
Ini hari di mana rapat pemilik saham yang ke dua, di rapat ini akan di tentukan siapa pemimpin perusahan selanjutnya.
Semua orang sudah bersiap-siap untuk mengikuti rapat tidak terkecuali nyonya Rose dan Bima.
"Mama jangan melakukan apapun lagi yang bisa membuat mama malu, karena Bima tidak akan membiarkan apapun terjadi pada Indah!" ancam Bima pada sang mama.
"Kamu memang sudah benar-benar dibutakan sama dia!?"
Melihat mamanya yang sedikit tenang membuat Bima sedikit curiga pada mamanya, tidak biasanya ia bersikap seperti itu.
Indah juga tampak di sana, ia sengaja menggandeng pak Hadi sebagai pendukung utama nya. Selain pak Hadi, Indah juga mengajak Aya. Karena Aya tidak memiliki kepentingan di sana, Aya pun memilih menunggu Indah di ruang tunggu.
"Pak Hadi, saya sangat membutuhkan dukungan anda."
"Setelah saya tahu apa yang terjadi sebenarnya, saya pasti akan mendukung nona Indah sepenuhnya, jadi nona jangan khawatir!"
"Terimakasih ya pak!?"
"Sama-sama, ini memang sudah menjadi tugas saya."
Sebelumnya Indah sudah menemui pak Hadi, ia meminta pendapat pria itu tentang langkah-langkah yang harus ia ambil setelah ini. Dan dengan senang hati pak Hadi memberikan dukungan penuh pada Indah.
Setelah memastikan semua peserta meeting telah hadir, Bima pun memulai meeting.
Bima kembali memimpin meeting kali ini,
"Saya di sini selaku pemilik kekuasan tertinggi di sini saat ini, sekali lagi saya akan dengan senang hati menyerahkan semua kekuasaan ini pada Indah selaku pemilik sah. Tapi sebelum itu karena keputusan bukan hanya di tangan saya, jadi saya memberi kesempatan pada kalian semua untuk melakukan voting sesuai dengan hasil meeting kemarin."
Terlihat semua peserta meeting sudah menyetujui keputusan Bima karena memang sudah menjadi keputusan bersama.
"Silahkan, Dio!"
"Baik, pak!?"
Bima pun meminta Dio untuk menyerahkan secarik kertas kecil pada semua peserta, termasuk Indah dan nyonya Rose. Begitu juga dengan bima sendiri.
"Silahkan tuliskan siapa diantara kami, saya dan Indah yang akan menempati posisi ini selanjutnya!"
Orang-orang pun mulai menuliskan salah satu nama mereka sebagai kandidat.
Setelah sepuluh menit, Dio kembali berkeliling untuk mengambil kertas yang sudah berisi tulisan itu dan membawanya kembali mendekat pada Bima.
Tapi Bima memilih mencari orang yang netral di tempat itu, dan dia adalah pak Hadi dan Dio.
"Pak Hadi, anda selaku kuasa hukum kami, kami persilahkan untuk mulai menghitung suara."
Pak Hadi pun akhirnya berdiri di bantu oleh Dio. Ia mulai membuka satu persatu kertas yang di lipat itu dan Dio yang menuliskannya di papan yang sudah di sediakan.
"Bima!"
"Indah!"
"Indah!"
"Bima!"
"Bima!"
"Indah!"
Satu per satu nama mereka di panggil. Nama mereka terus bergulir hingga tersisa satu kertas di tangan pak Hadi sebagai penentu keputusan hari ini.
"Tinggal satu, dan namanya 'Indah'" ucap pak Hadi sambil menunjukan satu kertas terakhir itu.
Antara nama Indah dan bima hanya selisih dua angka saja.
"Baiklah, jadi sesuai keputusan bersama. Voting ini dimenangkan oleh nona Indah!" ucap pak Hadi.
Semua peserta rapat memberi selamat pada Indah kecuali nyonya Rose, dia tampak begitu kesal tapi berita yang ia dapat jika Indah memperpanjang mas mediasi perceraian mereka membuat nyonya Rose sedikit tenang. Ia yakin Indah pasti akan bersedia kembali pada Bima.
Jika mereka kembali bersatu, semua ini tidak akan berpengaruh. Karena sudah pasti, siapapun yang memenangkannya hari ini, pemimpinnya tetaplah Bima.
__ADS_1
"Indah, silahkan memberi sambutan sepatah dua patah kata sebagai pemimpin yang baru!"
Cepat atau lambat hal ini pasti akan terjadi dan Indah harus siap.
Indah pun berdiri dan mengambil mikrofon yang ada di tangan Bima.
"Selamat siang semuanya, terimakasih karena kalian Sudah memberi kepercayaan penuh pada saya untuk memimpin perusahaan ini. Untuk kedepannya, tentunya saya membutuhkan banyak bimbingan pada kalian semua terutama pak Bima yang Sudah sangat berpengalaman. Semoga dengan usia saya yang sekarang, tidak menjadi penghalang bagi saya untuk maju dan tentunya memajukan perusahaan ini. Perusahaan ini bukan milik saya pribadi, perusahaan ini milik.kita semua, jadi jika nanti ada kesalah yang mungkin tanpa sengaja saya lakukan, mohon sekali lagi bimbingannya!"
Pidato singkat Indah kembali mendapat sambutan tepuk tangan dari semua peserta rapat.
Akhirnya rapat pun berakhir dengan keputusan akhir, Indah lah pemimpin selanjutnya dan Bima, dia bebas memilih posisi apapun di perusahaan ini.
Semua peserta rapat sudah keluar, menyisakan Bima dan Indah.
"Indah!"
"Hmmm?"
"Selamat ya, aku percaya kamu pasti bisa!"
"Terimakasih!" Indah pun menghentikan kegiatannya mengemasi barang-barangnya dan kembali menatap Bima,
"Bagaimana keadaan Renata?"
"Rencananya hari ini sudah boleh pulang."
"Syukurlah!" ucap Indah yang sudah kembali fokus dengan barang-barangnya.
"Terimakasih ya!" ucap Bima lagi, kali ini berhasil membuat Indah kembali menoleh padanya,
"Untuk apa?"
"Kamu sudah menolong Renata!" tampak ucapan Bima begitu tulus, tapi Indah segera mengalihkan kembali perhatiannya. Ia tidak mau terjebak di lubang yang sama berkali-kali.
"Sama-sama," Indah pun berbalik, dan melangkahkan kakinya. Baru saja tiga langkah, Indah kembali berhenti dan berbalik, "Salam buat Renata, kemarin saya belum sempat memberinya ucapan selamat."
"Baik, nanti aku akan sampaikan!"
Indah harus segera menemui Aya yang menunggunya di ruang tunggu. Melihat Indah yang berjalan ke arahnya, Aya benar-benar tidak sabar untuk menghampiri Indah,
"Bagaimana hasilnya?" tanya Aya begitu penasaran.
"Lancar!?"
"Jadi maksudnya?"
"Iya!" ucap Indah sambil menganggukkan kepalanya, senyumnya tampak begitu lebar, "Aku terpilih!?"
"Ya ampun, Indah temanku sekarang sudah jadi Bu bos!?"
"Ha ha ha ..., aneh banget!?"
"Nggak pa pa, pokoknya aku bangga sama kamu!?"
Tanpa mereka sadari ternyata Bima sedang memperhatikan mereka dari balik dinding,
"Selamat ya Indah, aku yakin kamu pasti bisa!?" ucap Bima lirih kemudian berlalu meninggalkan tempat itu, hatinya begitu bahagia saat melihat senyum lepas dari bibir Indah yang sudah lama tidak ia lihat. Ia seperti menemukan kembali Indah yang dulu, yang selalu bisa tersenyum dalam keadaan apapun.
"Bagaimana, siap aku traktir!?" tanya Indah pada Aya dan Aya pun langsung mengangukkan kepalanya.
"Seneng banget, tiap hari di traktir sama kamu!?"
"Ya ini resiko jadi temannya Bu bos!?"
Mereka pun kembali tertawa lepas, sebuah taksi sudah menunggu mereka di depan. Kali ini Indah tidak hanya mentraktir Aya di warung pinggir jalan tapi di sebuah restauran bintang lima.
"Kamu yakin Ndah, kesini?"
"Hmmm, tenang aja. Aku sekarang punya banyak uang. Dan lagi pula ini restauran milik chef Bram, kalau kurang uangnya aku bisa langsung hubungi chef Bram!?"
"Wishhhhh, sering-sering aja kayak gini!"
__ADS_1
Indah tersenyum dan menarik tangan Aya, mengajaknya masuk.
Walaupun chef Bram sahabat Bima tapi ia tidak punya masalah dengan pria itu, ia jadi berpikir untuk membuat restauran setelah memikirkan bakatnya tentang memasak.
Indah dan Aya memilih duduk di salah satu bangku,
"Ya ampun Indah, ini bagus banget pelayanannya. Tempatnya juga bagus, kayaknya perlu di abadikan deh!"
Aya mengambil ponselnya dan bersua foto berdua dengan Indah dengan berbagai anggel yang pas.
"Indah!?"
Suara seseorang menghampiri mereka, pria itu masih mengenali Indah.
"Chef Bram!?"
Jadi dia chef Bram, ganteng banget ..., batin Aya, ia mengagumi pria yang menghampiri mereka itu,
Wajahnya kayaknya nggak begitu asing, apa aku juga mengenalnya? wajah chef Bram memang tidak asing bagi Aya, karena Aya sering menyaksikan acara chef Bram di tv.
"Boleh aku bergabung?" tanyanya.
"Silahkan chef!"
Chef Bram pun akhirnya ikut duduk, ia beralih menatap ke arah Aya yang terlihat masih terpaku memperhatikan wajah chef Bram,
"Dia teman kamu?" tanyanya pada Indah.
"Iya, kenalkan chef, dia Aya!" tapi Aya masih belum bisa beralih menatap chef Bram, "Aya, Ya!" panggil Indah beberapa kali hingga akhirnya Aya tersadar.
"Ahhh iya?"
"Chef Bram mau kenalan sama kamu!?"
"Hahhh, kenalan ya. Kenalkan saya Aya!?"
"Saya chef Bram!"
"Senang berkenalan dengan chef Bram!"
Chef Bram tersenyum dan beralih menatap Indah, "Teman kamu lucu ya Indah!?"
"Dia memang suka benget, chef kalau lihat cowok ganteng!" ucapan Indah langsung mendapat cubitan dari Aya.
"Enggak kok chef, cuma ngerasa nggak asing aja!?" ucap Aya mencoba beralasan.
"Ya kalau tidak salam sih, saya yang ada di acara super chef!"
"Hahhh, super chef yang ada di tv?"
"Hmmm!"
"Ya ampun, aku suka banget acara itu chef!"
Akhirnya Aya dan chef Bram semakin asik bicara. Mereka seolah-olah lupa jika masih ada Indah diantara mereka.
"Baiklah, kali ini kalian bisa pesan sepuasnya, aku kasih gratis!"
"Benaran, chef?" tanya Indah tidak percaya.
"Iya, serius. Jadi kalian harus sering-sering ya datang ke sini!"
"Pasti, siapa yang nggak mau makan gratis setiap hari." ucap Aya membuat chef Bram dan Indah tertawa olehnya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...