
"Ya ampun Yusuf, kamu tahu aja kalau ada cewek cantik. Enak ya kalau jadi anak kecil, nggak takut di tampar meskipun sudah bicara sembarangan!?" pemuda yang tengah duduk di samping anak yang bernama Yusuf itu terlihat iri dengan Yusuf.
"Paman itu masih kecil, nggak usah mikirin tentang cewek. Kata ayah, mending serius sama kuliah."
"Chhhhhh, dia ini. Emang dia pikir lebih besar dari aku apa!?" gerutu pemuda itu dengan masih fokus pada jalanan.
"Setidaknya aku tidak perlu sekolah atau kuliah sekarang." ucap anak itu sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Bukan tidak perlu, tapi emang belum waktunya!" ucap pemuda itu sambil mengusap kepala Yusuf.
"Kebiasaan ya paman, aku nggak suka yang diginian. Memang aku anak kecil apa.!?" keluh Yusuf kesal karena rambutnya di usap oleh pemuda itu membuat sang pemuda tertawa.
Setelah hampir satu jam melakukan perjalanan, akhirnya mobil itu berhenti juga di depan sebuah gudang sayur, tampak di sana banyak penduduk kampung yang datang dan pergi, beberapa orang juga terlihat mengangkat dan memilah sayuran dan beberapa hasil pertanian.
"Ayahhhhh!?" Yusuf sudah turun dan berlari menghampiri seorang pria yang tengah membawa sebuah buku tebal di tangannya,
Pria itu segara menutup bukunya dan menatap anak itu dengan tatapan yang berhasil membuat Yusuf berhenti dan menundukkan kepalanya,
"Maaf ayah, ini bukan salah paman Andi."
"Ayah tahu_!"
"Yusuf cuma mau ikut ke kota, Yusuf menyusup di balik sayuran tadi pagi."
"Kamu tahu, apa yang kamu lakukan sudah membuat ayah khawatir."
"Tahu!?"
"Sudah tahu kan hukumannya apa?!"
"Baik ayah!"
"Cepat mandi dan segera lakukan hukumanmu!?"
"Iya ayah!"
Yusuf pun segera berbalik, ia mengambil sepeda kecilnya yang terparkir di sana dan mengayuhnya dan menuju ke rumah.
Hukuman yang harus ia dapatnya adalah menghafal satu surat pendek dan menyetorkannya pada guru ngajinya.
Ini bukan pertama kalinya Yusuf melakukan kesalahan, Yusuf kerap menyelinap di mobil pick up demi bisa ikut ke kota.
...***...
..."Yusuf, ayo cepetan makan. Ayah sudah selesai masak." panggil sang ayah membuat anak itu segera meninggalkan gadgetnya dan menghampiri sang ayah di ruang makan....
__ADS_1
"Duduk yang bagus, dan segera makan." ucap sang ayah sambil menggeser sebuah kursi untuk putranya itu.
Setelah itu dia memanjangkan nasi dan lauk ke atas piring yang ada di depan Yusuf, Ia pun juga melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan untuk Yusuf, kemudian ikut duduk.
"Berdoa dulu!"
"Iya ayah!" anak itu segera merentangkan tangannya dan melafalkan doa sebelum makan hingga di Akhirnya dengan mengusapkan kedua tangannya ke wajah.
"Bagaimana rasanya?" tanya sang ayah.
"Ayah semakin hebat masaknya, meskipun belum bisa mengalahkan masakan bibi Nurma."
"Isssttt, kamu mau muji masakan ayah atau mau mengkritik?"
"Dua-duanya!" ucap Yusuf sambil tertawa karena sudah berhasil menggoda ayahnya.
Dia adalah Bima, orang tua tunggal dari putranya yang bernama Yusuf. Sekarang bahkan hampir semua pemuda kampung tempatnya tinggal direkrutnya menjadi karyawan. Tugasnya hanya merekap dan mencari pelanggan untuk semua hasil panen petani.
Selain itu, ia juga membuka lahan pertanian dan beberapa petani menjadi pekerjanya yang di mandori oleh Dirman,
Nurma, istri Dirman masih kerap memasak untuk Bima dan yusuf, tapi tugas utamanya sekarang adalah mengawasi penimbangan sayur dan hasil panen lainnya.
Pick up nya bahkan sekarang sudah lebih dari dua pulih unit, tidak hanya di kampung tempatnya tinggal, ia juga membuka gudang sayur di kampung lain agar petani kampung lain tidak perlu kerepotan untuk setor sayurnya.
"Iya?"
"Tadi Yusuf ketemu sama bidadari."
"Bidadari?"
"Iya, bidadari yang ada di foto yang ayah simpan di laci!?"
Mendengar ucapan Yusuf, Bima ikut terdiam. Ia bahkan membiarkan mulutnya yang penuh dengan makanan dan menelannya begitu saj dengan susah payah.
Bima segara mengambil air putih yang ada di depannya dan meminumnya,
"Kamu.lihat di mana?"
"Di kota, nanti kalau Yusuf besar. Yusuf pengen nikah sama dia." ucap Yusuf dengan begitu polosnya.
Bagaimana bisa Yusuf ketemu sama Indah? Apa benar yang Yusuf temui itu Indah?
"Sudah jangan bicara yang aneh-aneh, kalau sudah selesai makannya segara cuci kaki cuci tangan trus tidur."
"Tapi Yusuf belum ngantuk."
__ADS_1
"Yusuf!?"
Melihat ayahnya yang menatap dengan tatapan yang serius itu, Yusuf tidak bisa.membantah lagi,
"Baik ayah. Selamat malam."
"Selamat malam."
Yusuf pun perlahan turun dari kursinya dan pergi ke kamar, sedangkan Bima ia benar-benar tidak bisa beralih dari memikirkan tentang uacpam Yusuf.
Indah, kenapa lagi dan lagi aku harus mengingatmu? Kenapa begitu sulit untuk melupakanmu meskipun aku ingin....
Tok tok tok
Suara ketukan di pintu depan berhasil membuat Bima tersadar dari lamunannya. Ia segera meminum kembali air putih yang masih tersisa dan meninggalkan meja makan. Ia menghampiri pintu depan dan membukanya.
"Assalamualaikum, mas!" sapa pria yang berdiri di depan pintu itu.
"Waalaikum salam, masuk Man!"
Mereka pun akhirnya duduk di sofa ruang tamu, sudah menjadi kebiasaan Dirman jika malam hari ia akan bertamu untuk melaporkan hasil kerjanya hari ini.
"Lusa sudah hari Sabtu mas, biasanya anak-anak akan minta bayaran."
"Kalau begitu seperti biasa saja, kamu ambilkan dari untung jualan hari ini, insyaallah cukup. Kalau tidak biar aku pergi ke kota untuk ambil uang. Soalnya beberapa pelanggan lebih suka melakukan transfer ke bank dari pada membayar dengan uang tunai."
"Iya mas, oh iya tadi penjual pupuk juga datang, dia bilang pengiriman pupuk akan datang terlambat."
"Kok bisa gitu?"
"Katanya truknya macet di perjalanan dan untuk sampai di sini butuh waktu dua hari lagi."
"Ya sudah, kalau begitu buat besok, pakek pupuk kompos yang ada di petani saja."
Selain mengambil pupuk sintetis, Bima juga mengambil pupuk kompos dari para petani, jadi selain hewan ternak yang menghasilkan, kotorannya pun juga bisa menghasilkan uang.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
^^^Happy Reading 🥰🥰🥰^^^
__ADS_1