
Renata sudah mondar mandir di depan rumah, ia begitu kesal karena Bima sudah pergi semenjak lagi tapi hingga hampir petang pria itu juga tidak kunjung datang,
"Dia benar-benar sengaja ya mau bikin aku kesel. andai saja aku tidak mengandung anak ini, aku tidak perlu terjebak di kampung kecil kayak gini."
Kehamilan yang awalnya begitu ia harapkan, kini seperti bumerang bagi dirinya sendiri.
Ia kira dengan hamil, hidupnya akan terjamin, Bima akan mengurungkan niatnya urnkj menyerahkan semuanya pada Indah.
Tapi kenyataanya tidak, bahkan kehamilannya membuat keputusan Bima semakin yakin untuk meninggalkan semuanya.
Renata sudah hampir duduk di kursi kecil yang ada di teras, tapi dengan cepat ia kembali berdiri saat melihat mobil Bima memasuki halaman,
"Akhirnya datang juga dia."
Bima keluar dari mobil saat mesin mobil sudah mati, tidak lupa ia membawa sebuah kipas listrik berukuran kecil.
"Dari mana saja sih, Bim? Aku ksampek jamuran nungguin kamu!"
"Aku tadi sudah tinggalin note kan, ini kipas anginnya!?"
"Bukan AC?"
"Aku rasa di sini, kipas angin aja udah cukup."
"Kamu semakin keterlaluan ya. Aku ini bukan cuma istri kamu, aku juga ibu dari anak kamu, bisa nggak sih aku diperhatikan sedikit."
"Maaf, tapi kamu mau apa? Aku akan Carikan, tapi jangan AC. Listriknya tegangannya cuma kecil, dari pada nanti cuci bajunya pakek tangan mending nggak usah pakek AC."
"Jadi maksudnya di sini cuci baju sendiri? Nggak ada laundry apa?"
"Kita tinggal di kampung, Ren. Jangan minta yang macam-macam!?"
"Aku nggak biasa cuci baju sendiri."
"Emang dulu sebelum nikah sama aku, kamu nggak cuci baju sendiri!?" ucap Bima sambil menggelengkan kepalanya, ia tahu benar Renata berasal dari keluarga yang seperti apa dulu.
Melihat Renata terdiam, Bima pun menggunakan kesempatan itu untuk masuk ke dalam rumah. Tubuhnya sudah sangat gerah, ingin segera mandi dan beristirahat karena seharian terus berkeliling.
Bima bukannya ingin mengungkap masa lalu, tapi demi mematahkan keangkuhan Renata mungkin sedikit mengingatkan asal usulnya akan sedikit mengingatkan bagaimana caranya bersikap.
Renata bukan berasal dari keluarga yang berada, ayahnya hanya seorang satpam dan ibunya hanya ibu rumah tangga biasa. Mereka sudah berteman sejak kecil, Bima ataupun Bram kerap membantu keluarga Renata dalam banyak hal.
Hingga ia tidak menyangka jika kebaikannya akan di manfaatkan seperti ini, permintaan tulus dari ayah Renata membuatnya tidak tega untuk menolaknya. Tapi hal itu yang kini membuatnya terjebak dengan wanita yang dulu polos karena tertutup dengan kesederhanaan dan kini ternyata terlihat bagaimana sifat asli dari Renata.
Seperti biasa, setelah mandi ia segara memeriksa meja makan. Tapi tetap seperti hari-hari sebelumnya, ia tidak menemukan apapun di menja makan yang bisa di makan.
"Hahhh, ini sudah biasa!"
Bima berusaha untuk mengibur dirinya sendiri. Beruntung ia masih punya mie instan dan beberapa potong sawi.
Sebungkus mie instan sudah sangat cukup untuk mengisi perutnya yang lapar.
Setalah sepuluh menit akhirnya mie matang dan ia segera menyantapnya.
Renata yang entah datangnya dari mana, ia ikut duduk di meja makan.
"Bim, kita harus bicara!"
"CmBicara saja, aku akan mendengarkannya!"
"Aku nggak mau selamanya terjebak di sini."
"Trus?"
__ADS_1
Bima sudah sangat muak menghadapi wanita di depannya itu, tapi ia tidak punya pilihan lain selain menghadapinya. Ini sudah menjadi pilihannya, jadi ia juga harus menerima konsekuensinya.
"Sebaiknya pernikahan kita tidak usah di daftarkan ke kantor catatan sipil!"
Kali ini Bima terdiam, ia menghentikan makannya dan menatap ke arah Renata.
"Dari pada nanti saat kita akan pisah, ribet lagi."
"Ini maksudnya apa?" Bima benar-benar tidak mengerti dengan maksud dari ucapan Renata.
"Maksudnya sudah jelas Bima. Aku tidak mau selamanya terjebak di sini, jadi aku sudah putuskan. Anak ini_!" Renata mengusap perutnya yang mulai terlihat berisi, "Akan aku serahkan sama kamu saat sudah lahir, dan aku akan memilih pergi."
"Kamu sudah gila ya!?" Bima benar-benar syok, ia sampai memukul meja membuat sendoknya terjatuh dari mangkuk mie nya.
"Aku waras, justru aku sangat waras. Pernikahan kita tidak ada baiknya selama ini, mulai dari tidak dapat restu, ada Indah dan sekarang kamu jatuh miskin. Jadi aku pikir akan lebih baik jika kita akhiri saja. Kamu bisa memiliki anak ini sepenuhnya."
"Kamu benar-benar sudah gila ya, itu juga anak kamu. Dia butuh ibunya, bukan cuma papanya."
"Tapi aku tidak butuh dia, kalau kamu juga nggak mau merawat dia, aku bisa mantu kamu buat cari panti asuhan untuk dia."
"Kamu jangan macam-macam ya!" Bima sampai berdiri dan menunjuk ke wajah Renata, "Kamu bisa menyakitiku, menyakiti siapapun, tapi jangan harap kamu bisa menyakiti anakku. Dia anakku, biar aku yang akan merawatnya. Setelah melahirkannya, kamu bebas pergi kemana saja."
Setelah mengatakan hal itu, Bima pun segera pergi meninggalkan Renata. Rasa laparnya tiba-tiba hilang begitu saja.
Rasanya tidak betah di rumah, ia memilih berjalan keluar rumah tanpa tahu arah tujuannya. Yang penting sekarang bisa terhindari dari Renata untuk sementara waktu sampai emosinya mereda.
Ia tidak mau kemarahannya bisa membuatnya menyakiti Renata.
Ia benar-benar tidak habis pikir dengan Renata. Ia pikir dengan adanya bayi diantara mereka, akan mengubah sifat Renata yang egois, tapi tidak. Nyatanya Renata semakin menjadi.
Renata dan mamanya tidak jauh beda.
"Mas Bima!?" suara seseorang yang berada di belakangnya membuat Bima menghentikan langkahnya, saat ia menoleh ke belakang ternyata ada Dirman dan seorang bapak-bapak.
"Ini pak Mahmud!?"
"Pak Mahmud!"
"Mau ke mushola juga ya?" tanya Dirman membuat Bima terdiam, ia tidak tahu sekarang mau ke mana. Mungkin itu ide yang bagus,
"Iya!?" jawab Bima asal. Berbincang dengan orang lain mungkin bisa sedikit mengurangi rasa gundahnya.
"Ayo barengan aja mas."
Akhirnya Bima pun ikut bergabung dan di depan mereka juga bertemu dengan bapak-bapak yang lain yang juga sedang menuju ke mushola. Rupanya hampir semua pria di kampung itu jika tiba waktu magrib mereka berbondong-bondong pergi ke masjid.
Beruntung dulu Bima pernah belajar agama, jadi sedikit-sedikit ia masih bisa mengikuti gerakan imam saat sholat walaupun ia tidak tahu apa yang sedang di baca saat sholat.
Orang tuanya sejak kecil tidak pernah mengajarinya tentang agama, membuatnya benar-benar buta tentang agama, hanya di KTP nya tertera kalau dia beragama Islam, lanjutnya tidak ada.
Bima mengikuti orang-orang lainnya, menunggu hingga waktu isya' baru meninggalkan mushola.
Tapi karena ia masih belum ingin pulang setelah sholat isya', ia memilih duduk di teras mushola. Ia berencana akan pulang saat Renata sudah tidur, setidaknya ia tidak akan bertemu Renata malam ini.
Mushola sudah terlihat sepi, tapi masih ada satu atau dua orang yang di dalam. Bima tidak tahu jika salah satu dari mereka adalah Dirman hingga Dirman menyapanya lagi.
"Lohhh, mas Bima belum pulang?"
Pertanyaan dari Dirman membuat Bima mendongakkan kepalanya dan tersenyum. Tapi sepertinya Dirman menyadari senyum Bima yang terpaksa itu, ia pun ikut duduk di samping Bima.
"Mas Bima, kebetulan istri saya masak banyak hari ini. Bagaimana kalau mas Bima ikut Dirman ke rumah?"
"Jangan, nanti merepotkan istri kamu!?"
__ADS_1
"Tidak, malah istri saya senang. Ia selalu nanyain mas Bima, suruh ngajak ke rumah. Ayo mas, sebentar saja!?"
Akhirnya karena Dirman terus memaksa, Bima pun setuju.
Mereka berjalan bersama ke rumah Dirman,
"Mas Bima ada masalah ya?"
Sebenarnya enggan menceritakan kisah rumah tangganya pada orang lain, tapi sedikit bercerita mungkin akan sedikit mengurangi beban hidupnya,
"Sedikit!?"
"Jangan khawatir mas, jika kita tidak punya lagi bahu untuk bersandar, insyaallah masih banyak tempat untuk bersujud pada Allah. Kalau manusia bisa membuat kita terluka, Allah akan mengobatinya dengan kita bersujud padanya!"
Bima tercengang, ia hampir tidak percaya kata-kata itu keluar dari bibir Dirman yang berpenampilan sederhana. Benar-benar tidak memperlihatkan jika Dirman adalah pria dengan ilmu yang banyak.
"Ha ha ha, ucapan saya lucu ya mas!?" dirman tiba-tiba menertawakan ucapannya sendiri.
"Tidak, tapi justru aku bangga sama kamu, kamu bisa punya pemikiran yang seperti itu. Sungguh luar biasa."
"Ini dari guru ngaji saya waktu kecil, mas. Walaupun katanya sederhana setidaknya bisa menjadi penyemangat dalam hidup saya."
"Terimakasih ya, Man!?"
"Dirman nggak melakukan apa-apa mas, kenapa terimakasih?"
"Tidak perlu melakukan apapun untuk membuat orang lain berterimakasih, cukup mendengarkan cerita orang tersebut sudah meringankan beban orang lain, terimakasih ya!"
"Sama-sama mas, Dirman jadi seneng kalau mas Bima akhirnya bisa sedikit berkurang bebannya!"
Hingga akhirnya mereka sampai juga di rumah Dirman, kedatangan Bima langsung di sambut hangat oleh istri Dirman.
Dirman meminta istrinya untuk menyiapkan makanan untuk mereka, hanya makanan sederhana, tempe goreng, sambal bawang dan juga sayur kangkung menjadi menu makan malam ini.
Tapi rasanya makanan yang sederhana itu begitu nikmat di lidah Bima. Ia jadi teringat dengan makanan ia pernah ia makan di kampung Indah, sama seperti ini. Makanannya sedehana tapi terasa begitu nikmat.
Tanpa terasa matanya mulai berair, seandainya saja ia tidak melakukan kesalahan, mungkin Indah tidak akan membencinya. Bima dengan cepat mengusap matanya yang berair agar tidak ada yang menyadari jika dirinya menangis.
Setelah selesai makan dan mengobrol, jam sudah menunjukkan angka sembilan,
"Sudah malam, saya pulang dulu ya, terimakasih atas jamuan makan malamnya. Sungguh ini makanan ternikmat yang pernah saya makan."
"Sama-sama mas, saya senang kalau mas Bima suka."
"Aku pulang dulu, sampaikan salamku pada istri kamu ya."
"Iya mas!"
Istri Dirman harus menidurkan anak bungsu Dirman jadi tidak bisa menemani Bima mengobrol.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1