Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"

Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"
Dia salah faham


__ADS_3

Renata menjatuhkan tubuhnya di tanah, ia benar-benar seperti tidak punya kekuatan lagi. Rasanya seperti tidak ada yang bisa ia perjuangkan lagi.


Nyatanya apa yang telah ia perjuangkan selama ini seakan sia-sia. Apalagi statusnya yang hanya sebagai istri siri, tidak punya kekuatan hukum sama sekali.


Bima menggaulinya, tapi ia tidak mencintainya. Begitu terlihat bahwa pria itu benar-benar tidak mencintainya. Pria itu menjaga Indah bak permata, bahkan untuk menyentuhnya saja tidak sedangkan dirinya hanya seperti pelampiasan nafsu saat pria itu butuh, tidak ada cinta dalam hubungan mereka hanya ada hubungan saling menguntungkan.


Kehidupannya yang seperti ini, dulu begitu ia rindukan tapi ternyata menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.


Impiannya untuk menjadi nyonya Bima, seakan pupus tidak bersisa.


Bahkan panasnya matahari yang memantul dari tanah tidak mampu membuat tubuhnya kembali bangkit, rasa sakit itu tidak seberapa di banding dengan rasa sakit atas hidupnya yang tidak berharga.


"Aku harus mencari cara, ini tidak bisa di biarkan." gumam Renata sambil mengusap air matanya.


Keyakinan itu kembali bangkit saat ia mengingat bagaimana Indah, ia yakin Indah tidak akan setega itu membiarkan hidupnya hancur.


Renata kembali berdiri, ia mengusap bajunya yang kotor, memakai kembali kaca mata hitamnya, ia tidak peduli dengan sikap Bima selanjutnya,


Yang terpenting sekarang adalah bisa membuat pria itu kembali padanya, bagaimana pun caranya, walaupun ia harus memohon dan berlutut pada wanita yang di cintai suaminya.


...***...


Indah sudah berada di dalam rumah, saat air hujan turun deras, tapi terlihat bajunya sedikit basah karena terkena gerimis.


Ia mengepak-ngepakkan bajunya yang basah itu,


Aya yang baru saja keluar dari kamar, segara menghampiri Indah. Tidak lupa ia menyahut handuk yang ia gantung di samping sofa.


"Ya ampun Indah, sudah tahu hujan masih juga di terobos." omel Aya, ia benar-benar seperti ibu bagi Indah tapi ia juga bisa jadi adik, jadi kakak, jadi guru. Aya begitu istimewa, ia seperti anugrah yang sengaja Tuhan hadirkan untuk menenangkan hidup Indah yang penuh dengan drama.


"Tadi belum hujan Aya!" ucap Indah yang masih bisa menimpali ucapan Aya. Ia suka dengan cara Aya memanjakannya.


"Baju basah gini, masih juga ngeyel!" ucapnya sambil menyerahkan handuk itu pada Indah.


"Terimakasih Aya!" ucap Indah sambil tersenyum. Rasanya begitu hangat mendapatkan perhatian kecil seperti ini.


"Iya sama-sama, kalau Dava tahu bisa di omelin aku!" ledek Aya. Aya begitu mengidolakan pria itu setelah apa yang di lakukan oleh Dava semalam, ia benar-benar tidak menyangka jika Dava akan se gentleman itu pada sahabatnya.


Bukan sekedar cinta tapi pria itu telah membuktikan bahwa ia memiliki nilai yang tinggi untuk menjadi pasangan yang ideal.


"Memang apa hubungannya dengan Dava!?" protes Indah sambil masuk ke kamar mandi.


"Dia idolaku sekarang!?" teriak Aya yang tidak mau kalah tapi Indah hanya menggelengkan kepalanya di dalam kamar mandi.


Ia harus segera mandi, mengguyur rambutnya yang Basar karena air hujan, jika tidak segera di siram dengan air hangat, besok ia pasti akan terserang flu.


Saat Indah keluar dari kamar mandi, ia sudah melihat Aya yang duduk di sofa sambil menikmati acara tv, saat hujan seperti ini rasanya begitu malas untuk bepergian.


Indah segera masuk ke kamar untuk mengganti bajunya, tampak ia keluar dengan baju hangat lengkap dengan selimut,


"Dingin sekali ya!?" ucapnya yang menyusul Aya dan duduk di sampingnya.


"Nih minumlah!" Aya menggeser gelas besar di depannya, ia sudah membuatkan segelas teh hangat lengkap dengan jahe,


"Terimakasih, ya ampun kamu baik banget sih!" Indah ingin sekali memeluk dan mencium sahabatnya itu tapi segera di tepis.

__ADS_1


"Jangan aneh-aneh ya!" ancamnya membuat Indah tersenyum.


"Lapar enggak?" tanyanya kemudian.


Indah memegangi perutnya, perutnya baru ia isi makanan tadi pagi, "Lapar sih!" ucapnya kemudian.


"Kita pesan makanan aja ya, biar cepet!" ucap Aya sambil mengambil ponsel yang ia letakkan di atas meja.


"Pakek akun aku aja! " tawar Indah , ia mengeluarkan ponselnya dari balik selimut tebal yang melilit tubuhnya, "Nihhh!" Indah menyerahkan ponselnya pada Aya.


Aya tersenyum dan melirik pada Indah, "Wisss, lagi banyak duwit nih ye!" godanya kemudian.


"Nggak banyak, cukup aja buat bikin kamu gemuk!"


Mulai Minggu ini, Indah mendapat sebagian hasil dari perusahaan yang langsung masuk ke rekeningnya. Ia tidak perlu mengandalkan siapapun lagi untuk menopang hidupnya karena namanya sudah tercatat sebagai pemilik sebagian besar saham group H.


"Ohhhh, baiklah. Berarti hari ini aku bisa pesan apa saja dong?" tanya Aya begitu bersemangat.


"Pesan aja sepuasnya, pokoknya yang kamu suka. Anggap ini sebagai ganti traktiran yang aku janjikan tadi malam!"


"Wisss, baik banget sih kamu!?"


Aya pun memilih beberapa makanan untuk mereka.


"Sudah!?" ucapnya saat sudah berhasil memesan beberapa makanan.


Aya pun meletakkan ponselnya di atas meja, ia kembali fokus pada acara tv, begitu juga dengan Indah.


Tapi Aya kembali teringat dengan hasil mediasi Indah hari ini, ia belum menanyakannya, melihat sahabatnya itu terlihat tenang saat ini, ia yakin hasilnya pasti baik.


"Lumayan!" ucap Indah tanpa mengalihkan perhatiannya pada acara tv.


"Lumayannya bagaimana?" Aya tentu tidak mengerti dengan kata lumayan dari Indah, "Sidang lanjutannya kapan?"


"Aku kasih kesempatan sama mas Bima."


Mendengar hal itu membuat Aya hampir saja tersedak. Padahal ia sudah berpikir jika lanjutnya pasti sidang perceraian bukan surat rujuk.


"Hahhhh? Gila ya kamu? Kamu nggak kasihan sama Dava?" tanya Aya sambil memegangi dadanya yang sesak karena hampir tersedak.


Ternyata pembicaraan mereka di dengar oleh Dava, Dava sengaja datang untuk mengantarkan makanan untuk mereka. Tapi mendengar hal itu, ia urungkan niatnya. Ia membawa kembali makanannya.


Sejak semalam, seharusnya hubungan Indah dan Dava membaik, ia sengaja menembus hujan hanya untuk mengantarkan makan siang untuk wanita yang ia cintai, tapi begitu sampai ia malah mendengarkan hal yang tidak seharusnya ia dengarkan.


"Kita kembali ke kantor pak!" ucap Dava saat sudah kembali masuk ke dalam mobil. Ia meletakkan dua kantong plastik makanan itu di bangku kosong yang ada di sampingnya.


"Baik tuan muda!" jawab sopir yang telah mengantarnya.


Mobil pun kembali meninggalkan tempat itu, meninggalkan Indah dan Aya.


Wajah Dava berubah seratus delapan puluh derajat, yang tadinya begitu sumringah, kini berubah menjadi dingin kembali.


Sesampai di depan kantor, Dava menyerahkan makanan yang seharusnya ia bawakan untuk Indah dan Aya pada sopir yang mengantarnya.


"Ini buat bapak saja!" ucapnya sambil mengulurkan kantong itu ke depan.

__ADS_1


"Buat saya tuan muda?" tanya sopir itu dengan masih terlihat bingung.


"Hmmm!"


Dengan jawaban Dava yang seperti itu, sopir tentu tidak berani bertanya lagi.


Dava segera turun dari mobil dengan wajah dinginnya ia memasuki gedung kantor dengan langkah lebarnya, sepatu fantofel yang ia kenakan menggema saat berpantulan dengan lantai, tidak ada yang berani menyapanya jika seperti itu,


"Dava!" teriak seseorang membuat langkah Dava terhenti sejenak tapi segera ia lanjutkan lagi,


"Tunggu!" dia menarik tangan Dava saat Dava sudah hampir mencapai pintu lift.


Dava yang sama sekali tidak merubah ekspresi nya hanya bertanya dengan nada dinginya, "Ada apa kamu ke sini?"


"Ihhh jangan gitu, kamu menakuti orang-orang jika seperti itu. Untung aku saudarimu jadi tatapan itu tidak mempan bagiku."


"Katakan!?" perintahnya lagi membuat wanita di depannya mendesah kesal.


"Tadi aku ke rumah kamu, tapi aku tidak menemukan Indah di sana!" ucap Devi, dia kakak perempuan Dava.


"Jangan cari dia!" ucap Dava, kali ini memilih menekan tombol yang ada di lift seperti tidak sabar ingin mengakhiri pembicaraan mereka.


"Tunggu!" tapi Devi menahannya lagi, membuat pria itu mendesah kesal.


"Memang kenapa?" tanya Devi lagi setalah melihat Dava menyerah.


"Bukan urusanmu, jadi sekarang pergilah aku sibuk." ucap Dava saat pintu lift benar-benar terbuka dan Dava pun masuk meninggalkan Devi sendiri di luar lift.


Devi menatap kepergian adiknya dengan tatapan yang bingung hingga pintu lift tertutup kembali.


"Ada apa sebenarnya?" tanya Devi, tapi ia tidak mungkin bertanya langsung pada adiknya itu, karena Dava terlalu tertutup.


Sayang sekali Dava tidak mendengarkan perkataan Indah selanjutnya, ia sudah lebih dulu pergi sebelum mendengarkan ucapan Indah yang selanjutnya. Seandainya saja ia bisa sabar sedikit, mungkin hubungan mereka tidak akan kembali renggang.


"Aku mengajukan mediasi ulang bukan karena aku ingin kembali sama mas Bima, Aya!" ucap Indah dengan memperjelas.


"Lalu?"


"Mas Bima menggugat cerai Renata, aku cuma kasihan saja sama dia."


Setelah melihat apa yang dilakukan Bima untuknya, rasanya tidak adil baginya jika begitu keras pada pria itu. Memberinya sedikit ruang, mungkin akan mampu membuatnya memikirkan ulang apa yang terjadi sebenarnya.


"Jangan Sampek ya Ndah, rasa kasihan kamu itu membuat kamu jadi bodoh." Aya terus memperingatkan Indah. Ia tidak mau sampai sahabatnya itu terjerat di lubang yang sama berkali-kali.


"Iya, jangan khawatir." ucap Indah dengan penuh keyakinan. Ia merasa dirinya yang sekarang sudah tidak selemah dulu hingga mudah mengubah keputusan.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2