Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"

Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"
Isi flashdisk


__ADS_3

Benar seperti dugaan Indah, bima baru kembali saat matahari hampir terbit, tapi ia tidak mempermasalahkan hal itu. Ia hanya tidak sabar untuk segera ke kampus.


"Indah, kamu pagi-pagi sekali kenapa sudah siap?"


"Ini mas, hari ini ada jam tambahan mungkin juga pulangkan akan terlambat. Tidak pa pa kan mas?"


"Iya, aku juga minta maaf karena pulangnya terlalu larut!"


Memang dia pikir ini tadi larut, bukankah ini pagi ...., dasar pembohong ....


Indah hanya bisa tersenyum masam menanggapi ucapannya.


Rasanya begitu sakit menyadari kenyataan bahwa dia bukan satu-satunya dalam hidup suaminya, seandainya saja ia tahu lebih awal ia tidak akan mungkin memilih jalan ini. Tapi ini sudah terlanjur dan semua seakan kepingan puzzle yang harus ia susun sendiri.


"Kalau mas Bima capek, nggak usah antar Indah. Indah bisa pergi sendiri kok!"


"Tidak pa pa, aku akan mengantarmu! Tunggu sebentar ya, aku siap-siap dulu!"


"Baik!"


Setalah bersiap-siap sebentar, Bima pun mengantarkan Indah ke kampus.


"Oh iya mas, papa mas Bima kemana sih?"


"Papa kerja di luar kota, ada apa?"


"Tidak pa pa, hanya saja kenapa papa mas Bima tidak pernah pulang?"


"Pulang kok, tapi tidak pasti."


"Ohhh, sibuk banget ya mas, papa?"


"Hmmm!"


Bahkan selama menjadi menantu di rumah itu ia baru bertemu dengan papa Bima dua kali sedangkan mereka sudah menikah hampir satu tahun.


Akhirnya mobil mereka sampai juga di depan kampus,


"Kampus masih sepi, kamu yakin?"


"Iya mas, jangan khawatir. Teman-teman Indah pasti sudah di kelas."


"Baiklah, nanti kalau sudah waktunya pulang hubungi aku ya, aku akan menjemput kamu!"


"Iya!"


Indah sudah hampir turun tapi tangannya segera di tahan oleh Bima,

__ADS_1


"Ada apa lagi mas?"


"Apa kamu melupakan sesuatu?"


"Maksudnya?"


Bima pun segara mendekatkan wajahnya, ia menarik tengkuk Indah dan bersiap untuk mencium bibir Indah tapi dengan cepat Indah pura-pura mengambil sesuatu dari tasnya,


"Bentar mas, Indah lupa!"


Bima mendengus kesal, dan Indah ternyata mengambil bolpoin dark dalam tasnya,


"Ahhh aku kira ketinggalan!"


"Jadi kamu hanya ingin mengambil bolpoin itu?"


"Hmmm, ini penting banget mas. Kalau nggak ada aku bisa nggak mencatat!"


"Baiklah aku akan membelikan untukmu yang banyak biar kamu nggak perlu takut kehilangan satu bolpoin saja!"


Indah hanya tersenyum dengan ucapan Bima, Indah pun segara mendekatkan wajahnya dan mengecup bibi Bima,


"Baiklah, Indah berangkat dulu!" Indah benar-benar turun dari mobil.


Sebenarnya Bima ingin lebih dari itu tapi Indah sepertinya sengaja menjauhinya.


Entah karena ia begitu penasaran dengan Indah atau karena ia sudah mulai memiliki perasaan pada Indah.


Bima bahkan sampai sekarang belum bisa menentukan sikap dan perasaannya sendiri. Di satu sisi ia tidak bisa ingin kehilangan Indah tapi di sisi lain ia juga tidak mungkin melepaskan Rena.


Bima pun kembali melajukan mobilnya setelah Indah tidak terlihat lagi, ia juga harus menjemput Rena sekarang.


Indah sudah berada di area kampus tapi tujuannya bukan kampus saat ini, ia hanya ingin bertemu dengan Dava.


Mendengar suara motor Dava, Indah segera menghampirinya,


"Hai!"


"Sudah lama?"


"Baru aja!"


"Bagaimana, sudah siap?"


"Hmmm!"


Indah pun segera naik ke atas motor Dava, ia tidak mungkin membicarakan hal itu di kampus.

__ADS_1


Dava membawa Indah ke villa yang waktu itu, dia merasa villa itu adalah tempat yang paling amal untuk mereka.


"Kamu bawa flashdisk nya?"


Indah pun segara mengeluarkan benda kecil itu dari dalam tasnya, "Ini!"


"Bagus, ayo ikut denganku!"


Dava pun mengajak Indah ke sebuah ruangan, ruangan itu terlihat seperti ruang kerja.


"Ini ruang kerja siapa Dav?" Indah memperhatikan sekeliling dan terlihat ruangan itu sudah lama tidak di gunakan untuk bekerja walaupun tetap bersih.


"Ohhh, ini ruang kerja kakek aku!"


"Pantes aja beberapa perabotnya terlihat antik!"


"Iya, waktu kecil aku paling suka menghabiskan waktu bermain di sini sambil menemani kakek bekerja!"


"Tempatnya nyaman!"


"Kamu boleh sering ke sini kalau mau!"


"Benarkah?"


"Hmmm!"


Dava terlihat mengeluarkan sebuah laptop dari dalam lemari, laptop itu terbungkus rapi dan sepertinya jarang di gunakan.


Dava segera meletakkan laptop itu di meja kerja dan mulai menyalakannya, "Untung masih bisa di gunakan!" gumam Dava setelah memastikan laptop itu masih bisa menyala. "Mana flashdisk nya!" Dava meminta pada Indah.


Indah yang sedang sibuk mengamati ruangan itu pun segara berjalan menghampiri Dava dan menyarahkan benda kecil yang sedari tadi berada di tangannya.


"Ini!"


Dava pun segera menancapkan flashdisk di salah satu lubang flashdisk yang ada di laptop itu dan mulai membuka berkas yang ada di dalam flashdisk.


"Sini Ndah!" Dava menggeser duduknya, memberi tempat pada Indah, meskipun hanya ada satu tempat duduk tapi cukup untuk duduk mereka berdua.


"Itu apa Dav?"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2