
Yang jadi pertanyaan indah saat ini, bagaimana bisa dan siapa istri baru papanya Bima. Sepanjang jalan ia terus memikirkan apa yang di bicarakan bima dengan mamanya.
Percakapan antara Bima dan nyonya Rose benar-benar terus terngiang di kepalanya.
"Sudahlah, bukan urusanku juga!" gumam Indah yang masih duduk di bangku penumpang sebuah taksi. Ia berusaha keras untuk tidak lagi mempedulikan hal itu.
"Yang harus aku lakukan sekarang adalah minta maaf pada Dava, dia sudah mendiamkanku!" ucapnya lagi, ia tidak peduli dengan pria yang tengah duduk di balik kemudi tengah memperhatikannya.
Akhirnya Indah memutuskan untuk langsung kembali ke rumah Dava dari pada mampir ke suatu tempat lebih dulu.
"Terimakasih ya pak!" ucap Indah setelah menyerahkan senilai uang yang di minta sopir taksi.
"Iya mbak!"
Setelah taksi pergi, Indah pun berjalan perlahan memasuki gerbang.
Beberapa penjaga langsung memberi hormat padanya. Langkah Indah melambat saat tepat di depan pintu utama,
"Ada mobil!?" gumamnya saat melihat mobil yang terparkir di depan rumah, itu bukan mobil Bima, "Sepertinya, Dava sedang ada tamu. Kayaknya nanti aja deh minta maafnya!" gumamnya, ia mengedarkan pandangannya.
Walaupun sudah hampir satu bulan tinggal di rumah itu,, tetap saja ia belum terlalu hafal dengan seluk beluk rumah itu, rumah itu terlalu besar untuk di kelilingi. Tapi ia ingat satu hal, di samping ada sebuah pintu yang langsung terhubung dengan dapur kecil dan kamar mereka.
Indah memilih masuk melalui pintu samping, ia langsung menuju ke kamarnya yang juga menjadi kamar Dava,
"Kamu siapa?"
Baru saja menutup pintu kembali, tapi pertanyaan seseorang membuat Indah terkesiap,
Ada orang lain ..., batin Indah, ternyata seorang wanita cantik tengah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur Dava.
"Kamu yang siapa?" Indah balik bertanya, ini kamarnya dan kamar Dava, walaupun tidak dalam satu ranjang tapi tetap saja kamar itu hanya memiliki satu pintu masuk.
"Kamu penyusup ya?" tanya gadis itu, wanita itu tampak bangun dari tidurnya dan menghampiri Indah.
"Bukan, tapi ini kamarku!" ucap Indah yang tidak mau kalah.
"Kamarmu?" wanita itu tampak mengerutkan keningnya,
"Hmmm!" jawab Indah dengan begitu yakin.
Wanita itu berjalan lebih dekat lagi pada indah, berjalan mengelilingi tubuh indah yang masih tetap berdiri di tempatnya,
Setelah beberapa putaran tiba-tiba wanita itu berteriak, membuat Indah terkejut dibuatnya.
"Mama ....!" teriak wanita itu membuat Indah bingung, "Mama, Dava nyembunyiin cewek, ma!"
Ini maksudnya apa? Mama siapa?
Baru saja Indah ingin bicara, pintu kembali di buka dan ternyata Dava dengan seorang wanita cantik seumuran dengan nyonya Rose.
"Ada apa sih Vi, ribut sekali!" protes wanita itu membuat Indah semakin tidak bisa berkutik.
Siapa lagi ini?
"Ini ma, Dava nyembunyiin cewek di rumahnya!" ucap wanita itu sambil menunjuk Indah.
Dava hanya terdiam, cepat atau lambat semua ini pasti juga akan terjadi.
Baguslah, semakin cepat semakin bagus ...
"Dava_!" wanita paruh baya itu menoleh pada Dava setelah melihat Indah. Ia seperti meminta penjelas dari Dava.
"Dia indah, pacar Dava ma!" ucap Dava dengan begitu yakin, seketika membuat dua wanita beda generasi itu histeris sampai menutup mulutnya.
"Kamu serius?" tanya mamanya dengan wajah sumringah. Ia sudah menunggu sampai kabar baik ini benar-benar datang.
Indah masih terlihat bingun dengan situasi yang terjadi, siapa sebenarnya dua orang yang tengah mengelilinginya itu.
__ADS_1
"Ya ampun, normal juga rupanya kamu! Aku pikir, pisang makan pisang!" ejek wanita muda itu membuat Dava memukul bahunya.
"Auhhh, sakit sekali tahu!" keluh wanita itu.
"Enak aja! Makanya mulut di jaga!"
"Ya mau bagaimana lagi, kamu paling anti sama cewek, eh tiba-tiba nyembunyiin cewek. Bukankah itu aneh!?"
Wanita paruh baya itu hanya bisa geleng kepala melihat perdebatan kedua buah hatinya, ia segera mendekati Indah yang masih terbengong, sepertinya tahu jika saat ini Indah tengah kebingungan.
"Sudah jangan dengarkan mereka, sekarang ikut mama. Kita ngobrol santai di luar!"
Indah hanya bisa pasrah saat wanita itu merangkul tubuhnya dan mengajaknya keluar.
Mereka sudah duduk di sofa diikuti Dava dan wanita muda itu.
"Maafkan kami ya, kamu pasti bingung sekarang karena kedatangan kami yang tiba-tiba. Kamu juga bisa menyalahkan Dava, bisa-bisanya dia tidak memperkenalkan kamu pada kami."
Indah hanya menganggukkan kepalanya, ia tidak tahu bagaimana caranya bersikap sekarang.
"Saya mamanya Dava dan Devi. Devi kakak perempuan Dava, kamu bisa panggil saya mama saja seperti mereka." ucap wanita itu dengan begitu lembut, sungguh jauh berbeda dengan perangai nyonya Rose. Setidaknya dengan sifat hangat mamanya Dava, Indah sedikit lebih nyaman.
"Ahhh, iya!" tapi tetap saja Indah masih belum bisa menghilangkan rasa terkejutnya.
Dan apa? Dava memperkenalkanku sebagai pacarnya? Mana bisa seperti itu, aku masih berstatus sebagai istri orang ...
"Jadi sekarang ceritakan semua tentang kamu!" ucap mama Dava lagi. Terlihat mama Dava dan Devi sudah begitu penasaran menunggu cerita dari Indah.
Indah bingung harus menceritakan yang mana tentang dirinya, saat ini harapannya hanya Dava.
Dan benar, beruntung Dava langsung peka dengan kebingungan Indah,
"Sudah ma, jangan ganggu Indah. Ia baru saja pulang dari kampus, dia pasti sangat capek!"
Dava segera menarik tangan Indah,
"Ehhh mau di bawa ke mana?" protes Devi.
"Pelit banget sih kamu!"
Tapi Dava tidak mendengarkan protes dari Devi, dan tetap membawa Indah kembali ke kamar,
"Jangan keluar dari sini sebelum aku memintanya!" ucap Dava setelah mereka berada di dalam kamar.
Indah mengangukkan kepalanya, "Hmmm!"
Setelah memastikan Indah mengerti dengan maksudnya, Dava pun kembali meninggalkan indah.
"Dava!"
Panggilan Indah berhasil membuat Dava menghentikan langkahnya tepat di depan pintu, ia kembali menoleh pada Indah.
"Terimakasih ya!"
"Hmmm!" kembali Dava ingin melangkahkan kakinya tapi Indah kembali bicara,
"Oh iya, maaf dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini!"
Dava hanya tersenyum dan benar-benar meninggalkan Indah. Ia mengunci pintunya dari luar.
Dava harus segera menghampiri mama dan kakak perempuannya. Dava kembali duduk bersama mama dan saudara perempuannya,
"Kamu curang sekali sih Dav, punya cewek di sembunyiin!" protes Devi lagi, ia masih begitu kesal dengan adik laki-lakinya itu.
"Kepo banget jadi orang!"
"Ini langka Dav, benar-benar langka. Seorang Dava punya cewek!"
__ADS_1
"Emang kamu sendiri punya cowok?"
"Punya lah, kamu aja yang nggak tahu!"
"Paling orang-orangan sawah yang mau sama kamu!"
"Jaga ya mulut kamu, jangan sampai aku meneror Indah biar geli sama kamu!"
"Awas ya, jangan sampai kelakuanmu membuat dia takut!"
"Sudah-sudah, kalian ini kalau ketemu sukanya berantem melulu!" mama Dava langsung menengahi perdebatan kedua anaknya itu.
"Bukannya mama tadi sudah mau pulang, Dava juga masih punya banyak pekerjaan!" ucap Dava kemudian.
"Kok malah ngusir kami sih, benar-benar tidak sopa!" protes Devi lagi. Dava dan Devi memang hanya terpaut usia dua tahun, itulah kenapa Meraka lebih mirip saudara kembar.
"Ayolah, lain kali aku pasti akan memperkenalkannya secara resmi!" kali ini Dava bicara lebih tenang dari sebelumnya.
"Ya sudah, mama pulang ya. Jangan lupa Minggu depan ada undangan makan malam sama kakek, jangan sampai tidak datang!"
"Iya ma!"
Dava pun mengantar mama dan saudarinya hingga ke depan. Mama Dava kembali berhenti sebelum benar-benar masuk ke dalam mobil,
"Mama pergi dulu, kalau punya waktu ajak Indah ke rumah!"
"Iya ma!"
"Kalau kalian sudah serius, segera menikah!"
"Hmmm!"
Akhirnya setelah segala bujukan, mama dan kakak perempuan Dava meninggalkan rumahnya juga.
Selama ini Dava memang sebagian tinggal terpisah dari keluarganya, sudah semenjak ia duduk di bangku SMA, semenjak ia di beri wewenang untuk memegang tanggung jawab perusahaan, terutama setelah papanya meninggal.
Setelah mereka pergi, Dava pun kembali menghampiri Indah yang sengaja ia kunci di kamar. Ia tidak mau membuat Indah menunggui terlalu lama.
Ceklek
Indah yang mendengar pintu di buka segera menghampirinya,
"Bagaimana dav?"
"Mereka sudah pergi! Istirahatlah, aku tidak akan mengganggumu!" Dava sudah hampir keluar kembali tapi Indah segera menarik tangannya.
"Tunggu Dava!"
"Aku akan pergi!"
"Jangan! Maafkan apa yang sudah aku katakan beberapa waktu lalu, sungguh aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya sedang terbawa emosi!"
"Aku tahu, tapi aku janji tidak akan mengganggumu sampai kamu benar-benar terbebas dari hubungan lamamu, jadi jangan khawatir. Dan saat itu tiba, aku orang pertama yang akan menemui dan memelukmu!"
"Tapi_!"
"Aku sibuk, masih ada pekerjaan yang harus aku kerjakan. Istirahatlah!" ucap Dava sambil mengusap kepala Indah dengan lembut kemudian benar-benar pergi meninggalkan Indah.
Saat seperti itu, Indah hanya bisa menghela nafas. Ia ingin sekali bercerita banyak pada Dava, tapi sepertinya Dava masih betah menghindarinya.
Indah kembali masuk ke dalam kamarnya, tidak berniat untuk melakukan aktifitas apapun, ia memilih membaringkan tubuhnya begitu saja di atas tempat tidur, bahkan ia tidak berniat untuk mengganti bajunya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...