
Indah tampak ragu, ia tahu Dava berada di dalam ruangan itu, tapi apa yang akan ia katakan, mungkin akan menyinggung pria itu.
Tangannya tampak ragu untuk mulai mengetik, berdasarkan keterangan pelayan, Dava tengah sibuk di dalam.
Tok tok tok
Pintu itu tidak tertutup sempurna, membuat Indah tahu jika pria itu menatap ke arahnya,
"Boleh aku masuk?" tanyanya dengan tangan yang memegang handle pintu.
"Masuklah!" pria itu tampak menutup beberapa berkas di depannya.
Indah berjalan cepat menghampiri meja Dava,
"Duduklah!" pinta Dava lagi dengan tangan mempersilahkan.
Indah pun duduk di kursi yang berada di depan meja kerja dava,
"Sibuk ya?" tanya Indah berbasa-basi.
"Sedikit. Apa ada masalah?"
Indah menggelengkan kepalanya cepat,
"Dav, sebenarnya aku hanya ingin mengatakan kalau beberapa Minggu ini mungkin aku akan_!"
Indah tampak begitu ragu untuk mengungkapkan niatnya.
"Iya?"
"Aku akan menginap di rumah Aya, tidak pa pa kan?" tanya Indah tidak berani menatap ke arah Dava.
__ADS_1
Tapi raut wajah Dava seketika berubah, ia menatap lekat ke arah Indah,
"Atas alasan apa?"
"Hanya aku rasa beberapa tugas kuliah sedikit membuatku sibuk dan aku harus juga mengurus proses perceraian ku dengan mas Bima. Aku rasa jika tinggal sama Aya, aku bisa meminjam tugas Aya setiap hari."
"Hhhhh, baiklah. Kapan rencananya?"
Dava tidak marah?
Akhirnya Indah bisa bernafas lega, setidaknya apa yang ia katakan bukanlah sebuah kebohongan. Memang akhir-akhir ini tugas sangat banyak dan ia sedikit kewalahan.
"Kalau kamu tidak keberatan, rencananya besok setelah pulang kuliah, aku langsung ke kontrakan Aya."
"Baiklah, aku akan mengantarmu!"
"Tidak perlu!" Indah segera menolak, ia tidak mau membuat Dava semakin repot karenanya.
Dava yang sekarang sepertinya kembali pada Dava yang di dingin, yang dulu ia jumpai. Sedikit menakutkan tapi Indah tidak bisa melakukan apa-apa selain mengikuti apapun yang terjadi sekaran. Lagi pula kalau dia harus menerima Dava itu nanti saat ia benar-benar yakin dengan perasaannya.
"Baiklah, lanjutkan pekerjaanmu. Aku kembali ke kamar dulu!"
"Hmmm!"
...***...
Kini Indah sudah berada di kamar yang akan menjadi kamarnya selama beberapa bulan mungkin. Walaupun ia hanya berpamitan selama beberapa Minggu tapi ia yakin akan bertahan di tempat barunya lebih lama.
"Semoga kamu betah ya di sini, sempit tidak seperti rumah Dava!"
"Tidak pa pa, ini akan nyaman!" Indah meletakkan tas besarnya di samping tempat tidur, ia duduk di sana.
__ADS_1
Aya tampak mengulurkan sebuah gelas berisi air dingin, "Minumlah, aku belum beli apa-apa, nanti aku akan belanja. Kamu tidak pa pa kan aku tinggal sendiri?"
"Tidak pa pa. Aku juga capek! Maaf ya, lusa aku yang akan belanja!"
"Nggak usah sungkan! Sudah ya, aku pergi dulu. Oh iya, masukkan bajumu ke lemari yang sebelah itu masih kosong!"
"Siap!"
Aya pun meninggalkan Indah sendiri, ini bukan pertama kalinya Indah datang ke kontrakan Aya. Jadi bukan lagi menjadi hal yang asing.
Indah kembali bangun dan mengeluarkan semua bajunya, memasukkannya ke dalam lemari yang di tunjuk oleh Aya.
Tapi kemudian ia teringat sesuatu, ia tidak menemukan undangan yang di berikan oleh nyonya Rose kemarin,
"Dimana ya? Apa aku meninggalkannya di rumah Dava?"
Indah memeriksa tasnya sekali lagi, dan benar saja ia tidak menemukannya.
"Benar! Bagaimana ini? Tapi aku masih ingat dengan jadwalnya sih, tapi nggak penting juga sih!"
Indah kembali melanjutkan menata bajunya ke dalam lemari.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1