
Kedatangan Bima dan Yusuf langsung di sambut oleh tegangan, bahkan istri Dirman pun sudah mengadakan acara syukuran atas kelahiran Yusuf tanpa sepengetahuan Bima. Istri Dirman di bantu oleh ibu-ibu di kampung itu.
"Ya Allah, saya harus membalasnya bagaimana lagi. Kalian sudah terlalu baik pada kami!" Bima benar-benar merasa tidak enak.
"Mas Bima juga baik di kampung ini, jadi sudah sewajarnya kami melakukannya."
Hingga acara syukuran selesai, setelah membersihkan rumah Bima kembali ke dalam keadaan semula, satu per satu warga mulai meninggalkan rumah Bima.
Kini tersisa Dirman dan Istrinya saja.
"Kalau mas Bima mau istirahat, istirahat aja biar Yusuf kami bawa pulang ke rumah. Pasti beberapa hari ini mas Bima kurang istirahat."
Sebenarnya benar apa yang di katakan istri Dirman, beberapa hari ini bahkan ia bisa menghitung berapa kali ia bisa terlelap. Tapi membayangkan akan jauh dari Yusuf membuatnya berpikir ulang.
"Tapi mbak, saya terlanjur terbiasa dengan Yusuf."
"Hanya sampai besok pagi, biar pagi-pagi sekali mas Dirman mengantar Yusuf pulang."
Akhirnya karena istri Dirman terus memaksa dan ia memang butuh istirahat, Bima pun menyetujuinya.
Dirman dan istrinya membawa Yusuf pulang, dan di rumah itu kini tinggal dirinya.
Bima segara mandi dengan air hangat, sedikit memanjakan tubuhnya. Bukan air hangat yang sekali pencet langsung keluar dari kran tapi ia harus memanaskan dulu di atas kompor dan menuangnya ke dalam bak mandi.
Sentuhan air hangat itu akan sedikit merilekskan tubuhnya.
Sudah tiba waktu magrib, jika biasanya ia tidak pernah melewatkan sholat magrib dan isya di mushola, kali ini ia sengaja melaksanakannya di rumah karena rasa kantuknya sudah mulai mendera. Sambil menunggui waktu isya', Bima gunakan untuk belajar mengaji dengan menggunakan buku iqro yang biasanya di gunakan anak kecil untuk belajar mengaji.
Sebelumnya memang dia tidak mengenal huruf Hijaiyah sama sekali, hingga ia ikut mengaji bersama bapak-bapak yang lain di mushola sehabis isya'. Biasanya ia akan mempelajari sendiri di rumah dan menyetorkan hasil bacaannya setelah benar-benar lancar, tapi nyatanya Bima cukup cepat belajar. Tidak sampai enam bulan ia sudah hampir katam jilid 6 dan sebentar lagi ia sudah mulai jus amma dan lanjut ke Al Qur'an.
Benar saja, setelah sholat isya' matanya benar-benar sudah tidak bisa di buka. Ia segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan hilanglah sudah kesadarannya.
...****...
Seperti yang di janjikan, pagi-pagi sekali Dirman sudah datang dengan membawa Yusuf saat Bima baru selesai menjemur pakaiannya.
__ADS_1
"Assalamualaikum ayah!!" sapa Dirman dengan gaya bicara anak kecil itu.
"Waalaikum salam." Bima segera meletakkan embernya dan menghampiri Yusuf, "Ya Allah, ayah sudah kangen. Baru juga satu malam."
Bima segera mengambil alih Yusuf kedalam gendongannya dan mereka pun kembali masuk ke dalam rumah.
"Ini sengaja tadi istri saya suruh bawakan sarapan untuk mas Bima!"
"Ya Allah, kalian baik sekali sih. Saya sampai bingung harus membalasnya bagaimana!?"
"Jangan sungkan mas, anggap saja kita ini keluarga mas. Lagi pula. Dirman di sini juga tidak punya saudara."
"Terimakasih ya man."
"Sama-sama mas!"
Bima menurunkan Yusuf di kasur spon yang sengaja ia gelar di depan tv, kini Bima dan Dirman duduk berhadapan di temani dua cangkir kopi dan beberapa potong singkong goreng yang masih hangat.
"Bagaimana mas selanjutnya, kapan kita akan mulai ke pasar lagi?"
"Boleh mas, pak lurah juga bilang kalau butuh apa-apa bisa langsung bilang aja, insyaallah pak lurah akan bantu."
"Syukurlah, aku juga harus kembali mengumpulkan uang untuk beli pick up baru."
"Semoga cepat terkumpul mas."
"Amin!"
Semenjak keberadaan Yusuf, istri Dirman memiliki pekerjaan baru. Istri Dirman akan datang ke rumah Bima bersamaan dengan Dirman yang akan pergi ke pasar untuk menjaga Yusuf karena anak-anak Dirman sudah besar.
Siang hari saat Bima ke ladang, ia kembali menitipkan Yusuf pada istri Dirman.
Hingga ladang Bima sudah panen, karena ia menanam cabe dan harga cabe pas tepat bagus. Hingga sekali panen ia bisa kembali membeli pick up dengan uang yang masih tersisa dan hasil panen cabenya.
"Alhamdulillah ya man, akhrjhua pick up nya kebeli lagi."
__ADS_1
"Iya mas."
"Sebenarnya aku butuh tenaga lagi man, kalau ada pemuda sini yang mau kerja. Biar dia menemani kamu man. Sayur kita kan sudah ada langganan, aku mau cari pelanggan baru."
"Ohhh kalau tenaga baru ada mas, kebetulan kemarin keponakan istri saya baru lulus SMA, trus bingung mau kerja apa."
"Baguslah, kalau dia setuju. Suruh dia ke sini."
"Iya mas, kalau begitu Dirman pulang dulu ya!"
Bima tidak bisa mengandalkan satu pelanggan saja, sedangkan di kota sana banyak sekali pengepul sayuran yang butuh sayur segar. Ia juga harus mulai memikirkan armada baru untuk mengangkutnya,
Jika saja ia punya tiga armada saja dengan tiga penaggan yang berbeda, ia bisa mendapatkan keuntungan tiga kali lipat, selain itu hasil panen petani tidar terlalu lama menumpuk di ladang karena saat ini jumlah pelanggan dan jumlah petani sayur tidak seimbang membuat harga sayur kerap tidak stabil.
Selain itu, ia juga harus mulai memikirkan Yusuf, ia tidak mau kehilangan banyak waktu untuk menyaksikan tumbuh kembang putranya itu.
Kini Yusuf sudah mulai bisa berjalan, Yusuf bahkan kerap menangis saat harus ia tinggal ke ladang atau ke pasar.
Bima pun mulai memikirkan bagaimana caranya ia bisa bekerja dari rumah sedangkan ada orang lain yang menjalankan pekerjaannya.
Ia pun mulai membuat gudang pengepul sayur, hingga para petani tidak perlu bingung harus membawa kemana hasil pertanian mereka.
Lambat laut bahkan bukan hanya masyarakat di kampung itus aja yang membawa hasil panennya ke tempat Bima tapi juga para penduduk di kampung sebelah yang berdekatan dengan kampung itu, karena harga yang di tawarkan Bima terbilang cukup tinggi.
Bukan karena ia ingin menarik petani, tapi karena ia juga memposting dagangannya di beberapa situs internet membuat beberapa restauran ternama di kota lebih memilih mengambil sayur dan sebagainya dari tempat Bima dengan harga yang tentunya di atas harga pasar. Selain restauran beberapa pusat perbelanjaan juag mengambil sayur dan buah-buahan dari Bima.
Hanya dalam waktu tiga tahu saja, usaha Bima bisa dibilang berkembang, sekarang bukan hanya satu atau dua orang saja yang Bima pekerjakan. Ia punya lebih dari sepuluh pekerja, mulai dari sopir dan yang memilah-milah sayuran yang bagus dan yang kurang bagus. Tugas Bima hanya mengecek dan memastikan semuanya layak untuk di kirim.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya ya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...