Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Sebersit masa lalu yang pahit


__ADS_3

Beberapa menit sebelumnya.


Elina meraih sekaleng besar susu hamil rasa cokelat dari merek terbaik, lalu melihat-lihat komposisi yang tertulis pada kemasan.


"Anna, bagaimana kalau kau coba ganti merek susu yang ini—" Ia menoleh, ternyata Anna masih menelepon sambil membelakanginya. "Mungkin telepon penting." Ia menghela napas.


Lantas, ia kembali melihat-lihat merek susu yang lain. Selang beberapa detik, seseorang menyenggol bahunya. Elina terkejut, orang itu pun.


"Maaf." Spontan, Elina membungkuk sedikit sambil berkata.


Orang itu juga mengangguk sambil berusaha menutupi wajahnya dengan topi. Elina tercengang, memperhatikan dan mencari celah untuk dapat melihat wajahnya. Namun, wanita berambut panjang cokelat dan berjaket putih itu terburu-buru pergi dari hadapannya.


"Orang itu kenapa?" gumam Elina heran sembari akan berbalik. Akan tetapi, kakinya menyenggol sebuah benda. Elina terbungkuk sedikit, menatap benda itu lamat-lamat. "Kacamata hitam?" gumamnya pelan, lalu meraih benda itu. "Sepertinya milik wanita tadi?"


Lantas, Elina melihat ke segala arah, mencari keberadaan wanita tadi. Dan, ketemu! Wanita bertopi putih itu tengah membayar barang belanjaannya di kasir.


Tanpa mengatakan pada Anna, Elina menghampiri wanita itu, yang kini tengah keluar dari antrean kasir. Karena sudah agak jauh jaraknya, Elina mempercepat langkahnya.


"Mbak! Mbak!" serunya. Langkah wanita itu agak melambat, lalu menoleh sedikit. Namun, wanita itu kembali mempercepat langkahnya begitu melihat Elina.


Akhirnya, Elina mengejar dengan semampunya. "Mbak! Mbak! Tolong berhenti!" seru Elina, hingga seluruh pasang mata mengarah padanya.


...🦋...


Anna mendecak sambil mematikan ponsel. Dahinya mengernyit ketika menggerutu dan berbalik. Namun, sedetik kemudian ia tertegun menemukan ibu mertuanya sudah tidak ada di tempat ini.


"Lho? Mama ke mana?" gumamnya heran.


Gegas ia merogoh ponsel dan melangkah pergi dari termpat itu. Ia menghubungi Elina, tetapi tidak diangkat. Bertepatan dengan itu, ia berpapasan dengan bu Rima yang sedang mendorong troli.


"Ah! Nyonya Anna?" pekik pelayan itu, terkejut.


"Bu Rima. Apa Ibu melihat mama Elina?" tanya Anna, kini mulai panik. Wanita itu mengernyit heran.


"Lha? Bukannya tadi pergi bersama Anda?"

__ADS_1


"Iya, tapi mama menghilang saat aku sedang menerima telepon," sahut Anna agak frustrasi. "Ya udah, Ibu bayar dulu semua belanjaannya, biar saya yang mencari mama. Nanti, saya kabarin ibu kalau mama sudah ketemu."


"Baik, Nyonya." Angguk pelayan itu, yang bergegas ke antrean tempat kasir setelah Anna pergi.


Anna melangkah keluar dari supermarket menuju ke bagian food court sambil berlari kecil. Otaknya memikirkan ide untuk menghubungi Logan ketika ia hampir putus asa, tapi akhirnya urung.


Kini, ia sudah berada di bagian toko-toko pakaian. Napasnya terengah-engah, berdiri sejenak sambil melihat ke sekeliling. Ia menemukan Elina saat menoleh ke kiri.


Dari kejauhan, Anna melihat ibu mertuanya sedang berlari sambil berseru memanggil seseorang.


"Mama?" gumamnya mengernyit. "Dia sedang mengejar siapa?"


Anna melirik wanita berambut panjang bertopi dan memakai jaket berwarna selaras sedang berlari panik, yang tak jauh dari Elina. Apa Elina mengejar orang itu? Jangan-jangan dia copet!


Anna langsung bertindak dengan berlari menghampiri wanita itu, lalu menangkapnya. Elina berhenti berlari, heran melihat Anna menangkap wanita itu.


"Kena kamu!" seru Anna seraya tersenyum menang. Tak puas hanya menangkapnya, Anna membuka topi yang menutupi wajah wanita itu.


"Anna?" tanya Elina tercengang, setibanya di sana.


Anna melirik sekilas dan tersenyum. "Ma, ini pencurinya." Lalu, ia melirik ke arah wanita berambut panjang itu. "Katakan, apa yang kamu curi dari ibu mertuaku?"


Elina membeku, tangannya gemetaran. "Ka ... mu? Kamu ...?"


"Mama mengenalnya?" tanya Anna, heran. Seakan semua suara yang ada di sekitarnya lenyap.


Elina tenggelam dalam masa lalu yang langsung menikam hatinya. "Kamu ... pembunuh! Pembunuh!" jerit Elina histeris, lalu terjatuh dan menangis.


Anna melepaskan wanita itu, kemudian menghampiri sang ibu mertua. "Ma, ma. Ada apa?" tanya Anna turut panik dan bingung.


"Pembunuh! Pembunuh!" Jeritan Elina semakin melengking, hingga pandangan semua orang mengarah padanya. Tiada hentinya Elina meneriakkan kata yang sama sambil mencengkram kepalanya.


Anna mendekapnya, lalu melirik wanita itu dengan penuh tanda tanya. Sebenarnya, apa yang terjadi? Apa wanita paruh baya yang Elina teriaki adalah pembunuh? Tapi, siapa yang dia bunuh?


...💍 ...

__ADS_1


Logan duduk termenung sambil menunduk di depan sebuah kamar, sementara Anna melihatnya dari jauh sambil berjalan di lorong rumah sakit yang muram dan sepi ini dengan kedua tangan membawa dua botol air mineral.


Pria itu menghela napas panjang, lalu bersandar pada dinding sambil memejamkan mata. Ia menyadari kedatangan Anna dari suara langkah sepatu kets-nya, tetapi diabaikannya.


"Nih!" Logan membuka mata, menoleh pada Anna yang tengah menyodorkan sebotol air mineral. Meskipun saat ini ia sedang tidak ingin minum, Logan tetap menerima botol itu. Kemudian, Anna duduk di sampingnya.


"Minum dong," katanya.


"Aku sedang tidak ingin minum apa pun," jawab Logan datar sambil memalingkan wajah.


Bibir Anna terkatup rapat, dan wajahnya muram. Keadaan menjadi canggung. Anna menutupinya dengan menenggak air minumnya sedikit. Keheningan menyiksa. Sikap Logan ini disalahartikan oleh Anna. Ia merasa kalau pria itu pasti marah padanya.


Anna jadi merasa bersalah, dan tak tahan untuk mengatakan hal ini pada pria itu. "Maafkan aku, karena tidak bisa menjaga mama," lirihnya, tercekat pada akhir kalimat.


"Buat apa minta maaf?" tanya Logan, bergumam dingin. "Memang sudah takdirnya bagi mama untuk bertemu dengan pembunuh anak kandungnya."


Mata Anna membulat, menatap lamat-lamat pada Logan, mencoba mencerna ucapan yang mengejutkannya itu. Namun ia tak bertanya, justru ingatannya melintas pada kejadian beberapa jam yang lalu, di mana Anna melihat sebuah foto yang terpasang pada sebuah bingkai.


Anak bule berumur 5 tahun itu ... apa dia yang Logan maksud? Tapi, kenapa Logan menegaskan bahwa anak yang dibunuh itu adalah anak kandung Elina? Apa dugaannya selama ini benar, bahwa Logan bukan anak kandung Elina dan Matthew?


Suara pintu terbuka terdengar, Anna dan Logan spontan berdiri. Matthew muncul dari ruangan itu, menghampiri mereka yang tengah penasaran.


"Mama masih tidur?" cecar Logan, mendekati pria itu. Matthew mengangguk lemah.


"Logan, kamu antarkan Anna pulang, ya. Biar Papa yang menjaga mama di sini," katanya kemudian.


Logan menggeleng. "Enggak, Pa. Biar aku aja yang menjaga mama di sini, Papa sama Anna aja yang pulang," tolak Logan.


"Iya, Pa. Pulang sama aku aja, ya. Papa kelihatannya capek banget," timpal Anna, iba melihat wajah letih ayah mertuanya itu.


Matthew tersenyum getir, terharu pada kepedulian yang ditunjukkan oleh menantunya. "Yang dibutuhkan mama saat ini adalah Papa. Jadi, biar Papa yang di sini saja."


Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Logan dan Anna, jika Matthew bersikeras untuk tetap berada di samping Elina.


"Ya udah, Logan pulang dulu ya, Pa. Nanti malam Logan balik lagi ke rumah sakit untuk gantian jaga," kata Logan, terpaksa mengalah.

__ADS_1


"Anna akan suruh bu Rima mengantarkan makanan untuk Papa. Nanti Papa makan, ya." Anna berpesan, suaranya begitu lembut menyapa telinga pria paruh baya itu.


Keduanya berpamitan. Lalu, Logan menghela lembut pinggang Anna untuk berjalan bersama meninggalkan tempat ini.[]


__ADS_2