Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"

Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"
Selir yang terabaikan


__ADS_3

Setelah memasukkan semua yang ia dapat, Indah pun segera keluar dari kamarnya. Ia benar-benar tidak sabar untuk menunjukkan semuanya pada Dava.


Saat sampai di ruang tamu, ia berpapasan dengan nyonya Rose, sepertinya pengacara Hadi baru saja meninggalkan rumah.


"Indah, kamu mau ke mana?" tanyanya heran melihat Indah sudah bergegas akan pergi lagi.


"Ahh, itu ma. Indah sebenarnya tadi cuma mau ngambil barang Indah yang tertinggal."


"Jadi sekarang mau pergi lagi?"


"Iya."


"Sayang sekali, padahal mama mau ngajak jalan kamu."


"Lain kali ya ma, soalnya Insha buru-buru. Bye ma!" Indah benar-benar bergegas pergi, ia tidak mengindahkan permintaan ibu mertuanya.


Sedangkan di tempat lain, kini Bima sudah sampai di depan rumah Dava, ia di hadang oleh para penjaga rumah itu.


"Biarkan saya masuk, saya mau ketemu sama Dava!"


"Ada perlu apa anda dengan tuan muda kami?"


"Dia sudah bawa kabur istri saya!"


"Anda jangan ngaco, mari silahkan pergi sebelum kami bertindak kasar." para penjaga itu terlihat memperingatkan Bima tapi Bima tetap memaksa hingga ia harus di tarik tangannya untuk pergi dari sana.


"Dava, keluar kamu!"


"Dava_!"


"Kalau kamu gentle, keluar hadapi aku!"

__ADS_1


Dava yang mendengar kerusuhan di luar jadi tertarik untuk melihat ke luar.


"Berhenti!" ucapnya membuat anak buahnya melepaskan tangannya dari Bima.


Bima pun segera merapikan jasnya kembali yang berantakan.


Dava segera mendekat, ia menyakukan kedua tangannya yang mengepal di saku celananya, "Ada perlu apa kamu ke sini?"


"Saya mau cari Indah!"


Dava langsung tersenyum meremehkan, "Apa tidak salah?"


"Aku tahu kamu sudah menyembunyikan Indah!" Bima masih terus menuduh Dava tapi Dava malah menanggapinya dengan tersenyum.


"Kalaupun Indah mau, saya sudah melakukannya dari dulu. Tapi sayang Indah bukan wanita yang seperti itu. Dan kamu ingat, saya sedang mencari kesempatan saja agar Indah mau melepaskanmu, dan saat itu tiba maka saya akan pastikan Indah menjadi miliki saya!"


"Jangan bermimpi kamu!" ucap Bima sambil menunjuk wajah Dava.


"Apa maksud kamu?"


"Kamu sudah tahu apa maksudku jadi silahkan pergi dari sini, karena jika kamu ke sini untuk mencari Indah, sepertinya kamu salah alamat!"


Dava tidak mau berurusan terlalu lama dengan pria di depannya. Ia memilih berlalu meninggalkan Bima yang masih terdiam di tempatnya. Walaupun ia mengerti maksud Dava tapi ia berusaha keras untuk mengingkarinya.


Hingga deringan dari ponselnya mengadakannya, Bima pun segera merogoh ponsel yang ia simpan di saku celananya.


"Iya hallo!" ucapnya saat benda pipih itu sudah menempel di daun telinganya.


"...."


"Baiklah, saya akan kembali ke rumah sakit."

__ADS_1


Wajah Bima tampak tegang, ia pun bergegas meninggalkan tempat itu. Langkah Dava belum terlalu jauh hingga ia tahu jika pria itu baru menerima telpon dari rumah sakit.


"Lakukan saja semaumu dan aku pastikan aku tidak akan membiarkan sebutir air mata pun menetes dari mata Indah." ucap Dava sambil menatap kepergian mobil Bima.


Ternyata Bima mendapat telpon dari rumah sakit, rumah sakit mengatakan kalau kondisi Renata kembali drop membuatnya begitu cemas.


Indah sebenarnya begitu malas kembali ke apartemen, tapi untuk sementara ini ia benar-benar tidak punya tempat untuk tinggal selain apartemen.


Indah pikir saat ia kembali ke apartemen Bima sudah berada di rumah tapi ternyata perkiraannya salah.


"Rasanya aku hanya seperti selir yang terabaikan, bahkan mas Bima sama sekali tidak berniat untuk mencariku. Dia terlalu fokus pada Renata saja, lalu aku apa?" rasanya benar-benar pedih mengingat kenyataan itu.


Ia hanya bisa menghela nafas begitu dalam, ia hanya seperti boneka sumber uang bagi suaminya. Begitulah pemikiran Indah.


"Pokoknya aku harus benar-benar mengambil semua yang menjadi hak ku." gumamnya sambil menatap lembaran yang ia ambil dari map di ruang kerja orang tua Bima tadi. Di sana jelas tertera bahwa pewalian hanya akan sampai saat usia Indah menginjak delapan belas tahun dan untuk selanjutnya semua keputusan akan beralih ke tangannya.


Indah pun bertekad untuk mengambil kembali perusahaan milik orang tuanya itu, ia pun tidak lupa untuk meminta bantuan dari Dava, pria yang dengan terang-terangan menaruh hati padanya.


"Mungkin aku terkesan memanfaatkan, tapi apa boleh buat. Hanya Dava yang paling bisa aku andalkan."


Karena menurut Indah, hanya Dava yang memiliki kekuatan yang setara dengan Bima dan keluarganya, sedangkan dirinya hanya gadis yang tidak tahu apa-apa apalagi tentang perusahaan.


"Jangan salahkan Indah mas, mas Bima sendiri yang memulai semuanya."


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2