
"Halo, Logan. Apa mamaku bersama denganmu?"
"Kau sudah siuman?" tanya Logan, dari nada ucapannya terdengar terkejut.
Nina mendengus. "Apa tidak bisa langsung jawab saja?" sahutnya dingin.
Logan terdiam sesaat, yang kemudian disambut oleh helaan napas panjang. "Kejahatannya sudah terungkap, dan sekarang dia sedang menjalani proses investigasi."
Tatapan Nina goyah akibat syok, disusul oleh air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Kenan mencelus, spontan beranjak untuk menenangkan Nina. Akan tetapi, Kenan tiba-tiba bergeming, tangannya yang akan menggapai Nina terhenti.
"Kau tega, Logan. Kau melakukan hal ini, padahal kau tahu aku sedang butuh mama di sampingku," isak Nina.
"Mana yang lebih tega? Memisahkan orang yang dicintai dengan cara-cara kotor seperti itu?" tangkis Logan tajam, sontak Nina membungkam bibirnya yang gemetaran.
"Tapi ... tapi, Logan. Mama melakukannya karena aku. Jangan hukum mama," mohon Nina, tangisannya pecah, Kenan yang di sampingnya tak tahan melihat keadaannya. "Mama hanya ingin aku bahagia."
"Setiap orangtua pasti akan begitu. Tapi, cara yang dilakukan oleh ibumu salah, Nina." Logan mendebat keras.
Isakan Nina semakin kencang, Logan terengah-engah karena mencurahkan seluruh kemarahannya tadi. Suasana hening dan tegang. Kenan bergeming di tempat, tersiksa menahan diri untuk meredakan tangisan Nina.
Tak lama kemudian, terdengar suara helaan napas dari ujung telepon, tangis Nina reda sejenak untuk mendengarkan. "Sekarang, terserah padamu. Aku akan mempertimbangkan tindakan apa yang akan aku lakukan pada ibumu."
Setelah itu, terdengar nada sambungan terputus. Nina menghela napas getir, tangannya yang lesu memberikan ponsel itu pada pemiliknya. Kenan menerima dengan hati iba, tak sepatah kata pun yang terucap karena saat ini Nina tak perlu dihibur.
"Kenan, bisa tinggalkan aku sendirian?" pinta Nina lirih dan datar.
Kenan setuju, yang dibutuhkan Nina saat ini adalah menyendiri. "Ya, udah, aku keluar. Kalau butuh apa-apa, panggil aku. Oh iya. Ponselmu ada di dalam laci nakas. Tita menghubungimu sejak kemarin, sepertinya dia cemas padamu."
Entah Nina mendengarnya, wanita itu tak menyahut, bergeming seraya menunduk. Rasa tak tega menggiringi Kenan yang terpaksa keluar dari ruangan.
Tangisan mereda, tapi hati dirundung duka. Nina terpuruk karena hidupnya hancur. Harapan memiliki anak pupus, ibunya terancam dipenjara, dan Logan akan pergi meninggalkannya. Keputusasaan itu menimbulkan macam-macam kesimpulan dan pertanyaan.
__ADS_1
"Apa ini kemalangan? Atau ... karma?" gumamnya pedih.
Lirikan matanya tiba-tiba tertuju pada laci nakas di sampingnya. Lengannya yang kurus diulurkan, membuka laci itu, lalu mengeluarkan ponselnya yang tersimpan di sana.
Cukup lama baginya untuk berpikir dan mempertimbangkan. Saat petang menjelang, akhirnya Nina bergerak sesuai keputusannya.
Jemarinya bergerak lemah di atas layar ponsel, mencari nomor seseorang, yang kemudian menghubunginya. Ponsel didekatkan ke telingannya, menunggu si pemilik nomor mengangkat teleponnya.
"Halo?"
Nina agak tercengang sejenak karena si pemilik nomor tak menyimpan nomornya. "Halo, Anna. Ini aku Nina."
Sepertinya Anna merasa terkejut, tak ada terdengar suara di ujung telepon dalam beberapa saat. "Ada apa kau menghubungiku?" tanyanya dingin.
"Apa kau punya waktu sebentar berbicara denganku? Aku sedang di rumah sakit Singapure Hospital Centre. Kau pasti tahu tempat itu?"
Anna hening lagi. "Kau sudah menjalani pengobatan?"
"Logan tidak akan mengatakan padaku, karena dia tahu aku akan mengasihanimu. Aku tidak sengaja mendengarnya saat Gerry menghubungi Logan," jawab Anna.
Bagus kalau begitu, Nina tidak perlu menjelaskan lagi soal keadaannya pada Anna. "Ibuku melakukan sebuah kejahatan karena ingin memisahkan kau dengan Logan, sehingga Logan bisa menikah denganku."
Anna tak terkejut, dan ia menimpali dingin. "Lalu?"
"Ibuku sedang diinterograsi oleh Logan. Kemungkinan, Logan akan memenjarakan aku dan mama," lanjut Nina pedih.
Terdengar suara helaan napas berat. "Nina, kenapa kau bercerita padaku? Semua itu tidak ada hubungannya denganku. Memang seharusnya kalian mendapatkan hukuman," cetus Anna tajam karena sangking geramnya.
Nina mencelus, rasanya hati ini tertusuk dalam. Nina menyadari, bahwa dirinya salah, dan ia memahami jika Anna bereaksi seperti itu. "Keadaan kita sekarang sama, Anna. Rahimku sudah diangkat, dan aku tidak bisa punya anak."
Anna mengusap keningnya. Apa Nina sedang bersiasat untuk menimbulkan rasa iba?
__ADS_1
"Aku tidak bermaksud mengambil simpatimu, hanya saja aku ingin kau mengabulkan sebuah permintaan," kata Nina lagi.
"Permintaan?" Dahi Anna mengernyit kala bergumam.
...💍...
Diana diamankan di vila yang disewa oleh Logan, lokasinya masih di Singapura. Logan belum memperkarakan wanita itu karena rasa kasihannya pada Nina. Hatinya terlalu lembut, sehingga Logan masih mempertimbangkan sebuah kesempatan.
Rasa rindu yang tertahan pada sang istri, membuat Logan buru-buru meninggalkan Singapura, lalu beranjak ke Seoul saat itu juga. Logan sampai di saat yang tepat, walaupun rencananya ia ingin menjemput Anna di tempat kerja.
Logan menunggunya di depan Goshiwon Anna seraya memainkan ponsel. Tanpa sengaja, Logan melihat sosok Anna dari kejauhan. Senyum semringah terulas di bibirnya, dan Logan berseru memanggil.
"Anna!"
Anna tercengang, menengok ke arah suara berasal. Di mata indahnya, air mata tergenang, perlahan menurunkan ponsel dari telinganya, memutuskan sambungan telepon dengan Nina.
Anna bergeming, tak membalas Logan denganl lambaian tangan maupun sahutan. Logan tak mempermasalahkannya. Asal Anna melihatnya, itu sudah cukup. Logan menghampiri Anna dengan langkah ringan dan senyuman bahagia.
Namun, Anna tak dapat tersenyum sepertinya. Teringat percakapan terakhirnya dengan Nina tadi.
"Aku ingin kau mengabulkan permintaanku."
"Permintaan?" Anna mengernyit. "Apa yang kau inginkan?"
"Bolehkah aku tetap menjadi istrinya Logan? Aku sangat mencintainya, Anna."
Menyerahkan suaminya walau sebentar? Anna iba pada Nina, karena Nina mengatakannya seraya terisak. Tapi, jika itu siasat?
Anna tidak tahu harus membuat keputusan apa. Baginya sangat berat berbagi suami.
...[]...
__ADS_1