Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"

Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"
Rencana Indah


__ADS_3

Mendengar pernyataan Indah, Dava begitu kesal. Ia sampai berdiri dari duduknya dan mengusap rambutnya dengan kasar,


"Kamu jangan gila Indah, kamu Sudan buta rupanya!"


Dava benar-benar tidak habis pikir dengan pemikiran Indah saat ini, dia sudah sangat di sakiti oleh pria itu dan masih ingin kembali.


"Ya kamu benar, aku sudah gila. Tapi kegilaanku ini akan membalaskan semua sakit hati yang telah aku terima!" ucap Indah tetap dengan raut wajah datarnya.


Dava segera berbalik kembali menatap Indah dan memastikan apa maksud dari ucapan Indah,


"Maksud kamu?"


"Rasanya tidak akan adil jika aku hanya pergi begitu saja!"


Karena keputusan Indah sudah bulat akhirnya Dava pun setuju, ia akan membantu sebisanya agar Indah tidak sampai kesulitan.


Ia pun mengantar Indah kembali ke apartemennya,


"Kamu yakin?" tanya Dava lagi memastikan, kalaupun Indah mau saat ini juga Dava akan mengurus semuanya, menampung Indah di rumah besarnya dan menjadikan Indah ratu di sana. Tapi Indah punya pemikiran lain dan Dava tidak bisa memaksakannya, ia hanya bisa berjanji jika bahu dan dadanya akan menjadi tempat ternyata saat Indah rapuh.


"Iya, aku harus jadi Indah yang kuat!"


Indah pun segara masuk meninggalkan Dava yang masih terdiam di tempatnya.


Dengan langkah yang pasti Indah segera membuka pintu apartemennya, ia harus bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa.


"Indah!"


Dengan cepat Bima menyambut kedatangan Indah, ia segera memeluk tubuh Indah. Indah tersenyum mendapat pelukan dari sang suami,


"Kamu kemana aja semalaman ini?"

__ADS_1


"Maafkan Indah ya mas, Indah sebenarnya kemarin ada tugas kelompok!"


"Sama pria itu?" Bima melepas pelukannya dan mencengkeram kedua bahu Indah.


Jadi mas Bima tahu aku perginya sama Dava ....


"Iya mas, kebetulan aku satu kelompok sama dia, tapi karena kemalaman aku terpaksa menginap di tempatnya tapi jangan khawatir mas, di sana ada banyak teman-teman juga kok!"


Bima kembali memeluk Indah,


"Kamu kembali dengan baik-baik saja sudah membuat aku tenang, lain kali hubungi dulu jika ada apa-apa, jadi aku bisa menjemputmu!"


"Iya mas!"


"Bim!?" Indah tercengang saat melihat Rena ternyata berada di sana juga, terlihat Rena membawakan sepiring makanan untuk Bima, sepertinya wanita itu harus aja dari dapur.


Jadi ada Rena juga ...., berani sekali kamu mas ....


Indah perlahan melepas pelukan Bima membuat Bima menoleh pada Rena yang berdiri di tempat yang tidak begitu jauh dari mereka,


Indah kembali tersenyum, sedangkan Rena masih terpaku di tempatnya. Indah segera berjalan menghampiri Rena dan mengambil piring yang ada di tangan Rena,


"Ya ampun Rena, terimakasih banyak ya kamu sudah repot-repot mencemaskan suami saya!"


"Tidak pa pa, ini juga tugas saya!"


Ucapan Rena berhasil membuat Indah yang sudah hampir berbalik kembali fokus pada Rena,


"Maksudnya?"


"Saya sekertaris Bima, jadi sudah sewajarnya saya memperhatikan Bima juga!"

__ADS_1


"Ohhh, jangan sampai hubungan kalian ini membuat orang lain menjadi salah faham, kalian terlalu dekat!" ucap Indah sambil berlalu begitu saja, ia kembali menghampiri Bima,


"Mas Bima pasti belum makan karena terlalu mencemaskan Indah, sekarang makan ya!"


Indah pun mengajak bima untuk duduk di sofa, dengan begitu hangat menyuapi suaminya itu.


Rena yang menatap dari kejauhan hanya bisa terbakar cemburu dengan perlakuan Indah pada Bima,


"Mas, ada yang nyangkut di sudut bibir mas Bima!" Indah segera mengambil makanan yang ada di sudut bibir Bima, tapi bukan dengan tangan melainkan dari bibirnya,


"Indah!?" Bima sampai terkejut di buatnya.


"Ini lebih enak mas, kalau di makan langsung dari bibir mas Bima, iya kan Rena?" Indah sengaja menoleh pada Rena yang masih berdiri di tempatnya.


Rena hanya tersenyum, "Kerena Indah sudah kembali, saya akan kembali ke kantor!"


Rena dengan cepat mengambil tas nya dan berlalu begitu saja,


"Hati-hati di jalan ya Rena!" Indah melambaikan tangannya dengan senyum termanisnya.


Setelah memastikan Rena benar-benar pergi, Indah pun segera meletakan piring itu di atas pangkuan Bima.


"Mas, bisa lanjutkan sendiri kan makannya, aku kebelet ke kamar mandi, tidak pa pa kan?"


"Iya, tidak pa pa!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2