
POV Indah
Kami sudah keluar dari ruangan, aku berjalan sendiri sedangkan mas Bima, aku tahu dia langsung di sambut oleh Renata. Aku sungguh tidak peduli.
Aku masih belum mendapatkan apapun kecuali jadwal sidang berikutnya, lebih tepatnya jadwal mediasi.
Mas Bima masih ngotot mencintaiku dan ingin mempertahankan pernikahan ini, mungkin itu yang menjadi pertimbangan jaksa.
Aku tidak peduli, apapun yang terjadi hari ini tapi hasil akhirnya harus tetap sama, aku memilih. menjadi janda muda dari pada menjadi istri kedua.
"Indah!"
Langkahku kembali terhenti saat sudah berada di halaman pengadilan. Itu mas Bima, kenapa dia memanggilku? Apa Renata tidak akan marah atau cemburu.
Demi mengobati rasa penasaranku, aku memilih menoleh ke belakang, ternyata mas Bima tengah lari menghampiriku tanpa Renata, di mana wanita itu?
"Kita harus bicara!"
Aku tahu mas Bima pasti ingin membicarakan tentang apa yang terjadi di dalam tadi, tapi rasanya aku sudah sangat kesal.
"Maaf, aku tidak punya waktu. Sebaiknya kita bicarakan Rabu depan di ruang mediasi."
"Jika kamu melakukan itu, aku bisa mempersulit proses kita."
Hehhhh, sepertinya aku harus mengalah hari ini ....
"Baiklah, katakan!"
"Bukan di sini, kita cari tempat yang nyaman!"
chkkkk
Lagi-lagi aku hanya bisa berdecak, bisa-bisanya dia ngelunjak. Tapi apa boleh buat, aku terlanjur menyanggupi.
"Bagaimana?"
"Baiklah!"
"Ayo ikut aku!"
__ADS_1
Aku terpaksa ikut mobilnya, duduk di tempat yang mungkin sering di duduki oleh Renata. Rasanya membayangkan saja muak, ingin sekali keluar lagi dan memilih duduk di belakang tapi mas Bima terlanjur melajukan mobilnya.
Tapi saat mobil berputar, dari kaca spion di sampingku, aku bisa melihat pantulan mobil Dava.
Dia menjemputku, apa mungkin dia juga melihat aku naik mobil mas Bima?
Dan benar saja, baru saja aku pikirkan sebuah panggilan rempong masuk, dari Dava. Aku pun segera menerimanya, tidak peduli dengan mas Bima yang melirikku, memang apa urusannya dengan ini,
"Hallo!"
"Aku menjemputmu!"
"Aku melihatnya tadi, pulanglah! Kita bertemu di rumah."
"Aku akan mengikutimu!"
"Tidak perlu, aku hanya sebentar. Sampai jumpa di rumah!"
Aku tidak mau berdebat dengan Dava karena mas Bima. Aku segera menutup sambungan telpon, Jika Dava marah dia lebih mudah di bujuk. Bukan menjadi masalah.
"Pria itu?" pertanyaan mas Bima membuyarkan lamunanku, aku pun segera memasukkan kembali ponselku ke dalam tas samping milikku,
"Bukan urusan mas Bima!"
Hingga akhirnya sebuah restauran menjadi tempat pilihan bagi mas Bima, mas Bima memarkirkan mobilnya bersama dengan pelanggan yang lain.
Sebelum mas Bima membukakan pintu, aku sudah lebih dulu turun, aku tahu terlihat wajahnya kecewa. Tapi aku tidak ingin menciptakan kesan aku terlalu bergantung padanya.
Aku berjalan mendahuluinya, memilih bangku yang terbilang tidak begitu dekat dengan bangku yang lain. Aku yakin pembicaraan ini pasti sedikit banyak akan menguras emosiku.
"Mau makan apa?" tanyanya dan aku tidak ingin meributkan makanan kali ini, perutku juga sudah lapar. Sedikit makan akan menambah amunisi ku.
"Apa aja!" aku bisa makan apa saja.
"Baiklah, bagaimana kalau sate ayam dan jus jeruk?"
"Terserah!"
Mas Bima terlihat kecewa, terdengar dari helaan nafasnya. Tapi aku tidak peduli, memang itu yang aku mau. Semakin cepat lepas semakin baik.
__ADS_1
Mas Bima memanggil seorang pelayan dan menyebutkan pesanan kami, ia juga memilihkan beberapa makanan lainnya.
Hingga selang beberapa menit, makanan datang.Tidak ada percakapan lagi, karena aku memilih untuk fokus makan, perutku begitu lapar kalau di paksakan untuk berdebat aku bisa makan orang.
Dan benar saja, mas Bima menunggu hingga makanan kami habis, pelayan segera merapikan piring kotor kami, menyisakan dua piring camilan dan dua gelas jus yang baru.
"Sekarang katakan!" perintahku, aku sudah tidak lagi berbicara menggunakan etitut sebagai seorang istri.
"Indah, harus berapa kali lagi aku katakan. Aku siap melepaskan apapun, kecuali kamu."
Aku menatapnya dengan tatapan sangsi, pria seperti mas Bima rela melepaskan apapun, aku tidak yakin, "Benarkah?"
"Iya, bahkan jika kamu mau saat ini juga kita kembali ke kampung, aku rela. Asal sama kamu. Mungkin awalnya memang aku menganggap tahta, kekuasaan, uang adalah segalanya. Aku menutup semua hidupku seperti berada di gunung es, tidak membiarkan orang lain masuk dengan mudah dalam hidupku.
Tapi kamu, kamu bagaikan matahari yang mampu melelehkan gunung es itu, membiarkan aku merasakan benar-benar hidup."
Gombalan apa yang tengah kamu lontarkan mas Bima? Aku sekarang bukan Indah yang mudah percaya dengan kata-kata manis dari kamu mas. Indah sekarang sudah terlalu banyak di sakiti. Kebohongan yang mas Bima dan keluarga mas Bima buat, membuat hati Indah yang awalnya begitu lembut dan penuh cinta sekarang menjadi batu.
"Renata?" bagaimana bisa dia bilang menutup hidupnya sedangkan menerima Renata sebagai istrinya.
"Kamu tahu bagaimana ceritanya, aku dan Renata sudah bersahabat lama. Aku pikir pernikahan kami hanya antara hubungan dua sahabat yang saling membantu, tapi aku tidak tahu kalau Renata ternyata menaruh perasaan padaku. Aku tahu aku tidak bisa menyesalinya sekarang, karena iya memang kami sudah menjadi sepasang suami istri, tapi kamu tahu perasaanku hanya untuk kamu."
"Simpan saja kata-kata itu untuk Renata, aku pergi!"
Aku sudah terlalu muak mendengarnya, aku memilih menyambar tasku dan meninggalkan mas Bima.
Tapi langkahku lagi-lagi terhenti karena teriakan mas Bima,
"Indah, jika melepaskan semuanya bisa membuat kamu percaya, aku akan melepaskan semuanya. Perusahan dan jabatanku sebagai CEO!"
"Buktikan!" ucapku tanpa memutar badanku, Aku enggan untuk menoleh kembali. Aku hanya berharap mas Bima menepati ucapannya.
Aku pun kembali melanjutkan langkahku. Tidak peduli lagi bagaimana wajah frustasi pria itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...