
"Ya udah Bima cari Indah dulu ma!" Bima pun segera mematikan sambungan telponnya. Ia segera menyambar jas yang ia gantung begitu saja di sandaran kursi dan segera memakainya.
Ia segera keluar dari ruangannya. Tapi langkahnya segera di hadang wanita yang duduk di depan ruangannya itu.
"Bim, mau ke nama? Kenapa buru-buru?"
Bima menghentikan langkahnya dan segera menatap wanita cantik dengan penampilan rapi nan seksi di depannya,
"Ada urusan sebentar, mungkin aku nggak kembali!"
"Ada masalah serius?"
"Enggak! Jangan khawatir, aku pergi dulu!"
Bima berlalu begitu saja meninggalkan wanita itu. Wanita itu masih terus menatap kepergian Bima hingga menghilang di balik pintu lift.
Wanita cantik itu adalah sekretaris pribadi Bima, mananya Rena. Wanita cantik berperawakan tinggi yang selalu mengetahui kemanapun Bima pergi, bahkan kedekatannya dengan Bima sering membuat karyawan lainnya curiga.
Rena adalah orang kepercayaan Bima setelah Dio.
Akhirnya Bima sampai juga di lantai bawah, dengan sedikit berlari ia segera menghampiri petugas resepsionis.
"Apa tadi ada seorang wanita yang mencari saya?"
Tampak petugas resepsionis mulai faham sesuatu, tapi wanita itu sudah pergi sekarang.
Bima pun kemudian mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan salah satu foto Indah,
"Ini, apa tadi ada wanita ini mencari saya?"
"Oh iya pak, tadi dia menunggu lama sekali sampai ketiduran! Maaf karena saya tidak tahu kalau Bima yang dia maksud pak Bima!"
"Kemana dia sekarang?"
"Tadi pergi sama mister Bram!"
"Bram?"
"Iya pak!"
Bima pun langsung melakukan panggilan pada pria yang di maksud oleh resepsionis itu.
"Hallo!"
"Hi bro, ada apa? Tumben telpon jam segini?"
"Lo di mana sekarang?"
"Ada, di restoran! Ada apa?"
Bima tidak menjawab, ia memilih untuk mematikan sambungan telponnya. Dengan cepat menyakukan kembali benda pipih itu dan dengan sedikit berlari keluar dari gedung pencakar langit itu.
Sambil menunggu lampu penyeberangan berwarna mereka, terlihat sekali jika sekarang ia sedang begitu cemas.
Setelah para pengendara berhenti, Bima segera berlari menyeberang ia tidak sabar ingin menemukan istrinya.
Sesampai di restauran, ia segera mengedarkan pandangannya. Mencari sosok yang ia kenal. dan benar saja, di salah satu meja VIP itu tampak dua orang itu tengah tertawa terbahak-bahak.
Ternyata kedatangan Bima juga di sadari oleh Bram.
__ADS_1
"Itu Bima!"
Indah menghentikan tawanya dan ikut melihat arah pria itu menunjuk dan benar saja ada Bima di sana. Indah segera merasa lega karena memang benar pria di depannya mengenal sang suami.
Bima pun dengan cepat menghampiri Indah dan Bram.
"Mas Bima!" Indah segara berdiri menyambut kedatangan sang suami.
"Ayo pulang!" Bima langsung menarik tangan Indah tapi segera di tahan oleh Bram.
"Eitsss tunggu dulu bro, ini apa-apaan datang-datang langsung bawa pergi?" Bram yang tidak tahu menahu tentang hubungan mereka kini malah di buat bingung.
"Nanti gue jelasan, gue pergi dulu!"
"Pergi, ya pergi! Tapi jangan bawa Indah dong!"
Bima pun langsung melepaskan tangan Indah, ia menatap Indah lalu beralih pada Bram.
"Coba tanya sendiri pada Indah, dia mau di sini sama Lo apa pergi sama gue?"
Bram tidak bermaksud mengulang pertanyaan Bima, tapi ia butuh jawaban dari Indah.
"Aku pergi sama mas Bima!"
Kali ini Bram tidak berniat menahannya lagi. Ia membiarkan Bima sahabatnya itu membawa pergi Indah.
"Sebenarnya apa hubungan mereka?" Bram masih menatap punggung Indah dan Bima sambil menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi.
Tepat saat ia sedang bingung, ponselnya tiba-tiba berdering. Itu dari papanya.
"Iya pa!"
"Ternyata dia tidak jadi datang, kamu di mana sekarang?"
"Aku di restauran!"
...***...
Kini Bima dan Indah sudah berada di dalam mobil yang sama. Bima terus saja diam sepanjang perjalanan dan hal itu membuat Indah begitu tidak nyaman.
"Mas kamu marah ya gara-gara aku pergi sama mas Bram? Sungguh aku tidak tahu kalau itu tadi atas perintah mas Bima!"
Bima pun dengan cepat meminggirkan mobilnya hingga membuat Indah begitu terkejut. Bima segera mendekatkan tubuhnya pada Indah,
"Lain kali jangan sembarangan ikut orang!"
"Iya, maafkan aku sudah membuat mas Bima khawatir!"
"Iya!"
Bima pun kembali melanjutkan mobilnya, Indah merasa kalau suaminya begitu khawatir terhadapnya membuat perasaannya menghangat.
"Mas Bram, sahabatnya mas Bima ya?"
"Iya, kalian bicara apa saja tadi?"
"Mas Bram cuma tanya, aku kesukaannya apa. Trus aku jawab nggak terlalu memiliki banyak hobi, aku hanya bilang kalau suka masak!"
"Trus?"
__ADS_1
"Trus mas Bram nyaranin Indah buat kursus masak aja, dia tahu di nama tempat kursus terbaik, dia juga ngasih alamatnya!"
"Hanya itu? Dia tidak membicarakan aku sama sekali?"
Indah pun hanya menggelengkan kepalanya. Memang Bram sama sekali tidak membicarakan hal itu.
"Kalau kamu tertarik untuk ikut kursus, ikut saja! Atau kamu ingin melanjutkan kuliah? Aku akan mengurus pendaftarannya buat kamu!"
"Memang boleh?"
"Tentu saja, kamu bisa melakukan banyak hal nanti! Usiamu masih delapan belas tahun, masih waktunya buat belajar! Aku tidak akan menghalanginya!"
Indah begitu bersyukur mendapatkan suami seperti Bima. Menurut Indah, Bima adalah suami yang sangat pengertian.
"Aku mau!"
"Baiklah, lusa aku akan mengurus pendaftarannya!"
"Terimakasih mas, kamu baik banget sih!"
Bima mengusap kepala Indah gemas, ia lega karena Bram tidak membicarakan apapun tentang dirinya pada Indah.
...***...
Satu Minggu sudah mereka tinggal di rumah besar, sudah saatnya Bima membawa Indah ke apartemen.
"Mama pasti akan sangat kesepian tanpa kalian!"
"Jangan khawatir ma, Mama kan bisa sewaktu-waktu mengunjungi kami, lagi pula kami.juga tidak pergi ke luar negri!" Bima selalu saja bicara asal pada mamanya.
"Kamu ini benar-benar ya!"
Indah hanya bisa melambaikan tangannya saat mobil mulai melaju, sebenarnya ia sudah mulai bisa nyaman dengan keluarga barunya. Tapi ia juga tidak boleh egois, ia harus mengikuti kemana pun mamanya pergi.
Besok adalah hari pertama Indah pergi ke kampus, ia juga harus mempersiapkan semuanya.
Sesampai di apartemen, Bima langsung mengajak Indah ke lantai atas menghinakan lift.
"Perhatikan ini baik-baik, nanti kali tinggal pencet tombol angka yang akan membawamu ke lantai tempat kita tinggal lalu pencet panah ke atas, mengerti kan?"
Indah benar-benar memperhatikan bagaimana Bima memberinya petunjuk menggunakan lift. Ini untuk pertama kalinya ia menggunakan lift.
"Selain pakek ini, jika ada masalah dengan lift nya kamu juga bisa menggunakan tangga darurat di sebelah sana, tempatnya akan sedikit gelap karena jarang di gunakan. Jarang orang mau lewat tangga darurat kalau tidak ada Masalah dengan liftnya!"
Indah melihat sebuah pintu yang ada di ujung lorong. Lift langsung membawanya ke dua buah pintu di bagian kiri dan bagian kanan.
"Bawa kartu ini!" Indah memandangi kartu yang di berikan oleh Bima.
"Jadi begini caranya!" Bima pun menunjukkan cara membuka pintu dengan menempelkan benda pipih lebih mirip kartu itu.
"Nah pintunya kebuka kan, selain itu ku juga bisa buka pakek kode, kodenya tanggal lahir aku! Kamu tahu kan tanggal lahir aku?"
"Iya!" Indah benar-benar tidak bisa berkata-kata apa-apa lagi, ia sedang tercengang dengan berbagai macam teknologi modern yang baru saja di tunjukkan oleh sang suami.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku
__ADS_1
IG @,tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...