
Baru saja Yusuf menggeser tubuhnya tiba-tiba seseorang yang sepertinya sedari tadi Yusuf masuk sudah memperhatikannya itu memanggilnya,
"Yusuf!?" tanyanya ragu, sepertinya ia juga takut salah orang.
"Indah, kamu mengenal anak itu?" tanya pria yang tengah duduk di depannya itu sambil mengamati wajah Yusuf.
Sepertinya mereka tengah membicarakan pekerjaan, terlihat dari beberapa berkas yang masih berserakan di depannya.
"I_Iya!" Indah merasa ragu, karena memang ia hanya mengetahui namanya saja. Tapi belum tentu anak itu mengenal dirinya.
Yusuf, dia tahu siapa yang tengah memanggilnya itu. Ia pun mengurungkan niatnya untuk duduk di tempatnya dan beralih menghampiri Indah,
"Hai kakak cantik, bidadarinya ayah!" ucap Yusuf seketika berhasil membuat Indah tercengang, hingga ia menatak ke arah pria di depannya.
Pria itu adalah Dava, ia segera membungkukkan punggungnya, "Hai jagoan kecil. Mau bergabung?" tanyanya dengan ramah.
Yusuf pun menganggukkan kepalanya, "Biar aku bantu ya!"
"Tidak, aku bisa sendiri. Memang paman tidak lihat aku sudah besar!" ucapan polos Yusuf berhasil membuat Dava tercengang, ia pun menatap ke arah Indah dan langsung mendapat senyuman dari Indah.
"Baiklah!?" Dava pun mengurungkan niatnya untuk membantu Yusuf duduk.
Sesaat setelah Yusuf duduk, seorang karyawan toko menghampiri mereka, "Pesanan atas nama Yusuf!"
"Iya, itu aku!" ucapnya dengan begitu santai.
"Baiklah, silahkan menikmati kuenya!" ucap karyawan itu sambil meletakkan pesana Yusuf di atas meja. Setelah itu karyawan itu meninggalkan mereka.
"Yusuf, apa kamu sendiri?" tanya Indah saat melihat Yusuf mulai memakan kuenya.
"Tidak, aku sama ayah!" kemudian Yusuf menatap Dava dengan tatapan penuh selidik, "Apa dia pacarmu?" tanyanya seperti seorang pria menanyai rekan wanitanya hal itu justru berhasil membuat Dava dan Indah tersenyum.
"Kenapa jagoan? Apa kamu merasa tersaingi?Jika Iya, sepertinya kita akan bersaing secara ketat!" goda Dava, tapi memang seperti itulah keadaannya. Kali ini Dava ingin kembali mendapatkan hati Indah yang belum pernah ia dapatkan.
__ADS_1
Mendapat tantangan seperti itu, Yusuf pun segera berdiri di kursinya dan berkacak pinggang,
"Jangan macam-macam paman, dia bidadari ayahku!" ucapnya sambil menatak Dava.
Dava benar-benar tidak percaya ada anak kecil, bahkan bisa di bilang masih balita bisa begitu berani, ia pun beralih menatap Indah yang sedari tadi hanya menjadi pendengar perdebatan mereka, dua pria yang jelas-jelas beda jauh generasinya.
"Ahhhh, jadi penasraan sama ayahmu, jagoan!"
"Dia ayah terhebat di dunia!"
"Baiklah, aku percaya. Jika terbukti ayahmu terhebat di dunia maka aku akan rela mengalah. Sekarang duduklah kembali sebelum kuemu terasa hambar!" jawab Dava dengan begitu bijak. Akhirnya Yusuf pun duduk kembali dan mulai memakan kuenya.
Dava kembali menatap ke arah Indah yang memilih kembali fokus dengan berkas yang ada di depannya,
"Indah!" panggilnya pada Indah.
"hmmm!"
"Apa jangan-jangan kamu mengenal ayah dari anak ini?" tanya Dava penuh selidik.
"Ya enggak lah, beberapa hari lalu aku nggak sengaja ketemu di di restauran. Kebetulan ia datang sama pengepul sayuran yang biasa mengantar ke restauran! Itu aja!"
"Ohhh, aku kira! Tapi apa kamu tidak melihat sesuatu yang familiar dari mata anak ini?"
Mendengar pertanyaan itu, menarik perhatian Indah untuk menatap ke arah Yusuf, ia memperhatikan dengan seksama wajah anak itu,
Kenapa wajahnya seperti tidak asing? sepertinya Indah baru menyadari hal itu, tapi siapa? ia bahkan lupa wajah siapa yang ada pada anak itu. Hingga pintu toko itu terbuka, terdengar suara seorang pria yang cukup familiar tengah berbicara dengan salah satu karyawan toko,
"Saya mencari putra saya, usianya empat tahun."
"Ohhh itu pak!"
"Ayah!" Yusuf yang mengetahui kedatangan ayahnya segera memanggil dan melambaikan tangannya membuat Bima segera menoleh ke arah suara Yusuf.
__ADS_1
Pria itu adalah Bima, seketika Indah dan Dava tertarik untuk melihat ke arah pria itu juga. Bima terpaku di tempatnya begitu melihat putranya bersama wanita yang selama ini ingin ia hindari, dia Indah.
Indah ....
Tapi segera ia menyadari ada orang lain di sana, ada Dava. Walaupun tidak bisa diungkapkan tapi ia tahu hatinya tengah hancur sekarang.
"Ayah, kesini. Ini ada bidadari ayah!"
Bima pun segera mengatur senyumnya, ia menarik sudut bibirnya. Mencoba memperlihatkan kalau dia sekarang baik-baik saja. Dengan langkah pasti ia pun mendekati meja mereka.
Ia berhenti tepat di samping Yusuf, "Hai Indah, Dava!" sapanya sambil senyum yang begitu sulit ia buat.
"Hai!" jawab Indah dan Dava bersamaan. Indah masih terpaku di tempatnya, ia tidak menyangka akan bertemu kembali dengan pria yang sudah membuatnya patah hati berkali-kali.
"Duduklah, kita bisa minum kopi bersama!" Dava mencoba untuk tetap bersikap biasa saja.
"Tidak! Maaf, maksud saya, saya harus segera pergi. Mungkin lain kali!" ucap Bima, ia tidak mau berada di situasi yang canggung seperti ini, antara dirinya, Indah dan Dava, "Yusuf, ayo pulang!"
"Tapi ayah_!" Yusuf begitu keberatan.
"Yusuf!" jika sudah seperti itu, Yusuf tahu jika sudah seperti itu ayahnya tidak bisa di bantah lagi.
"Baiklah!" Yusuf pun segera turun dari duduknya, "Kakak cantik, kita pasti bertemu lagi!"
Indah hanya bisa tersenyum hambar dengan ucapan Yusuf.
"Kami pergi dulu!" Bima pun segera menarik tubuh mungil putranya ke dalam gendongannya dan meninggalkan mereka berdua.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan like dan komentarnya, kasih vote juga yang banyak, hadiahnya juga ya biar tambah semnagat nulisnya
Follow akun ig aku ya
__ADS_1
Ig @ tri.ani5249
Happy Reading