
Suara sirene menggema di tengah kota. Seketika jalanan macet sehabis kecelakaan. Beberapa pejalan kaki menonton dari kejauhan adegan sehabis kecelakaan terjadi.
Beberapa mobil yang mengalami kerusakan ringan akibat mengerem mendadak, tapi sebuah truk dan 2 mobil mengalami kerusakan parah, termasuk mobil yang ditumpangi Anna dan Logan.
Sedan hitam itu terpuruk cukup mengenaskan dalam keadaan terbalik. Di dalam mobil, Anna tergolek tak berdaya seraya menahan rasa sakit. Napasnya terengah-engah dan terisak. Anna memegangi perutnya, bagian ini rasa sakit hebat yang dirasakannya.
Bukan hanya bagian kepala dan beberapa bagian tubuh yang mengeluarkan darah, tanpa Anna tahu, darah mengalir di pahanya.
Rasa sakit ini membuatnya berpikir: apakah ini saat baginya meninggalkan dunia ini?
Perlahan Anna menoleh pada Logan. Pria itu terbujur kaku di tempatnya dengan kondisi kepala penuh darah. Tangannya gemetaran menggapai ke arah Logan, menepuk beberapa kali bahunya dengan gerakan lemah.
"Logan ... bangun ... ah ... haahh ... bangun...."
Matanya terasa berat, sulit untuk dibuka meski hanya sedikit. Tubuh tak ada daya lagi, dan tangannya terkulai ketika kesadarannya menghilang.
...🦋...
Elina dan Matthew bergegas berlari begitu mobil berhenti di rumah sakit. Elina tak berhentinya menangis sejak polisi menghubungi dan memberitahukan bahwa anak dan menantunya kecelakaan.
Begitu juga dengan keluarga Anna. Matthew yang menghubungi nomor ayah. Setelah mendengar kabarnya, mama menangis lalu pingsan—mama memang memiliki riwayat penyakit jantung karena komplikasi dari penyakit diabetesnya. Jadi, yang menyusul ke rumah sakit hanya ayah dan Adnan, Tasya tinggal di rumah menjaga mama.
Elina dan Matthew yang datang duluan di ruang IGD, ayah dan Adnan datang selang beberapa menit kemudian. Matthew menghampiri seorang suster dan langsung mencecarnya.
"Di mana pasien pasangan suami-istri yang kecelakaan tadi, Sus?" desaknya.
"Oh, pasangan muda yang ada di dalam sedan hitam?" tanya suster mengkonfirmasi, yang diberi anggukan oleh Matthew sebagai jawaban. "Suaminya sudah masuk ke ruang inap, sedangkan yang istrinya akan dibawa ke ruang operasi. Apakah Anda wali dari pasangan itu?"
Serempak, Matthew, Elina, ayah, dan Adnan mengangguk. Namun, karena rasa penasaran, Elina maju untuk bertanya.
"Sus, kenapa menantu saya dioperasi? Apa yang terjadi padanya?"
"Mari, saya antarkan. Soalnya, pasien butuh persetujuan untuk melakukan operasi ini."
Jawaban suster itu tak menuntaskan rasa penasaran, tetapi mereka pasrah harus mengikuti ucapan suster itu. Entah seberapa gawat keadaannya, bagaimanapun Anna harus segera diselamatkan!
...🦋...
Anna mengernyit dan kepalanya bergerak gelisah, seakan baru saja mengalami mimpi buruk. Kemudian, ia tersentak dengan mata mendelik.
__ADS_1
"Anna?"
Suara lirih bernada cemas itu yang terdengar pertama kali. Kemudian, Anna melihat sesosok pria, tapi masih tidak terlihat jelas. Anna mengerjap dan mengernyit beberapa kali, sampai sosok itu terlihat jelas.
Senyumnya melengkung. "Logan?" ucap Anna serak dan lemah.
"Kau tidak apa-apa? Apa yang kau rasakan? Apa ada yang sakit? Katakan padaku?" cecar Logan sangking paniknya, sementara Anna tersenyum geli mendengar rentetan pertanyaan itu.
"Kepalaku sakit mendengar semua pertanyaanmu itu," seloroh Anna, tergelak kecil. "Tanyakan satu-satu, supaya aku bisa menjawabnya."
Masih saja bisa bertanya disaat seperti ini! Kesal, tapi tak bisa marah juga, malah semakin iba. "Ya udah, aku panggil dokter dulu," kata Logan, setelah menghela napas penjang.
Anna mengangguk lemah. Logan menekan sebuah tombol yang ada di dekat infus Anna terpasang. Pria itu kembali duduk di sampingnya sambil menggenggam tangannya.
Aneh. Senyuman Logan melengkung getir. Apa dia tidak senang Anna siuman setelah koma selama 3 hari? Atau pria itu iba melihatnya masih terbaring lemah?
Mungkin. Apa pun alasannya, Anna senang masih hidup bersama dengan suaminya, dan....
Anna terhenyak ketika tangannya turun lalu menyentuh perutnya.
Rata. Itulah yang dirasakannya.
"Logan, kok ... perutku rata?"
Mau tidak mau, Logan menoleh, tapi tak berani menatapnya. "Itu...," des*hnya tercekat.
"Ada apa, sayang? Katakan padaku!" desak Anna, rasa takut menyeruak di dalam dada, tapi membantah apa yang diduganya itu.
Logan merapatkan bibirnya, memalingkan wajahnya sebab air mata mulai mengalir di sudut matanya. Anna semakin frustrasi. Anna menguncang-guncang tangannya seraya menangis.
"Logan, jawab aku! JAWAB AKU!" jeritnya frustrasi.
Logan tak tega. Sebenarnya, hatinya terasa sesak dengan keadaan yang harus dihadapinya ini.
Dokter dan suster datang ke dalam ruangan. Logan dan Anna menoleh. Jika Logan tak mau menjawab, Anna bisa mencari tahu lewat dokter ini.
"Nyonya Anna, mari saya periksa dulu," kata dokter seraya mengeluarkan stetoskopnya.
"Dokter, apa yang terjadi dengan saya? Tidak ... apa keadaan bayi saya baik-baik saja?" Anna langsung mencecar, dokter itu terkesiap dengan wajah bingung.
__ADS_1
Logan tak sanggup melihat Anna terpuruk setelah mengetahui ini. Ia memutuskan keluar kamar untuk menumpahkan air mata yang ditahannya sejak tadi.
Sesampainya di luar, Logan bersandar di samping pintu. Jerit tangis Anna terdengar tak lama kemudian. Logan semakin tersiksa, tangisnya semakin kencang.
Logan merasa bahwa semua ini salahnya. Jika ia mengendarai mobilnya dengan hati-hati, mungkin mereka tidak akan kehilangan bayi itu. Ia mendera diri sendiri, meninju tembok beberapa kali hingga jemarinya lecet. Tak cukup, Logan membenturkan keningnya hingga luka yang ditutupi oleh perban mengeluarkan darah.
Rasanya memang sakit, tapi tak seberapa dibandingkan rasa sakit yang diderita oleh Anna.
Elina dan mama datang untuk menjenguk. Mereka bergegas menghampiri Logan yang masih menghukum dirinya sendiri. Elina meraih pundak Logan, mencoba mencegah perbuatan Logan dengan dibantu oleh mama.
"Logan, apa yang terjadi, Nak?" tanya Elina, suaranya bergetar, air matanya siap tumpah.
"Tolong berhenti, Nak Logan. Kepala kamu berdarah," timpal ibu mertuanya, tampak cemas.
Akhirnya, Elina berhasil membawa Logan dalam pelukannya. Kakinya seakan melemas, perlahan jatuh terduduk sambil menangis sejadi-jadinya.
"Ini salahku, ini salahku, Ma. Kalau aja aku hati-hati bawa mobil ... kalau aja waktu itu aku memutuskan untuk menginap di rumah mama Rina, mungkin kami tidak kehilangan bayi kami, Ma."
Mama mendengar suara jeritan Anna. Ternyata, Anna sudah sadar dan mengetahui bahwa dirinya telah keguguran.
Elina dan mama saling memandang, memberi isyarat. Lalu, mama masuk ke dalam ruang inap Anna, melihat anaknya tengah terisak setelah lelah menangis.
Mama mendekat dengan air mata tertahan. Ia memandang iba, hening sesaat, sebelum ia memanggil namanya dengan getir.
"Anna...."
Anna mengangkat wajahnya, lalu meraih tubuh mama, dan mendekapnya. "Ma, itu bohong, 'kan? Aku nggak keguguran, 'kan? Bayi ... bayiku baik-baik aja kan, Ma?"
Tangis mama pecah. Lidah ini rasanya membeku untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pahit itu.
"Ma, tolong jawab, Ma...."
Mama tak sanggup. Ia mengelus lembut punggungnya, hanya dapat menjawab, "Nak, kamu tenang dulu, ya?"
Anna langsung melepas pelukannya, gusar. "Kenapa Mama sama aja kayak Logan? Kenapa nggak ada yang jujur?"
Dokter dan suster menghela napas iba. Mereka juga menyesal menyampaikan hal itu, tapi tidak ada pilihan lain selain menyatakannya.
Rasa frustrasinya membuat Anna kehilangan akal. Tangisannya meraung-raung seraya memegangi kepalanya. "Nggak! Nggak! NGGAK MUNGKIN!"
__ADS_1
Seusai menjerit, tubuh Anna melemas, perlahan ia tergolek di atas ranjang. Mama panik, dokter dan suster bergegas mendekat untuk memeriksa keadaannya.[]