
Semakin canggung! Apalagi saat mereka turun dari pesawat, Logan repot-repot membawakan kopernya. Anna hanya tercengang, lalu mengikutinya dari belakang dengan kikuk.
Logan menyadari hal itu, lalu menoleh dan berhenti berjalan sambil menunggu Anna berada sejajar di sampingnya. Alih-alih mendekat, Anna turut tersentak berhenti, tertegun memandang Logan dengan sebuah pertanyaan di benaknya.
"Berjalanlah di sampingku!" perintah Logan.
Anna semakin heran, otaknya jadi eror. "Hah? Apa?"
"Maju!" decak Logan gemas.
Jalan model apa itu? Menghampiri Logan perlahan seperti seekor bebek yang sedang berjalan. Anna berhenti di samping Logan, tetapi tetap masih berjarak.
Logan menghela napas, heran dengan kelakuan gadis ini. Tapi, mau diapakan lagi? Terserah dia sajalah. Memang menjemukan, tapi tidak mengurangi kegembiraan Logan.
Kembali diseretnya kedua koper di tangannya, dan Anna mengikuti dari belakang sambil melirik grogi. Gery datang menjemput mereka, meraih koper yang dibawa Logan untuk diletakkan ke dalam bagasi mobil.
Logan menghela lembut punggung Anna, membuka pintu, lalu mempersilakannya masuk ke dalam mobil. Ia menyusul kemudian, dan Gery melajukan mobil selang tak lama ia masuk ke mobil.
Hotel telah dipesan. Logan meminta Gery untuk memesan kamar hotel dengan pemandangan yang indah. Jadi, ketika mereka sampai di kamar itu, Logan langsung menyibakkan gorden untuk memamerkan pemandangan laut dengan sinar matahari yang cerah.
Tentu Anna kagum, tapi tidak heboh karena sudah biasa melihat pemandangan seperti ini. Anna cuma melihat sekilas, lalu menghempaskan diri di tepi ranjang.
Melihat reaksi Anna, Logan tak puas. Ia ingin Anna merasakan keistimewaan "honeymoon kedua" ini.
"Nanti, kamu ikut bertemu dengan Mr. Morelli," kata Logan, entah ini meminta atau perintah.
Ucapannya begitu tegas, serius, dan dingin. Anna mendongak, menatap Logan yang sedang berdiri di sampingnya. "Oh, oke," sahutnya.
Logan berkacak pinggang dengan alis naik sebelah memandang Anna. Heran, kok reaksinya biasa saja? Apa dia tidak senang pergi dengannya?
"Em ... gaunmu sudah kusiapkan. Sebentar lagi, akan ada yang mengantar," kata Logan, malah jadi grogi dan bingung bagaimana menghadapi sikap Anna.
Lagi, ekspresi biasa, melirik ke arah lain sambil berpikir terukir di wajah Anna. "Em ... oke! Atur aja." Benar-benar jadi bikin salah langkah.
__ADS_1
Logan mematung di sana, tapi seperti orang linglung. "Em ... oke! Aku mau ke kamar mandi dulu. Kamu mau ke sana juga, nggak? Kalau iya, kamu duluan aja."
Alis Anna naik sebelah. Ke toilet saja pakai bilang? Kenapa pria ini? "Aku mau istirahat aja. Kalau mau pakai kamar mandinya, ya ... silakan saja," kata Anna, mengayunkan ringan telapak tangannya.
Tidak bisa ditebak! Gadis ini sepertinya sengaja menaburkan teka-teki lewat sikapnya. Oke, Logan akan mencoba membuka semua perasaan Anna yang coba disembunyikannya lewat rencana rahasianya.
Anna melogok untuk memastikan Logan masuk ke dalam kamar mandi. Napas lega dihela, lalu ia merebahkan tubuhnya di kepala ranjang.
"Aduh, jadi deg-degan gini. Logan nyadar nggak ya?" gumamnya sambil mengelus dada.
...💍 ...
Gaun merah muda yang panjangnya selutut pesanan Logan sangat pas di badan Anna. Perutnya tidak terlalu membuncit, jadi tidak terlihat jelas bahwa dirinya sedang hamil.
Demi keamanan, Anna memakai sepatu hak pendek warna putih. Logan juga telah bersiap dengan tuxedo hijau, memberikan lengan sebelah kanan untuk digandeng oleh Anna.
Lalu, mereka turun ke sebuah restoran tempat pertemuan Logan dan Mr. Morelli yang telah dijadwalkan. Mr. Morelli ikut membawa istrinya. Memang, kesepakatan bisnis yang mereka lakukan sembari makan malam bersama.
Pasangan yang berasal dari Italia itu begitu ramah. Ketika Anna dan Logan sampai di sana mereka langsung berdiri dan menyambut dengan sapaan ramah.
"My wife," sahut Logan, begitu bangganya memperkenalkan istrinya. "Her name is Anna."
Begitu Logan memperkenalkannya, Anna agak memajukan tubuhnya dan mengulukan tangan sambil menyebutkan namanya. Mr. Morelli juga memperkenalkan istrinya yang bernama Julia Morelli. Lantas, keduanya sama-sama duduk setelah dipersilakan oleh pasangan itu.
Makanan sudah terhidang, tinggal dinikmati saja. Untuk mengawali pertemuan, Mr. Morelli meminta pelayan untuk menyuguhkan segelas wine. Pelayan menuangkan wine ketiga gelas lainnya, tinggal satu gelas lagi.
Namun, Logan tiba-tiba berseru sambil mengacungkan telapak tangannya. "Jangan dituangkan. Istri saya sedang hamil. Tolong, berikan air putih saja," kata Logan kemudian.
Mr. Morelli tercengang, lalu bertanya, "What happend? Does your wife not like wine?"
Logan dan Anna sama- sama menoleh, lalu Logan menyahutinya, "Ah, that's not it. My wife is pregnant. So, she shouldn't drink alcohol."
Tuan dan nyonya Morelli mengangguk paham, bahkan mereka memuji sikap perhatian Logan terhadap istrinya. Basa-basi makan malam ini usai, Logan pun mengutus Gery untuk menyodorkan kontrak kerjasama antara perusahaan Logan dengan Mr. Morelli.
__ADS_1
Kesepakatan telah diraih, Logan dan Mr. Morelli saling berjabat tangan setelah menandatangani berkas kontrak itu. Karena jadwal penerbangan malam ini, tuan dan nyonya Morelli pamit untuk pulang.
Namun, Logan dan Anna tetap di sini karena pria itu masih ingin menikmati malam yang indah dengan istrinya. Hanya saja, Logan tak membaca situasi kalau Anna merasa tidak nyaman.
Suasana ini begitu aneh, canggung, dan rasanya Anna selalu ingin beranjak dari sini. Ia tidak mengerti, kenapa Logan bersikap begini?
Logan menatap lamat-lamat Anna yang berusaha menyembunyikan wajahnya dengan menundukkan kepala. Mungkin, saat Logan melakukan rencananya. Maka, ia pun bertepuk tangan, lalu musik lembut dari sebuah biola dan alunan piano terdengar.
Anna mengangkat kepalanya, tercengang. Pandangannya teralihkan pada uluran tangan Logan, kemudian mendongak menatap Logan yang tengah tersenyum lembut.
"Mau berdansa?"
Tersanjung, tapi tetap saja canggung. Bagaimana mau mengelak, percuma saja karena Logan tetap akan memaksa. Maka, ia pun menerima uluran tangan itu dengan terpaksa, lalu beranjak bersama ke tempat yang agak luas di samping meja mereka.
Logan merangkul pinggang Anna, sementara tangan kanannya menggenggam tangan Anna dan mengangkatnya sedikit. Logan merapatkan tubuh Anna, lalu kaki mereka mulai bergerak seirama dengan alunan musik.
Mereka saling bertatapan. Berbeda dengan Logan yang tersenyum menatapnya, Anna justru enggan melihat ke arahnya, gugup, dengan detak jantung yang berdebar kencang. Kalau seperti ini, sulit bagi Anna untuk menemukan momen romantis. Padahal, lokasi mereka ada di sebuah pondok tak beratap, di mana di bawahnya terdapat pemandangan laut, lalu lampu warna-warni, dan langit cerah yang dihiasi oleh bintang yang bertebaran.
Anna bertanya-tanya dalam hati: "Kenapa tiba-tiba pria ini melakukan hal ini? Apa dia mencoba untuk romantis? Tapi apa tujuannya? Perlukah aku menanyakannya?"
Setelah sekian lama, Anna akhirnya membuat keputusan. Ia memberanikan untuk menatap pria itu, serius meski grogi. "Kenapa kamu melakukan semua ini? Apa sekarang adalah hari spesial bagimu?"
Sekarang saatnya! Logan mengulas senyum lebar. "Iya, aku ingin merayakan hari spesial denganmu," ujarnya, suara bass sensual berembus di telinga Anna.
"Apa? Em ... apa kamu merayakan keberhasilan kontrak kerjasama dengan Mr. Morelli?" Anna mencoba menebak, memungkiri harapan mustahil yang ada di dalam pikirannya.
Pria itu menggeleng. Gerakan dansa berhenti, keduanya berdiri dalam jeda sesaat. Anna menunggu. Logan tersenyum, sengaja membuat Anna penasaran. Lalu, tangan pria itu merambat ke pipinya, mengelus lembut dengan ibu jarinya.
Lambat laun, Anna merasakan bahwa pria itu memajukan wajahnya. Dekat, semakin dekat, bersamaan dengan cepatnya pacu jantung Anna. Apakah pria itu ingin menciumnya? Kalau iya, apa yang harus dilakukan? Tetap bergeming dan menutup mata?
Kurang sesenti lagi jarak bibir Logan dengan bibirnya. Namun, suara ponsel Logan berdering menunda momen itu. Lagi! Kenapa terus begini?!
Logan memejamkan mata, geram, lalu menjawab telepon dari sebuah nomor asing. "Ya, halo," sahut Logan, berusaha menahan geramnya.
__ADS_1
"Ini asisten Mr. Morelli. Begini, Mr. Morelli ingin bertemu hanya dengan Anda di kamar hotelnya," kata si penelepon. Suara seorang pria yang bahasa Inggrisnya sangat fasih, hingga membuat Logan curiga.
"Bukannya, Mr. Morelli sudah berangkat tadi?" tanya Logan, di benaknya penuh dengan dugaan yang ganjil.[]