Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Aku Sudah Tidak Tahan!


__ADS_3

"Palliwa. Neowa eoullil sigani eobseo (cepat katakan. Saya tidak punya waktu berbasa-basi dengan Anda)."


Hati Park Jiwon mencelus lebih dalam, membuatnya muram, tertunduk sedih. Park Yeonji yang mendengarkan dari meja sebelah, menjadi marah. Sontak gadis itu beranjak dari kursi, melabrak Logan.


"Mworago? Maeneoleul baeuji anhassseumnikka? (kamu bilang apa? Apa kamu nggak pernah diajarkan sopan santun?)," sembur Park Yeonji.


Park Jiwon yang berada di antara mereka menjadi cemas, apalagi begitu melihat ekspresi tak senang Logan. "Yeonji-ya, keumane (Yeonji, hentikan)," tegurnya lembut.


"Sireoyeo! Naega ... abeojiga geu saram-ege chagabge daehamyeon bad-adeul-iji masibsio (nggak mau! Aku ... tidak terima jika ayah diperlakukan dingin oleh orang itu)," sahut Yeonji gusar. "Moleugesseoyo. Geuui yangbumo, simjieo geuui jeoncheodo johatda. geunde i nyeoseog-eun jeongmal... (aku nggak ngerti. Orangtua angkatnya, bahkan mantan istrinya orang baik baik. Tapi dia benar-benar...."


"Park Yeonji!" seru Park Jiwon agak keras, diam-diam Logan tersenyum sinis. "Keumane. Anjaseo! (Hentikan. Duduk kembali!)."


Yeonji tak puas, menggeram, menantang Logan lewat tatapan murkanya. Gadis itu kembali ke tempatnya dengan tak rela, duduk seraya memperhatikan Logan dengan tajam.


"Geuleul yongseohaejuseyo (tolong maafkan dia)," kata Park Jiwon setelah dirasa cukup tenang untuk kembali berbicara.


"Ahjussi. Jung-yohaji anheun maleul halago naleul chodaehamyeon ganeun pyeoni nasseumnida (Pak tua. Jika Anda mengundang saya hanya untuk mengatakan omong kosong, lebih baik saya pergi)," balas Logan, lagi-lagi membuat hati Yeonji panas.


"Ya!" pekik Yeonji gusar, sontak beranjak dari kursi. "Neoneun mollassda. Uri abeoji neomu gotongseuleobgo dangsingwa dangsin-ui eommaleul chabeolin geose daehae joechaeggam-eul neukkimnida! (kau tidak tahu. ayahku sangat menderita dan merasa bersalah karena telah mencampakkanmu dan ibumu!)."


Merasa bersalah? Logan tersenyum sinis. "Naega midgileul gidaehamnikka? Iyuga mueosideun yongseohaji anhgetda abeojilo injeonghanda haedo (kau harap aku akan percaya? (apapun alasannya, aku tidak akan memaafkannya, bahkan mengakuinya sebagai ayah)."


"Ya! Neo!" jerit Yeonji akan menghampiri Logan yang tengah beranjak dari kursinya.


Gegas Park Jiwon mencegat anak perempuannya, sehingga Logan bisa pergi dari tempat itu. Park Jiwon meminta Yeonji untuk berhenti dan tenang. Demi sang ayah, Yeonji mengalah, meskipun kemarahan ini belum surut.


...💍...


Beberapa bulan ini, Nina selalu merasakan sakit di perut bagian bawah. Akan tetapi, ia abaikan rasa sakit itu, dan fokus pada latihannya. Namun, rasa sakit kemarin itu lebih parah dari biasanya, dan Nina berinisiatif untuk memeriksanya.


Nina disarankan ke dokter kandungan atas saran dokter yang memeriksa tadi. Maka, ia menemui dokter kandungan rekomendasi dari dokter itu.


Sang dokter kandungan memeriksa hasil scan yang dilakukannya tadi. Ia memperhatikan dengan seksama sebelum menyimpulkan. Hembusan napas sang dokter membuat Nina menjadi cemas.


"Dari hasil pemeriksaan, Anda mengalami kanker rahim stadium satu," kata dokter wanita itu prihatin.


"Kanker ... rahim?" guman Nina syok. "Nggak mungkin, Dok. Pasti Anda salah. Saya mau periksa ulang!"

__ADS_1


"Silakan saja. Anda akan tetap mendapatkan jawaban yang sama," sahut dokter tak terprovokasi.


Nina terduduk lemas di kursinya, termenung depresi. Kanker rahim? Tidak terbayangkan akan terjadi padanya. Pengobatan satu-satunya adalah melakukan operasi pengangkatan rahim. Dengan begitu, impiannya untuk mendapatkan anak pupus sudah.


Sejak kembali dari rumah sakit, Nina hanya merenungi nasibnya. Langkahnya memasuki kediaman Jonathan dan kamarnya bagai zombi yang pandangannya kosong.


Kamar dikunci begitu ia memasukinya. Nina memaku sejenak, lalu tangannya gemetaran, dan tangisannya pecah. Tas yang dipegangnya Nina lempar sembarang. Ia menghampiri nakas panjang, menjatuhkan barang-barang di atasnya secara membabi-buta. Kemudian, ia menangis seraya berteriak keras.


Elina dan Matthew yang baru saja pulang terkejut mendengar suara gaduh di lantai atas. Gegas mereka memeriksa asal suara gaduh itu.


Mereka mengetahui bahwa suara itu berasal dari kamar Nina. Dengan perasaan cemas dan heran, Matthew mengetuk pintu sembari berseru lembut. "Nina, ada apa? Tolong buka pintunya!"


Elina turut mengetuk pintu setelah Matthew. Tapi, suara gaduh itu tak terdengar lagi untuk beberapa saat.


"Aku tidak apa-apa, Ma, Pa. Jangan hiraukan aku," sahut Nina dari dalam, tak lama kemudian.


Elina melirik pada Matthew, tak yakin. "Nina, kalau ada apa-apa, bilang sama Mama dan papa, ya?" serunya.


"Iya, Ma. Mama nggak usah khawatir."


Nina menempelkan telinganya di pintu, mencari tahu apakah mertuanya sudah tidak lagi di depan pintu. Setelah dirasanya senyap, Nina menghela napas lega.


"Penyakit ini bisa menjadi senjata bagi Logan untuk menendangku keluar dari rumah. Aku harus menyembunyikannya dari mereka," gumam risau.


...💍...


"Ke mana pria itu?" rutuk Anna, melangkah gontai di jalan agak menanjak menuju goshiwon. "Sudah dua hari dia nggak masuk. Gara-gara dia, aku harus mengerjakan bagiannya, dan buru-buru menyelesaikannya. Huh, dasar!"


Woojin menghilang bagai ditelan bumi 2 hari ini. Anna menghubungi nomornya, tetapi tidak aktif. Apa ia samperin saja ke rumahnya?


Langkah Anna terhenti saat tatapnnya terpaku pada sebuah bangunan yang tampak hanya bagian atasnya. Gedung itu adalah geuimo yang ditempati Woojin. Anna tahu letaknya, tapi tidak tahu di apartemen mana yang ditempati oleh Woojin.


Anna menghela napas panjang, kembali melangkahkan kakinya menuju goshiwon. Anna berinisiatif untuk menghubungi pria itu lagi, berharap bahwa nomor pria itu aktif. Namun, jarinya membeku kala akan menekan tombol "dial". Anna sangsi.


"Nanti dia malah salah paham, terus sangka aku kangen sama dia," decak Anna, menurunkan ponsel dari pandangannya.


Tapi, Anna sendiri tidak tahu apa perasaan ini rindu, atau karena ingin sekadar menanyakan kabarnya. Namun pada akhirnya, Anna memutuskan untuk menyimpan kembali ponselnya di saku mantelnya, menahan perasaan yang sulit diartikannya itu.

__ADS_1


Sebentar lagi hampir sampai di goshiwon-nya. Anna terhenyak kala ponselnya bergetar. Matanya melebar begitu melihat nomor si penelepon yang tertera pada layar ponselnya. Gegas, Anna mengangkatnya, langsung berseru.


"Woojin, ke mana saja kau...."


"Anna-ya! Na ... bogosippeo. (Anna! Aku kangen)."


Anna membeku dengan pandangan lurus ke depan. Ia tercengang, dan debaran jantungnya tak menentu. Ia terhanyut sesaat, lalu kemudian mencoba mengendalikan diri.


"Ya! Usgijima! Neo eodiseo? (hei, jangan ngawur deh! Kamu lagi di mana?)" seru Anna, berpura-pura mengomel.


"Na? Um ... coba kau jalan terus menuju rumahmu," kata Woojin, suaranya agak parau seperti orang yang sedang mengigau.


"Apa? Emang kamu di mana sih?" Anna menoleh di sekitar, tapi tak melihat apa pun, kecuali mobil terparkir di depan goshiwon.


"Jalan aja! Nanti aku kasih tahu," decak Woojin, sehingga Anna terpaksa menurut.


"Iya, iya!" decak Anna jengkel. "Jangan tutup teleponnya, ya."


"Hmm."


Anna terus berjalan hingga menuju di depan goshiwon. Hampir lagi ia sampai, dan tiba-tiba pintu mobil mewah yang terparkir di depan goshiwon terbuka.


Anna terhenyak, spontan mundur dengan waspada. Seorang pria keluar dari dalam mobil. Anna terkejut, sekaligus lega karena sosok pria itu ternyata Woojin.


Namun, Anna mengernyit curiga melihat penampilan Woojin ini. Dia memakai jas mahal berwarna biru dongker, jam tangan mewah berlapis emas yang tampak tak asing, lalu kumis tipisnya menghilang. Rambutnya yang ikal telah tertata rapi dengan model rambut ala aktor Korea.


Anna memperhatikan penampilan pria itu dari atas sampai bawah, tak yakin jika pria berkacamata di depannya adalah Woojin.


"Kamu ... Woojin?" tanya Anna ragu, alisnya naik sebelah.


"Woojin?" dengus pria itu, tersenyum mencemooh. "Woojin. Woojin. Padahal, kau sudah menganalisis penampilanku, kau bilang aku mirip dengannya. Apa kau b*doh, atau sengaja pura-pura tidak tahu?"


"Apa?" Anna mendengus jengkel. "B*doh? Oh, ya ampun! Hei, sadarkan diri dulu, baru ngomong! Jangan menemuiku jika kau sedang mabuk!"


Anna tak mengindahkan pria itu, berjalan melewati Woojin sambil menghentak-hentakkan kakinya. Namun tiba-tiba, tangannya digapai oleh Woojin, menariknya, dan mendekap Anna ke tubuhnya.


Anna terkejut, menatap mata cokelat Woojin terhalang di balik kacamata berbingkai tebal. Woojin melepas kacamatanya, melemparkannya sembarang ke aspal. Tak ayal, pria itu langsung mengecup bibir Anna tanpa aba-aba.

__ADS_1


Anna membeku dengan mata mendelik.[]


__ADS_2