
Kini Bima dan Renata sudah sampai di sebuah kota kecil yang akan menjadi titik balik bagi Bima, ia ingin membuktikan ke semua orang bahwa dia buka hanya pria penikmat kekayaan orang lain, ia ingin membuktikan bahwa ia juga bisa berdiri di atas kakinya sendiri walaupun awalnya tertatih.
Mobil yang membawa mereka akhirnya sampai juga di depan rumah sederhana, ukurannya tidak lebih dari sepuluh kali sepuluh meter berlantai satu.
Tidak ada yang istimewa dari rumah itu, hanya pohon besar di depan rumah yang mampu membuat teduh rumah itu saat sore hari karena rumah menghadap ke barat.
"Ya ampun Bima ..., kamu yakin ini rumahnya?" tanya Renata tidak percaya, ini benar-benar tidak jauh beda dengan rumah orang tua Renata dulu.
"Iya, gimana? Apa kamu suka?"
"Suka apanya, kalau boleh milik aku lebih suka tinggal di rumah lama kita, besar, ada AC nya lagi. Kalau ini, aku yakin kipas angin aja nggak ada!"
"Nanti aku akan belikan untukmu! Lebih baik sekarang kita masuk saja."
"Bisa tidak sih, kamu merubah keputusan kamu? Susah ya susah, tapi nggak gini amet!"
"Terserah kamu!?" Bima memilih tidak berdebat dengan Renata, meladeni ucapan Renata bisa membuat kesabarannya benar-benar habis.
Bima merogoh saku celananya dan mengambil sebuah kunci dari sana, ia memasukkan kunci itu ke lubang kunci yang ada di pintu dan perlahan mulai memutarnya hingga bunyi ceklek menandakan pintu bisa di buka.
Bima pun menarik handle pintu dan akhirnya pintu perlahan terbuka. Ia kembali menarik koper yang ada di tangannya dan masuk ke dalam rumah itu, meninggalkan Renata yang masih betah berdiri di luar.
"Ya ampun, memang tidak ada yang lebih menderita dari ini?" gumam Renata kesal, tapi lagi-lagi tidak ada pilihan lain selain ikut dengan Bima.
Sabar, semua akan segera berakhir saat anak ini lahir ...
Renata menyusul Bima yang sudah berada di dalam kamar dan tengah membereskan baju-baju hendak memasukkannya ke lemari,
"Tunggu!"
"Ada apa lagi?"
"Kamu yakin ini kamar utamanya?"
"Iya, di sini hanya ada tiga kamar, ukuran kamar yang paling luas ini. Ada apa?"
"Aku pengen tidur sendiri di sini, kamar ini terlalu sempit buat aku, apalagi ini aku sedang hamil, tempat tidurnya tidak seluas di rumah lama. Jadi lebih baik kamu tidur di kamar lain."
"Terserah kamu!?" Bima pun begitu kesal, ia menutup kembali kopernya dan menariknya hendak membawanya pergi,
"Ehhh, mau ke mana?" pertanyaan Renata berhasil membuat Bima menghentikan langkahnya, ia tidak suka dengan panggilan Renata tadi.
"Aku punya nama!" ucap Bima kesal.
"Ribet banget sih, mau ke mana?"
"Ke kamar lain."
"Jangan main pergi aja, itu bajuku siapa yang akan memasukkannya ke lemari?"
"Kamu kan punya tangan, punya kaki."
"Kamu lupa aku hamil anak siapa? Mau aku kecapekan trus anak ini kenapa-kenapa?"
Ancaman Renata berhasil membuat Bima kembali, ia membungkam koper Renata dan memasukkan satu per satu baju Renata ke dalam lemari kayu.
"Sudah, sekarang apa lagi?"
"Cukup. Kau mau istirahat! Pergilah!?"
__ADS_1
Bima pun keluar kamar dengan begitu kesal. Ia tidak mengerti dengan jalan pikiran wanita di dalam kamar itu.
Dari pada pusing memikirkan Renata, Bima pun memilih pergi ke kamar lain dan mulai menata bajunya di sana.
Seandainya saja Renata tidak sedang hamil anaknya, mungkin ia akan memilih tidak peduli dengan wanita itu. Tapi saat ini, di dalam rahim wanita itu ada darah dagingnya yang tidak berdosa.
Bima duduk di tepi tempat tidur, ia sedang memikirkan apa langkahnya selanjutnya. Sebenarnya ia sudah ada janji dengan salah satu warga di sini untuk melihat lahan yang akan di jual. Untuk permulaan, Bima berencana untuk memulainya dengan bertani. Ia sempat memiliki pengalaman bertani dulu semasa kuliah dan ia ingin mempraktekkannya sekarang.
Tepat pukul tiga sore, seorang pria yang usianya kisaran tiga puluh tahunan menghampiri Bima di rumahnya,
"Maaf mas Bima, baru datang. Soalnya anak saya sedang sakit!"
"Jadi kamu sudah menikah?" Bima mengira pria yang kerap ia temui saat datang ke tempatnya sekarang belum menikah, karena melihat hidupnya seperti tidak ada beban.
"Sudah mas, anak saya tiga."
"Tiga?" Bima kembali terkejut.
"Iya mas, yang besar sendiri sudah berusia sepuluh tahun, yang paling kecil tiga tahun!"
"Hebat kamu Man, usia semuda kamu sudah punya tiga anak."
"Ha ha ha, mas Bima ini mengejek."
"Bukan mengejek, sungguh!"
"Ya sudah mas, ayo keburu sore."
"Pakek mobil saya saja."
"Jangan mas, nggak bisa masuk nanti. Pakek motor Dirman saja."
"Ohhh begitu ya, baiklah."
Sesampai di kebun yang di maksud, mereka sudah di tunggu oleh dua orang. Bima tampak melihat-lihat tanah itu dan tempatnya cukup strategis, tanahnya juga tampak subur, cocok untuk menanam berbagai macam sayuran.
Setelah melakukan negosiasi, akhirnya di temukan harga yang cocok dan pemilik tanah pun menyerahkan sertifikat tanah itu pada Bima dengan di saksikan kami two setempat.
"Terimakasih ya Man,"
"Sama-sama, mas. Lagi pula aku juga dapat komisi dari pemilik tanah, jangan khawatir."
"Besok kamu sudah bisa mulai mencangkul di sana ya, Man."
"Siap mas!"
"Besok saya akan ke kota untuk mencari bibirnya. Maaf ya nggak bisa menemani kamu."
"Nggak masalah mas, asal nggak lupa saja kopinya!"
"Siap, besok pagi-pagi sekali sebelum berangkat ke kota, saya akan buatkan kopi untuk kamu."
"Itu baru betul. Ya sudah mas, sudah sore. Mau magrib, saya pulang dulu."
"Iya, silahkan!?"
Dirman pun meninggalkan rumah Bima. Tanpa di sadari oleh Bima ternyata Renata mengawasinya dari balik jendela ruang tamu,
"Bima, Bima, sejak kapan sih jadi bodoh banget. Bisa-bisanya ia malah memilih bergaul sama orang kampung kayak gitu. Benar-benar ya!?"
__ADS_1
Bima pun masuk ke dalam rumah, ia berpapasan dengan Renata yang masih berdiri di samping jendela, tapi Bima sepertinya tidak berniat untuk menyapanya. Ia masih begitu malas.
"Bima!?" panggil Renata.
"Aku gerah, mau mandi."
"Aku menangis kipas angin, di kamar panas banget, aku butuh AC atau kipas angin pokoknya."
"Tunggu besok, aku akan ke kota besok, jadi sabar satu malam aja bisa kan!?"
"Mana bisa kayak gitu!"
"Ayolah Rena, jangan kayak anak kecil. Aku capek mau mandi."
Bima tidak lagi mempedulikan Renata, ia memilih berlalu dan masuk ke kamar mandi. Hanya ada satu kamar mandi di rumah itu, itupun tidak selengkap seperti di rumah lama mereka.
Selesai mandi, Bima segera ke dapur. Ia berharap bisa mendapatkan makanan di sana karena sedari tadi ia mencium aroma makanan.
Benar saja, Renata tengah duduk di ruang makan dengan makanan di depannya. Bima bergegas ke dapur, tapi nyatanya ia tidak menemukan apapun di sana, hanya ada makanan di piring Renata.
"Kamu nggak masak?" tanya Bima saat tidak menemukan apapun.
"Masak! Tapi buat aku sendiri. Kalau kamu mau, masak sendiri saja!?"
Mendengar jawaban Renata, Bima semakin kesal. Ia hampir saja.terbawa emosi, tapi ia segara teringat dengan bayi dalam kandungan Renata.
Sabar, Bim ..., mungkin ini hukuman buat kamu.
Bima berusaha untuk menghibur dirinya sendiri. Ia pun memilih membiarkan perutnya yang kosong. Dari pada menanggapi Renata, ia memilih keluar dan duduk di teras sambil melihat orang yang lalu lalang di jalan. Jalan setapak itu cukup ramai, karena memang jalur utama kampung.
"Mas Bima!?" tiba-tiba seseorang berhenti tepat di depan pagar rumahnya.
Bima yang merasa di panggil pun segera berdiri dan memperhatikan siapa yang tengah memanggilnya,
Rupanya orang itu adalah Dirman,
"Dirman, mau ke mana?"
"Biasa mas, ke mushola. Ayo mas sekalian ke sana, sholat magrib. Bapak-bapak juga ke mushola jam-jam segini, nanti aku kenalkan sama mereka."
Sholat magrib?
Bima bahkan lupa kapan terakhir kali ia melaksanakan sholat. Seingatnya sholat pas waktu SD, itu pun karena pelajaran agama.
"Besok saja Man, kamu duluan saja."
"Ya sudah, kalau begitu Dirman duluan ya mas."
"Iya, salam sama bapak-bapak lainnya."
"Iya, nanti Dirman sampaikan."
Akhirnya Dirman berlalu, tapi tidak dengan pikiran Bima. Ia tengah memikirkan perihal sholat magrib, rasanya begitu asing.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...