Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Tiba-tiba seranjang


__ADS_3

Tadinya, ingin meneguk tiga gelas saja, tapi malah sampai 1 botol. Alhasil, Logan tumbang di atas meja bar. Yang repot siapa lagi kalau bukan sekretarisnya.


Dengan kepala berat, ia masih bisa menghubungi sekretarisnya dengan menggunakan tombol "spead dial" di ponselnya. Terpaksa, pria itu menunda tidurnya, dan bergegas ke klub malam yang ada di dekat hotel.


Logan diantarkan kembali ke hotel oleh sekretarisnya itu. Kesulitan juga membawa orang yang sudah mabuk berat. Jalan kedua pria itu sampai terhuyung-huyung di lorong yang menuju kamar Logan.


"Tuan, apa Anda memiliki kunci kamarnya?" tanya pria bernama Gery itu.


Logan yang sedang tertunduk, merogoh saku jasnya, lalu mengeluarkan sebuah kartu yang dapat membuka kamar tempatnya menginap.


Setelah itu, Gery menempelkan kartu itu ke sebuah alat pemindai yang ada di knop pintu, lalu mereka masuk ke dalam kamar setelah berhasil membuka pintunya.


Di ranjang, terlihat Anna yang sudah tertidur pulas. Gery menempatkan Logan di sisi ranjang yang kosong tanpa membangunkan Anna.


"Tuan Logan berat juga, ya," keluh Gery sambil menggerakkan lengannya yang pegal. Terasa mau copot aja nih tangan.


Kemudian, ia meninggalkan kamar itu dan kembali ke kamarnya yang ada di lantai bawah.


Logan yang sedang tertidur memunggungi Anna, menggeliat dan berbalik. Matanya terbuka sedikit sekejab, samar melihat sesuatu, tapi tak sadar bahwa yang dilihatnya adalah tubuh Anna.


Ia menggeser tubuhnya mendekat ke arah tubuh Anna, lalu ia mendekapnya seperti memeluk sebuah bantal guling. Anna sendiri sudah terlalu mengantuk, dan mungkin tidak menyadarinya hingga pagi menjelang.


Seperti biasa, jika Subuh menjelang, mata Anna langsung menyalang. Anna menggeliat, lalu mengernyit merasakan tubuhnya dipeluk dari belakang. Matanya yang tadinya berbuka kecil, sontak mendelik.


Lalu, ia berbalik dan terkejut melihat Logan sedang tertidur memeluknya. Refleks, ia menjerit dan mendorong dengan kuat hingga Logan terguling jatuh dari ranjang.


"Aduh!" pekik Logan mengeluh kesakitan.


Anna tertegun, menyadari kesalahannya. "Aduh, aku lupa kalau Logan suamiku," gumamnya sangat kecil, sehingga tidak ada yang mendengar selain dirinya.


Merasa bersalah, Anna perlahan melongok ke bawah ranjang yang ada di sisi sebelahnya. Ia melihat Logan tengah mengusap pinggangnya yang sakit, lalu mata tajamnya mengarah padanya. Anna langsung terhenyak, dan kemudian menyengir.


"Kamu apa-apaan sih?" omel Logan dingin sambil duduk.

__ADS_1


"Maaf, tadi aku kaget." Habis itu, Anna memalingkan wajah dan bergumam sangat pelan lagi. "Habisnya, aku nggak terbiasa."


Rupanya pria itu mendengarnya, langsung menyahut. "Kalau begitu, kamu harus terbiasa. Sekarang, kamu punya suami yang tidur seranjang sama kamu."


Rahang Anna membeku, jengkel. "Kayak mau seranjang sama aku aja," gerutunya pelan.


"Apa?" Nah, giliran kayak gini malah tidak terdengar.


Anna melirik. "Nggak ada," jawabnya agak ketus. "Sini! Aku bantuin berdiri!"


Tangan Anna diulurkan ke arahnya, tetapi Logan memalingkan wajah dan menyahutinya sambil beranjak memegangi pinggangnya.


"Nggak usah. Aku bisa sendiri."


Logan akan kembali berbaring ke ranjang, Anna pun langsung bergeser. Pria itu tanpa sengaja menoleh pada jendela. Ia lihat matahari belum terbit.


"Udah, tidur lagi," kata Logan, dengan acuh tak acuh membaringkan tubuhnya.


"Emang udah waktunya?" tanya Logan sambil meraih ponselnya untuk melihat jam.


"Mungkin sebentar lagi." Ragu juga Anna mengatakan hal ini.


"Terserah padamu saja," timpal Logan, menaikkan selimut ke seluruh badannya, lalu membalikkan badan.


Ya sudah, Anna bisa mengeceknya lewat aplikasi. Jadi, ia tidak ragu untuk sholat di waktu yang tepat. Kemudian, ia beranjak dari ranjang untuk mandi dulu. Bertepatan dengan selesainya ia mandi, aplikasi di ponselnya telah terpasang, dan ia bisa melihat jadwal sholat Subuh di Manchester.


Setelah itu, ia kembali ke kamar mandi untuk wudhu, dan menunaikan sholat Subuh. Karena masih terlalu pagi, setelah usai sholat Anna tidak tahu mau melakukan apa. Masak? Tidak perlu karena ia akan sarapan di hotel.


"Em ... main handphone aja deh." Akhirnya, Anna memutuskan.


Ia tiduran di sofa panjang sambil melihat pesan Whatsapp yang masuk. Ah! Ada balasan dari Tasya. Entah gadis itu sudah bangun atau belum, ia balas saja pesan terakhirnya itu.


Tak ada pesan lagi yang dibalas, tergugah hati Anna untuk melihat foto-foto di galeri ponselnya. Anna membeku, tak ada foto terbaru kecuali foto-foto pesta pernikahannya dengan Logan beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


Ia melihat semua fotonya satu per satu, sampai akhirnya ia berhenti menggeser layar pada sebuah foto yang diambil saat Logan mengecup keningnya di atas pelaminan.


Senyum getirnya terulas. "Palsu," gumamnya. "Kenapa aku ditakdirkan menjalani pernikahan seperti ini? Aku hamil, pria yang menikahiku tidak mencintaiku."


Anna menghela napas panjang, mengenyahkan layar ponsel dari pandangannya. Jujur, ia menyesal telah menikah. Tapi apa boleh buat? Mungkin pernikahan ini tidak akan berlangsung lama. Dan setelah bayi ini lahir, ia akan memberikannya pada Logan, lalu menyingkir dari kehidupan mereka.


Namun, yang dikhawatirkannya, apa ia sanggup berpisah dengan anak yang dikandungnya selama 9 bulan? Rasa sayang yang perlahan tumbuh pasti ada seiring berjalannya waktu. Dan itulah yang ditakutkan olehnya.


Alarm dari ponsel Logan berbunyi, melambungkan angan Anna sejauh mungkin. Ia menoleh, tak beranjak karena Logan pasti yang akan mematikannya sendiri. Namun, pria itu justru tak merasa terusik, tetap terlelap meski alarm berbunyi cukup kencang.


"Tuh orang tidur mati?" gumam Anna heran, lalu beranjak menghampiri ponsel Logan yang tergeletak di atas nakas.


Berisik! Omelnya dalam hati sambil menekan tombol "snooze" yang tertera di layar ponsel.


"Logan!" imbau Anna sambil menepuk-tepuk lengan pria itu. "Logan! Logan! Bangun! Udah jam 6 pagi tuh!"


Anna menegakkan badan sambil berkacak pinggang. Benar-benar deh, pria yang satu ini! Bagaimana cara membangunkannya, ya?


Sebenarnya, Anna bodo amat dengan urusan pria ini. Tapi kalau tidak membangunkannya, pria itu akan mengomel lagi. Dan Anna malas mendengar cericitannya itu.


Apa siram saja wajahnya dengan air? Anna menggeleng. Itu ide yang buruk. Ia berpikir keras lagi selama beberapa saat, lalu menemukan sebuah ide, yang agak meragukan.


Anna agak membungkukkan badan ke arah telinga Logan, lalu berteriak sekencangnya. "LOGAN, BANGUN! UDAH JAM 6 PAGI!"


Berhasil! Sontak pria itu terbangun sambil menutup telinganya. Anna kembali menegakkan badan sambil terkekeh. Logan tentu saja berang, tatapan mata tajamnya langsung mengarah pada Anna.


Alih-alih terintimidasi, Anna malah melemparkan tatapan menantang sambil berkacak pinggang. "Apa?"


Logan mendengus, menyingkapkan selimut dari tubuhnya dengan kasar, lalu berdiri di hadapan Anna. Gadis itu spontan beringsut mundur, mulai goyah sikapnya.


"Tidak ada!" sahut Logan ketus, kemudian berlalu dari hadapan Anna.


Anna melirik jengkel sambil mengikuti pandangannya ke arah Logan, yang tengah menghampiri kamar mandi sambil menenteng handuk.[]

__ADS_1


__ADS_2