semuanya!"


"Kalau sudah tahu begitu, kenapa masih mau nampung mama kamu. Kita buat hidup berdua saja akan sulit."


"Dia mama aku Rena, di sini yang ia punya hanya aku."


"Terserahlah, kamu membuatku semakin pusing!"


Renata pun memilih beranjak meninggalkan Bima yang masih terdiam di tempatnya.


Sebenarnya benar apa kata Renata, tapi ia juga tidak mungkin membiarkan mamanya lontang Lantung sendiri tanpa tujuan.


Bima menatap dua koper di depannya, ia pun segera mengangkat koper itu dan membawanya ke kamar sang mama, tepat saat ia masuk mamanya baru saja keluar dari kamar mandi dengan baju handuk melilit tubuhnya,


"Ini ma, kopernya! Kalau mama sudah lapar, nanti biar Bima pesankan makanan!"


"Nggak mama belum lapar. Gimana sudah dapat tukang urutnya?"


"Ma, di sini nggak bisa mama bersikap seperti sebelumnya, kalau mama butuh tukang urut nggak bisa serta Merta langsung datang, Bima harus cari dulu."


"Ma, itu terlalu mahal, rasanya uangnya sayang jika dua juta cuma buat urut aja. Biar Bima carikan tukang urut yang ada di sekitar sini saja, yang terpenting mama harus sabar."


"Kamu kok jadi perhitungan gini sih sama mama!"


"Nggak gitu ma, mulai sekarang kita harus pinter-pinter pilih pengeluaran, jangan sampek uangnya terbuang percuma."


"Jadi menurut kamu, pijit mama itu nggak penting!"


"Bukan begitu ma!"


"Udah lah Bima, kalau kamu masih sayang sama mama. Sekarang panggilan orang yang biasa pijitin mama dari salon madam Hana."


Hehhhh ....


Bima menghela nafas dalam, "Baiklah!" ia bingung harus menjelaskan bagaimana lagi dengan mamanya, "Tapi sekali ini saja, lain kali tidak."


...***...


Ini sudah kesekian Minggu Indah mulai aktif di perusahaan, Dio membatu semua hal yang ia tidak mengerti. Bahkan Dio tidak pernah absen untuk menemani Indah dalam berbagai meeting penting yang harus ia hadiri.


Tapi selama itu pula ia tidak pernah bertemu dengan Bima.


"Nona, ini beberapa berkas yang harus nona tanda tangani. Jika nona mau, nona bisa periksa dulu!" ucap Dio sambil menunjukkan di mana posisi-posisi yang harus di tanda tangani Indah.

__ADS_1


"Tidak perlu, saya percaya sama kamu. Tunjukan semuanya, biar aku langsung tanda tangani."


"Baik nona!"


Indah pun mulai mendatangi satu per satu dengan di tunjukan oleh Dio,


"Apa ini sudah semua?" tanya Indah sebelum Dio menutup kembali semua berkas itu.


"Saya rasa sudah, nona."


Selagi Dio merapikan semua berkas yang ada di depan nya, Indah tengah menyiapkan pertanyaan yang tepat pada pria itu.


"Sudah selesai, kalau begitu saya permisi!" ucap Dio setelah semua berkas berpindah ke tangannya.


"Tunggu!" ucapan Indah berhasil membuat Dio mengurungkan niatnya untuk pergi.


"Iya nona, ada yang bisa saya bantu lagi?"


"Emmm, sebenarnya saya hanya penasaran. Kenapa mas Bima tidak lagi datang ke kantor? Apa dia ada pekerjaan lain?"


Dio tampa terdiam sejenak tapi setelah menghela nafas ia pun mulai bicara,


"Sebenarnya pak Bima sudah mengundurkan diri satu bulan yang lalu!"


"Hahhh, satu bulan yang lalu? Kenapa?"


"Saya kurang tahu, pak Bima hanya berpesan agar saya bisa memperlakukan nona seperti saya bekerja dengan pak Bima. Maaf jika saya tidak mengatakannya sejak awal."


"Tidak pa pa, terimakasih ya. Kamu boleh pergi sekarang!"


"Baik nona, kalau begitu saya permisi!"


Akhirnya Dio pun benar-benar meninggalkan ruangan Indah. Indah masih terdiam di tempatnya, ia sesekali terlihat memainkan bolpoin di tangannya.


"Apa karena mas Bima ingin menghindar dariku?"


"Tapi kan mas Bima, kata pak Hadi masih memiliki sejumlah saham di perusahaan ini!"


Indah pun kemudian tertarik untuk melihat berkas tentang daftar saham perusahaan yang tengah ia pimpin saat ini, ia membuka laci yang ada di depannya. Baru kemarin daftar itu menjadi barang penting untuk mempertahankan posisinya.


Ia membuka lembar demi lembar berkas saham, mencari nama Bima di sana dan benar saja, namanya berada di posisi sepuluh teratas.


"Iya benar, dia ada di sini!"


"Ya sudah lah, mungkin ini sudah menjadi keputusannya. Kalau begini, aku bisa apa!"


Indah sudah tidak mau ambil pusing, walaupun Bima tidak bekerja lagi di perusahaan tetap saja uang bagi hasil atas sahamnya masih diberikan walaupun tidak sebesar saat ia bekerja di sana.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2