Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"

Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"
Memilih pergi


__ADS_3

"Kamu serius menerima tawaran itu?" tanya Devi saat melihat berkas yang tengah di kerjakan oleh Dava.


Beberapa hari ini Dava begitu sibuk hingga ia bahkan tidak menerima telpon dari Devi atau mamanya, hal itu membuat sang mama cemas. Sang mama pun meminta Devi untuk mengunjungi Dava ke rumahnya.


Tapi saat sampai di rumah Dava, ternyata adik laki-lakinya itu tengah lembur di rumah kerja.


Devi yang tidak sabar menunggu hingga adiknya itu keluar, ia memilih masuk.


Karena Dava tidak juga merespon kedatangannya, Devi pun iseng melihat berkas yang tengah berserakan di depan meja Dava, tidak peduli dengan tatapan dingin dari adiknya itu, ia tetap memeriksanya.


Tapi begitu terkejutnya dia saat melihat berkas yang ada di depan adiknya itu, biasanya Dava selalu mengutus orang yang di percaya untuk perjalanan jauh dan dalam waktu yang terbilang lama, tapi jelas-jelas nama yang tertera di berkas itu adalah nama Dava, bukan orang lain.


"Iya!" ucapan Dava singkat itu membuat Devi membelalakkan matanya.


"Lima tahun bukan waktu yang singkat, Dava!" ucap Devi sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Dava,


"Ini kesempatan bagus!" ucap Dava sambil merapikan berkas-berkas yang berserakan itu tanpa mengindahkan ucapan Devi. Ia memasukkan semua berkas itu ke dalam sebuah map tebal dan menutup bolpoin yang terbuka, memasukkannya ke tempat bolpen.


"Bagus sih bagus, tapi bagaimana dengan Indah? Apa kamu pikir Indah senang dengan kamu melakukan ini?" tanya Devi saat Dava sudah beranjak hendak meninggalkan tempat itu, ia tidak mau adiknya menjadi seorang pengecut.


Ucapan Devi berhasil membuat langkah Dava terhenti, tapi ia juga tidak berniat untuk berbalik, pria itu tampak menyakukan kedua tangannya di saku celana panjangnya,


"Indah sudah menemukan kebahagiaannya, dan itu bukan aku!"


Karena Dava tidak berbalik, membuat Devi kesulitan melihat ekspresi wajah Dava saat ini.


"Ohhh, jangan-jangan alasan kamu pergi karena ingin menghindari Indah? Iya kan?" Devi mulai curiga dengan sikap Dava saat ini. Tidak mungkin jika tiba-tiba sikap Dava kembali dingin kalau bukan karena ada masalah.


"Bukan urusan kamu, lagian ngapain kamu di sini?"


"Aku sedang mencemaskan adikku yang bodoh ini. Dan ternyata benar, dia benar-benar bodoh!" Devi pergi dengan begitu marah.


Ia akhirnya memilih pergi meninggalkan Dava, melewati tubuh Dava dengan menyenggol bahu adiknya itu.


...***...


Di tempat lain, Indah tampak begitu cemas. Ini sudah hampir satu Minggu dan pria itu tidak juga menghubunginya.


Ia juga tidak mungkin pergi ke rumah pria itu saat ini,


"Dava kenapa nggak angkat telpon aku ya!?" gumam Indah, sudah beberapa hari ini Dava kembali menghindarinya, bahkan Dava sama sekali tidak mengangkat telponnya.


Aya yang baru saja memasuki kamar mengerutkan keningnya saat melihat Indah tampak melamun di atas tempat tidur,


"Mikirin apa sih Ndah?" tanyanya sambil menyusul duduk di samping Indah.


"Dava!" ucapnya tanpa mengalihkan tatapannya dari benda pipih yang ada di tangannya, "Dia sama sekali tidak menghubungiku, apa dia marah ya sama aku?"


"Tuh kan bener, kamu sudah mulai suka sama Dava!" ucap Aya membuat Indah menoleh padanya.


"Bukan seperti itu! Aku hanya mengkhawatirkan dia saja." ucap Indah, ia juga tidak tahu dengan perasaannya saat ini.

__ADS_1


"Kalian ini aneh, kadang tiba-tiba dekat. Ehhhh kadang tiba-tiba jauh. Benar-benar!" ucap Aya sambil menggelengkan kepalanya, beberapa hari yang lalu ia sempat bertemu dengan Dava di kampus, sepertinya ia tengah mengurus beberapa surat di ruang administrasi kampus, tapi saat Aya menanyainya Dava tidak bersedia menjawab.


Aya sengaja tidak menceritakan hal itu pada Indah sebelum ia benar-benar yakin dengan apa yang ia pikirkan.


"Pusing ah, lebih baik aku jalan-jalan ke taman aja deh!" Indah beranjak dari duduknya, "Ayo ikutan!" ucapnya lagi sambil menyambar outer yang tergantung di samping tempat tidur.


"Ogah males, aku masih ada janji sama Bu RT!"


"Sok sibuk banget, ngurusin apa sama Bu RT?"


Aya mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu, ia juga tidak tahu kenapa tiba-tiba Bu RT menghubunginya karena selama ini ia tidak pernah di libatkan dalam urusan warga.


"Jangan-jangan kamu mau di jodohin sama anaknya lagi." ledek Indah.


"Iya kali, anaknya aja masih umur sepuluh tahun. Keburu tua dong nungguin dia."


Ha ha ha


Indah tertawa mendengarkan hal itu,


"Ya udah deh kalau nggak mau, aku pergi sendiri!"


akhirnya Indah benar-benar meninggalkan Aya sendiri. Aya hanya bisa melihat pintu yang kembali tertutup itu.


"Jangan-jangan Dava benar-benar mau pergi! Kalau tidak salah surat yang di urus Dava kemarin surat kepindahan." gumam Aya, tapi lagi-lagi ia tidak yakin. Ia tidak ingin membuat Indah cemas karena apa yang ia ketahui.


"Lebih baik aku cari tahu dulu deh, kayaknya nggak pa pa deh kalau ke tempatnya Dava."


...***...


Karena ini hari Sabtu, taman mulai rame semejak siang. Karena Yaman menjadi tempat untuk menghilangkan penat yang paling murah, tentunya tanpa biaya sedikitpun.


Indah memilih duduk di dekat lapangan sambil melihat beberapa keluarga yang sengaja menghabiskan hari Sabtunya di taman.


Ada yang sengaja bermain bola, atau hanya sekedar duduk dengan menggelar tikar di atas rumput dengan berbagai camilan di depannya.


"Indah!?"


Indah begitu kenal dengan suara itu, rasanya begitu malas tapi mau bagaimana lagi. Mereka terlanjur bertemu.


"Ada apa lagi?" tanya Indah kesal, ia begitu malas untuk menanggapi wanita itu.


"Indah ini masalah Bima!?" walaupun wanita itu tidak mengatakannya, ia sudah tahu apa yang akan di bicarakan oleh wanita di depannya itu.


"Kenapa harus membicarakan soal mas Bima kepadaku, bicara langsung saja padanya!"


"Hanya kamu yang bisa membuat dia merubah keputusannya, Indah." wajah wanita itu tampak pucat, tidak seperti biasanya tapi tetap saja hal itu tidak membuat Indah bersimpati padanya.


"Hhhhh!" Indah menghela nafas, "Jadi kamu sejauh ini mencariku hanya untuk memintaku membujuk mas Bima?"


"Iya, aku mohon!" Renata tiba-tiba berlutut di depannya membuat Indah kebingungan dibuatnya karena banyak pasang mata yang tengah memperhatikan mereka.

__ADS_1


"Enggak! Urus saja urusan kamu sendiri, dan aku juga akan mengurus urusanku sendiri." walaupun Renata bersujud padanya, ia tidak akan mengubah keputusannya.


"Indah, kamu jangan egois! Aku mohon, hanya kamu yang bisa membantuku!"


"Jangan salah, bukan aku yang egois. Tapi kamu!" Indah mendorong tubuh Renata hingga wanita itu melepaskan kakinya.


Indah menunduk dan mengacungkan jari telunjuknya, "Untuk selanjutnya, jangan pernah cari aku lagi. Apapun yang terjadi."


Indah meninggalkan Renata yang terlihat menyedihkan itu.


Tapi baru beberapa langkah saja, tiba-tiba tubuh Renata limbung dan terjatuh ke tanah. Ia tidak sadarkan diri.


"Mbak, temannya pingsan!" ucap orang yang berada di depan Indah, hal itu berhasil membuat Indah kembali menoleh ke belakang dan benar Renata tertidur di tanah.


"Ren, kamu pura-pura kan?" tanya Indah yang enggan mendekat.


"Jangan di kira aku akan terpancing lagi ya dengan kebohongan kamu ini!?"


Tapi tetap saja masih belum ada respon dari wanita itu.


Apa jangan-jangan dia benar-benar pingsan ya ...


Indah pun akhirnya memutuskan berbalik,


"Ren, Renata!?"


"Kamu beneran pingsan ya?"


Indah menatap Renata yang sama sekali tidak menjawab ucapannya, ia berjongkok di samping Renata dan menepuk pipi wanita itu, tapi tetap saja tidak ada tanggapan.


"Kamu beneran pingsan!"


Indah mengedarkan pandangannya, dan orang yang memperingatkannya tadi sudah pergi,


"Tolong!"


"Tolong, teman saya pingsan!"


Beruntung beberapa orang mendengar teriakannya.


Beberapa orang pengunjung berdatangan untuk membantu Indah membawa Renata, Indah segera memesan taksi dan membawanya ke rumah sakit terdekat.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2