
Bima sudah berada di depan rumah Rena, mereka pun berangkat bersama.
"Sayang, akhir-akhir ini kamu tidak punya banyak waktu untukku. Bahkan hanya untuk menjemputku saja kamu begitu keberatan!" keluh Rena.
"Maaf, aku sedang banyak pikiran!"
"Kerena Indah?"
"Kenapa sih kamu selalu saja bawa-bawa Indah dalam permasalah kita!"
"Sudah lah Bim, nggak usah beralasan. Dari cara kamu bicara saja aku sudah tahu kalau kamu mulai menyukai gadis itu. Atau jangan-jangan kalian memang sudah berhubungan!"
"Cukup ya Rena, aku mulai nggak ngerti jalan pikiranmu. Aku sudah melakukan apapun yang kamu minta. Bahkan ide bodoh untuk menikah dengan Indah pun muncul dari kamu. Berhenti menyalahkan Indah dalam segala hal!"
"Tapi Bima!"
"Cukup, aku sedang ingin bertengkar. Jadi berhenti berdebat denganku!"
Rena sudah membayangkan mereka bermesraan pagi ini, tapi nyatanya berbeda. Bima malah begitu marah padanya.
"Turunlah!"
"Kamu mau ke mana?"
"Ada urusan sebentar!"
Walaupun terpaksa akhirnya Rena turun.
Bima kembali melajukan mobilnya. Hari ini ia sedang tidak punya semangat untuk kerja. Di diamkan Indah sepanjang hari membuatnya kesal.
Bahkan Indah sama sekali tidak membalas pesannya walaupun terlihat Indah sudah membacanya.
"Ada apa sih sebenarnya?"
Bima melemparkan kerikil kecil ke danau, ia berharap kerikil itu bisa membuatnya sedikit tenang.
"Sudah gue duga, Lo pasti di sini!"
Bima mendongakkan kepalanya sejenak dan kembali fokus menatap ke arah danau.
"Si gila kerja nih ada apa ya? Gue lihat hari ini nggak seperti biasanya, ada masalah sama Rena?"
Bima yang di tanyai memilih diam,
"Gue tadi nganter bini muda Lo ke kampus!"
Perkataan Bram yang itu berhasil membuat Bima menoleh dan melotot padanya,
"Lo kira gue nggak tahu hubungan Lo sama Indah. Come on baby ...., kita sudah sahabatan berapa lama, bahkan saat orang-orang tidak tahu hubungan Lo sama Rena, gue udah tahu duluan."
"Indah membicarakan sesuatu?"
"Lo salah bro kalau Sampek nyakitin gadis sebaik Indah. Ia bahkan tidak pernah menganggap Lo buruk meskipun ia mulai mencurigai sesuatu tentang Lo dan Rena!"
"Sesuatu?"
"Iya, misalnya ia selalu menanyakan tentang aroma parfum. Gue kasih tahu ya, cewek tuh perasaannya sensitif, dia bakal tahu kalau pasangannya sedang mau api di belakangnya!"
"Tapi Bram, gue sudah nika duluan sama Rena sebelum sama dia, bahkan pernikahan kita sudah jalan satu tahu sekarang!"
"Lo yakin nikah sama Rena karena.lo cinta?"
"Ya cinta lah, kalau nggak ngapain juga gue nikah sama Rena?"
__ADS_1
"Bukan karena permintaan bapaknya Rena?"
Pertanyaan Bram berhasil membuat Bima dia. Saat itu Bima menikahi Rena di depan bapak Rena yang tengah sekarat.
Padahal saat itu ada Bram dan Bima, tapi bapaknya Rena memilih Bima. Sedangkan mereka tidak memiliki hubungan istimewa sebelumnya, walaupun ia tahu kalau Rena sudah lama menaruh perasaan padanya.
Bapak Rena memaksa Bima untuk menjaga Rena, menikah dengan Rena saat itu juga, walaupun hanya nikah siri.
Saat itu mereka hanya berstatus sebagai sahabat sama seperti statusnya dengan Bram saat ini.
Bima dan Rena berhasil menyembunyikan hubungan mereka bahkan dari kedua orang tua Bima.
Hingga tiba-tiba orang tua Bima meminta Bima untuk menikahi putri dari sahabat papa Bima yang meninggal karena kecelakaan.
Sebelum meninggal, mereka menitipkan perusahaannya pada orang tua Bima agar di kelola dan saat usia putrinya sudah cukup, bersedia untuk menjodohkan dengan putranya.
Awalnya Bima menolak keras karena jelas ia Sudja menikah dengan Rena, tapi kedua orang tuanya memaksa dan mengancam akan mencabut semua hak waris atas nama dirinya dan melimpahkan kepada Indah.
Karena sebelumnya, kedua orang tua Bima bukan apa-apa. Ia hanya karyawan yang bekerja di perusahaan orang tua Indah.
Berkat kegigihan dan tanggung jawab papa dan mama Bima, akhirnya perusahaan itu sekaran berkembang begitu pesat.
Bima memilih pergi tanpa membawa apapun, tapi saat sampai di rumah Rena dan menceritakan semuanya, Rena malah meminta Bima untuk kembali dan menikahi gadis yang telah di jodohkan dengannya. Walau bagaimanapun, ia tidak ingin hidup susah tanpa harta sepeserpun.
"Aku bisa mulai dari nol, Ren. Asal kamu percaya sama aku, aku pasti bisa bangkit!"
"Mau Sampek berapa tahun Bin, sampek kita tua? Aku nggak mau Bim hidup melarat, tidak punya apa-apa bahkan untuk makan aja susah!"
"Tapi ren_!"
"Aku rela Bim, tidak masalah berbagi asal hati kamu cuma buat aku. Lagi pula kita kan memang belum berencana buat punya anak!"
"Baiklah, aku setujui!"
"Sudah benar-benar kamu tanya dalam hati, kalau kamu benar mencintai Rena?"
"Bram_!"
"Ya terserah sih kamu mau percaya atau tidak. Lain kali kalau mau ambil keputusan itu berdasarkan suara hati kamu sendiri, jangan mikirin pendapat orang lain. Jadinya bingun sendiri kan!"
...***...
Bima memutuskan untuk tidak kembali ke kantor, ia malah tertarik untuk menjemput Indah di kampus.
"Mas, ngapain di sini?"
"Jemput kamu!"
"Buat apa?"
"Aku ingin bicara, masuklah!"
Indah pun terpaksa ikut masuk, Walaupun ia masih bingung dan enggan untuk bicara.
Bima mendekatkan tubuhnya pada Indah membuat Indah terpaku di buatnya,
"Pakai sabuk pengamannya!"
Hehhhhh .....
Padahal Indah sudah berharap lebih tadi, tapi ternyata Bima hanya memasangkan sabuk pengaman untuk Indah.
Bima mulai melajukan mobilnya memecah jalanan yang masih terlihat padat.
__ADS_1
"Kita mau ke mana?"
"Kita ke pantai, sudah lama sekali tidak ke sana!"
"Tapi aku ada jadwal kursus, mas!"
"Aku sudah minta ijin tadi sama Bram!"
"Serius?"
"Memang tampangku terlihat pembohong?"
Nggak sih, tapi seperti menyembunyikan sesuatu ....
"Kok malah bengong, mau kan ke pantai?"
"Ya mau lah mas, Indah nggak pernah ke pantai. Di kampung jauh banget dari pantai! Kalau ke pantai cuma pas study tour di sekolah, itu pun nunggu dua tahu sekali!"
Bima tersenyum mendengar celotehan Indah, entah mengapa ia selalu suka mendengarkan celotehan-celotehan polos dari Indah.
Hingga akhirnya mereka sampai juga di tepi pantai. Indah dengan cepat keluar dari mobil dan berlari ke pantai, bermain dengan pasir pantai.
Bima berjalan mengikuti kemanapun Indah pergi.
"Sini mas, fotoin aku ya!" pintanya dan Bima segera mengeluarkan ponselnya. Mengambil beberapa gambar Indah.
"Lepas saja sepatunya!" ucap Bima saat melihat Indah kesusahan saat bergerak di pasir, ia juga terlihat enggan untuk masuk ke air.
Indah pun segera melepaskannya,
"Sini!"
Bima memintanya,
"Nggak pa pa mas?"
"Nggak pa pa, sudah sini!" Bima merebut sepatunya dan Indah pun tersenyum.
"Terimakasih mas!"
Mereka pun berlarian ke sana ke mari, dari langit yang berwarna biru cerah kini sudah berubah menjadi jingga senja.
Indah sepertinya sudah kehabisan tenaganya, ia ikut duduk di samping Bima yang sudah lebih dulu duduk di pasir pantai.
"Capek?"
"Capek mas!"
"Lihat hasil jepretanku, bagus kan?"
Bima menunjukan beberapa gambar Indah, semuanya di penuhi dengan gambar Indah. Indah begitu cantik di bawah langit senja.
"Ini bagus banget mas, kirimin ke aku ya mas!"
"Baiklah!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...