Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Ada Apa Sih Dengan Pria itu?


__ADS_3

Elina sejak tadi sudah menunggunya, dan ia langsung menyambut Anna dan Logan ketika mereka sampai di rumah. Elina menghampiri Anna, lalu melirik Logan dengan heran.


"Kalian pulang bareng?" tanyanya, lantas kembali menatap Anna.


"Aku menemaninya ke dokter kandungan," jawab Logan santai, tapi sebenarnya memang sengaja membanggakan diri.


"Benarkah? Bukannya Anna tadi pergi sendirian?"


Pertanyaan ini diarahkan pada Anna, tetapi Logan yang menyela. "Iya, tadi aku menyusul ke sana."


Anna hanya mengangguk mengiyakan, setelah melirik sinis pada Logan.


"Oh, begitu. Ya sudah, kalian bersih-bersih dan ganti baju. Papa udah pulang, kita makan bareng, ya. Mama habis masak buat kalian," kata Elina, agak menghela lengan Anna untuk pergi kamar bersama dengan Logan.


Anna dan Logan baru menyadari apron yang melekat di badan Elina. Logan mendecak, sebenarnya ingin protes karena mamanya masih saja memasak, padahal baru saja keluar dari rumah sakit. Namun, mood-nya sedang tidak ingin buruk lagi, sebab tadi ia sudah mengeluarkan kemarahannya di mobil.


Elina sendiri juga sudah kembali ke dapur, jadi Logan mengajak Anna untuk kembali ke kamar. Keduanya masuk ke dalam kamar sambil menghela napas. Anna meletakkan tasnya di sofa, sementara Logan melonggarkan dasi seraya berkata:


"Kamu mandi duluan deh. Sebentar lagi mau Magrib."


Anna tertegun beberapa detik seraya menoleh. "Baiklah," sahutnya, mengangguk.


Seraya menunggu, Logan duduk di ranjang sembari mengirimkan pesan pada Kenan dengan gelagat aneh. Tangannya sibuk mengetik, tetapi beberapa kali melirik ke arah pintu kamar mandi dengan waspada.


"Lo udah mengantarkan Nina sampai rumah?" Logan mengetik pesannya, lalu menekan tombol "send". Sudah lebih 5 menit, tapi tidak ada balasan.


Sejak tadi, Logan membeku menatap layar ponsel yang dipegangnya sejak tadi. Mati kesal jadinya. Logan mendengus, hampir melempar ponsel jika saja tidak terdengar suara notifikasi masuk.


Ting!


"Sudah." Kenan membalas. "Issssh! Kenapa sih, lo melibatkan gue dalam urusan percintaan lo?"


"Katanya lo sahabat gue?" balas Logan, seenaknya saja.


"Kita belum baikan, ya."


Logan mendesis tajam dengan mata menyipit. "Ketus banget sih?" gumamnya, lalu mengetik pesan balasan. "Makasih sebelumnya."


Bertepatan dengan itu, Anna keluar dari dalam kamar mandi. Mengejutkan, Logan spontan menyembunyikan ponselnya di bawah pantatnya. Padahal, tatapan Anna biasa saja, tapi seakan menyihir Logan yang langsung mematung dengan ekspresi pucat.

__ADS_1


Aneh. Gumam Anna acuh tak acuh, menggosok rambutnya yang basah sambil berjalan menuju lemari. Anna membelakangi Logan, tampaklah sedikit punggung putih Anna yang dililiti oleh handuk.


Darah Logan mendesir, ternganga karena punggung memukaunya. Harum sabun mandi Anna sampai ke hidungnya, seakan memanggil untuk menghampiri dan mengelus punggung itu.


Benar-benar bikin mabuk! Perasaan terpendam bergejolak, sampai khayalan kotornya muncul di kepala. Punggungnya saja sudah terlihat indah, bagaimana kalau bentuk tubuhnya? Ah, ia iri dengan handuk itu, bisa membungkus tubuh hangat Anna.


Trrrtt! Ting!


Logan tersentak, sebuah suara terdengar, dan ia merasakan geli karena getaran ponsel yang didudukinya. Anna mendengarnya, lalu berbalik dengan sudah menenteng sehelai gaun tidur.


"Itu suara handphone siapa?" tanya Anna penuh selidik.


"Suara handphone?" bohong Logan, kikuk. Ia terpaksa berbohong, tak mau dipandang konyol karena telah menduduki ponselnya.


"Tadi aku dengar kok," debat Anna, mempertahankan apa yang diyakininya.


"Eng ... mungkin kamu salah deng...."


Mata Logan mendelik. Kali ini bukan hanya getaran, tapi juga dibarengi oleh suara ringtone. Anna menatap curiga padanya, sedangkan Logan bergeming dengan ekspresi bingung.


"Kayaknya, itu suara hape aku deh," kata Logan akhirnya. "Tadi aku letakkkan di mana, ya?" Logan berpura-pura bingung sambil mencari. Padahal, ia sedang memindahkan ponselnya di bawah bantal. "Kayaknya, aku mendengarnya di sini?" gumamnya, lalu memeriksa di bawah bantal. "Nah, ini dia!" Seru Logan, mengacungkan ponselnya sambil tersenyum girang.


"Kok, reaksinya biasa aja?" gumam Logan heran, perlahan menurunkan tangannya.


Ada apa dengan gadis itu? Apa dia marah? Logan merasa tak nyaman dan konyol. Ia menghela napas, melirik layar ponsel di mana tertera dua notifikasi yang muncul dari dua kontak; satu pesan Whatsapp dari Kenan, satu lagi telepon masuk dari Nina.


Nina. Yah, ia harus menyelesaikan urusannya dengan gadis itu. Cukup sudah ia terjepit oleh keadaan yang rumit ini.


...đź’Ť ...


Entah ada angin segar apa, Elina memasak menu makanan yang banyak hari ini. Dengan dibantu oleh dua pelayan, Elina memasak rendang, ayam bakar, ikan goreng, soto mie, dan tidak ketinggalan sayur asem dan sambal terasi.


Semuanya masakan ala rumahan, dan Anna sangat tergiur. Ibu mertuanya sangat tahu selera menantunya itu. Logan memulai dengan membalikkan piring di depan Anna, lalu meraih centong nasi. Ia memasukkan tiga centong nasi ke piring itu.


Elina dan Matthew menatapnya tercengang.


"Tumben, kamu banyak makan, Logan?" tanya Matthew.


"Bukan buat aku, Pa," sahut Logan, melirik sekilas. Lalu, meletakkan piring berisi nasi di depan meja Anna. "Tapi buat dia."

__ADS_1


Anna melongo dengan mulut terbuka sedikit sambil menoleh pada Logan. Apa-apaan pria itu? Memasukkan banyak nasi, sepotong rendang, ayam, ikan, sayur, dan soto di atas piringnya. Fuilah! Piring Anna benar-benar penuh! Dikiranya, dia sedang kasih makan istrinya Hulk apa?


"Makanlah," kata Logan santai, seakan tak merasa kalau Anna sedang jengkel padanya.


"Ini kebanyakan," protes Anna. "Makanan ini porsinya untuk 3 orang."


"Iya," sahut Logan, meletakkan piringnya yang sudah berisi nasi di mejanya. "Sekarang kan yang makan bukan cuma kamu, bayi itu juga ikutan makan. Apa kamu nggak ingat pesan dokter tadi?"


Pria ini benar-berlebihan! Kesambar setan apa dia sampai sebegininya? Di mata Elina dan Matthew, tingkah Logan ini sangat lucu dan manis. Mereka memperhatikan tanpa kata dan diam-diam tersenyum geli.


"Iya! Tapi ini lauknya kebanyakan," protes Anna gemas.


"Ya udah." Logan menghela napas. "Yang mana mau disingkirkan?"


Jari telunjuk Anna mulai diarahkan pada potongan daging ayam, rendang, dan ikan. "Ini semuanya, singkirkan."


Hah? Tinggal soto mie dan sambal? Tidak! Logan tidak setuju. "Nggak! Kalau cuma tinggal sayur dan sambal, aku tidak akan menyingkirkannya. Pokoknya, kamu harus makan semuanya!"


"Tapi kan...."


"Nggak! Kamu harus makan! Hargai dong ibu mertua kamu yang udah capek-capek masak buat kamu."


Anna melirik pada Elina. Terpengaruh juga Anna pada ucapan Logan, sehingga ia merasa tidak enak hati pada ibu mertuanya. Bukannya ia tidak menghargai Elina, tapi ia takut muntah makan sebanyak ini sekaligus.


Bagaimana ya? Gadis itu mengigit bibir bawahnya seraya berpikir, kemudian ia memotong setengah bagian ayam, ikan, dan daging rendang miliknya untuk diletakkan di atas piring Logan. Pria itu tercengang, akan marah. Namun, ia hanya pasrah, meskipun kesal melihat senyum mencemooh Anna.


"Oiya, Logan, Anna. Bagaimana hasil pemeriksaannya tadi? Apa kata dokter?" tanya Elina, meletakkan sendok di atas piringnya, lalu kedua tangannya memangku dagunya. Wanita itu begitu penasaran sekali ingin mendengar kabar baik tentang calon cucu yang sedang dikandung oleh Anna. "Janinnya sehat," jawab Logan, mulutnya tak lagi sibuk mengunyah.


"Dokter bilang, Anna tidak boleh lelah, apalagi melakukan aktifitas berat. Anna juga harus meminum susu dan vitaminnya. Terus, dokter menyarankan agar berhati-hati ketika melakukan hubungan intim—"


Gerakan tangan Logan yang sedang mengaduk makanan, tiba-tiba terhenti. Ia terhenyak. Ada apa dengan mulutnya ini? Suka sekali bercetuk dan keceplosan.


Karenanya, Anna jadi malu, dan pipi Logan merona tanpa sanggup menatap wajah orangtuanya yang sedang menunggu kelanjutan ucapannya. Namun, Logan hanya menyengir, menutupi rasa malu dengan terus menyantap makanannya.


"Iya, kalau soal itu Papa setuju. Kalau berhubungan intim, kamu harus melakukannya dengan lembut dan hati-hati," kata Matthew, tanpa ada hujan dan petir menimpali ucapan Logan yang tadi.


Tambah merah pipi Anna dan Logan. Pas makan malah apes diceramahi soal beginian. Hati Logan menjerit, seakan berkata: "Aduh, kenapa jadi ngomongin soal ini sih? Tahu nggak sih, aku nggak akan pernah menyentuh Anna!"


Apa iya?[]

__ADS_1


__ADS_2