Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Terpaksa Berbohong


__ADS_3

Waw lagi! Tita duduk mematung dengan mulut terngaga usai Logan menceritakan kejadian kemarin padanya. Sulit untuk dipercaya, tapi kenyataannya begini. Lalu, Tita menggumamkan hasil penyimpulannya.


"Apa Nina sudah kembali ingatannya?"


"Aku rasa begitu," timpal Logan, lalu menyesap sedikit birnya. "Dia sengaja menjebakku untuk menghancurkan hubunganku dengan Anna."


Tita melirik sinis, kesal, kemudian menggebrak meja hingga Logan terlonjak. "Sembarangan! Jangan mentang-mentang Nina mantan kamu, terus kamu menjelek-jelekkannya begitu. Heh! Lagian, kamu yakin kalau kamu nggak menyentuh Nina sama sekali?"


Tersinggung, Logan menggebrak meja, memajukan tubuhnya, dan menatap Tita dengan sengit. "Kau pikir aku sebrengsek itu?"


Bibir Tita menyeringai sinis, lebih kuat lagi memukul meja, lalu memajukan tubuhnya seperti Logan. "Waktu kamu pacaran sama Nina, kamu perkosa Anna sampai hamil," balas Tita, tak mau kalah.


"Ya, memang. Tapi, kan itu karena aku sedang di bawah pengaruh viagr4. Tapi tetap saja, aku ingat kejadian itu. Begitu juga dengan kejadian tadi malam, aku yakin tidak terjadi apa pun di antara aku dengan Nina," tukas Logan, tegas, sambil mengetuk-ketuk meja dengan ujung jari telunjuknya.


Tita menghirup napas dalam-dalam, lalu menghelanya sembari menjauhkan tubuhnya dari meja. Dalam keheningan sementara, ia berpikir keras. Sementara Logan, menghidupkan rokoknya, lalu mengarahkan pandangan pada langit gelap yang tersaji di pondok restoran ruang terbuka.


"Lalu, bagaimana keadaan istrimu sekarang?" tanya Tita, jadi teringat pada Anna.


"Dia di kamar, masih marah padaku." Logan menghela udara yang tercekat di dalam dadanya. "Aku harus membuktikan bahwa aku dan Nina tidak melakukan hal itu."


Tita mengangguk setuju. Apa yang telah dilakukan oleh Nina membuatnya rumah tangga Logan dan Anna jadi goyah. Wajah muramnya menunjukkan rasa bersalahnya.


"Tapi," Logan menghadap lagi ke arah Tita, menatap serius. "Jangan beritahukan pada Nina soal rencana penyelidikanku."


Pria ini membuat bulu romanya merinding, sampai Tita meringis getir dan takut. "Tenang aja," sahutnya, terkekeh dipaksakan. "Akan kukunci mulutku ini rapat-rapat." Tita membuat gerakan seperti meresleting mulutnya, seakan ingin meyakinkan Logan.


Namun, Logan tak semudah itu percaya 100%. Logan rasa, hal yang ingin dibahas Tita sudah selesai. Ia pun menghabiskan kopinya, lalu akan beranjak.


"Logan tunggu!" seru Tita, tiba mencegah pria itu. "Aku mau tanya. Apa kamu mencintai Anna?"


Logan menoleh penuh padanya, tertegun.


...💐...


Sebelum meninggalkan Bali, Logan memerintahkan Gery untuk tetap di sini sambil menyelidiki sesuatu. Begitu perintah turun, Gery bergerak cepat menuju ke ruang CCTV, mendata seorang pelayan yang disebutkan ciri-cirinya oleh Logan.

__ADS_1


Benar kata Logan, setelah mengecek CCTV hotel, pelayan itu memang keluar dari kamar hotel Nina pada sekitar pukul 10 malam. Gery meminta staf pengawas CCTV untuk mencari data orang itu. Dan dalam beberapa jam, informasi yang dimintanya akhirnya ia dapatkan.


Sambil berjalan kembali ke kamar Gery menghubungi Logan, yang kebetulan sudah sampai di bandara Soekarno-Hatta. "Halo, Tuan," sahutnya, begitu Logan mengangkat teleponnya. "Saya sudah mendapatkan informasi tentang pelayan itu."


"Kirimkan pada saya besok," kata Logan.


"Baik, Pak," pungkas Gery, kemudian memutuskan sambungan telepon.


...****************...


Logan memasukkan ponselnya ke dalam saku sweaternya, setelah selesai menelepon Gery. Seorang supir datang untuk menjemput mereka di bandara. Mereka sampai di Jakarta pada pukul 7 malam.


Anna masih belum mau membuka mulutnya sejak pembicaraan terakhir dengan Logan kemarin. Bahkan, menatapnya saja enggan. Logan tak habis pikir, bingung mau bicara apa padanya.


Alhasil, ia hanya mencuri pandang, kadang sesekali melirik grogi pada istrinya itu. Mobil terus melaju. Saat hampir di sebuah persimpangan jalan, Anna baru mau bicara, tapi pada sang supir.


"Pak, tolong antarkan saya ke rumah orangtua saya."


Logan melirik waspada. Pasti gadis ini mulai melancarkan rencana pisah ranjang. Tidak bisa dibiarkan! Ia tak mengatakan apa pun, ia akan bertindak nanti, dan hal itu dimulai ketika mobil sampai di depan rumah orangtua Anna.


Anna turun dari mobil sembari berkata pada sang sopir yang tadi membukakan pintu untuknya. "Pak, tolong keluarkan beberapa tas oleh-oleh dan koper saya—"


Logan menjerit keras karena Anna menginjak kakinya. Anna memprotes ucapan pria itu. Logan menatap kesal padanya, tapi Anna tak peduli dan acuh tak acuh berkata pada sang sopir:


"Nggak, Pak. Keluarkan koper saya!"


"Pak, jangan dengarkan! Saya bilang, 'keluarkan aja tas oleh-olehnya!'. Titik!" Logan menyela sampai si sopir bingung.


"Nggak, Pak! Koper saya turunkan juga!"


"Kalau saya bilang 'jangan' ya jangan dilakukan!"


Anna semakin dongkol, menoleh pada Logan sambil berkacak pinggang. "Kamu tuh apa-apaan sih?"


"Saya cuma mau mencegah tindakan konyol kamu!" balas Logan sinis, tak kalah kencang suaranya.

__ADS_1


"Tindakan konyol?" dengus Anna. "Konyolan mana, selingkuh sama mantan?"


Sindiran yang menusuk jantung, hingga mata Logan mendelik. "Itu belum terbukti!"


"Udah terbukti kok! Aku udah kasih fotonya—"


"Eh, ada apa nih?" tegur suara seorang wanita yang tak asing di telinga Anna dan Logan.


Pasangan itu bergidik, menoleh perlahan ke belakang. Sontak, wajah mereka memucat, menemukan sosok ibu Anna yang entah kapan datangnya. Gawat! Mereka cemas jika ucapan "selingkuh" yang meluncur dari mulut Anna.


Wanita paruh baya itu tercengang menatap bergantian pada anak dan menantunya yang sedang gugup, tak sanggup melihat ke arahnya. "Kalian kenapa ribut di sini? Meributkan soal apa sih?"


"Eng ... itu...." Pasangan itu kompak mengatakannya tanpa berani menatap wanita itu, yang sudah menunggu jawaban dari mereka.


"Ah, sudahlah! Lebih baik kalian masuk ke dalam. Di luar dingin, nggak baik buat kesehatan Anna," kata ibu Anna, menggibas-kibaskan tangannya untuk menggiring keduanya memasuki rumah.


Baguslah, Logan tersenyum karena hal ini akan membuat Anna urung pada niatnya yang ingin pisah ranjang. Logan pun mendekap pundak Anna, tak peduli wanita itu melontarkan tatapan protes padanya atau tidak, kemudian menghelanya masuk ke dalam rumah mertuanya.


Keduanya disambut baik oleh keluaga itu. Sang sopir membawakan hadiah ke hadapan mereka, lalu Anna dan Logan memberikannya pada mereka satu per satu.


"Makasih, ya, Nak Logan. Kenapa jadi repot-repot gini?" kata ibu mertuanya, sungkan, tapi tetap menerimanya sambil tersenyum semringah.


"Nggak repot kok, Ma. Ini hanya hadiah kecil," jawab Logan, senyum ramah dan tulusnya kini terlihat.


Namun, Anna tetap merengut dan mencemooh di dalam hati ucapan pria itu. "Apa? Hadiah kecil? Apa dia sedang menyogok keluargaku untuk membuatku terkesan dan melupakan perselingkuhannya?" rutuknya dalam hati.


"Em ... tapi, Kak. Kok Kak Anna sama Kak Logan udah pulang dari Bali? Baru 3 hari. Katanya mau liburan di sana selama seminggu?" tanya Tasya, polos.


Pertanyaan yang membuat Anna dan Logan kembali terbungkam dengan wajah pucatnya. Anna waktu itu memang cerita pada adik perempuannya kalau ia berencana di Bali selama seminggu. Tapi karena ulah Nina, terpaksa mereka pulang lebih awal.


Anna bingung mau menjelaskan, sementara pandangan semua orang tertuju pada mereka berdua untuk mendapatkan jawaban. Ia pun menyenggol lengan Logan, siapa tahu pria itu punya jawaban pamungkas.


"Em ... Anna kayaknya bosan berada di Bali, jadi kita langsung pulang cepat," jawab Logan, menyeringai konyol.


Jawaban apa itu? Sampai semua orang tercengang karena terdengar kurang masuk akal.

__ADS_1


"Oooo, iya, ya. Mungkin karena Anna sedang hamil, makanya terjadi perubahan suasana," seru ayah mertuanya, dan untungnya semua orang percaya saja.


Logan dan Anna meringis getir. Dan Logan berpikir untuk mengalihkan perhatian keluarga itu dengan cepat. "Oya, Pa. Apa Papa punya baju lama untuk aku pakai?" seru Logan tiba-tiba, dan sontak ayah mertuanya menoleh padanya. "Aku ingin menginap di sini."[]


__ADS_2