
Kini mobil yang di tumpangi Indah, Aya dan Dava sudah berhenti di kontrakan sederhana milik Aya yang sekarang juga sudah menjadi milik Indah.
"Maaf ya, aku nggak menawari buat mampir!" ucap Indah, karena saat ini sudah sangat malam, pasti akan menjadi pusat pembicaraan orang jika mereka berdua memasukkan seorang laki-laki.
"Tidak pa pa, masuklah. Aku akan segera pergi." ucap Dava masih dengan nada dinginnya.
"Ayo Indah, aku sudah mengantuk!" Aya benar-benar sudah tidak tahan menahan kantuk karena setengah perjalanan di dalam mobil, ia bahkan sudah tertidur.
"Baiklah sampai jumpa lagi! Selamat malam Dava!" ucap Indah sambil melambaikan tangannya meninggalkan Dava yang masih berdiri di samping mobil.
"Selamat malam!" ucapnya lirih tanpa beranjak dari tempatnya.
Setalah memastikan jika Indah dan Aya benar-benar masuk ke dalam rumah, barulah Dava pergi.
Ia berlari memutari mobil dan masuk melalui pintu yang ada di samping kemudi.
Tapi walaupun ia sudah masuk ke dalam mobil, ia masih menunggu hingga lampu rumah Indah tidak menyala lagi. Setelah benar-benar memastikan penghuni kontrakan itu matikan lampu, barulah ia menghidupkan mesin mobilnya.
...***...
Tampak Indah sudah duduk di salah satu kursi tunggu yang ada di pengadilan agama. Tangannya sesekali mengetikkan pesan di layar ponselnya dan mengirimkan pada seseorang, siapa lagi kalau bukan Aya.
Aya merupakan contoh sahabat yang bawel dan perhatian. Ia tidak pernah absen menanyakan apapun yang dilakukan oleh Indah. Termasuk hal-hal kecil, misalnya dia duduk di nomor berapa, ada berapa orang di sana, ada yang mengajaknya bicara atau tidak. Hampir semua di tanyakan.
Hari ini adalah jadwal Indah dan Bima untuk mediasi, dan setelah ini jika tidak di temukan titik terang untuk kembali persidangan cerai mereka bisa di lanjutkan. Dan itu tentu yang di tunggu oleh Indah, seharusnya.
Jika sedikit saja Indah melonggarkan, atau memberi kesempatan maka akan ada mediasi lanjutan. Bagaimanapun proses cerai yang di ajukan oleh pihak istri, jalannya lebih panjang dari gugatan cerai yang di ajukan oleh suami.
Kini Indah tengah memainkan jarinya setelah tidak ada balasan lagi dari Aya, rasa cemas tiba-tiba kembali muncul, hari ini begitu sulit. Kakinya juga terasa berat, tidak seperti sebelumnya. Setelah apa yang di katakan oleh Bima kemarin membuatnya berpikir ulang.
Ia melihat sisi baik dari sosok yang selalu ia anggap buruk akhir-akhir ini, hal itulah yang membuatnya kembali ragu.
"Indah!?"
Deg
Suara itu seakan kembali menggetarkan hatinya, Indah mendongakkan kepalanya menatap pria yang baru saja datang. Senyumnya selalu sama setiap kali bertemu dengannya.
Senyum yang dulu bahkan begitu ia rindukan, tapi sekarang senyum itu seperti bukan miliknya sepenuhnya.
__ADS_1
Seandainya, dia satu-satunya , mungkin ceritanya lain. batin Indah tanpa beralih menatap pria itu.
"Boleh aku duduk?" tanyanya dan Indah pun mengangukkan kepalanya.
"Sudah lama?" tanyanya lagi saat sudah duduk di samping Indah, tapi ia menyisakan bangku kosong diantara mereka.
"Baru saja mas."
Bima menatap ke arah antrian, masih beberapa orang lagi hingga mereka di panggil. Kebetulan pengadilan tidak begitu ramai seperti biasanya.
Bima tampak tidak sabar ingin mengatakan sesuatu pada Indah tapi ada yang membuatnya tertahan,
"Indah!"
"Hmmm?" Indah menoleh dan menatap ke arah Bima.
"Sebenarnya aku juga sudah menggugat cerai pada Renata! Pernikahan kami hanya pernikahan siri, jadi aku hanya perlu saksi untuk itu."
Ucapan Bima menjelaskannya dengan begitu detail. Kemudian ia segera melanjutkan lagi ucapnya saat melihat ekspresi Indah,
"Tenang saja, aku melakukannya bukan karena aku ingin mengajakmu kembali tapi memang aku selama ini merasa tidak pernah cocok dengan Renata." Ia tidak mau membuat Indah salah faham dengan maksudnya menceritakan hal itu.
Tidak ada respon dari Indah, karena ia tidak tahu harus menanggapinya bagaimana. Ia ingin senang, tapi ia tidak punya alasan senang kenapa. Ia juga ingin sedih, tapi sedih untuk siapa? Tidak mungkin ia memberikan rasa simpatinya pada pria di sampingnya itu.
Hingga akhirnya nama mereka di panggil, membuat Indah beranda lega, setidaknya ia tidak perlu repot-repot memberi tanggapan.
Mereka masuk ke dalam ruangan yang menjadi ruang mediasi, berhadapan dengan seorang wanita yang akan menanyai mereka banyak hal.
Cukup lama mereka di dalam, hampir dua jam hingga mereka berdua keluar kembali.
Dan kali ini wajah Bima terlihat begitu berbeda, seperti sebuah angin segar yang dengan sengaja di hembuskan ke wajahnya, dadanya yang kekurangan oksigen beberapa bulan itu seperti mendapatkan asupan oksigen hingga ia bisa bernafas begitu bebas.
"Kamu memberi kesempatan padaku?" Bima bertanya dengan nada yang tidak percaya setelah mereka benar-benar keluar dari gedung pengadilan agama itu.
"Belum tahu. Aku hanya memberi ruang sedikit pada mas Bima." ucap Indah dengan tatapan yang bersahabat, bukan tatapan yang penuh dengan permusuhan seperti biasanya.
"Jadi apa kita bisa_?" tanya Bima yang terlihat ragu untuk melanjutkannya.
"Maaf, Indah belum bisa menentukannya. Tunggu keputusan di meditasi selanjutnya saja!" ucap Indah lagi.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menunggu hari itu." senyum bahagia jelas terpancar dari wajah Bima.
"Aku duluan, mas!" ucap Indah yang sudah hampir berbalik tapi segera di tahan oleh Bima.
"Biar aku antar ya!" tawarnya, masih sama. Ia ingin sekali mengantar Indah pulang.
"Tidak perlu, aku akan pulang dengan taksi." tolak Indah sambil menepis halus tangan Bima yang berada di lengannya dan Bima pun tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah, walaupun ia ingin tapi ia juga tidak punya hak untuk memaksa Indah.
Indah pun meninggalkan Bima yang masih terdiam sendiri di tempatnya.
Cukup lama, hingga saat bima ingin beranjak dari tempatnya, tiba-tiba seseorang menghampirinya,
"Bima!?"
Bima menoleh pada sumber suara, dan ternyata dia Renata
Entah sejak kapan wanita itu melihatnya.
"Renata? Kenapa kamu di sini?" tanyanya dengan penuh keheranan.
"Bim, bisa kan kamu batalkan keputusan kamu, aku nggak mau berpisah sama kamu?" bujuk Renata sambil memegang tangan Bima tapi segera ia tepis.
"Aku sudah tahu semua kebusukanmu, itu sudah cukup untuk membuatku muak terhadapmu. Aku kira hubungan kita akan bisa di perbaiki, tapi nyatanya kamu sudah membuat kesalahan besar yang aku tidak akan bisa memaafkan mu! Maaf, berpisah jalan terbaik buat kita." ucap Bima dengan penuh kemarahan. Apa yang telah Renata lakukan sungguh tidak bisa di maafkan lagi.
"Jadi maksud kamu, kamu mau kembali sama Indah?" tanya Renata yang memang sudah tahu dengan hasil mediasi hari ini.
"Ini tidak ada hubungannya dengan Indah, jadi jangan bawa-bawa Indah dalam hubungan kita. Masalah pekerjaan kamu masih bisa tetap bekerja di perusaahan sampai peralihan kekuasaan. Setelah ini terserah Indah masih mau mempertahankan kamu atau tidak dan untuk rumah yang sudah kita beli, anggap saja itu harta Gono gini yang bisa kamu miliki seutuhnya, tenang saja, rumah itu aku beli dari tabunganku sendiri, bukan uang perusahaan."
Bima pun berlalu meninggalkan Renata sendiri, seperti Indah meninggalkannya.
"Bima!?" teriak Renata, tapi Bima sama sekali tidak mengindahkannya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...