Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"

Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"
Lebih baik menghindar


__ADS_3

Setelah melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim, Bima tidak langsung kembali ke kamar putranya, ia memilih untuk duduk di serambi sambil menatap orang-orang yang sibuk lalu lalang di depannya.


Pikirannya saat ini tenang beradu antara pada keinginan dirinya untuk kembali mengejar cintanya pada Indah atau fokus untuk membesarkan putranya.


Bagaimana bisa ia berharap banyak pada Indah, yang jelas-jelas dirinya sekarang tengah menjadi seorang ayah dari seorang anak tanpa ibu.


Begitulah ia menyebut Yusuf, ia bahkan tidak berniat memperkenalkan Yusuf pada ibunya meskipun suatu saat Yusuf menanyakannya.


"Mas Bima!" hingga sebuah panggilan menyadarkannya. Ia bahkan tidak tahu sejak kapan pria itu duduk di belakangnya,


"Man, sejak kapan kamu di sini?"


"Sejak aku melihat mas Bima duduk di sini!" Dirman yang masih berdiri pun menyusul Bima untuk duduk. Ia duduk tepat di samping Bima, seperti penasaran dengan apa yang tengah di amati oleh pria itu.


"Tenang ya mas?" ucapnya sambil masih mengamati lalu lalang orang yang keluar masuk mushola rumah sakit.


"Iya!?"


Mereka kembali terdiam, sepertinya Dirman tengah mencari waktu untuk bicara dengan Bima hal yang sifatnya pribadi.


"Mas!?"


"Iya?"


"Mbak Indah sepertinya ibu yang baik untuk Yusuf."


"Iya!" jawab Bima tanpa berkeinginan untuk memberikan penjelasan hal itu membuat Bima semakin gemas.


"Kenapa mas Bima tidak balikan saja sama mbak Indah, sepertinya mbak Indah juga masih menaruh perasaan pada mas Bima." Dirman menghentikan bicaranya saat menyadari bahkan Bima tidak berniat untuk menanggapi ucapannya,


"Maaf mas, saya terlalu lancang!?" Dirman benar-benar merasa tidak enak dengan ucapannya sendiri.


Bima pun tersenyum, ia tidak menyalahkan jika Dirman berpikir seperti itu. Karena jelas terlihat dari bagaimana ia bersikap saat berada di dekat Indah. Ia tidak bisa menutupi perasaannya.


Persis seperti lagi Rossa yang judulnya "Terlalu cinta" meskipun ia mencoba menghindar tapi sepertinya cinta tetap berpihak pada mereka.


"Aku yang tidak pantas menjadi suami Indah, sudah terlalu banyak luka yang aku buat untuknya. Biarlah jika memang harus menghindar dan itu lebih baik, akan aku lakukan."

__ADS_1


"Tapi mas, kayaknya apa yang terjadi di masa lalu mas Bima, bukan murni karena kesalahan mas Bima, pasti karena mbak Renata. Mas Bima ini orang baik, dan akan di pertemukan dengan orang baik juga."


"Semoga, tapi tidak saat ini Man. Biarkan Allah yang akan menuntunku pada jodohku kelak. Untuk saat ini aku hanya ingin fokus pada Yusuf, itu saja."


"Apapun itu, Dirman akan membantu mas Bima sebisa Dirman. Untuk menjaga Yusuf kalau mas Bima tinggal ke ladang atau ke pasar, biar istri Dirman yang jagain di rumah."


"Terimakasih ya Man."


"Sama-sama mas."


"Oh iya man, sepertinya Yusuf nanti pulang. Aku tidak punya kendaraan untuk pulang, bisa tidak man kamu sewakan pick up milik pak lurah."


"Begitu ya mas? Baiklah kalau begitu saya pulang dulu sama istri saya, nanti saya kembali sendiri."


"Iya, nanti aku tunggu ya!"


Akhirnya mereka pun kembali ke kamar, Bima belum sempat membereskan barang-barang Yusuf, karena dalam rencana masih besok. Tapi karena Renata sudah keluar lebih dulu dan Yusuf tidak ada masalah apapun, ia pun memutuskan untuk pulang hari ini juga.


Setalah Dirman dan istrinya berpamitan, kini tinggal Indah dan Aya,


"Biar Indah bantu ya?" tawar Indah , ia sudah menurunkan Yusuf yang tertidur di atas tempat tidur.


"Tidak perlu, duduklah!" Bima bicara tanpa menatap ke arah Indah.


Hingga akhirnya semua perlengkapan itu sudah masuk ke dalam tas, kini giliran Bima mengakar tubuh Yusuf dan mulai menggendongnya, ini sebenarnya pengalaman pertama Bima untuk mengendong seorang bayi,


Melihat Bima yang kerepotan, Indah kembali tidak tega,


"Biar aku bantu mas!?"


"Tidak perlu."


"Ini untuk Yusuf, bukan untuk mas Bima!" Indah tetap dengan keras kepalanya, ia menarik Unjung selendang yang ada di bahu Bima dan melingkarkannya ke tubuh Yusuf kemudian membuat simpul di bahu Bima yang lainnya.


"Sudah!?"


"Terimakasih!"

__ADS_1


Bima menenteng tas besar itu di bahunya yang lain,


"Kalau kalian mau pergi, kalian boleh pergi sekarang! Saya tinggal menunggu Dirman kembali, lagi pula saya juga akan menunggu di depan." ucap Bima masih dengan nada dinginnya.


"Mas Bima yakin nggak mau Indah antar saja? Kasihan Lo mas Yusuf nya?" tanya Indah lagi dan langsung mendapat cubitan dari Aya. Sepertinya Aya menyadari jika Bima sengaja menghindari Indah.


"Nggak pa pa, kebetulan Dirman pulang untuk mengambil mobil. Perjalanan dari sini ke tempat tinggal saya cukup jauh takutnya kalain nanti malah pulang kemalaman. Dan terimakasih untuk perhatiannya selama ini, lebih baik setelah ini kita tidak usah saling bertemu lagi." ucap Bima yang memang seolah-olah ia tidak ingin Indah sampai tahu tempatnya tinggal.


"Ndah, kita pulang yuk, sudah mau sore. Di luar juga mendung!" Aya segera mengajak Indah untuk pulang saat melihat wajah kecewa dari sahabatnya itu.


Indah menepis tangan Aya dengan lembut dan kembali menatap Bima yang tengah mengendong Yusuf dengan selendang tradisional yang dibawakan oleh istri Dirman.


"Baiklah! Maaf sudah menggangu waktu mas Bima selama ini. Semoga mas Bima dan Yusuf bisa hidup dengan tenang_" tanpa aku ..., dua kata terakhir hanya terucap dalam hatinya. "Kami pergi!"


"Hmmm!" ucap Bima dengan tanpa menatap ke arah Indah, kepergian Indah yang seperti itu juga melukai perasaannya,


Aya akhirnya benar-benar menarik tangan Indah dan mengajaknya pergi dari ruangan itu.


Bima salih terdiam, "Maafkan aku Indah, aku hanya tidak mau kamu terjebak dalam masalah yang sama lagi, biarlah ini menjadi jalan hidupku. Dan kamu harus bahagia dengan hidupmu!"


Tepat saat Indah pergi, tiba-tiba Yusuf menangis dengan keras.


"Nak, kamu kenapa? Jangan menangis lagi ya." Bima segera menimang tubuh Yusuf sebelum meninggalkan ruangan itu. Ia tidak mau Indah kembali lagi karena mendengar tangisan dari Yusuf.


"Anak pintar, kita harus jadi pria kuat nak. Kita bisa hidup berdua tanpa siapapun, percaya sama ayah kan?"


Akhirnya setelah sepuluh menit, Yusuf kembali tengang, ia tidur kembali dan Bima pun memutuskan untuk keluar dari kamar itu.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2