Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Setelah malam itu


__ADS_3

Entah dari mana, suara dengingan terdengar oleh telinga Anna. Udara dingin menusuk kulitnya, membuatnya ingin menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut yang tebal.


Namun, seseorang tak rela berbagi selimut, sehingga selimut itu ditarik darinya. Anna pun tak mau kalah; dengan setengah sadar, selimut itu ditariknya kembali.


Logan tersentak, tapi matanya masih terpejam. Ia menarik selimut, tapi tertahan. Ia ingin tahu apa yang terjadi, makanya ia berbalik.


Ada seorang wanita sedang berbaring membelakanginya. Logan sontak terbangun, ekspresinya bingung.


"Apa yang terjadi?" gumamnya sangat pelan.


Logan coba mengingat, tetapi ingatannya hanya sampai ia sedang diantarkan oleh seorang pelayan. Habis itu? Semua ingatannya buyar.


Sambil memegangi kepalanya, Logan menceracau geram. "Kacau! Benar-benar kacau! Bagaimana mungkin aku—"


Ucapannya tertahan karena wanita itu menggeliat, lalu berbalik. Mata Logan terbelalak, wanita yang seranjang dengannya itu adalah si pegawai baru?


Anna membuka matanya hanya separuh, kemudian tiba-tiba terbelalak dan sontak menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Namun, yang dilakukan Anna membuat tubuh bagian bawah Logan hampir terlihat.


Logan pun menarik selimutnya, tetapi Anna tak membiarkannya. Tarik-menarik selimut pun terjadi.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Logan, kesal. "Kamu sengaja mau lihat punya saya?"


Apa? Mata Anna langsung melotot tajam. Lalu, ia mengambil bantal dan melemparnya tepat di wajah Logan. "Anda yang mesum! Anda telah memperkosa saya tadi malam!"


Logan meradang, melempar kembali bantal itu pada Anna. "Apa? Saya memperkosa kamu?!" bantah Logan sambil menarik selimut. "Kamu bukan tipe saya. Mana mungkin saya melakukan itu?"


Yang dia bilang apa? Anna meremas selimut, menatap Logan dengan mata menyala-nyala. Bantal tadi diambilnya, lalu ia memukul Logan hingga bertubi-tubi seraya menjerit:


"DASAR MESUM! SETELAH MEMPERKOSA SAYA, ANDA TIDAK MENGAKUINYA?! PRIA MACAM APA ANDA INI? HABIS DAPAT ENAKNYA, LALU SAYA DIBUANG BEGITU SAJA!"


Logan mau membantah, tetapi tidak ada kesempatan. Ia merentangkan tangannya ke depan wajahnya, melindungi diri dari serangan wanita barbar itu.


Tak lama kemudian, Anna berhenti memukul. Inilah kesempatan Logan untuk membantah semua tuduhan yang ia rasa tidak pernah dilakukannya. Namun, baru akan membuka mulut, sontak ia tertegun.


Karena kekesalannya yang meledak, Anna terisak. Anna menangkupkan wajah dengan telapak tangannya, menangis keras dalam beberapa saat.


Logan termenung sambil menoleh ke arah lain. Dalam hati, ia bergumam, "Benarkah aku melakukan itu? Cobalah mengingat Logan!" Kemudian, matanya terpejam erat.


Perlahan, ia melirik gadis itu. Kini, Anna tengah merintih sambil memeluk tubuhnya. Logan kembali bergumam dalam hati lagi:


"Jika aku melakukan hal itu? Bagaimana ini?"


Rambut cokelat kehitaman pria itu diremasnya dengan frustrasi.


🍀


Kapal telah sepi, para cleaning service mulai membersihkannya. Seorang pelayan muncul dari balik tembok ujung lorong, berjalan dengan pandangan waspada menuju sebuah kamar.


Sesampainya di depan kamar, dia membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan yang ditempati oleh Logan dan Anna tadi malam. Aksinya dimulai, diambilnya semua kamera yang disembunyikannya di berbagai titik.


Kemudian, ia bergegas turun dari kapal, menemui seseorang yang sudah menunggunya sejak tadi—seorang pria paruh baya berjaket denim yang warnanya sudah pudar.


Pria itu sedang membelakanginya sambil menelepon. Sambil berjingkat dan tersenyum jahil, ia menghampiri pria itu, lalu menepuk pundaknya.

__ADS_1


"Hayo!" serunya, sengaja mengejutkan pria paruh baya itu.


"Eh, kodok mati!" Pria itu tersentak dan latah. Saat ia menoleh, ia melihat anaknya sedang menertawakannya, lalu memberinya pukulan di lengan anaknya itu. "Dasar iseng!"


Pria itu berhenti tertawa. Pukulan bapaknya sangat sakit, ia meringis kesakitan karenanya. "Aduh, sakit tahu, Pak."


"Jadi bagaimana?" tanya pria itu, setelah menghentikan pukulannya.


Tama tersenyum lebar, perlahan memperlihatkan sebuah kamera. "Dapat dong!" sahutnya bersemangat.


Mereka berdua tertawa begitu senang. Tanpa buang waktu lagi, mereka pergi ke tempat rahasia mereka, yang bahkan mirip seperti gudang penyimpanan karena banyaknya kotak, rak berisi buku-buku yang dipenuhi debu, dan sebuah meja.


Tama mengeluarkan sebuah laptop tua dari dalam laci yang ada di meja itu. Setelah laptop itu berhasil dinyalakan, dimasukkan sebuah memory card ke dalam konektor.


Ayahnya berdiri di belakangnya, memperhatikan apa yang dilakukan oleh anaknya. Tama mencari sebuah fail yang tersimpan di dalam memory card, lalu mengkliknya.


Berkas berhasil dibuka, sebuah video ditampilkan. Senyum mereka merekah hanya beberapa detik, karena ada sebuah momen yang membuat dahi mereka mengernyit.


"Siapa perempuan itu?" tanya Tama, bergumam.


"Itu bukan Wanda, 'kan?" timpal ayahnya.


Keduanya saling menatap, tercengang. Ada apa ini? Ke mana wanita bayaran mereka?


...🍀...


Anna menumpang mobil milik teman satu kantornya dan Yerina saat bekerja di perusahaan yang ada di Singapura. Nama gadis berambut cokelat muda itu adalah Helen.


Helen akan mengantarkannya kembali ke hotel yang sudah dipesan Yerina khusus untuknya. Namun, Helen heran melihat sikap Anna . Gadis itu biasanya ceria, tapi sejak turun dari kapal, Anna lebih banyak diam sambil memandang ke jendela mobil.


Anna tertegun dan menoleh. "Tak. Saya baik-baik saja.


Tapi Helena merasa ada yang tak beres dengan temannya ini. Anna seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Lihat saja, dia bahkan enggan menatapnya saat berbicara tadi.


Anna menyadari lirikkan Helena. Ia tahu bahwa wanita itu pasti mengkhawatirkannya. Maka, ia pun mengatakan ini:


"Helen, i'm fine." Anna sampai bersusah payah tersenyum untuk meyakinkan gadis itu. "Saya tak pakai make up tadi. Sebab itu, saya tampak seperti orang sedang sakit."


"Saya tak cakap apa pun," sahut Helena, membantah.


Anna terbahak sekali. "Awak tak cakap pun, saya sudah tahu bahwa awak merisaukan saya." Ia menghela napas panjang, menyandarkan tubuhnya. "Awak, Yerin, Ranti, semuanya selalu berlebihan deh. Saya baik-baik aje, tapi kalian semua malah mencemaskan sama saya."


Helena sudah bosan melihat Anna yang sok kuat di saat tubuhnya lemah karena penyakit. Jadi, ia hanya menanggapinya seperti ini: "No comment!"


Anna tergelak. Jorgan yang sering disebut oleh Helena terdengar lucu. Namun, tawanya itu dipaksakan, hanya kedok di depan gadis itu. Padahal aslinya, Anna dalam keadaan tidak baik. Sebuah kejadian memilukan menimpa dirinya.


Beberapa meter lagi, mereka akan sampai di dekat hotel. Helena sebenarnya ragu untuk meninggalkan Anna sendirian tidur di hotel, apalagi dalam keadaan kurang fit.


"Anna," panggil Helena, memperlambat laju mobil. "Awak baik-baik saja ke, jika awak tinggal sorang-sorang di hotel?"


Anna mengangguk pelan. "Lagipun, saya duduk diam je di dalam bilik. Nak istirahat je."


"Nak saya hantarkan kat hospital?"

__ADS_1


"Tak payah. Awak baliklah."


Sia-sia membujuk, Helena terpaksa menurunkan Anna di hotel. Namun, agar hatinya lega, ia mengantarkan Anna sampai ke kamar meski harus ada drama perdebatan dulu karena Anna bersikeras menolaknya.


Helena pulang, Anna langsung mengunci diri di kamar. Dengan langkah gontai, ia menghampiri ranjang, lalu menghempaskan tubuhnya.


"Apa ini karma?" Ia tercenung sambil bergumam, tertelungkup di atas ranjang. Matanya digenangi oleh air mata.


Kilasan ingatan kejadian, di mana ia menolak para cowok yang dijodohkannya padanya, melintas di dalam benaknya.


"Aku suka bohong soal keperawanan aku. Mungkin mereka sakit hati sama aku, terus aku disumpahin. Makanya keperawanan aku benar-benar terenggut."


Anna membenamkan wajahnya pada bantal, tangan dan kakinya memukul-mukul ranjang sambil menangis kesal tapi juga penuh penyesalan.


Yang merasa hancur bukan dia saja, Logan juga. Setiap matanya terpejam, kejadian malam penuh gairah itu terlintas. Lalu, ia cepat-cepat membuka matanya, tak ingin melihatnya lagi.


Ya! Logan telah ingat bahwa dirinyalah yang menodai Anna. Betapa hinanya dirinya. Ini sama saja dengan penghianatan, 'kan?


Logan meremas rambutnya kuat sambil menunduk. "Tidak! Aku tidak berkhianat. Aku tidak sengaja melakukannya," bantahnya, bergumam terus-menerus, sampai ia merasa frustrasi, lalu berteriak dengan kencang. "AKU TIDAK BERKHIANAT! AAAAAHHH!


Logan melempar bantal yang ada di sampingnya. Gema jeritannya terhenti, suara napas terengah-engah keluar dari mulutnya, memenuhi seluruh kamar hotel berbintang 5 itu.


Kemarahan yang bergemuruh perlahan mereda, berubah oleh perasaan cemas, rasa bersalah, dan penyesalan. Di dalam kamar bercahaya remang, ia berbaring dan termenung. Tatapannya sendu kala menatap foto Nina yang ada pada layar ponsel. Ia menghela napas, tetapi dadanya tetap saja sesak.


"Maafkan aku, Nina...," lirihnya. Setelah itu, ia mengenyahkan foto itu dari pandangannya. Lagi-lagi, ia menghela napas. "Aku harus bagaimana kalau bertemu dengan pegawai baru itu?"


Itu juga yang dipikirkan oleh Anna. Pasti nanti bakal canggung atau bingung. Anna memikirkan hal itu sampai kepalanya sakit lagi.


...🍀...


Kenan keluar dari mobilnya sambil bersenandung, memutar-putar kunci mobil, berjalan menuju pintu masuk kantor. Ia tersenyum karena melihat Logan baru saja datang. Langsung saja, buru-buru ia menghampirinya.


"Cogan!" sapanya ceria.


Logan yang tampak tak semangat, membalasnya dengan sahutan dingin. "Sejak kapan namaku diganti?"


"Lah, kamu emang cogan—cowok ganteng," kilah Kenan, terkekeh. Padahal, lawakannya itu garing.


Logan sama sekali tidak berminat menimpali candaan Kenan, justru mengganti topik pembicaraan dengan berkata sinis, "Sedang apa kau di sini? Aku tidak memanggilmu, 'kan?"


Kenan tersenyum renyah. Bertepatan dengan itu, Anna sedang berjalan mendekati mereka. Pandangan Kenan beralih, kata yang mau terucap jadi lupa, berganti dengan sapaan untuk gadis itu.


"Pagi, Anna."


Anna berhenti di dekat mereka, menatap Kenan sejenak, tapi kemudian lirikan matanya teralihkan pada Logan. Sontak, ia pun jadi canggung dan salah tingkah, tetapi berusaha tak diperlihatkan.


Berbeda dengan Logan. Pria itu mematung, memalingkan wajahnya ke arah lain seolah tak peduli dengan keberadannya. Sebenarnya, Anna sedikit merasa sakit hati dengan sikapnya itu, tapi kemudian tak dipedulikannya. Toh, untuk apa? Terserah, pria itu mau melakukan apa.


Ya, sudah. Lebih baik beramah-tamah dengan pria yang menyapanya tadi. Anna tersenyum, lalu membalas sapaannya. "Pagi, Pak Kenan."


Bukan main senangnya Kenan karena akhirnya gadis itu mau membuka diri. Apa sekarang ia bisa melangkah ke level selanjutnya?


"Oh iya, Anna. Habis selesai shalat, mau tidak makan siang sama aku di kantin?"

__ADS_1


Anna terkejut, Logan tercengang sambil menoleh pada Kenan. Anna bingung, ragu akan keputusan ini. Ia berpikir cukup lama, sampai tak sadar melirik Logan yang juga sedang meliriknya.[]


__ADS_2