Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
PDKT atau ...?


__ADS_3

Anna berjalan sempoyongan di jalan yang menuju rumahnya. Ia menolak bantuan Woojin yang ingin mengantarkannya sampai rumah.


Sudah pukul 10 malam, jalanan di kota ini tidak terlalu sepi karena masih ada yang keluar pada jam segini. Meski begitu, Woojin khawatir padanya, makanya ia mengikuti Anna di belakangnya dengan tetap menjaga jarak agar tidak ketahuan.


Mengantuk sekaligus lemas, Anna terhuyung ke samping dan hampir saja tersenggol oleh seorang pria bersepeda jika Logan tidak sigap menarik lengan Anna untuk menghindarinya.


Mata Anna mendelik terkejut, wajahnya menempel di dada bidang Woojin yang kekar. Ia bisa mendengar detak jantungnya yang debarannya mungkin sama sepertinya.


Tidak mungkin! Detak jantungnya cepat karena terlalu terkejut, bukan karena hal lain!


Posisi itu berlangsung beberapa detik, hingga Woojin melancarkan sebuah pertanyaan untuknya. "Gwenchana, Anna-ssi?"


Anna mendongak. Sontak ia terhenyak karena mata mereka saling bertemu. Canggung, tapi dalam hati ia terus membantah bahwa hal ini salah. Gegas Anna menghela pria itu darinya, berdiri menjauh dengan kikuk dan tak berani menatapnya.


"Aku nggak apa-apa," gumam Anna agak terbata. Namun, kemudian ia mengomel. "Lagian... kamu ngapain di sini? Bukannya arah jalan kita beda?"


"Maaf, Anna. Tapi, aku khawatir melihat keadaanmu," jawab Woojin memelas.


"Woojin!" tukas Anna agak memekik gemas. "Aku sudah bilang, tolong jaga jarak!"


Woojin menatapnya tanpa mengatakan apa pun, mengernyit kecewa. Anna memperingatkannya agar tidak mengikutinya sebelum dirinya beranjak pergi. Woojin menurutinya, membiarkan Anna pergi meski dirinya merasa khawatir.


Anna telah menjauh, namun Woojin tetap bergeming seraya menatap sosoknya hingga menghilang dari pandangan.


Woojin menghela napas. "Dia memang sulit untuk didapatkan," gumamnya, tersenyum pahit.


...💍...


Pagi di Jakarta. Nina sudah berdandan cantik, bersiap turun untuk sarapan bersama dengan mertuanya. Hari ini jadwalnya adalah berlatih piano di sebuah studio sewaannya.


Baru saja akan meraih ponsel, layarnya menyala dengan disertai suara notifikasi. Muncul nama kontak Logan di layar ponsel. Pesan yang dikirimnya pasti sudah dibacanya.


Nina meraih benda itu. "Kalau soal Anna, dia pasti akan langsung meresponsnya," gumamnya, lalu mengangkat telepon itu. "Halo, Logan."


"Apa maksud dari pesan itu?" sahut Logan, nada suaranya geram tertahan.


Dia terpancing! "Aku tidak main-main dengan ucapanku, Logan."

__ADS_1


"Jangan coba-coba, Nina!"


"Aku akan mempertahankan pernikahan kita, meskipun harus menyingkirkan Anna!" ancam Nina, matanya menggelap.


"Pernikahan kita? Kau tahu kenapa kita menikah? Karena bisnis!"


Logan menyadarkan Nina kembali ke dunia nyata. Menghentakkan tekadnya yang tadinya menggebu, berubah jadi surut. Nina terdiam lama dengan tangan gemetar. Entah mengapa ia jadi sulit untuk membalas Logan.


Namun, Nina berusaha mengendalikan diri, tetap terdengar tenang saat menjawab, "Aku pasti bisa mewujudkan pernikahan bisnis kita menjadi pernikahan selayaknya pasangan lainnya yang penuh cinta dan gairah."


"Mimpi!" pungkas Logan sinis, lalu menutup teleponnya.


Tangan yang memegang ponsel melemas, dan Nina terlihat termenung dengan raut wajah syok. Ucapan terakhir Logan menyakitinya, dan rasa sakit itu berkembang menjadi kemarahan.


Nina mengenggam ponselnya erat-erat. Tekadnya untuk mempertahankan Logan di sisinya semakin kuat.


...💍...


Tidak terasa pagi sudah menjelang saja. Alarm dari ponsel Anna berdering pada waktu semestinya, tetapi Anna abaikan setelah dimatikan.


Begitu sinar matahari menusuk matanya, Anna terbangun dan meraih ponselnya. Dan matanya langsung terbuka lebar kala melihat jam yang ada di layar ponselnya.


Anna mempercepat ritual mandinya dan berdandannya untuk menghemat waktu. Tak peduli penampilannya kurang rapi, Anna berlari keluar rumah menuju halte bis.


Mau secepat apa pun, Anna tetap datang terlambat ke kantor. Saat ia di sana, orang-orang yang mengantre sedang masuk ke dalam lift. Anna panik, mempercepat lajunya seraya berteriak.


"Changkaman! Changkaman!"


Pintu lift hampir tertutup kala Anna sampai di depan lift. Woojin melihatnya, dan sontak ia mengulurkan tangannya di antara pintu lift agar tidak tertutup. Usahanya berhasil, Anna langsung masuk, walaupun cukup terkejut jika yang menahan pintu lift tadi adalah Woojin.


Anna hening dengan perasaan canggung. Meski di dalam lift cukup ramai, semua orang di dalamnya sibuk sendiri dengan pikiran dan ponselnya. Tapi, Anna dan Woojin tidak termasuk.


Anna melirik Woojin yang tengah mendongak menatap layar di atas lift. Pria itu ternyata menyadarinya, dan sontak membuat Anna terhenyak karena tiba-tiba melirik balik padanya.


Anna terdiam seraya menunduk, tak berani lagi menatapnya. Pikirannya sibuk dengan berbagai pertanyaan seperti: "kenapa Woojin menolongnya lagi, padahal Anna sudah menolaknya?"


Uh! Semakin merasa bersalah saja!

__ADS_1


Pintu lift terbuka, Anna bergegas turun agar suasana canggung di antara dirinya dan Woojin cepat lenyap. Langkahnya dipercepat, Anna tak mau berpapasan dengannya meski mereka menuju tempat yang sama.


Namun, ucapan "aku tidak akan menyerah" sepertinya benar-benar serius. Woojin mengejarnya, dan Anna terpaksa menyerah agar pria itu tak merasa bahwa dirinya sengaja menghindarinya.


"Anna-ssi!" panggil Woojin, setengah berlari mengejar Anna.


Anna mendengus resah, langkahnya diperlambat. Woojin akhirnya sampai di sampingnya, dan Anna menoleh sekejab tanpa berniat.


"Apa kamu sudah baikan?" tanya Woojin, napasnya agak tersenggal-sengal.


"Aku nggak sakit. Kenapa bertanya begitu?" sahut Anna, berusaha menutupi kegugupannya.


"Ya ... aku pikir kamu kemarin...."


"Woojin," Anna berhenti, lalu setengah berputar menghadap pria itu. "Kalau aku sakit, aku nggak akan datang ke kantor. Udah ah! Kita udah terlambat nih!"


"Oh... oke!"


Woojin menutup rapat mulutnya dan berjalan di belakang Anna sampai di mereka tiba di ruang kerja. Anna terlalu fokus untuk bergegas melesat ke meja kerjanya, tanpa menyadari bahwa tatapan para karyawan mengarah padanya dan Woojin setibanya mereka di sana.


Gaeun pun langsung menggeser kursinya, saat Anna sampai di mejanya. "Eonni," panggilnya, Anna hanya melirik sekejab seraya duduk di kursinya. "Dul-i sagwinayo anniya? (Kalian berkencan)."


"Mwo?" Anna mengernyit, sementara Gaeun menggeleng dengan harapan bahwa dugaannya tidak benar. "Annirago! (nggak mungkinlah!)"


Gaeun menghela napas lega, lalu menjawab Anna yang menanyakan sebab dirinya menanyakan hal itu. "Keuge ... han jig-won-egeseo geu somun-eul deul-eottda (itu... aku mendengar rumor dari salah satu karyawan)."


"Somun? (Rumor?)" tanya Anna agak berseru heran.


Gaeun mengangguk. "Keureochi! Gongwon geuncheoeseo eonni geu Woojin gat-i bwattdadeola (mereka melihat kakak dengan Woojin di taman)," ujarnya agak berbisik, apalagi setelah melihat kedatangan Woojin di samping Anna.


Anna menggemeretakkan giginya, kesal setengah mati. "Nugu ... lumeo peotteulyeosseo? (Siapa ... yang menyebarkan rumor itu?)," tanyanya dengan geram tertahan, sontak Gaeun bergidik.


Gaeun hanya memberikan jawaban dengan menaikkan kedua bahunya, lalu memperlihatkan sebuah foto yang tersimpan di dalam galerinya pada Anna.


Gaeun bilang, ia mendapatkannya dari Ha-ri sunbae. Tapi, wanita itu juga mendapatkannya dari karyawan lain yang merupakan temannya. Jadi, sumber aslinya kurang jelas.


Anna menatap lama pada foto itu, tanpa kedua gadis itu sadari bahwa Woojin ada di belakang mereka dan sedang melihat foto itu. "Wah! Nuga jjigeosseo? Oh! Uriga gong-won-e ittji anhasseo, Anna-ssi? (Wah! Siapa yang memotret ini? Oh! Bukannya saat itu kita sedang di taman, Anna?)." Woojin berkomentar dengan suara lantang dan polosnya.

__ADS_1


Anna dan Gaeun terhenyak, lalu menoleh ke belakang dengan tercengang. Woojin tersenyum, sontak Anna dan Gaeun saling memisahkan diri.


Setelah ucapan itu meluncur dari mulut Woojin, karyawan lain mulai berbisik membicarakannya dan Anna. Mereka menganggap bahwa Woojin telah memberi klarifikasi tidak langsung tentang hubungan mereka.[]


__ADS_2