Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"

Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"
Pertemuan kembali


__ADS_3

Indah begitu terkejut dengan kedatangan pria yang cukup lama pergi dari hidupnya.


Lima tahun bukan waktu yang singkat, tapi ia tidak bisa lupa dengan semuanya karena pria itu masih terlihat sama, hanya saja sebuah tanda dewasa terlihat dari bulu halus yang menghiasi wajahnya.


Hingga acara meeting berakhir, Indah benar-benar tidak bisa menghindarkan matanya dari menatap pria itu.


Bahkan kini semua orang telah meninggalkan ruangan itu dan menyisakan mereka berdua.


"Bagaimana kabarmu?" tanya pria itu saat menatap Indah.


"Aku baik, bagaimana kabar kamu?" tanya Indah balik.


"Tidak begitu baik saat jauh dari kamu! Bagaimana kabar Bima?" yang ia tahu selama ini Indah dan Bima tidak jadi bercerai, kedatangannya kali ini bukan untuk mendapatkan Indah kembali, ia hanya ingin memastikan jika Indah hidup dengan baik meski tanpanya.


"Mas Bima?" Indah bingung harus menjawab apa, karena nyatanya sudah hampir empat tahun ini mereka tidak saling bertemu atau saling menyapa meskipun ia tahu di mana Bima tinggal tapi sekalipun tidak berniat untuk mencarinya. "Dia baik!"


"Syukurlah. Aku senang melihatmu yang sekarang. Baiklah aku pergi dulu, sampai jumpa lain waktu." ucap pria itu, dia adalah Dava. Ia beranjak dari duduknya dan mengemasi barang-barang yang ada di atas meja dan meninggalkan Indah sendiri.


"Dava!?" panggil Indah saat Dava hendak keluar dari ruangan itu, saat tangan pria itu sudah hampir menarik handle pintu. Hingga membuat pria itu kembali berhenti.


"Iya?"


"Kita masih teman kan?" tanya Indah dan hal itu membuat Dava tersenyum.


Aku ingin lebih dari itu, tapi nyatanya aku tidak punya kesempatan lagi sekarang ....

__ADS_1


"Aku akan selalu ada buat kamu."


"Terimakasih!"


"Sampai jumpa nanti." akhirnya Dava benar-benar meninggalkan ruangan itu, meninggalkan Indah yang terdiam sendiri.


Ia tahu apa yang Dava pikirkan tentang dirinya dan Bima, tapi tetap saja ia tidak ingin menghilanhkan salah faham itu.


Entah kenapa ia senang saat Dava menganggapnya istri Bima, atau karena memang sejak awal ia tidak memiliki perasaan khusus pada pria yang baru saja pergi.


Brrtttt brrtttttt brrttttttt


Tiba-tiba ponsel yang sedari tadi ia biarkan dalam keadaan silent, bergetar dia atas meja. Indah menatap layar ponselnya dan ternyata Aya. Sahabatnya itu tengah menelpon.


"Hallo Aya!" sapa Indah saat benda pipih itu sudah menempel di daun telinganya.


"Kabar apa?" tanya Indah.


"Kamu tahu tidak kalau Dava sudah kembali ke Indonesia!?" ucapnya begitu menggebu.


"Hmmm!?" seketika jawaban Indah berhasil membuat Aya heran.


"Cuma hmmm?" tanya Aya yang penasaran dengan jawaban datar dari Indah.


"Iya, kami sudah bertemu!" dan sekali lagi jawaban Indah membuat Aya tidak bisa menebak jalan pikiran sahabatnya itu.

__ADS_1


"Sudah bertemu?"


"Iya!"


"Dan respon kamu cuma kayak gitu?" tanya Aya penasaran, karena yang ia tahu selama ini.dava sangat mencintai Indah. Ia berpikir tidak mungkin Dava hanya datang sebagai kolega bisnis Indah.


"Helllo, trus aku harus apa Aya? Jingkrak-jingkrak kesenengan?" sekarang giliran Indah yang kesal karena Aya terus menanyakan hal yang menurutnya aneh.


"Ya udah lah terserah kamu, oh iya aku juga mau kasih tahu kalau aku sekarang udah ada di resto kamu, bentar lagi pemasok sayuran segar mau datang. Jadi lihat nggak?"


"Gitu ya? Iya deh bentar lagi aku on the way ke situ."


"Aku tunggu. bye, sampai jumpa di sini!"


"Bye!"


Indah pun segera mematikan sambungan telponnya.


Selain memimpin perusahaan, Indah juga menggeluti dunia kuliner. Beberapa cabang restauran sudah berhasil ia dirikan. Selain karena ketekunannya, ia juga mendapat bantuan dari chef Bram yang memang sudah ahli di bidang itu.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2