Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"

Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"
Kekesalan Bima


__ADS_3

"Bagaimana, apa kita pulang?" tanya Dava dan Indah memilih untuk menggelengkan kepalanya, ia tahu saat ini mungkin Bima sudah mengetahui jika dirinya pergi dengan Dava.


"Kamu yakin?" Dava kembali meyakinkan Indah.


"Iya!"


"Bagaimana kalau Bima marah?"


Indah menoleh pada Dava dan menarik sebelah sudut bibirnya, "Bukankah itu lebih baik!" tapi di balik senyumnya itu tersimpan luka yang begitu besar. Ia hanya seorang Indah yang hatinya begitu rapuh saat menghadapi sang suami.


Sebesar apapun kesalahan suaminya, membenci adalah sesuatu yang sangat berat.


"Baiklah, terserah kamu!"


Indah pikir jika ia kembali sekarang, mungkin besok ia tidak akan di perbolehkan untuk keluar lagi. Ia tahu Bima bukan pria yang bodoh hingga dengan mudah membiarkan Indah pergi dengan pria lain yang dia anggap sebagai saingannya.


"Kalau begitu istirahatlah, besok pagi-pagi sekali kita berangkat!"


"Hmmm, aku ke kamar dulu ya Dav!"


Indah pun segera meninggalkan balkon dan menuju ke kamarnya, dua kamar itu hanya di pisahkan dengan sebuah balkon dengan jendela yang bisa di buka lebar hingga udara segar bis masuk melalui balkon.


Indah segera ke kamar, ia menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur tapi segera merubah posisinya kembali duduk. Ia kembali mengambil ponselnya yang sempat ia letakkan di atas nakas.


Menatap ponselnya itu, begitu banyak panggilan tak terjawab dan pesan masuk dan semuanya dari suaminya,


"Dia cemas juga aku tidak pulang!" gumamnya pelan.


Tapi kemudian ada satu pesan dari Aya, "Aya!"


Indah pun segera membuka pesan itu,


//Ndah, kamu di mana sih? Sama Dava ya? Kamu tahu nggak tadi sepupu kamu yang tampan itu datang ke kampus nyariin kamu, dia tanya apa kamu sudah pulang? Ya aku bilang kamu nggak masuk hari ini//


Indah pun jadi tertarik untuk membalas pesan dari Aya,


//Trus dia tanya apa lagi?//


Indah segera mengirimkan jawabannya dan hanya dalam hitungan detik saja, pesannya langsung di balas,


//Dia tanya, apa Dava juga tidak ada di kampus? Ya aku jawab iya, kayaknya dia langsung marah deh Ndah. Kamu beneran ya pergi sama Dava?//


Indah pun bingung harus membalas apa, tapi rasanya juga tidak adil jika terus membohongi Aya,

__ADS_1


//Iya, aku lagi pergi sama Dava. Kami ada urusan yang sangat penting. Mungkin besok aku juga nggak bisa ke kampus lagi. Tolong kamu ijinin sama dosen ya//


Baru beberapa detik Indah mengirimnya dan Aya dengan cepat kembali membalas.


//Kamu jadian sama Dava? Serius?//


"Apaan sih Aya ini!" ia benar-benar tidak setuju dengan apa yang di katakan oleh Aya.


//Enggak Aya, lusa deh kalau kita ketemu aku cerita semuanya//


Indah pun akhirnya jadi tahu kalau Bima memang sudah tahu dia sedang pergi dengan Dava. Akhirnya ia pun memutuskan untuk menghubungi Bima agar tidak semakin terjadi kekacauan. Ia tidak mau sampai Dava mendapat masalah gara-gara dirinya.


...***...


Karena tidak menemukan Indah di manapun, Bima pun memilih ke tempat Rena.


"Aku sudah pesan makanan buat kita, kita makan ya sayang!" Rena menyusul Bima yang sudah di sofa, meski saat ini tv nya menyala tapi pikirannya tengah melayang jauh pada Indah,


"Aku belum lapar, kalau kamu lapar makanlah dulu!"


"Mana bisa seperti itu!"


"Ayolah Rena, aku sedang pusing. Bisa kan jangan ganggu aku sebentar saja?"


"Hmmm!"


Akhirnya Rena meninggalkan Bima juga. Bahkan untuk sekedar bermesraan dengan Rena saja rasanya enggan.


Bagaimana bisa Indah sama anak itu? Apa yang sebenarnya mereka lakukan hingga ia berbohong seperti ini?


Bima benar-benar tidak tahu harus melakukan apa lagi sekarang. Ia juga tidak mungkin mendatangi Indah di tempat Dava. Ia hanya bisa meminta sekretaris pribadinya untuk mengerahkan anak buahnya untuk mencari Indah dan Dava.


Hingga tiba-tiba ponselnya berdering, betapa bersemangatnya saat ia tahu jika itu Indah yang melakukan panggilan.


"Hallo Indah, kamu di mana?" Bima sampai berdiri antusias, seakan ia akan segera menjemput jika saja Indah mengatakan dia dimana.


"Mas, Indah nggak pulang malam ini, jadi jangan cari indah ya, mungkin aku akan pulang besok atau lusa!"


"Kamu di mana? Sama siapa? Jangan bilang kamu sama pria itu?"


"Iya!"


"Indah!?" kali ini Bima benar-benar marah sampai ia membentak Indah dalam telponnya.

__ADS_1


"Sudah lah mas, Indah tidak mungkin melakukan sesuatu yang membuat diriku rendah di mata mas Bima, aku ada sesuatu yang harus aku kerjakan!"


"Katakan di mana kamu sekarang, aku akan menjemputmu!"


"Tidak perlu!"


"Indah, aku serius! Cepat katakan!"


"Maaf mas, sampai jumpa besok!"


Tut Tut Tut


Tiba-tiba suara sambungan telpon yang terputus,


"Indah ...., Indah ...., Indah ....!" Bima masih mencoba memanggil Indah tapi tetap saja tidak akan ada yang menjawabnya karena memang sambungan terputus.


"Sytttttt!?" Bima hanya bisa mengepalkan tangannya dan memukulkannya ke udara.


"Indah, bisa-bisanya kamu melakukan ini padaku!" Bima berucap dengan nada geramnya.


Tanpa Bima sadari ternyata percakapannya di telpon dengan Indah di dengar oleh Rena, Rena tengah berdiri di balik pintu kamar, mendengarkan percapakan mereka.


"Jadi dia ke sini gara-gara Indah, mau sampai kapan Bima, mau sampai kapan kamu melihatku sebelah mata!" Rena benar-benar kesal tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Dirinya yang telah bermain api jadi sudah menjadi balasan baginya terbakar oleh permainannya sendiri.


"Aku harus mengambil kembali hati Bima, bagaimana pun caranya. Aku yang lebih dulu tinggal, tidak akan aku biarkan orang baru merebut tempatku!"


"Aku harus melakukan sesuatu!" Rena kembali menutup pintunya dan pura-pura tidak mendengarkan apapun yang terjadi. Ia juga tidak akan menemui Bima sebelum Bima sendiri yang menghampirinya, ia tahu saat perasaan Bima sedang sangat kacau. Dengan ia menggangu akan membuat dirinya terlihat buruk di mata Bima.


Bima memukulkan tangannya beberapa kali, seperti ia tengah melampiaskan kekesalannya pada pria yang membawa Indah.


Bima berusaha menghubungi Indah lagi, tapi ternyata Indah sudah mematikan ponselnya.


"Dia benar-benar serius, sebenarnya apa yang sedang ia rencanakan, kenapa dia sampai berbuat senekat ini?"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2