
Ternyata Kenan tidak menyerah. Anna memalingkan wajah, jengkel setengah mati karenanya. Sekarang, mau apalagi pria ini? Jangan sampai melakukan hal yang memalukan di depan Gita.
"Malam, Ladies," sapanya, pandangan mengarah pada Anna. "Baru pulang kerja?"
"Iya, Pak." Tidak sesuai harapan Kenan, malah Gita yang menjawab, bukan Anna.
"Oh," seru Kenan, berusaha tak terlihat kecewa. "Apa mau saya antar?"
Gita kembali membuka suara. "Boleh kok, Pak. Iya, 'kan Anna?"
Anna memelototkan mata sekejab. Apa maksudnya Gita berkata seperti itu? Jangan bilang kalau dia sedang berusaha menjodohkannya dengan Kenan?
"Nggak, saya bawa motor," tukas Anna sambil menunjuk ke arah sebuah motor matik warna biru yang sedang terparkir.
Ini bukan suatu hal yang bisa menghalangi usaha Kenan. "Tapi kan, ini sudah malam, bahaya kalau perempuan pulang malam-malam sendirian."
"Betul tuh, An!" seru Gita, malah mendukung. Semakin besar deh harapan Kenan.
Akan tetapi, ada saja alasan yang keluar dari bibir mungil Anna. "Jalan menuju rumah saya ramai kok. Jadi, saya nggak khawatir."
Gita berang, dia menyikut lengan Anna karena telah melepas kesempatan untuk dekat dengan sahabat bosnya yang sama tampannya. Tapi, Anna tidak terpengaruh. Diabaikan saja si Gita itu.
Barulah, Kenan menyerah untuk hari ini. Dewi Fortuna sedang tidak berpihak padanya. Dengan senyum kecut, ia berkata, "Baiklah, saya tidak memaksa." Ia menyingkir sedikit, merentangkan tangan sembari agak membungkuk. "Silakan. Hati-hati di jalan, ya."
"Iya, Bapak juga hati-hati di jalan, ya," ujar Gita, tersenyum dipaksakan.
Anna pun tersenyum singkat hanya demi bersikap sopan di hadapan pria itu. Sikap Anna membuat Gita jengkel. Dia langsung menarik Anna pergi sambil berbisik dan mengomel
"Ih, kok kamu cuek gitu sama pak Kenan?"
Anna menoleh malas. "Emangnya, aku harus bagaimana?" sahutnya.
"Ya, apa kek. Senyum kek! Emang semahal itu senyum kamu?"
"Itu tadi udah," bantah Anna, membela diri.
"Mana?" seru Gita ketus. "Senyum dipaksain?"
"Ya, masih mending dong. Daripada pasang muka cemberut."
Terus saja dilawan ucapan Gita, sampai gadis itu pusing mau membalasnya bagaimana. Anna sendiri juga malas berdebat. Sesudah mengatakan hal itu, ia menarik lengannya dari pegangan tangan Gita, lalu berjalan ke arah motornya terparkir.
🍀
Sebuah ruangan khusus digunakan untuk sebuah pertemuan kecil. Di mejanya sudah dihidangkan makanan mewah, beberapa gelas anggur, lalu lilin terpajang di beberapa tempat.
Sepasang suami-istri berusia setengah abad sudah hadir di sana, menunggu tamu mereka di meja sambil menyesap segelas anggur. Sang istri meletakkan gelas anggurnya, mendesah resah. Melihat hal itu, sang suami menggenggam tangan istrinya dengan lembut.
"Jangan gugup," ujar pria itu, meski sudah berumur, tetapi kerutan di wajahnya tidak mengurangi ketampanannya. Dia tersenyum lembut dan penuh kehangatan, sehingga istrinya merasa sedikit tenang meski hanya dapat memperlihatkan senyuman getir.
Pintu ruangan terbuka, keduanya tertegun dan menoleh. Sang suami menuntun istrinya berdiri untuk menyambut tamu mereka. Senyum mereka terkembang, saat Logan menggandeng seorang wanita cantik yang telah mereka kenal sejak lama. Kemudian, orangtua Nina menyusul di belakang pasangan muda itu.
Nina melepaskan pegangan tangannya dari lengan Logan, langsung menghampiri calon ibu mertuanya, mencium tangannya, lalu memeluk wanita itu.
"Apa kabar, Tante Elina?" ucapnya lembut dan ceria.
"Baik, Sayang. Tante senang bisa ketemu kamu lagi. Kata Logan, kamu sibuk?" kata Elina.
"Iya, Tante. Maaf, ya, aku jarang berkunjung." Basa-basi gadis itu semakin membuat Elina menyukainya.
Sementara dua wanita itu berbicang, ayahnya Logan menyambut orangtua Nina. Logan sendiri duduk di tempatnya, memperhatikan mereka dengan perasaan bahagia. Syukurlah, kedua keluarga saling akrab.
Setelah meladeni Elina, kini Nina beramah-tamah dengan ayahnya Logan. Kepribadian pria setengah baya itu memang agak pendiam, jadi tidak banyak yang mereka perbincangkan.
Beberapa pelayan menghampiri meja, mulai menghidangkan makanan dan menuangkan anggur untuk mereka.
"Silakan dinikmati," kata Matthew, ayahnya Logan, pada Nina dan kedua orangtuanya untuk menikmati makanan yang sudah disediakan sebelum membicarakan inti dari pertemuan ini.
Tanpa berbasa-basi lagi, keluarga Handoko menikmati seporsi steak daging sapi Australia dan saus racikan rempah khas Eropa, dan menyesap wine yang terbuat dari fermentasi anggur yang berasal dari perkebunan anggur di Italia.
"Wah, wine-nya nikmat sekali," puji mamanya Nina.
Logan dan kedua orangtuanya sangat senang mendengarnya. Matthew pun menimpali ucapan wanita itu dengan menjelaskan asal wine itu. Dan itu membuat keluarga itu semakin terpukau dengan keluarga Angsana.
__ADS_1
"Oh, iya, Logan," imbau ayahnya Nina, yang tampak tidak ingin berlama-lama berbasa-basi. "Jadi, kamu benar-benar serius mau bertunangan dengan Nina? Kamu tahu kan kalau Nina sedang mempersiapkan pertunjukan profesionalnya di Inggris?"
Nina terhenyak, menoleh pada papanya dengan tatapan memprotes. "Papa," tegurnya dengan suara agak pelan.
Pria berkacamata itu menoleh, seakan tidak suka teguran itu. "Kenapa memangnya? Wajar kalau Papa bertanya begitu. Ya, 'kan?"
Logan tersenyum, sama sekali tidak mempermasalahkannya. "Benar, Nina. Seorang ayah pasti ingin mendapatkan kepastian soal ini."
Oleh sebab itu, Logan berani menatap pria itu dengan ekspresi serius meski perasaannya sebenarnya sedang gugup.
"Pak, saya tahu bahwa saya tidak bisa menghalangi impian Nina, tapi kami sama-sama sepakat untuk menetapkan hubungan ini meskipun hanya sebatas pertunangan. Dan pertunangan ini adalah bukti keseriusan saya."
Ucapan ini memang tidak dikatakan dengan cara yang manis, tapi Nina sangat tersanjung mendengarnya, sampai ia menunduk dan tersipu.
Ayah Nina menganggukkan kepala dan menatap pada istrinya. Ekspresi mereka tampak setuju dan tak meragukan semua ucapan Logan.
"Baiklah. Kalau begitu, kita tentukan tanggal acaranya saja, ya," kata pria itu kemudian. "Nina dan Logan sudah sepakat kalau pertunangan mereka akan diadakan sebelum keberangkatan Nina ke London," tambahnya.
Matthew dan Elina tersenyum saling berpandangan, lalu mereka memandang Logan dan Nina. Logan pun memberi isyarat sebagai anggukkan.
"Kalau memang begitu, bagaimana kalau hari Sabtu depan? Bagaimana?" Matthew angkat bicara.
Ayah Nina tertawa senang. "Hari yang bagus."
Kemudian, istrinya menimpali, "Ya, saya juga setuju. Untuk masalah tempat acara, bagaimana kalau di sebuah aula Hotel Heaven milik keluarga kami?"
"Apa tidak masalah?" tanya Elina.
Kedua orangtua Nina tertawa kecil, lalu mamanya Nina menimpali:
"Tentu saja tidak. Ballroom kami sangat luas dan mewah. Tentu akan cocok untuk pesta pertunangan mereka."
Keduanya sudah sepakat dengan acara pertunangan itu. Kelegaan terpancar dari pasangan muda itu. Keduanya saling menatap dan tersenyum. Logan meraih tangan Nina, lalu menggenggamya lembut, membagi perasaan bahagia yang dirasakannya.
☘
Kartu undangan. Anna malas melihatnya. Makanya, ia singkirkan dari pandangannya, beralih pada berkas-berkas yang menumpuk di meja kerjanya.
"Pak Sam, kamu tahu, 'kan? Anak bungsunya akan menikah."
Anna menghela napas, duduk di sofa. "Terus emang kenapa?"
Kenapa? Mama merasa tersinggung. "Ya, kita semua diundang. Kamu harus ikut nanti."
Oh, ya Tuhan. Rasanya, ia ingin menyumbat kedua telinganya dengan sesuatu. Mama terus berbicara, sementara ia beranjak dari sofa sambil menenteng tas tangannya dengan tubuh letih.
"Aku nggak mau ikut," gumam Anna datar.
Seolah tak mendengarnya, mama menyahut keras. "Harus! Mama tidak enak sama Pak Sam kalau kamu tidak ikut."
Mama begitu ngotot, sampai mengikuti Anna ke kamar. Gadis itu hanya menghela napas, memijat keningnya.
"Ya, bilang aja aku lagi sakit. Lagipula, aku ada banyak kerjaan, Ma," kata Anna, memelas.
"Nggak ada alasan!" lugas mama, tegas, bahkan sambil mengacungkan jari telunjuknya.
Anna menghela napas jengkel. Tawar-menawar ini berakhir karena mama meninggalkan kamar Anna.
"Huft! Bulan apa sih sekarang? Kenapa udah musim kawin?" gumam Anna, menutup pintu kamar, kemudian berjalan ke ranjang dan duduk di tepinya. "Minggu ini aja ada dua undangan. Sabtu ini, Yerin nikah."
Anna menoleh pada ponselnya yang tergeletak di dalam tas. Pas sekali, Yerin yang baru disebutnya menghubunginya. "Hmm ... Wae?"
"Kenapa? Kok sewot gitu? Nggak senang sahabatnya telepon?" goda Yerin.
"Nggak. Aku lagi ngantuk aja," jawab Anna, kembali duduk di tepi ranjang.
"Tumben udah ngantuk. Biasanya, lagi mantengin drakor sampai jam 2 pagi."
Anna tahu Yerin hanya bercanda, dan ia membalasnya, "Beda banget, ya, yang mau nikah sama abang tukang minyak."
"Njir," tawa Yerin. "Tukang minyak. Dia emang turunan arab, tapi dia pengusaha dan anak menteri tahu!"
Anna terkekeh. "Iya, deh. Tapi gimana rasanya?"
__ADS_1
"Belum aku cicipin. Entar lah, pas malam pertama," seloroh Yerin, di sana berusaha menahan tawa.
"Porno otak kamu! Bukan itu yang aku maksud, Mak Yeye."
Wanita berwajah oriental itu tertawa keras. "Iya, aku ngerti. Em ... Farhat itu mungkin bisa dikatakan perfect. Ganteng, perhatian, walaupun nggak terlalu romantis."
"Tajir! Satu kata yang ketinggalan," sela Anna cepat.
"Kalau yang itu, nggak usah ditanya," sahut Yerin. "So, Miss An. Lusa kamu harus datang ke pernikahanku."
"Iya lah! Kamu mau kado apa?" Anna terkekeh.
"Em ... kartu undangan pernikahan kamu," cetus Yerin. Lagi-lagi mencandainya.
"Sue! Nggak usah macam-macam deh. Udah, ah! Aku mau tidur. Bye!" tutup Anna.
🍀
Petang hari, Kenan berdiri di depan pintu masuk kantor. Ia memperhatikan setiap orang yang lalu-lalang keluar dari gedung. Namun, tak ada satu pun terlihat gadis cantik yang sedang diincarnya itu.
Ia melirik arlojinya, bergumam pelan, "Kok belum keluar?"
Lantas, ia melihat seorang wanita berkacamata, yang dikenalnya dengan nama Eka. Dihampiri wanita itu, lalu ia bertanya:
"Sore, Madam," sapa Kenan terlebih dahulu.
Eka menoleh dan tersenyum. Sore, Kenan."
"Em ... Begini. Anna itu asisten Ibu, 'kan?"
"Benar." Eka mengernyit. "Memang kenapa?"
"Apa Anna masuk kantor hari ini?" tanya Kenan, enggan tapi rada tersipu.
"Oh. Anna masuk kerja tadi. Tapi pulang cepat karena ada urusan katanya."
"Urusan?" gumam Kenan dengan dahi mengkerut.
.
.
.
Sebuah mobil Ayla berwarna merah berhenti di tempat parkir yang terdapat pada area dermaga. Seorang wanita bergaun warna pastel turun dari dalam mobil.
Kakinya yang bersepatu hak tinggi warna putih melangkah ke dekat kapal. Anna memandang kapal pesiar yang begitu mewah itu dengan takjub sambil tersenyum.
"Yerin, kamu emang hebat," gumamnya. Lalu, tiba-tiba ia bersin.
Ini bukan karena cuaca dingin yang menerpa kulit bahunya yang tak tertutup, tetapi karena Anna memang sudah sakit sejak pagi.
Dengan anggunnya, Anna melangkah masuk ke kapal. Dua orang pelayan menyapa dengan ramah, lalu meminta kartu undangan. Barulah, ia bisa masuk ke dalam.
Anna menelepon saat memasuki kapal, melirik ke setiap sudut, mencari seseorang yang mungkin dikenalnya.
"Halo, Ye. Kamu lagi di mana? Aku mau foto-foto sama calon pengantin nih," kata Anna, sesudah telepon tersambung.
"Tanya aja sama salah satu pelayan. Mereka bakal kasih tahu di mana ruang ganti pengantin perempuan," jawab Yerin.
Anna menutup teleponnya setelah mengerti. Akan tetapi, kepalanya yang pusing membuat tubuhnya tiba-tiba terhuyung. Ia hampir saja terjatuh, jika seseorang tidak memegangi tubuhnya.
Ia mendelik, terhenyak. Lalu, ia melirik pada pria yang menolongnya itu. Terpana sejenak, menatap pria tampan itu. Logan, dialah penolongnya.
"Eh!" Anna spontan berdiri. Merasa malu, ia menundukkan kepala. "Maaf, Pak."
"Kamu pegawai baru itu, 'kan?" tebak Logan.
Anna mendongak. "Iya, Pak. Saya nggak nyangka bisa ketemu di sini.
"Kebetulan aja," gumamnya dingin, lalu melangkahkan kaki tak mengacuhkan Anna.
Dasar! Anna meradang. Kalau bukan bosnya, akan ia balas deh.[]
__ADS_1