Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Pelik


__ADS_3

"Logan, aku merindukanmu," ucap Nina tidak kencang, tapi semua orang yang ada di sana bisa mendengarnya.


Logan tercengang, sama halnya dengan Tita. Anna yang berada di sisi kanan Logan, perlahan mundur tanpa suara. Lantas, Nina melepas pelukannya.


Senyum manja terkembang sembari menatap Logan dengan mata berbinar. Kedua tangannya menggenggam erat tangan Logan, seakan tak ingin dilepaskannya lagi.


"Kamu sedang apa di sini?" tanya Nina selanjutnya sambil memiringkan kepala. Bukannya Logan yang harus menanyakan hal itu padanya?


"Em ... mama masuk rumah sakit," jawab Logan kikuk, masih diambang keterpananaannya. "Kamu sendiri ... sedang apa di sini?"


"Kenapa tercekat gitu? Kamu tidak senang aku ada di sini?" goda Nina, tidak maksud menyinggungnya.


"Aku—"


"Nina!" seru Tita, menahan ucapan gadis itu. Praktis, keduanya melirik ke arahnya, yang tengah berjalan menghampiri Nina. "Kita pulang dulu, yuk. Nanti aja ketemu sama Logan lagi."


Namun, gandengan tangan Tita dihempas, Nina pun merajuk. "Nggak ah! Aku masih kangen sama Logan. Masa nggak boleh ketemuan sebentar?"


"Tapi orangtua kamu khawatir. Coba ingat, dokter bilang apa tadi—?"


"Tita," sela Nina lembut, tapi menyindir. "Papa sama mama pasti ngijinin kok. Nanti kalau kamu pulang, bilang sama papa dan mama, kalau aku mau ketemuan sama Logan."


Nina melingkarkan tangannya ke lengan Logan, bergelayut manja di sampingnya. Susah kalau begini. Tita justru diamanatkan untuk jangan membiarkan Nina bertemu dengan Logan dulu.


"Em ... oke," sahut Tita, setelah sekian detik berpikir dengan dahi yang mengernyit. "Tapi, aku ikut dengan kalian."


Bibir Nina mencibir dan matanya menyipit. "Huuuuh! Sejak kapan kamu suka ngintilin kita pacaran? Biasanya kamu selalu tinggalin kita berdua setiap aku ketemuan sama Logan."


Lagian, siapa juga yang pengin jadi nyamuk. Tapi, Tita punya alasan penangkisnya. "Soalnya, kamu baru sembuh. Aku juga harus ceritain masalah kesehatan kamu sama Logan."


Pria yang disebut oleh Titalangsung menegak telinganya. Ya, Logan memang pingin tahu apa yang terjadi pada Nina. Kenapa sikapnya manja begini, dan masih menganggapnya sebagai pacar?

__ADS_1


"Biar aku aja yang jelasin," sahut Nina, tetap bersikeras.


"Nggak! Aku tetap harus berada di samping kamu!"


"Ih, Tita mah!"


"Nina," ucap Logan lembut, ingin mengakhiri perdebatan dua wanita di depannya. "Benar kata Tita, mending dia ikut sama kita."


Senyum secerah mataharinya meredup. Meski kurang setuju, Nina mengangguk tanpa protes. Karena kedatangannya adalah untuk melakukan check up lanjutan, Tita buru-buru menyeret lengan Nina untuk masuk ke dalam ruangan dokter. Namun sebelum pergi, Nina berpesan pada Logan:


"Jangan ke mana-mana, ya? Aku pengin ngajak kamu ngobrol habis ini."


Awalnya, Logan tercengang. Akan tetapi, Tita mengisyaratkannya untuk menganggukkan kepala, dan ia melakukannya dengan terpaksa. Logan tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Tapi, ia menghela napas lega karena Nina akhirnya pergi dari hadapannya.


Kejadian ini pasti mengejutkan bagi Anna, dan gadis itu pasti telah salah paham. Lantas, ia berbalik ke sampingnya. Namun, ia baru sadar, bahwa Anna sudah tidak ada di sampingnya, bahkan di lorong ini. Gadis itu menghilang bagai asap dan tanpa jejak.


"Ke mana dia?" gumamnya dengan jari sibuk mencari nomor Anna di ponsel. Ia menghubungi nomor Anna, tapi tidak dijawab oleh gadis itu. Logan mendecak, mematikan ponsel dengan kasar.


...💐 ...


Logan milik Nina. Ia hanya istri di atas kertas!


Kenan yang mengetahui bahwa Elina masuk rumah sakit datang untuk menjenguk. Ia berjalan masuk ke lobi, tetapi langkahnya terhenti karena tidak sengaja melirik pada sosok Anna. Ia pun mempersiapkan senyum ramahnya sambil mendekati gadis itu. Tapi, eh! Melihat wajahnya muram, Kenan pun mengernyit dan senyumannya menghilang. Ia lanjutkan lagi langkahnya, lalu menyapa ketika ia sudah berada di depannya.


"Lho, Anna?" Gadis itu mendongak, sigap melengkungkan bibirnya dengan senyuman hambar.


"Eh, Kenan. Kamu ngapain ke sini?"


"Jenguk tante Elina." Kenanmemaksakan senyum karena tertular oleh senyuman Anna. "Kok, kamu sendirian di sini?"


Pasti dia menanyakan soal Logan. "Iya, Logan masih di atas. Aku mau jalan-jalan aja. Soalnya bau rumah sakit menyengat." Anna menekan hidungnya untuk meyakinkan Kenan dengan nada lucu.

__ADS_1


Yakin karena itu alasannya? Baiklah, Kenan percaya saja dengan ikut tertawa kecil mendengar selorohan yang dipaksakan itu.


"Kamu mau jenguk mama Elina, 'kan? Aku akan mengantarkanmu ke sana." Anna langsung mengalihkan topik karena tidak mau Kenan menduga dan menanyakan hal yang sedang tidak ingin dijawabnya.


"Oke!" Dengan gaya jenakanya, Kenan merentangkan tangan untuk mempersilakan Anna jalan duluan.


Ternyata, Logan sudah sampai di lobi dan melihat Anna bersama dengan Kenan. Darahnya mendidih, matanya menyipit tajam, dan tangannya terkepal, tetapi hanya membeku saja menyaksikannya. Logan sudah memperingatkan Kenan agar jangan mendekati istrinya, tapi pria itu memilih ingkar. Ia akan melabrak pria itu, hanya saja ponselnya tiba-tiba berdering. Dan itu dari....


"Tita?" Tak butuh waktu lama untuk berpikir. Ia yakin bahwa Tita ingin menjelaskan soal keadaan Nina. Maka, diangkatnya telepon itu secepatnya. "Halo, Tita. Ada apa?" sahutnya tanpa basa-basi dan tegas.


"Logan, kamu di mana? Ada yang mau aku bicarakan dengan kamu. Penting!" Tita langsung mencecar.


"Soal Nina? Tapi aku ada di lobi."


"Oh, oke. Kalau begitu, aku omongin di telepon aja." Tita memberi alternatif lain.


Logan setuju, dan ia langsung pasang telinga untuk mendengarkan.


"Sekitar dua minggu yang lalu, Nina kecelakaan," ucap Tita, tercekat, seolah tenggorokannya terasa kering.


Pantas saja sikap Nina aneh. Logan syok, sampai terduduk di kursi terdekatnya. Tita menjelaskan lagi, sementara Logan terus mendengarkan sambil mencerna semua ucapan itu. Setelah semua cerita usai, Logan langsung merespons dengan pertanyaan.


"Lalu, aku harus apa?"


Tita hening sejenak, sepertinya sedang memikirkan jawaban yang tepat. Kemudian, terdengar helaan napas berat sebelum berkata, "Amnesia ini tidak akan berlangsung lama. And i'm so sorry, kamu harus berpura-pura menjadi pacarnya."


"Kamu gila?" sembur Logan dingin, lalu mendengus. "Bagaimana aku bisa menyembunyikan pernikahanku dari Nina?"


"Aku tahu, pernikahanmu itu terpaksa, 'kan?" tuding Tita keras, langsung mulut Logan terbungkam. "Di hatimu masih ada Nina, 'kan? Bagaimana bisa kamu tega melihat Nina meregang nyawa?"


"Ya, tapi kan—"

__ADS_1


"Hanya sampai dia sembuh!" tukas Tita cepat. "Setelah itu, terserah kamu mau melakukan apa."


Logan menyerah, mendecak dan mengernyitkan dahi. Ya, masih ada sisa rasa untuk Nina di hatinya, tapi bagaimana dengan Anna?[]


__ADS_2