Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"

Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"
Kepulangan Renata


__ADS_3

Bima berada di ruangannya, yang mulai hari ini akan ia tinggalkan .Ruangan ini sudah menjadi tempat favoritnya beberapa tahun belakangan ini,


"Semoga nantinya kamu betah di sini, Indah. Meski tanpa aku!" lagi dan lagi Bima mengamati seluruh sisi ruangan, ingin meninggalkan kesan yang indah dari ruangan itu.


Bima masih duduk di kursi kebesarannya, kursi yang begitu nyaman. Matanya mulai berair, bukan untuk menyesali semuanya. Tapi berusaha untuk iklas menerima kenyataan. Bahwa setelah hari itu, bahkan harapannya untuk bisa mendapatkan Indah kembali rasanya sudah pupus.


"Ini berat, tapi mungkin akan lebih berat jika aku mempertahankan kamu di sisi ku. Kamu mungkin tidak bersayap, tapi aku yakin kamu mampu terbang dengan tanganmu."


"Jika aku bukan yang ada di hati kamu, cukup aku yang tahu bahwa kamu adalah separuh dari hidupku. Hanya aku!?"


Sebelumnya, ia tidak pernah mencintai sedalam ini, bahkan cintanya mampu membuatnya mengorbankan segalanya.


"Mungkin ini memang sudah jalannya, apapun itu aku akan bertahan."


Kini ia benar-benar dalam keadaan dilema, ia tidak tahu harus berbuat apa.


Di satu sisi ada bayi yang tidak berdosa yang sekarang tumbuh di rahim Renata.


Tapi di sisi lain, ia benar-benar tidak bisa memaafkan semua kesalahan yang telah Renata perbuat padanya.


"Mungkin ini hukuman buat ku karena telah membuatmu menderita, tak apa!?"


Walaupun ia sudah cukup tahu bagaimana perangai Renata, tapi ternyata yang ia ketahui jauh lebih parah, selama ini ternyata Renata diam-diam sudah membuat konspirasi untuk menjatuhkan Indah, Renata dengan sengaja bahkan hampir saja mencelakai Indah dengan menyuruh seseorang untuk menabrak Indah.


Beruntung saat itu, Bima tahu tepat waktu hingga ia bisa menyelamatkan Indah.


Flashback on


Bima mengetahui rencana Renata, ia bergegas untuk menyusul Indah, tapi saat bersamaan mobil suruhan Renata sudah siap mengincar Indah.


"Sial, dia datang lebih cepat!"


Dengan menginjak pedal gas, Bima dengan cepat menghadang mobil itu dan ....


Brakkkk


Sebuah kecelakaan mobil terjadi, Bima sengaja mengorbankan tubuh dan mobilnya.


Mobilnya terguling dan menyebabkan kemacetan, Bima sengaja menabrakkan mobilnya pada mobil yang hendak menabrak Indah hingga membuatnya terluka parah.


"Ada apa di sana?" tanya Indah pada pengguna jalan lainnya.


"Ada kecelakaan, kayaknya parah!?"


Indah yang tidak tahu menahu saat melihat kecelakaan itu,


Indah sudah hampir menghampiri kecelakaan itu, saat Indah ingin melihat kecelakaan itu, ponselnya berdering.


"Iya Aya , ada apa?" Karena mendapat telpon ia pun mengurungkan niatnya untuk mendekat.


Ia pun tidak menyangkan jika kerumunan itu tengah mengerubuti Bima yang terluka,


Karena ia dan Bima sudah begitu lama tidak saling berhubungan semenjak kepergiannya dari apartemen, membuat Indah tidak tahu berita terbaru dari Bima.


Saat telponnya selesai, Indah sudah melihat mobil yang di derek dan ambulan yang membawa korban kecelakaan hingga ia tidak sempat melihat siapa yang ada di dalam ambulan itu.

__ADS_1


"Yahhh, sudah pergi!" gumam Indah. Ia padahal penasaran dengan siapa yang mengalami kecelakaan.


Bima sengaja melarang Dio agar tidak menghubungi Indah, ia tidak mau membuat Indah khawatir.


"Bersihkan semua berita, katakan pada semua wartawan kalau saya hanya kecapekan hingga tidak bisa melakukan aktifitas seperti biasa."


"Baik pak!"


Tidak hanya soal rencana penabrakan yang gagal itu saja, Bima akhirnya juga mengetahu jika Renata bahkan sampai menggelapkan uang perusahan.


"Panggil Renata ke ruangan saya!?" perintah Bima dengan begitu marah, ia menggengam beberapa bukti di tangannya.


"Baik!"


Selang beberapa menit, wanita pembuat masalah itu akhirnya datang.


"Kamu memanggilku, Bim?"


Bima langsung melempar semua berkas itu ke wajah Renata,


"Kamu kenapa sih , Bim? Kasar banget!"


"Lihat sendiri!?"


Renata begitu terkejut saat melihat berkas-berkas itu, ia benar-benar tidak menyangka apa yang dia lakukan di ketahui lebih cepat.


"Ini aku lakukan demi kamu, Bim!"


"Apanya yang demi aku!?"


"Sungguh, aku hanya tidak ingin apa yang sudah kamu usahakan semalam ini di ambil semuanya oleh Indah, aku nggak rela."


"Bim!?"


"Hanya dua!"


"Baiklah, aku akan mengembalikan semuanya ke perusahaan!"


"Jangan ada yang tersisa, Dio akan kembali mengeceknya dalam waktu dua jam!"


"Hahhhh?"


"Sebaiknya jangan buang waktu!"


Renata keluar dari ruangan itu dengan begitu marah, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti perintah Bima. Ia juga tidak ingin di penjara.


Beruntung Bima dengan cepat menyadarinya hingga tidak terjadi kerugian yang banyak di perusahaan.


Flashback off


Tapi untuk menceraikan Renata saat ini tentu bukan hal yang bagus, bagaimana pun bayi yang di kandung Renata adalah anaknya, darah dagingnya.


Tok tok tok


Pintu di ketuk dari luar, Dio muncul dari balik pintu itu. Bima segera mengalihkan perhatiannya, ia menatap sumber suara.

__ADS_1


"Semua sudah siap pak!" ternyata Dio, dia datang karena perintah dari Bima.


"Bagus. Bawa ke sini!"


Dio membawa beberapa berkas di tangannya,


"Untuk selanjutnya, dampingi Indah dengan baik. Lakukan sebaik yang kamu bisa!"


"Baik pak!"


Bima segera beranjak dari duduknya,


"Sekarang antar saya ke rumah sakit, kita harus menjemput Renata!"


"Baik!"


...***...


Kini Bima sudah berada di rumah sakit, setelah menyelesaikan proses administrasi, Bima pun segera menemui Renata di ruangannya.


Wanita itu tampak sumringah melihat kedatangan Bima,


"Aku kira kamu tidak datang!"


"Aku pasti dagang, bagaimana apa sudah siap?" tanyanya sambil melirik tas yang ada di belakang Renata.


"Sudah!"


"Baiklah, aku akan mengambilkan kursi roda untukmu!"


Renata begitu senang mendapatkan perhatian dari Bima, ia tidak menyangka kehamilannya benar-benar begitu berguna untuknya.


"Berhati-hatilah!"


Bima membantu Renata duduk di kursi roda dan mendorong kursi itu. Sebuah mobil sudah siapa di depan pintu masuk rumah sakit, Dio menunggunya di sana.


"Biar saya bantu, pak!"


"Terima kasih ya!"


Setelah memasukkan barang-barang Renata ke bagasi belakang, Dio pun duduk di balik kemudi.


"Sekarang kita kemana, pak Bima?"


"Ke rumah Renata!"


"Baik!"


Mobil pun mulai melaju meninggalkan pelataran rumah sakit.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2