Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
(Bukan) akting 2


__ADS_3

Anna menatap senyuman yang terkembang di bibir kedua orangtuanya ketika tamu yang datang adalah anak dan menantunya yang baru saja menikah.


Mama melayani Logan, menanyai kabarnya, dan menanyakan makanan apa yang disukainya. Logan tampak segan dan bingung saat menjawab. Maka, Anna pun menimpali. "Memang Mama masak apa?"


"Rendang, sayur kangkung, kerupuk, ayam goreng, sama bihun goreng," jawab mama, menoleh pada anak keduanya itu.


"Wah, enak banget! Udah selesai masak?" seru Anna sambil beranjak dari tempat duduknya.


"Oya!" Mama langsung berdiri dan setengah berlari menuju dapur. Anna menyusulnya sambil terkekeh. Pasti mama meninggalkan masakannya di dapur.


Mama lupa, ya, kalau ada anak perempuan lainnya yang siap menyelamatkan masakannya. Tasya. Gadis itu di dapur sejak tadi untuk menggoreng ayam yang sedang mama masak. Mama bernapas lega karena Tasya sudah mengangkat ayam dari penggorengan. Pikirnya, ayam goreng buatannya akan gosong. Malu jika diberikan pada menantu tampannya itu.


"Udah, Mama tenang aja," kata Anna, tergelak. "Biar aku sama Tasya yang urus sisa kerjaan di dapur. Mama temanin papa sama Logan. Kayaknya Logan sama papa canggung banget duduk berdua."


Dering ponsel Tasya terdengar. Hatinya seakan melompat dari tempatnya kala menerima sebuah pesan dari tempatnya melamar kerja. Akan ada wawancara melalui aplikasi Zoom sebentar lagi, dan Tasya begitu gugup karena belum bersiap-siap.


"Ma, aku lupa kalau hari ini ada interview. Maaf ya, Ma. Aku nggak bisa bantuin masak." Tasya langsung ngibrit dari dapur menuju kamarnya.


Anna menghela napas. Sepertinya, ia harus meninggalkan papa dan Logan dalam lingkup kecanggungan yang sunyi, meskipun TV menanyangkan acara tinju pagi ini.


Mama mengambil seloyang kue bolu cokelat kesukaan Anna di kulkas, lalu memotong beberapa buah kue itu. Anna mendekat padanya saat mama meletakkan beberapa potong kue di atas piring.


"Wah! Kapan Mama beli kuenya?" tanya Anna, semringah.


Senyum mama terkembang menghangatkan hati Anna.


"Beli? Waktu tahu kamu akan ke sini sepulang dari Inggris, Mama berniat membuat kue bolu kesukaan kamu." Piring berisi kue kemudian diberikan pada Anna. "Antarkan ke sana buat teman ngobrol Logan sama ayah."


Anna tidak keberatan, dan langsung membawa nampan berisi kue dan seteko es sirup jeruk ke ruang tamu. Saat ia mendekat, kedua pria itu tengah asyik menonton TV sambil mendebatkan para petinju yang sedang bertanding.


Geli melihatnya, tapi lega. Akhirnya, canggung di antara mereka mencair. Ayah menemukan teman berdebat dan berdiskusi yang cocok. Sebelumnya, ayah Anna lah yang menjadi teman diskusi ayah.


"Ini kue buatan mama," kata Anna, meletakkan piring berisi kue dan seteko es sirup di atas meja. "Sambil nungguin makan siang."


Logan dan ayah menoleh pada Anna bersamaan. Melihat kue bolu yang menggiurkan telah tertata, ayah langsung menyambarnya. "Silakan dimakan, Nak Logan. Anna sangat suka kue bolu cokelat. Bikinan mama sangat enak, lho," kata ayah, menggeser piring berisi kue ke arah menantunya.


Logan hanya tersenyum segan, lalu tatapan menusuk di arahkan pada Anna, seakan ia berkata: "apa kau sengaja membuatku menjadi gemuk?".


Akan tetapi, Anna hanya menggerakkan kepala sebagai isyarat agar Logan memakan kue itu. Logan menghela napas sambil melirik kue itu. Secangkir teh saja belum habis. Ia sudah kenyang makan 3 keping kue kering. Apa perutnya sanggup untuk diisi lagi dengan kue? Belum lagi, waktu makan siang hampir tiba. Namun, menolak tawaran dari ayah mertuanya juga tidak enak.

__ADS_1


Karena tidak nyaman dipandangi oleh ayah, Logan meraih sepotong kue bolu. Hanya saja, ia membelahnya jadi dua, lalu memberi setengah potong kue itu pada Anna.


"Buatmu," kata Logan, mata Anna membulat, sementara ayah diam-diam tersenyum.


"Apaan, sih? Bikin malu saja di depan ayah. Sungguh, norak sekali aktingnya, Logan!" Anna membatin. Kemudian, ia tersenyum paksa, dan berkata, "Nggak usah, kamu aja yang makan."


"Mau aku suapin?" Tidak ada kata penolakan dari Logan. Ini satu-satunya cara berbasa-basi di depan mertuanya, dibanding melakukan penolakan. "Kamu belum sempat cicipin kue kesukaan kamu, 'kan?"


Di dalam hati, Logan berkata: "Ayolah, bisakah kau mengerti pada posisiku sekarang? Jangan menolak!"


Anna semakin tersudut, apalagi Logan memelototinya begitu. Bibirnya terk*ulum, melirik kue itu sambil mempertimbangkan apa yang harus dilakukan. Akhirnya ia membuka mulut karena Logan berdiri dan menyodorinya terus kue itu.


Bagus! Logan tersenyum menang. "Gimana rasanya?"


"Ya, jelas enak!" sahut ayah, tidak salah membanggakan masakan mama. "Mama kan pintar masak."


Terpaksa Anna mengangguk setuju dan tersenyum, sementara Logan menikmati separuh potong kue bolu sambil kembali duduk di sofa. Anna beranjak dari sana sambil menahan kekesalannya.


Dasar pria itu! Gerutunya dalam hati.


Anna kembali ke dapur, dan mama langsung memburunya dengan pertanyaan, penasaran apakah Logan menyukai kuenya atau tidak. Ia diam dengan wajah memelas, buat mama jadi merasa kalau menantunya itu tidak menyukai kue buatannya.


"Ih, kamu ini!" Mama menoyor lengan Anna yang sedang tertawa, alih-alih marah, dan malah ikut tersenyum.


Saat Tasya kembali ke dapur, makanan sudah siap dihidangkan oleh Anna dan mama. Gadis itu ke kamar adik bungsunya karena mama menyuruhnya untuk memanggilnya, sementara Anna menawarkan diri untuk memanggil ayah dan Logan untuk bergabung di meja makan.


Kedua pria itu datang setelah mematikan TV. Anna menyusul di belakang mereka sambil menutup mulutnya. Sejak tadi, Anna memang menahan rasa mualnya. Entah bau apa yang membuatnya enek.


Logan tanpa sengaja meliriknya dari atas bahunya, melihat Anna dalam keadaan seperti itu. Hatinya tergerak begitu saja untuk menghampirinya, bertanya dengan nada khawatir. "Kau kenapa?"


Anna meliriknya terpana. Ini benaran akting atau ... ah, tahulah! Rasa mualnya tidak tertahankan lagi! Anna buru-buru ke kamar mandi tanpa sempat menjawab pertanyaan itu. Logan tercengang melihat Anna berlari menuju kamar mandi. Semua orang melihat ke arah Anna, termasuk mama.


Lalu, mama melirik Logan, bertanya dengan cemas, "Logan, Anna kenapa?"


Logan berbalik sedikit ke arah wanita itu. "Sepertinya Anna mual lagi, Ma," jawabnya asal, tapi memang benar.


Sejak tadi, tatapan Logan mengarah ke sana dengan pikiran yang cemas. Lalu, memutuskan untuk beranjak ke sana, setelah ia berkata, "Mama, ayah, sama yang lainnya makan duluan saja. Saya menyusul Anna dulu."


Ternyata firasat Logan benar. Setelah Anna memuntahkan seluruh isi perutnya, gadis itu keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat. Tubuhnya lemas, berjalan sambil berpegangan pada pintu kamar mandi. Logan datang menghampiri, langsung memapah tubuhnya.

__ADS_1


"Apa kau baik-baik saja? Apa ada bau yang membuatmu mual?" tanya Logan, Anna tercengang karena pria itu tahu penyebab rasa mualnya.


"Iya, aku tidak tahu makanan apa yang baunya menusuk ke hidungku," lirih Anna.


"Mau aku antarkan ke kamar?" Anna menggeleng lemah. "Nggak usah, aku baik-baik aja. Nggak enak kalau aku malah makan di kamar sendirian. Aku masih kuat kok, kalau cuma buat duduk doang di meja makan."


"Yakin? Kan ada makanan yang membuatmu mual?" desak Logan, ragu dengan ucapan Anna.


"Iya, yakin," sahut Anna, mengangguk mantap sampai pria itu tak berdaya lagi untuk membujuknya. Anna menghela tangan Logan dengan lembut, lalu berjalan pelan di sampingnya. "Aku nggak apa-apa, nggak usah dipapah begini. Nanti yang lainnya khawatir."


Anna dan Logan kembali. Ayah, mama, dan kedua adik Anna sudah makan duluan beberapa suap. Mama bertanya dengan cemas, apalagi setelah melihat wajah Anna yang pucat. Anna tersenyum tipis, menjawab kalau ia merasa baik-baik saja.


Sebelum Anna meraih sebuah piring, Logan sudah mengambilkan dua buah piring untuknya dan dirinya sendiri. Anna larut lagi pada keterpanaannya, sampai lupa pada janjinya untuk tidak terbawa perasaan lagi pada akting pria itu.


Namun, sejak melihat ekspresi cemas yang tergambar dari raut rupa Logan yang tampan, Anna merasa bahwa seluruh perhatiannya dilakukan Logan dengan tulus.


"Udah nasinya?" tanya Logan, yang sudah meletakkan dua centong nasi di atas piring Anna.


"Udah," jawab Anna seraya mengangguk. Uh! Aroma nasi kembali membuatnya mual. Saat Logan meletakkan secentong nasi di piring, Anna mencampurkan separuh nasi yang ada di piringnya ke piring Logan. Pria itu mengernyit, melirik sisa nasi Anna yang sedikit.


"Makannya dikit banget?" protes Logan.


"Nggak apa-apa," jawab Anna sambil meraih piring berisi rendang. Kini, giliran Anna yang mengambilkan makanan untuk Logan, sebagai bentuk kewajiban istri melayani sang suami.


"Kau mau ayam goreng?"


"Tidak, sayur, bihun dan kerupuk saja," jawab Logan, kali ini ia segan untuk banyak tingkah di depan mertuanya.


Anna mengambilkan sepotong ayam untuknya, lalu meletakkan bihun, sayur dan kerupuk di atas piring Logan dan piringnya. Ia mulai melahap makanan itu perlahan, mencoba menikmatnya meski nasi membuatnya mual.


Logan melirik dan memperhatikan hal itu. Setelah makan, alih-alih membereskan piring, Anna beranjak ke kamar mandi.


Awal kehamilan yang merepotkan! Sepertinya, Anna tidak bisa makan nasi untuk sekarang karena rasa mual ini. Untung saja, muntahan yang keluar tidak banyak. Tapi, tetap saja tubuhnya lemas.


"Kau muntah lagi?" pertanyaan pertama yang Anna dengar dari Logan, ketika ia keluar dari kamar mandi.


Anna terkesiap. Pria ini ... sejak kapan berada di sini? Apa dia menungguinya di depan kamar mandi? Ini akting, atau memang tulus mencemaskannya? Anna tidak bisa membedakannya, apalagi pria itu dengan sigap memapahnya.


"Ayo, aku antarkan ke kamar." Logan menawarkan.[]

__ADS_1


__ADS_2