Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"

Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"
Ternyata dia chef


__ADS_3

"Abis ini mau ke mana?" teman baruku itu sungguh sangat baik, walaupun aku tidak banyak bertanya dia selalu memberi celah untukku bicara atau sekedar mengutarakan pendapat.


"Aku ada kursus masak, sebenarnya masih baru juga. Aku mulai hari ini, ada yang jemput!"


"Ya udah kalau gitu aku duluan ya, sampai jumpa besok!" Kanaya melambaikan tangannya, kami berpisah di halaman depan kampus karena Kanaya harus mengambil mobilnya. Aku bahkan tidak tahu kalau di kota besar anak-anak kuliah boleh bawa mobil sendiri.


Tin tin


Suara klakson motor mengejutkanku, sebuah motor besar melintas dan berhenti di sampingku. Aku tahu sekarang siapa pemilik motor itu setelah membuka kaca helm full face nya,


"Lo nggak lihat nih jalanan, mau mati? Minggir!"


Ahhhh dia teriak lagi, suka banget teriak. Padahal jelas di samping masih cukup lebar hanya untuk di lewati motornya.


"Kenapa? Berani Lo natap gue kayak gitu!?"


Memang aku harus apa? Sebar salah banget ngadepin dia.


Wessssss


Pergi juga akhirnya dia, pengen rasanya balik marah sama dia kalau nggak ingat aku masih baru di tempat ini.


"Memang ini jalan dia sendiri, dasar anak orang kaya di mana-mana juga bakal tetap sama kayak gitu! Memalukan!"


"Nona Indah!"


Aku kembali terkejut, ternyata Dio sudah berdiri di belakangku. Entah sejak kapan. Dia benar-benar seperti hantu yang bisa tiba-tiba datang.


"Iya!?"


"Mobil di sana, bisa kita berangkat sekarang, nona?"


"Baik!"


Untuk sementara aku melupakan kemarahanku. Tapi tidak untuk lain kali, aku pasti akan buat perhitungan dengan anak itu.


"Nona!"


Panggilan Dio berhasil membuatku mendongakkan kepala menatap ke depan, pria itu masih fokus dengan stang stirnya.


"Iya?"


Aku bahkan tidak yakin yang bicara tadi dia.


"Lebih baik nona tidak bermasalah dengan anak yang berlalu tadi!"


Aku langsung melayangkan protes pada pria yang duduk di depanku itu,


"Kenapa? Dia yang selalu cari gara-gara!?"


"Orang tua tuan Dava adalah saingan bisnis tuan Bima. Jika dia sampai tahu anda istri dari tuan Bima bukan tidak mungkin dia akan memanfaatkan nona untuk menjatuhkan tuan Bima!"


"Begitu ya!?"


Semenyeramkan itu ternyata kehidupan orang-orang kaya. Mendengar ucapan Dio, aku jadi takut sendiri.


Baiklah, aku akan lebih hati-hati lagi, aku tidak boleh sembarangan bertindak karena ada keluarga Bima yang juga aku jaga ....


"Nona, sudah sampai!"


Aku sampai tidak sadar mobil sudah berhenti. Kepalaku langsung melongo keluar dan di depanku sudah ada sebuah gedung dengan cukup besar.


"Bukan kah ini tempat makan?"


"Maaf nona!" aku segera menjauhkan kepalaku saat Dio hendak membuka pintu,


"Di lantai dua adalah tempat kursusnya, nona!"


Aku pun segera keluar saat pintu sudah terbuka, aku mengamati sekitar. Rasanya seperti mimpi bisa berada di tempat seperti ini.


"Apa kamu juga akan mengantarku ke dalam?"


"Maaf nona, tugas saya hanya sampai di sini. Saya akan menjemput nona di sini lagi nanti dua jam lagi! Selamat bersenang-senang nona!"


Dio hanya berkata seperti dan berlalu begitu saja dengan mobilnya.


Kejam sekali ....

__ADS_1


Jelas aku kebingungan. Siapa yang akan mengira kalau aku akan kursus. Nanti jika tiba-tiba ada yang menawariku makan bagaimana, aku kan ....


Tidak bawa uang, benarkah?


Aku akhirnya memutuskan untuk memeriksa tas ku, sebenarnya tas ini sudah ada di ruang belajarku. Bima yang menyiapkannya.


Wahhhh aku punya banyak uang ....


Sepuluh lembar uang seratus ribuan, dengan tulisan.


Uang jajan dalam satu hari


Memang aku akan jajan apa hingga menghabiskan satu juta. Aku kembali menyimpan uangku dan masuk ke ke dalam restauran seafood.


"Wawwww ....!"


"Selamat datang!" seseorang langsung menyapaku.


"Aku datang sendiri, bisa kan tunjukkan_!"


"Silahkan nona, di sana sudah di sediakan tempat dengan dua kursi saja, mari saya antar!"


Aku hanya bisa pasrah saat wanita dengan seragam waiters itu mengajaknya di sebuah meja.


"Silahkan duduk!" bahkan waiters itu menggeserkan kursi untukku.


"Terimakasih!"


"Ini buku menunya, silahkan katakan pesanannya. saya akan mencatatnya nona!"


"Bisa biarkan aku memilih dulu, nanti kalau aku sudah menemukannya aku akan memanggil, bagaimana?"


"Baiklah nona, saya di sana. Anda cukup melambaikan tangan saja untuk memanggil kami!"


"Iya, terimakasih!"


ahhh akhirnya, aku harus apa sekarang?


Sebuah buku menu di tanganku, tapi bukan ini kan tujuanku.


Hehhhh ....


Aku hampir berdiri tapi seseorang yang aku kenal datang dari arah luar.


"Mas Bram ....!" teriakku membuat seisi restoran menoleh padaku.


"Maaf!"


Mas Rafa ternyata mendengar panggilanku, rasanya begitu lega setelah melihat ada yang mengenaliku.


"Indah, Hay apa kabar?"


"Baik mas, mas Bram bisa di sini?"


"Iya_, ada urusan. Kamu sendiri? Pasti sama Bima ya, mana dia?"


"Aku sendiri mas!"


"Sendiri?"


"Iya, sebenarnya aku mau ikut kursus masak, kan mas Rafa yang kasih tahu kemarin!"


"Wahhhh bener nih, Bima setuju?"


"Iya mas, Alhamdulillah!"


"Baiklah, ayo...!"


Tiba-tiba mas Bram menarik tanganku.


"Kemana mas?"


"Ke tempat kursus masaknya!"


Akhirnya kebingunganku terjawab sudah. Mungkin mas Bram juga salah satu peserta kursus.


Ternyata di lantai dua sudah ada sekitar sepuluh orang yang sudah siap di depan meja lengkap dengan kompor dan peralatan memasaknya. Begitupun dengan bahan-bahan masakan hari ini.

__ADS_1


"Selamat datang chef!" sapa orang-orang itu.


Chef ....? Jadi maksudnya mas Bram seorang chef-nya?


"Selamat siang!"


Entah sejak kapan mas Rafa melepaskan genggaman tangannya.


"Selamat siang, oh iya sebelum kelas di mulai. Saya perkenalkan dulu, ini anggota baru kita namanya Indah!"


"Salam kenal Indah!"


Aku hanya bisa tersenyum dan membungkukkan badanku memberi salam.


"Salam kenal, senang bisa bertemu kalian!"


"Indah, kamu tempati tempat kosong di sebelah kiri!" mas Bram menunjuk ke arah meja yang masih belum ada penghuninya. Sepertinya sengaja di peruntukkan untukku.


Aku pun bergegas dan melepas tasku. Meletakkan di belakang seperti yang lainnya.


"Baiklah, sekarang bisa kita mulai. Hari ini kita memasak masakan China, silahkan di siapkan bahan-bahan!"


"Baik chef!"


Mas Bram begitu cekatan memberi arahan, satu per satu. Mengajari cara memotong sayur, daging dan takaran bumbunya.


"Baiklah, sudah selesai. Aku akan menilai satu per satu masakan kalian!"


"Siap chef!"


Semua makanan sudah tersaji di atas meja dengan penyajian yang begitu rapi. Aku begitu kerepotan karena biasanya aku hanya akan memasak saja tanpa memikirkan penyajian.


Akhirnya mas Bram sampai juga di mejaku,


Aku sudah pesimis ....


Mas Bram mengambil potongan daging milik dan mengunyahnya.


"Bumbunya lumayan, hanya dagingnya kurang empuk sedikit. Untuk penyajiannya, selanjutnya kamu bisa belajar dari teman-teman yang lain!"


"Baik chef!" rasanya masih aneh panggil mas Bram chef.


"Baiklah, kelas sudah selesai untuk hari ini. sampai jumpa lusa!"


"Selamat sore chef!"


Satu per satu peserta kursus meninggalkan ruangan. Kini tinggal aku dan mas Bram. Ini masih satu setengah jam, masih ada waktu setengah jam lagi sampai Dio menjemputku.


"Indah!"


Aku langsung mendongakkan kepalaku saat mas Bram memanggilku.


"Apa sudah ada yang jemput?"


"Setengah jam lagi, Dio datang mas?"


"Bukan Bima?"


Aku menggelengkan kepala dengan cepat,


"Sambil menunggu Dio datang, bagaimana kalau aku traktir kamu!"


"Tapi mas_!"


"Jangan sungkan, ayo!"


"Bentar mas, aku ambil tas dulu!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2