Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Menyakiti Dua Pria


__ADS_3

"Aku ... akan membuat Logan membencimu."


Anna mendelik, seakan kepalanya meledak mendengar ucapan jahat yang keluar dari mulut Nina. Namun, Anna tak langsung menanggapi dengan kemarahan. Anna menyimpulkan semua yang dilakukan Nina sekarang, lalu tersenyum mencemooh.


"Dengan cara apa?" tanyanya bernada mengejek. "Apa kau menyewa seorang aktor, lalu menyuruh kami berpose seperti yang kau lakukan dulu pada Logan? Nina, apa cuma cara itu yang bisa kau pikirkan?"


Ucapan lancang itu menyinggung Nina. Seketika senyum percaya dirinya lenyap, membating gelas di meja, dan sontak beranjak. "Apa katamu?" sergahnya marah.


Anna semakin gencar mengejek dengan senyuman dan melipat kedua tangannya di dada. "Logan juga tidak akan mudah percaya dengan trik murahan itu."


Nina mendengus. Tangannya mengibas-ngibas, sebab hatinya yang panas. "Wah! Jadi, kau bilang rencanaku sangat payah?" Anna mengangguk menjawab pertanyaannya, dan Nina semakin geram. "Lalu, memangnya kau punya rencana apa, Nona sok kreatif?"


"Kau ingin Logan membenciku?" Anna memulai negosiasi. "Tapi, kau harus tepati janji."


Nina tersenyum mencemooh seraya melipat kedua tangannya di dada. "Harusnya aku yang berkata begitu padamu," sahutnya sinis.


"Tenang saja, aku akan menepatinya. Soal ini, biar aku yang melakukannya sendiri, kau tinggal menyambut Logan di rumah, dia akan mendatangimu," jawab Anna lugas, seakan membuat Nina mempercayainya.


Nina memandangi skeptis, lalu kembali duduk seraya berpikir cukup lama. Anna bergeming tanpa tertarik menunggu sambil duduk, apalagi meneguk sedikit anggur yang ada di meja.


Nina mengangkat gelasnya. "Oke, aku percaya padamu," jawab Nina akhirnya, lalu menyeruput anggurnya.


Tatapan mata Anna menggelap dan murung. Kesepakatan ini membuatnya sedih, tapi ia tak mau menunjukkan ekspresinya di depan Nina.


"Aku penasaran," seru Nina setelah meminum anggur. "Memangnya, apa yang kau rencanakan?"


Cuma rencana sederhana yang akan melibat seseorang yang tak bersalah. Anna menghubungi orang itu setelah Nina membebaskannya. Ia berdiri di depan pintu masuk hotel, menatap layar ponselnya sejenak sebelum mencari nomor pria yang akan membantunya.


Nada tunggu berbunyi di ujung telepon, jantung Anna berdetak kencang menunggu, lalu tiba-tiba berpikir untuk berubah pikiran. Ia merasa jahat jika melibatkan pria itu. Makanya, ia lega karena teleponnya tak kunjung diangkat. Mungkin, ia bisa mencari orang lain untuk melakukan rencana ini.


Namun, ternyata si pemilik nomor mengangkat teleponnya sebelum nada tunggu berakhir. Anna terhenyak, membeku sesaat meski orang di ujung telepon menyebut namanya berkali-kali.


^^^"Anna, Anna. Halo? Apa kau masih di sana?"^^^


"Ah, maafkan aku. Tadi, aku sedang mencari taksi."


^^^"Oh. Ada apa kau menelepon? Oh, iya! Kau ada di mana? Logan mencarimu."^^^

__ADS_1


"...."


"Kenan, bisa kau jemput aku?"


^^^"Yah ... bisa aja. Tapi, kenapa nggak minta Logan aja? Aku telepon dia, ya?"^^^


"Kenan, please!"


^^^"...."^^^


^^^"Oke. Tapi, kalau Logan cemburu, kau yang harus menjelaskannya pada Logan. Aku tidak mau menjadi sasaran amukannya."^^^


"Ya udah, terima kasih. Aku share lokasinya, ya."


Anna menutup teleponnya. Sejak bicara dengan Kenan, Anna begitu tegang sebab urung untuk melakukan awal rencananya. Tapi, semuanya sudah telanjur, Anna mengirim lokasi penjemputan seraya berjalan keluar dari area hotel mewah ini.


Anna menunggu di sebuah halte depan hotel, duduk sendirian seraya termenung dengan tubuh melemas. Sudah banyak air mata yang keluar sejak kemarin, sehingga ia tak bisa menangis sedikitpun meski semua kenangannya bersama Logan terlintas dalam benak.


Ia menghela napas berat, dan bergumam, "Seandainya otak manusia bisa di-reset."


Waktu berlalu bagai angin tanpa wujud, tak terasa mobil Kenan sudah sampai di tempat Anna menunggu. Kenan membuka jendela mobil, akan memanggil. Namun, melihatnya sedang melamun, Kenan jadi heran dan membiarkannya.


"Apa dia sedang ada masalah dengan Logan?" gumam Kenan menduga-duga.


Mungkin, waktu menjelajahi dunia angan sudah berakhir, Anna terhenyak, melihat ke sekitarnya, menyadari bahwa dirinya masih di tempat ini.


Anna melihat pada mobil fortuner putih yang tak asing terparkir di dekatnya. Kenan tersenyum seraya melambaikan tangan begitu tatapan Anna mengarah padanya.


Anna gegas melompat turun menemui Kenan, merasa tak enak karena pikirnya mungkin pria itu telah menunggunya lama. "Sejak kapan kau di sini?" tanya Anna berbasa-basi untuk memastikan.


Namun, Kenan memilih berbohong. "Barusan banget," jawabnya tertawa renyah.


Anna tak yakin dengan jawabannya, pria itu terlalu baik padanya. "Oh, maaf ya. Aku jadi menyusahkanmu."


"Kau ini! Selalu minta maaf, padahal nggak salah apa-apa. Jangan kebiasaan! Nanti dimanfaatkan, lho," kata Kenan, berpura-pura menegur keras pada Anna. Habisnya, ia tak suka kalau Anna sungkan begitu padanya. Meski cintanya tak terbalas, ia tidak merasa disusahkan jika dimintai tolong oleh Anna. "Ya udah, masuk dulu deh! Kita ngobrol di jalan aja."


Apa yang mau diobrolkan, hati Anna kalut saat ini. Dia diam saja sejak masuk ke dalam mobil seraya menatap jalanan petang itu. Kenan jadi canggung dengan situasi ini, tak tahu harus mengobrol tentang apa sebab tidak tahu dengan masalah yang dialami Anna saat ini.

__ADS_1


Saat lampu merah menyala, Kenan menciptakan obrolan ketika melihat langit cerah berwarna oranye. Ia tersenyum, menoleh sekejab pada Anna, lalu berseru, "Wah! Langitnya bagus. Lihat deh, An!"


Anna sendiri tak menyadari pemandangan itu. Tapi karena Kenan, ia terpaksa melihat ke arah langit, lalu berpura-pura mengagumi pemandangan itu. "Iya, bagus banget!" komentarnya terpaksa ceria.


Ucapan sumbang itu terdengar janggal, tetapi Kenan tak mau memojokkan Anna karena ia tahu suasana gadis itu sedang tak baik. Ia memang sengaja mengalihkan Anna dari lamunan. Jadi, ia tak kecewa jika Anna terpaksa menanggapi ucapannya.


"An, mau solat magrib dulu?" tanya Kenan seraya menoleh.


Menurut Anna, itu ide yang bagus. Siapa tahu, setelah sholat sikapnya bisa lebih tenang ketika menghadapi Logan nanti. "Boleh deh," jawabnya sambil mengangguk. "Kita cari masjid terdekat."


Lampu hijau menyala, Kenan langsung melajukan mobilnya ke masjid yang lokasinya dekat sana. Mereka menepi beberapa untuk melakukan sholat Magrib, setelah itu melanjutkan perjalanan pulang.


Sebentar lagi, mereka akan sampai di rumah. Anna membuka aplikasi pesan, memeriksa puluhan pesan yang dikirimkan Logan.


Ia memilih membuka pesan yang terakhir terkirim. Jarinya membeku di depan layar. Ia kembali termenung muram, dan air matanya lagi-lagi menggenang.


Keraguan menyergap. Jika saja tak ingat pada perjanjiannya dengan Nina, Anna tidak akan melakukan ini. Namun, akhirnya ia harus melakukan rencananya. Dan rencana selanjutnya memancing Logan dengan sebuah pesan.


^^^"Anna, di mana kau? Pulanglah. Aku mengkhawatirkanmu."^^^


"Sebentar lagi, aku sampai di rumah."


Sudah centang biru dua, berarti Logan sudah membacanya. Pria itu pasti sedang bergegas turun ke bawah. Anna mulai gelisah, apalagi saat melihat mobil ini hampir mendekati rumah keluarga Jonathan.


Anna melihat ke arah rumah begitu mobil berhenti depan rumah. Tidak ada siapa pun, bahkan Logan tidak muncul.


Kenan menyadari bahwa Anna terlihat risau, Kenan berinisiatif untuk turun dan membuka pintu mobil untuk Anna.


Anna tertegun begitu pintu mobil terbuka, Kenan mengulurkan tangannya dan tersenyum khas. "Yuk, turun!"


Canggung, Anna menyambut tangan itu, lalu keluar dari mobil. Ponselnya bergetar, Anna melirik sekejab pada layar ponsel. Logan yang menelepon! Apa ini sinyal baginya untuk melakukan rencana?


Suara derak besi pengunci pagar terdengar. Anna terkesiap, spontan melirik. Dengan gamang, kedua tangan Anna menggapai leher Kenan dan melingkarkannya seraya berjinjit. Kenan mendelik dan membeku.


"Kenan, maaf," gumam Anna, kemudian mendekatkan wajahnya.


Bertepatan dengan itu, pagar kayu terbuka. Semula, Logan muncul seraya tersenyum bahagia, tapi ia terkejut begitu melihat adegan mesra Anna dan sahabatnya di depan mata.[]

__ADS_1


__ADS_2