
Kenan memperhatikan Anna dan Logan secara bergantian, mengernyit penuh tanda tanya. Aneh kelihatannya. Mereka berdua tidak begitu saling mengenal ... atau Kenan tidak tahu bahwa keduanya sebenarnya punya hubungan?
"Ada apa ini? Kenapa kalian lirik-lirikan begitu?" celetuknya.
Logan dan Anna terhenyak dan saling membuang muka.
"Aku permisi," kata Logan, gugup.
Pria itu berjalan melewati Anna. Kenan melirik kepergian Logan dengan dugaan yang semakin kuat. Kemudian, lirikan matanya berpindah pada Anna yang tampak tak menyadarinya.
Sejak kepergian Logan, Anna hanya diam, berusaha tak melihatnya ke arahnya. Namun, begitu Logan menjauh, Anna memperhatikan punggung pria itu, bergumam di dalam hati:
"Yang terjadi malam itu, hanya kecelakaan yang tidak disengaja. Hidup aku tidak akan hancur hanya karena hal itu. Waktu terus berjalan, dan aku harus melanjutkan hidup, termasuk," setelah itu, ia menoleh pada Kenan yang sedang tersenyum,"mencoba menerima orang lain."
Senyum Anna terulas, membuat senyum Kenan semakin lebar. "Aku tidak bisa janji kalau siang ini."
"It's okay, tidak masalah," sahut Kenan. "Bagaimana kalau makan malam?"
"Baiklah," jawab Anna seraya mengangguk.
Yes! Hati Kenan seakan melompat karena kegirangan. Hal seperti ini saja membuatnya sudah sangat senang. Awal langkah yang baik. Ia tidak mau berharap apa pun sekarang, biarkan semua berjalan. Dan persetan dengan hubungan antara Logan dan Anna.
...☘...
Pertemuan pagi tadi, membuat konsentrasi Anna pecah. Padahal, ia perlu membuat laporan pemasukan jumlah produksi sebuah produk, yang harus ia selesaikan hari ini juga. Benar-benar membuat kepalanya mau pecah!
Terpaksa, ia harus tetap mengerjakannya sambil berharap semua kejadian buruk di kapal pesiar, dan pertemuan dengan Logan pagi ini bisa terlupakan oleh kesibukannya.
Dan semoga, ia tidak sering lagi bertatap muka dengan Logan untuk waktu yang lama.
Namun, apa kenangan buruk itu bisa terlupakan meski pakai jangka waktu? Dikira otak manusia sama seperti robot? Kalau memang bisa, ia ingin memiliki otak robot, yang bisa menghapus ingatan sesukanya.
Anna menghela napas. Sebuah permintaan yang aneh! Gumamnya dalam hati, sambil mengambil dua buah kertas dari dalam map yang berbeda.
Di map itu, ada 2 laporan produksi sebuah produk dari bulan yang berbeda, lalu ia membaca data yang dikirimkan dari staf yang ada di pabrik. Yang harus disusunnya adalah laporan produksi bulan ini.
Telepon di mejanya berbunyi. Anna mengalihkan perhatiannya sejenak dari 2 kertas yang sedang dibacanya, yang kemudian ia letakkan di atas meja. Diangkatnya telepon itu.
"Halo, Anna," sapa seseorang wanita di seberang sana.
Anna menoleh ke arah kantor manager. "Iya, Bu Eka. Ada apa?"
"Laporan yang saya suruh bikin sudah selesai dibuat?"
"Belum, Bu. Saya sedang membaca datanya," jawab Anna, lantas melirik sebuah berkas di sebelah kanannya.
"Kamu bisa mengerjakannya nanti, dan kamu letakkan di atas meja saya Jum'at besok."
Untunglah. Selain cerewet, Anna baru melihat sisi baik wanita itu. Ia bisa mengistirahatkan pikirannya sekarang. Terima kasih, Bu Eka.
"Oke, siap, Bu," sahutnya senang.
"Tapi, hari ini kamu mau ikut dengan saya ke pabrik?"
Anna membeku. Alih-alih bisa istirahat pikiran, tapi malah dibikin capek badan sama atasannya ini. Resek! Ucapan "terima kasih" batal!
"Ke pabrik, Bu?" tanyanya, agak terbata.
"Iya. Saya ajak kamu ke sana supaya kamu bisa tahu lokasi pabrik. Jadi, kalau saya ada urusan dan tidak bisa sidak ke pabrik, kamu bisa gantikan saya."
Oke, positif tinking saja, Anna. Mungkin bu Eka melakukan semua ini demi kebaikannya juga. Lagipula, ini salah satu tugas asisten manager bagian produksi, 'kan?
Anna menjauhkan ponsel, menarik napas dalam-dalam, lalu menghela napas panjang. "Baiklah, Bu. Saya akan bersiap-siap.
.
__ADS_1
.
.
Anna terpukau melihat bagaimana semua proses pembuatan kecap berkualitas dengan memakai kerja sama antara manusia dan teknologi canggih, sampai lupa kalau kedatangannya bukan untuk berwisata.
Bu Eka memberitahukan apa saja yang harus dilakukan. Bersama dengan kepala pengawas pabrik, ia dan Bu Eka dituntun untuk memastikan semua proses produksi sesuai dengan prosedur.
Lalu, mereka dibawa ke kantor kepala pengawas untuk melihat data-data produksi dari produk kecap dan saus.
Lokasi pabrik memang agak jauh, tapi setidaknya, Anna bisa sedikit refresing sambil kerja, menenangkan pikiran yang agak kacau gara-gara bos tampan tak ada akhlak itu.
Harapannya sepertinya terkabul deh. Kalau di sini, mana mungkin Anna bisa bertemu dengan Logan.
Namun, Tuhan suka sekali menggoda umatnya. Apa yang diinginkan Anna ternyata dibantah oleh Tuhan. Beberapa meter dari tempatnya berada, terlihat sosok si Perfect Man sedang berjalan searah bersama dengan sekretaris si Pria Klimis.
Anna tersentak, langsung memalingkan wajah. Tapi, terlambat baginya untuk berpura-pura tak menyadari kehadirannya, karena Logan sudah memergokinya sedang melihat ke arahnya tadi.
Kepala pengawas pabrik dan bu Eka menoleh pada Logan, dan langsung menyapa sambil menundukkan kepala sedikit. Anna pun terpaksa melakukan hal sama, meskipun tak memandangnya maupun menyapanya.
"Pak Logan? Tumben sekali Anda berada di sini?" tanya bu Eka, heran, begitu Logan sampai di depan mereka.
"Bu Eka tidak tahu saja," timpal kepala pengawas pabrik. "Pak Logan sering ke sini setiap bulan, tapi di hari yang berbeda."
Bu Eka tertawa kecil. "Oh, pantas saja."
Anna memejamkan mata, resah. Oh, mau sampai kapan Tuhan mau mengujinya dalam situasi seperti ini. Anna semakin risi berada dalam radius sedekat ini dengan pria itu.
"Pak Logan, mari silakan masuk ke ruangan saya," kata kepala pengawas pabrik, merentangkan tangan ke arah sebuah ruangan dengan tubuh sedikit membungkuk.
Anna memucat. Apakah ia harus masuk juga ke ruangan ini? Oh Tuhan, cukup sudah Engkau menguji Anna seperti ini!
Bu Eka berhenti untuk menjawab telepon ketika akan memasuki ruangan kepala pengawas pabrik. Dahinya mengernyit, dan ekspresi cemas menghiasi wajahnya.
"Oh, baiklah. Saya akan segera pulang," sahutnya, nada suaranya agak gemetar.
Bu Eka menghampiri Logan yang sudah duduk di dalam. Sambil membungkuk sedikit, ia berkata dengan tidak enak hati. "Maaf, Pak. Saya dan asisten saya sepertinya harus kembali ke kantor duluan. Ada hal mendesak yang harus saya lakukan.
Wajah Anna berubah berbinar. Akhirnya, ia bisa keluar dari situasi mencanggungkan ini. Anna rasa, Logan juga merasakan hal yang sama meski yang tampak olehnya pria itu sedang duduk tenang dengan berusaha tak menoleh kepadanya.
"Baiklah, kalian boleh pergi," kata Logan datar.
Bu Eka tersenyum semringah, lalu memberikan kode pada Anna agar segera pergi dari tempat yang menyesakkan ini.
Namun, Anna justru hanya diantarkan sampai kantor, hanya bu Eka sendiri yang pulang. Anna diperintahkan untuk mengerjakan tugasnya sampai selesai, dan pulang seperti biasa. Alhasil, badannya pegal-pegal dan pulang dalam keadaan letih.
Maunya, langsung tidur pas sampai rumah, dan makan malam dengan memesan makanan dari aplikasi. Namun, seseorang telah menunggunya dengan senyum semringah penuh harap.
"Ah, dia lagi!" keluh Anna, dengan suara pelan.
Karena mau makan malam, Kenan berinisiatif untuk menjemput Anna. Kehadirannya di depan pintu masuk kantor, apalagi melihat dirinya bersama dengan Anna, mengundang perhatian dan gosip dari karyawan lain. Anna pun jadi jengah.
"Anna, ayo!" katanya.
Anna menghampirinya dengan perlahan, agak malu karena tatapan para karyawan mengarah padanya. "Kamu mau ajak aku ke mana?"
"Lho? Bukannya kamu setuju mau makan malam sama aku?" sahut Kenan heran.
Iya, Anna tidak lupa itu. "Sekarang?" tanyanya.
Kenan mengangguk. "Kenapa? Apa kamu mau menolak lagi?"
Maunya sih begitu, tapi Anna tidak bisa membatalkan janji yang sudah terucap. "Nggak kok. Ya, udah."
Mendengar hal itu, semangat Kenan muncul lagi. Ia tersenyum girang, bergegas mengajak Anna ke mobilnya.
__ADS_1
Namun, Anna tertegun, ingat pada motornya yang terparkir di kantor. Kenan terheran kembali melihat Anna yang tak kunjung bergeming dari tempatnya.
"Ada apa, Anna?" tanyanya.
"Nggak. Cuma aku memikirkan motorku," jawab Anna, bergumam.
Kedua tangan Kenan dimasukkan ke dalam saku, tersenyum sambil berkata santai, "Kasih alamat dan kunci motor kamu. Sopir aku yang akan mengantarkannya ke rumah."
Anna skeptis dengan ide itu. Apa dia bisa dipercaya? Bagaimana kalau motornya dibawa kabur? Biar jelek gitu, motor itu masih berguna.
Kenan pun menjawab keraguan Anna dengan mengatakan, "Tenang saja, sopir aku itu bisa dipercaya kok."
"Em ..." Anna mengatupkan bibirnya. "Baiklah." Diambilnya kunci motor di dalam tasnya, lalu diberikan pada Kenan.
Kenan menerima kunci itu, lalu mengajak Anna untuk ke tempat mobilnya terparkir. Di sana, seorang pria berseragam sopir berdiri di dekat mobil.
Lantas, Kenan memberikan kunci itu pada sang sopir. "Pak, tolong antarkan motor matik yang ada di sebelah sana ke rumah Nona Anna."
Pria paruh baya itu mengangguk, dan mulai mengeluarkan ponselnya, yang kemudian diberikan pada Anna. Gadis itupun mengetikkan alamat rumahnya disebuah aplikasi note dari ponsel si sopir.
Kenan merentangkan tangan untuk mempersilakan Anna masuk ke dalam mobilnya. Sambil tersenyum, Anna menyambutnya.
🍀
"Kamu suka makan masakan mana? China, Jepang, atau Korea?" tanya Kenan, selang ia melajukan mobilnya keluar dari kantor. "Sekarang, 'kan zamannya halyu wave. Kamu pasti suka masakan Jepang, 'kan?"
Anna tertawa kecil. Pria macam Kenan mana mungkin tidak tahu soal halyu wave. Dia pasti sengaja ingin mencairkan suasana saja.
"Boleh. Bagaimana kalau kita pesan spaghetti saja, atau kimbab?" Anna menimpali dengan selorohan juga.
Kenan tertawa lepas. "Kamu pintar juga membalasku, ya?" Tawanya reda, lalu ia kembali berkata, "Oke, oke. Sekarang, ini pertanyaan serius. Kamu mau makan apa?"
"Seharusnya, yang memutuskan adalah orang yang mengajak makan dong." Anna menyindir halus.
"Hmm ... benar juga, ya?" gumam Kenan, mengangguk. "Tapi kalau aku yang pilih, takutnya kamu malah tidak suka."
"Justru kalau mengikuti seleraku, kamu malah tidak suka," sela Anna. "Soalnya, selera aku kampungan."
Kenan menoleh sejenak, menyahut cepat, "Seberapa kampungan selera kamu sih? Nasi goreng? Bakso? Mie ayam? Atau terang bulan? Semua makanan itu kesukaan aku sejak SMA, tahu."
Anna tergelak sekejab. "Oke ... bagaimana kalau makan sate padang?"
"Sate padang?" tanya Kenan, tertegun.
Anna menunjukkan arah di mana terdapat sebuah kedai sate padang paling enak langganannya. Kenan hanya terpana saat memasuki warung sederhana yang cukup ramai itu. Anna tersenyum geli melihatnya. Sepertinya, Kenan baru pertama kali ke sini.
"Penuh. Kita makan di mana nih?" tanya Kenan, cemas.
Siapa bilang tidak ada tempat kosong? Dengan mata tajamnya, Anna menemukan sebuah tempat yang pas hanya untuknya dan Kenan.
"Kita duduk di sana!" seru Anna sambil menunjuk sebuah meja panjang, di mana ada kursi kosong di bagian ujung.
Mereka duduk berhadapan. Kenan masih melihat ke sekeliling, seolah tak terbiasa dengan suasana seperti ini. Maka, sebuah pertanyaan tercetus dari Anna.
"Apa kamu tidak nyaman makan di tempat ramai begini?"
Kenan menoleh, tersenyum lebar. "Nggak. Aku udah lama nggak makan di tempat seperti ini. Karena dicekoki oleh budaya barat kali, ya?"
Anna memangku dagunya, tersenyum memandang Kenan. Pria yang begitu menarik dengan ucapan polos yang cukup lucu.
"Nggak juga. Tapi karena kamu tidak sempat jalan-jalan ke berbagai tempat selain mall," sarkas Anna.
"Waw, ucapan kamu cukup berani juga, ya?" seru Kenan, alih-alih memuji.
Kenan yang supel dan lucu, cukup mengelitik hati Anna untuk lebih dekat dengannya. Atau mungkin, Kenan memang bisa menaklukkan sedikit hati Anna? Kenan pandai membuat senyum Anna mengembang oleh ucapan-ucapannya.
__ADS_1
Sambil mengunyah dan menatap Kenan, ia bergumam dalam hati. "Untuk kesan pertama kali yang aku dapat dari Kenan ... 'Lumayan'."[]