Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Perselisihan antara Logan dan Kenan


__ADS_3

Apa bagus jika Anna menceritakan semuanya? Kalau malah jadi bertambah masalahnya? Ia tidak yakin Kenan dapat dipercaya.


Tapi....


Kenan masih sabar menunggu Anna untuk berpikir. Ia juga tidak mau mendesaknya karena mungkin ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan. Atau mungkin karena Anna malu mengakuinya.


Namun, pada akhirnya Anna mengangguk, membenarkan perkataan Kenan. "Iya, aku memang mengandung anaknya pak Logan," jawab Anna dengan wajah kuyu.


Kenan memejamkan mata, pedih mengetahui kenyataan ini. Gadis yang menempati hatinya itu telah ternoda, bahkan mengandung anak dari sahabatnya. Ia tidak menyangka, Logan akan seperti ini. Apa dia lupa sudah memiliki kekasih? Kenapa masih mengincar wanita lain?


"Terus, bagaimana reaksi Logan?" tanya Kenan kemudian, berusaha tenang meski hatinya telah terluka.


"Dia memberiku cek untuk menggugurkan kandunganku," jawab Anna sambil menundukkan kepala.


Astaga, Logan! Kenan tak menyangka dia bisa setega itu! Setelah mendapatkan tubuh Anna dan menghamilinya, dengan mudahnya menyuruh Anna aborsi? Hatinya semakin panas, dengan tangan terkepal kuat dan rahang mengeras. Sikap Logan ini benar-benar tidak bisa dimaafkan!


"Sekarang, apa yang akan kamu lakukan dengan bayi itu?" tanya Kenan, menahan geram.


Apa yang bisa dilakukan? Pikirannya kalut dan kacau. Banyak hal yang membuatnya takut dan cemas. Tidak ada jalan keluar yang bisa dipertimbagkan, mengingat bahwa Logan dan Anna memiliki sebuah rintangan yang sangat lebar.


Anna hening cukup lama, matanya menyendu. "Aku tidak tahu. Yang pasti, aku akan melahirkan bayi ini." Ia menunduk, tangannya mengelus lembut perutnya.


Kenan jadi iba sekaligus salut. Wanita ini ternyata begitu memiliki hati nurani, tidak seperti sahabatnya yang konyol itu! "Apa orangtuamu sudah tahu?"


Pertanyaan Kenan dijawab oleh Anna dengan gelengan lemah. Kenan menghela napas panjang. Ia tahu, pasti sulit bagi Anna untuk mengatakan hal ini pada kedua orangtuanya.


Sekarang, ia pendam dulu rasa marahnya pada pria yang tak bertanggung jawab itu, ia memfokuskan diri pada gadis yang malang ini. "Oke. Sebagai teman, aku hanya bisa menawarkan bantuan. Jadi, jika ada apa-apa, beritahu aku," katanya kemudian.


Sebagai teman? Anna merasa tersindir karena selama ini ia terkesan menjauhi Kenan. Kebaikan hati pria itu membuatnya bertambah segan, bahkan ia tak dapat mengiyakan ucapan Kenan ataupun menatapnya.


"Terima kasih," gumam Anna, lalu keluar dari mobil. Kenan juga turun dari mobil hanya untuk melihatnya berjalan sampai ke motornya, lalu melaju pergi meninggalkan area parkir.


Sebenarnya, ia ingin mengantarkan Anna karena khawatir dengan kondisinya saat ini. Namun, ia tahu Anna pasti menolak, jadi ia membiarkannya, tetapi tetap ingin memastikan keadaan bahwa Anna pulang dengan selamat. Maka, ia bergegas masuk ke dalam mobil, melajukannya untuk menyusul motor Anna. Ia akan diam-diam mengikuti gadis itu sampai ke rumah.


Lalu, Logan keluar dari persembunyiannya, melihat semua adegan itu dari kejauhan. Tangannya yang terkepal kuat sampai jarinya memutih, dipukulkan ke tembok dengan keras.


Anna, baginya, wajah cantik gadis itu hanya sebagai alat untuk mendapat keuntungan. Setelah dia hamil dan ia menolak tanggung jawab, kini Anna malah lari ke Kenan. Logan tertawa sinis. "Jadi, dia mau menjadikan Kenan sebagai mangsa?"


Pria itu bermaksud untuk membicarakannya dengan Kenan, tetapi Kenan sudah pergi. Mungkin ia bisa membicarakannya besok, karena mereka akan bertemu lagi.


...šŸ€ ...


Padahal hari Senin, tetapi rumah Anna sedang ramai sore itu dikarenakan kedatangan abangnya beserta istri dan anak tunggal mereka yang lucu dan lincah. Ayah dan ibunya begitu menyayangi anak itu, Tasya pun juga gemas padanya, sampai membuatnya menangis karena digoda terus.


Akhirnya, anak itu kembali ke pangkuan ibunya. Karena tak bisa diam, beberapa menit kemudian, anak lelaki berusia 4 tahun itu mendekat pada Anna yang duduk di sebelah mama sambil merentangkan tangan.

__ADS_1


"Tante, gendong." Anna tersenyum sambil sedikit membungkuk, lalu membawa anak lelaki itu dalam dekapannya. "Tumben banget nih? Biasanya langsung nadahin tangan kayak Om Adnan," selorohnya, dan semua orangpun tertawa.


"Iya, nih," timpal Tasya, mencubit pipi bocah itu. "Biasanya bilang gini: 'Tante, bagi duit'."


Sementara yang lain mengobrol, mama ke dapur untuk mengambil dua buah mangga, pisau, dan piring. Lalu, wanita mengupas sebuah mangga harum manis, yang membuat Anna hampir meneteskan air liurnya.


"Anna, katanya mau makan mangga? Nih, Mama beliin." Anna tersenyum, mengambil sepotong mangga yang sudah dikupas di atas piring.


"Manis nggak nih Ma?" godanya.


"Ya, manis dong. Kan Mama yang beli," sahut mama, melirik sejenak sambil mengupas mangga yang satunya.


Abang, kedua adiknya, dan ayahnya tercengang menatapnya. Tidak biasanya Anna selahap itu memakan buah mangga yang dikupas. Aneh? Tentu saja! Karena hal itu di luar kebiasaan Anna.


"Bukannya Kak Anna lebih suka mangganya di jus?" celetuk Tasya kemudian, heran.


"Lagi pengin aja," sahut Anna. "Emang salah, ya?"


"Ya, aneh aja lah! Biasanya ogah gue sodorin mangga yang udah gue kupas."


Iya, memang aneh! Dan Anna tertegun karena menyadari hal itu. Apa ini salah satu perubahan yang disebabkan oleh kehamilan? Anna menarik perlahan tangannya yang akan kembali mengambil sepotong mangga. Lantas, ia berdiri dan meminta izin untuk kembali ke kamar dengan alasan "lelah".


Sesampainya di kamar, ia hanya duduk termenung di depan meja. Ia melirik kuyu pada dua benda di depannya; ponsel dan laptop. Tangannya akan meraih ponsel, tetapi beralih pada laptop, lalu menyalakannya.


Lantas, ia menuju ke sebuah situs pencarian, mengetik beberapa kata di sebuah kolom paling atas, lalu mengklik gambar "kaca pembesar" yang ada di samping kolom. Sedetik kemudian, keluarlah berbagai macam artikel tentang "kehamilan".


"Huh!" keluhnya, menepuk keningnya. "Sekarang, benar-benar yakin kalau aku sedang hamil. Tapi, tadi itu semua orang nyadar nggak ya sama perubahan aku tadi? Ya Tuhan, semoga aja tidak," keluhnya resah.


Laptop dimatikan dan ditutup, setelah itu disingkirkan ke samping. Anna merebahkan kepalanya pada tangan kanannya yang direntangkan. Perlahan termenung dan bergumam pelan: "Kalau aku hamil, apa yang akan aku lakukan selanjutnya? Bagaimana reaksi mama dan ayah nanti?"


Apa ia lakukan rencana semula saja? Apa uang tabungannya cukup? Anna sudah melihat uang tabungannya dariĀ mobileĀ banking. Untuk bulan ini, gajinya sudah masuk ke dalam rekening. Ia berpikir lagi. Apa ini saatnya untuk melakukan rencana itu?


...šŸ€ ...


Malam telah larut, Kenan masih berkutat dengan dokumen dan laptop yang masih menyala. Pikirannya sudah fokus pada pekerjaan, tapi wajah Anna terbayang dalam benaknya.


Di samping meja terdapat bingkai fotonya bersama dengan Logan saat wisuda. Lalu, wajahnya dipalingkan, seakan tak sudi melihat wajah sahabatnya itu. Tidak disangka, ia berteman dengan pria seberengsek itu.


Marah, tapi tak sanggup. Pasalnya, ia sudah janji tidak akan mencampuri urusannya. Ia tahu, Anna mengkhawatirkan hubungan baiknya dengan Logan.


"Semoga aja, gue bisa tahan diri buat berhadapan sama Logan," gumamnya agak geram.


Iya, dia hampir bisa melakukannya pada keesokan harinya, meskipun ia jadi tidak begitu banyak bicara dengan Logan. Penandatangan berkas-berkas kerja sama dengan klien berjalan dengan lancar, Logan berencana mengajak Kenan makan siang setelah ini.


Padahal, Kenan sudah bersusah payah menahan diri untuk tetap di sampingnya, menanggapi semua ucapan Logan seperti biasa. Namun, Logan malah meruntuhkan pertahanannya dengan membicarakan topik ini:

__ADS_1


"Apa lo masih berhubungan dengan Anna?" tanya Logan ketika mereka memasuki area parkir.


"Kenapa memang?" tanya Kenan, agak ketus.


"Gue kasih tahu, supaya lo hati-hati milih cewek buat lo pacarin." Kenan mengepalkan tangannya.


"Tumben banget lo nasihatin gue?"


"Memang salah kalau gue kasih saran sama lo?"


Orang berengsek seperti Logan beraninya menasihati Kenan? Apa pantas? "Nggak apa-apa sih," sahutnya. "Terima kasih atas sarannya. Menurut gue, Anna cewek yang tepat buat dapetin cinta yang tulus dari gue."


Logan seakan tak setuju, matanya menyipit tajam. "Tahu dari mana lo? Lo ngomong gitu karena terpana sama kecantikannya, 'kan?" Ia tertawa sinis. "Kenan, jangan lihat orang dari luarnya." Ucapan itu lebih tepat mengarah pada Logan, yang tampan tapi tak punya perasaan.


Jujur, Kenan sebenarnya sudah diambang batas kesabaran. Tapi, ia tetap menahan diri, walaupun ucapannya mulai ketus. "Kenapa lo ngomong gitu tentang Anna?"


Logan mulai merasakan hal aneh pada Kenan. Ia berhenti, tampak tak enak hati. "Ini bukan cuma berlaku buat Anna, tapi untuk cewek yang lainnya."


Kenan pikir itu hanya dalih, ia tahu kalau Logan memang menyindir Anna. Ekspresinya berubah murka. Tangan kanannya meraih kerah jas Logan, lalu sebuah pukulan mengarah ke wajah pria itu.


"BER*NGSEK!"


Logan menghampiri Kenan, murka, menggenggam kerah baju Kenan dengan kedua tangannya. "APA MAKSUD LO!"


"Nggak usah pura-pura nggak tahu!" sergah Kenan, menghempas tangan Logan. "Lo yang menghamili Anna, 'kan? Tapi gue nggak nyangka, lo nggak mau tanggung jawab!"


Logan tersenyum mencemooh. "Dia yang pasti ngadu ke elo, 'kan?"


Kenan berjalan ke mobilnya, mengambil sesuatu, lalu memperlihatkannya pada Logan. "Gue nemuin ini di tong sampah yang ada di ruangan lo!" Sangking murkanya, Kenan melempar kertas danĀ test packĀ itu ke tanah. "Dan lo menolak bertanggung jawab? COWOK MACAM APA LO?!"


"DIAM LO!" bentak Logan, lalu menghajar Kenan. Kejadian ini mengundang para karyawan lain untuk melihatnya.


Perkelahian ini tidak ada yang melerai. Sifa yang melihat hal ini, menghubungi Anna. Kebetulan, Anna baru saja selesai shalat. Dua orang satpam datang menghampiri mereka, lalu melerai.


Logan dan Kenan meronta. "Lepaskan!" teriak keduanya. Anna dan Sifa baru saja sampai, kedua pria itu menyadari keberadaan Anna. Lantas, Logan menghampirinya, meraih dan menggenggam tangannya.


"Ikut aku!" gumamnya geram.


Kenan menyadari tatapan penuh kemurkaan di wajah Logan. Kekhawatirannya muncul, menduga bahwa Logan akan melakukan hal kasar pada Anna.


Tak mau hal itu terjadi, dihempaskannya genggaman tangan Logan dari tangan Anna, lalu ia menghela Anna berada di belakangnya. "Jangan sentuh dia!" gertaknya


"Minggir," gumam Logan geram seraya menghela pundak Kenan. Logan meraih tangan Anna, tapi ditepisnya. Logan pun meradang. "Saya ingin bicara sama kamu!"


"Nggak! Tidak ada yang perlu dibicarakan!" tegas Anna. "Kalau Anda menolak bertanggung jawab, saya tidak akan memaksa. Anda bisa pergi tanpa perlu merisaukan hal ini lagi!" Kemudian, Anna berbalik menghadap Kenan. "Dan kamu, Kenan. Tolong jangan campuri urusan saya lagi!"

__ADS_1


"Tapi, Anna—" protes Kenan, jelas tidak setuju. Namun, Anna keburu pergi dari tempat ini, yang kemudian disusul oleh Sifa. Beberapa meter dari tempat mereka, Matthew dan asistennya melihat kejadian itu. Matthew tampak geram. Lalu, tanpa mengatakan apa pun, ia melangkah pergi dari tempat itu.[]


__ADS_2