
Karena Logan tidak di tempat, Matthew yang datang ke kantor untuk mengawasi perusahaan. Dan ia didatangi oleh seorang tamu di waktu yang tidak tepat.
Matthew yang tengah fokus pada laptop-nya, tiba-tiba harus menoleh sejenak karena asistennya mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangannya.
"Ada apa, Pak Harun?" tanyanya, lalu melirik layar laptop lagi.
"Tuan, ada yang ingin bertemu dengan Anda," jawab pak Harun.
"Siapa?" tanya Matthew tanpa memalingkan pandangannya sedikitpun.
"Aku."
Jemari Matthew berhenti mengetik begitu mendengar sahutan dari suara seorang wanita yang familier bagi telinganya. Lantas, ia melirik ke arah datangnya suara, mendapati seorang wanita berparas bule paruh baya, berpakaian modis, rambut pirang sebahu, masih terlihat cantik dan awet muda untuk wanita sekitar 60 tahunan.
"Kau masih mengingatku, 'kan, Matthew?" tanyanya, tersenyum sensual.
Reaksi Matthew terhadap wanita itu tetap sama: acuh tak acuh. Pria itu kembali melirik layar laptop sambil berkata dengan dingin, "Mana mungkin aku lupa pada wanita yang telah menelantarkan anaknya sendiri demi memilih hidup dengan bergelimang harta?"
Rahang wanita itu mengeras, kemudian tersenyum. Muka tembok yang semula dipasangnya hampir saja runtuh. Namun, ia tak peduli dengan ucapan itu, malah duduk di kursi yang ada di hadapan Matthew.
"Apa kau tidak bisa mengubah sikapmu? Aku mantan ibu tirimu dan—"
Dan Matthew muak mendengarkan. Maka, ia pun menyela dengan dingin. "Ada tujuan apa kau ke sini?"
Wanita bernama Charlote itu tersenyum. "Nah, aku suka dengan sikapmu yang ini—tidak suka berbasa-basi," sahutnya genit. "Langsung saja, ya. Aku ingin menuntut hak warisan suamiku yang dilimpahkan pada Aurellie."
Matthew tertegun, lalu menoleh pada Charlote dengan ekspresi datar. "Hak warisan?"
"Iya!" sahut Charlote setengah berseru. "Tidak adil jika dia hanya mendapatkan saham sebanyak 10 persen di J. Company, sementara kau mendapatkan perusahaan itu sepenuhnya."
"Itu memang seharusnya," jawab Matthew, acuh tak acuh, kembali melirik berkas di hadapannya.
Charlote melirik berkas itu, kesal dia tidak diacuhkan. Lalu, ia menghentakkan tangannya di atas berkas, sehingga Matthew melotot padanya.
"Tapi kau akan mewariskannya pada Logan, 'kan?" tudingnya membentak.
Kesabaran Matthew hampir habis menghadapi wanita ini, tetapi ia tetap menahan amarahnya, diam dengan rahang mengeras.
__ADS_1
"Itu bukan urusanmu," tegasnya dingin.
"Itu juga urusanku, karena aku ibunya Aurellie. Aku tidak bisa membiarkan ketidakadilan yang dialami oleh putriku tersayang," sela Charlote, tak kalah tegas.
"Ketidakadilan?" tukas Matthew sinis. "Apa Aurellie pernah mendapatkan kasih sayang dari ibunya selama 35 tahun, sementara ibunya hanya memikirkan kecantikannya dan uang?"
Matthew melipat kedua tangannya di dada, senyum sinisnya makin lebar. "Kau tidak tahu bagaimana Aurellie selalu meminta agar ibunya mau menggendong dan mengajaknya bermain. Tapi kau selalu sibuk berbelanja, ke salon, menghabiskan uang dengan teman-temanmu," tambahnya. "Lalu, saat suamimu mati dan kau mendapatkan warisan, kau malah pergi meninggalkan Aurellie. Istriku yang merawatnya seperti adik sendiri."
Setelah itu, perlahan Matthew beranjak, menatap garang, dan tiba-tiba memukul meja sambil membentak. "Kau pikir, siapa yang telah memberinya ketidakadilan itu, hah? Siapa?!"
Charlote tersentak, lalu memalingkan wajahnya. Runtuh sudah pertahanannya untuk tetap tidak peduli dengan semua tudingan Matthew yang dialamatkan padanya. Namun, bukan berarti ia tetap diam. Ia akan membalas, tak peduli jika kali ini ia kalah.
"Memang kenapa?" sahutnya tenang, tapi nadanya ketus. "Aku berhak melakukan itu semua karena aku ingin membuat suamiku senang."
Matthew geram, wanita itu masih saja tidak mau merasa disalahkan. "Tapi, apa harus menelantarkan Aurellie?"
Charlote terdiam, meneliti wajah Matthew sambil memikirkan sebuah kata. Lalu, ia tersenyum sinis. "Jadi, apa kau merasa tidak ikhlas mengasuh Aurellie?"
Gila! Matthew tercengang menatap wanita tak berotak itu. Ia mendengus sambil berkacak pinggang, tertawa sinis bercampur kesal.
"Nyonya Charlote," ujar Matthew, kembali menatap wanita itu. "Sebaiknya kau urungkan niatmu itu. Kau akan kalah nanti jika kau mengatakan sesuatu hal tanpa dipikirkan terlebih dahulu."
"Keluarlah! Atau aku akan meminta satpam untuk menyeretmu keluar."
Kurang ajar! Oke, kali ini, Charlote akan mengalah. Ia beranjak dari kursinya, menyambar tasnya dengan kasar, lalu mengancam sebelum pergi.
"Matthew, aku tidak akan tinggal diam. Aku akan datang lagi, dan menuntut hak Aurellie. Camkan itu!"
...☘...
Anna menatap piring sarapannya dengan dahi mengernyit.
Steak ayam sepertinya kurang cocok untuk menu sarapannya. Anna menyingkirkan piringnya, hanya meneguk sedikit jus jambunya.
Logan tampak lahap mengunyah makanannya, walaupun sempat melirik istrinya sekejab. Sebenarnya, ia tak peduli jika wanita itu tidak makan. Namun, ia sudah berjanji akan menjaga wanita itu, memastikan bahwa dia harus makan dan minum vitaminnya secara teratur.
"Makanlah! Jangan membuat bayi itu sakit hanya karena sifat kekanak-kanakkanmu," ujar pria itu, dingin dan menyindir.
__ADS_1
Anna menoleh kesal. "Kekanak-kanakkan? Apa maksudmu?"
"Kau kesal padaku, 'kan?"
"Jika aku kesal padamu, aku tidak akan duduk semeja denganmu," sahut Anna ketus, menyela langsung. "Tapi intinya bukan karena itu aku tidak mau makan. Aku tidak mau menu sarapannya ini."
Logan berhenti memotong daging steaknya, lalu menatapnya datar. "Kau mau makan apa?"
Anna melengkungkan senyuman. "Em ... nasi goreng sama soto Bogor kayaknya enak."
"Mana ada makanan itu di sini," decak Logan. Ada-ada saja permintaan gadis itu.
"Kalau mie instan pasti ada, 'kan? Aku soalnya terbiasa makan nasi."
Hah ... wanita ini "Indonesia banget"! "Kau tidak boleh makan mie instan," jawab Logan.
"Sekali aja boleh, 'kan?" sahut Anna cepat, memelas.
Logan tetap pada pendiriannya. Ia tidak tahu apa wanita ini sedang mengidam atau tidak, tetapi ia tidak bisa mengabulkan permintaan Anna dan mencari alternatif lain.
"Apa kau mau makan bubur ayam?" Logan menawarkan, seraya tersenyum tipis.
"Bubur ayam?" Anna menyahut agak berseru. "Emang di sini ada?"
Tentu saja ada. Di hotel ini juga memperkerjakan beberapa koki asal Indonesia yang sudah mendapat lisensi. Pria itu tersenyum misterius, lalu memanggil seorang pelayan, memesan seporsi bubur ayam lengkap.
Si pelayan mengangguk mengerti, setelah itu membawa steak ayam yang ada di meja Anna untuk dibawa kembali ke dapur.
"Tapi, aku tidak bisa menemanimu sarapan karena aku harus pergi setelah ini," kata Logan kemudian, seusai pelayan pergi dari hadapan mereka.
Anna mengangguk, tapi ... kenapa rasanya agak kecewa, ya?
"Kau kembali ke kamar setelah aku selesai sarapan. Aku meminta pelayan untuk mengantarkan buburnya ke kamar," tambah Logan, setelah mengelap mulutnya.
Logan beranjak dari kursi, begitu juga dengan Anna, setelah Logan membayar semua makanan yang dipesannya.
"Aku berangkat dulu." Setelah berujar, Logan membeku karena terbesit oleh sesuatu hal.
__ADS_1
Anna canggung, pria itu menatapnya lamat-lamat dengan durasi yang cukup lama. Entah, apa yang sedang dipikirkan pria itu?
Logan meletakkan tangannya ke punggung Anna, lalu dengan gerakan cepat maju selangkah, mengecup kening Anna sekejab.[]