Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
(Bukan) Akting


__ADS_3

Kabut seakan menggantung dalam pikirannya. Penglihatannya memburam oleh air mata yang menggenang. Nina menyetir mobil, tapi fokusnya pada ingatan tentang pertemuan dengan Logan tadi.


Hubungan boleh putus, tapi hati ini masih memiliki cintanya. Sulit untuk menghapus kenangan, apalagi menepis bayang-bayang wajah seseorang yang dicintai.


Jalanan yang dilalui seakan begitu panjang, sepi. Sampai sebuah kilatan cahaya muncul di depannya, dan ia tersentak. Mobilnya bertabrakan dengan mobil lain, yang kebetulan berbeda arah. Sepertinya, Nina salah memutar setir mobilnya, sehingga ia berada di jalur yang berlawanan, lalu menabrak mobil sedan hitam.


Kepala Nina bersandar pada setir, tak sadarkan diri. Perlahan kepalanya terkulai ke kanan, terlihat darah mengalir dari keningnya.


...♧♧♧ ...


Anna sudah bersiap pagi ini. Seperti biasa, Subuh sudah bangun, mandi, dan berpakaian rapi. Cuti Logan belum selesai, jadi dia bisa bangun agak siang. Tak ada suara yang membangunkannya.


Logan tersentak tiba-tiba, lalu membuka mata. Pemandangan pertama kali yang dilihatnya adalah Anna yang telah memakai gaun warna merah muda, dengan rambut tergerai, lalu berbalik menatap Logan dengan senyuman secerah matahari yang masuk dari jendela kamar.


Logan duduk sambil mengusap mata, ia melihat Anna mendekat ke arahnya. Sekarang, barulah terlihat jelas wajah cantik Anna yang telah dipulas oleh make-up tipis.


"Mau ke mana? Rapi banget," tanya Logan, suaranya masih serak karena sehabis bangun tidur.


Gadis itu mengernyit. "Lupa, ya? Aku kan udah bilang semalam, 'aku mau pergi ke rumah orangtuaku.' Aku sekalian mau kasih oleh-oleh buat mereka," jawabnya mendecak gemas.


Logan tak menjawab apa pun, terserah dengan apa yang mau dilakukan oleh wanita itu. Yang pasti, ia tidak akan tidur lagi, beranjak dari ranjang menuju kamar mandi.


Sudah jam 7 pagi, ritual sarapan bersama tidak boleh dilewatkan. Kalau tidak, bersiap kena ceramah oleh papanya. Anna turun duluan, Logan pun juga akan menyusul setelah selesai mandi. Pria itu turun ke ruang makan dengan sudah memakai kaus dan celana panjang biasa warna hitam.


Melihat penampilannya yang santai ini membuat kedua orangtuanya menoleh heran.


"Lho? Logan? Kenapa masih belum bersiap juga?" Baru saja Logan duduk, Matthew sudah menodongnya dengan pertanyaan.

__ADS_1


Logan heran, Anna tertegun sejenak saat meletakkan sepotong roti isi di atas piring suaminya itu. Pria itu melirik Anna, tercengang, masih tidak mengerti arah ucapan papanya.


"Maksud Papa?"


Matthew mendecak. "Kamu mau membiarkan istrimu pergi ke rumah orangtuanya sendirian?" sahutnya dengan nada agak meninggi karena terlalu gemas pada sikap apatis anaknya itu.


"Oh. Kan bisa diantarkan sama supir," jawab Logan begitu santainya, lalu melahap roti isinya.


Elina menggelengkan kepala, tak habis pikir. Dan akhirnya, ia turut turun tangan untuk menjelaskan. "Memang. Tapi, kamu adalah menantu dari keluarga Anna. Sejak menikah, kamu belum pergi ke rumah mertuamu. Kamu harus menjalin silahturahmi pada mereka. Setidaknya, sebulan atau 3 bulan sekali. Tunjukan pada mereka, kalau kamu itu menantu yang baik."


Logan meletakkan roti isinya sambil mendesah, lalu meminum sedikit susunya. Ia ingin menghabiskan masa cutinya dengan tidak pergi keluar rumah, apalagi harus pura-pura beramah-tamah dengan keluarga Anna. Sungguh segan.


Ekspresi keenganan Logan bisa dipahami oleh Anna. Matanya melirik ke arah lain sambil berpikir beberapa detik. "Tidak usah, Ma. Logan pasti capek. Biar saya aja yang pergi sendiri."


"Ya, nggak bisa gitu dong, Anna," sahut Matthew. "Bagaimanapun juga, ini adalah salah satu tugas suami, selain menjaga istrinya. Kami yang jadi segan pada keluarga kamu, karena Logan yang enggan bersilahturahmi pada mertuanya."


Ya, anggap saja memang begitu. Tapi, kita tidak tahu bagaimana isi di dalam hati manusia yang sebenarnya. Logan juga tidak mau dicap sebagai menantu terburuk oleh mertuanya.


"Baiklah," kata Logan tiba-tiba, menghela napas panjang. Bola matanya diputar ke arah Anna. "Habis sarapan, tunggu aku di ruang tamu, aku akan berganti pakaian dulu."


Kenapa tiba-tiba gini? Padahal Anna tidak mempermasalahkannya jika Logan tidak ikut. Anna mengerjap menatap Logan. Pria itu mengunyah makanannya sampai habis setelah selesai bicara seperti itu. Lalu, dia berpamitan ke kamar untuk mengganti baju.


Anna juga akan ke berpamitan ke kamar untuk mengambil tas dan oleh-oleh yang akan diberikan untuk orangtuanya. Namun, Logan buru-buru menyela, mengatakan bahwa dia yang akan mengambil tas dan barang-barang yang disebutkan oleh Anna tadi.


Mengherankan, tetapi hati Anna merasa menghangat tidak seperti yang sudah-sudah. Ia melirik kedua mertuanya. Perlakuan Logan ini membuat keduanya tersenyum senang, yang Anna simpulkan bahwa perhatian Logan cuma akting.


Anna menyadarkan diri ke punggung kursi sambil menghela napas. Sudahlah, ia harus terbiasa dengan semua perhatian yang dilakukan oleh pria itu. Ia sudah tahu tujuannya apa. Jadi, jangan sampai ia terbawa perasaan seperti hari-hari sebelumnya.

__ADS_1


Sarapan usai, Anna, Matthew, dan Elina berada di ruang tamu sembari mengobrol dan menunggu Logan. Kedua mertuanya tidak ikut karena mereka sudah ke sana beberapa hari yang lalu selepas pulang dari gereja.


Logan memakai kemeja warna abu-abu tua, yang dipadukan dengan celana jins. Rambutnya tak lagi acak-acakan, tetapi tak juga terlalu rapi seperti saat ia bekerja di kantor.


Anna menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki sambil beranjak dari sofa. Terpana sejenak, memuji di dalam hati. "Ya, lumayan."


"Nih, tasnya." Logan menyerahkan tas kecil warna krem pada Anna. Logan berjalan duluan sambil membawa 4 tas yang berisi oleh-oleh, setelah berpamitan pada kedua orangtuanya.


Anna pun berpamitan, bergegas menyusul Logan yang sudah keluar duluan menuju garasi mobil. Setengah berlari ia mencoba mensejajarkan diri di samping suaminya itu, lalu mencetuskan sebuah pertanyaan.


"Kenapa tiba-tiba minta ikut? Aku nggak keberatan kalau kamu nggak ikut."


"Apa kau sengaja ingin membuatku terlihat buruk di mata kedua orangtuamu?" sahut Logan dingin tanpa menoleh pada Anna sedikit pun.


"Apa? Buruk sekali pikiranmu itu?" cemooh Anna, bibirnya manyun. "Orangtuaku tidak akan berpikir seperti seperti itu. Paling mereka hanya kecewa, tapi memahami penyebab kau tidak bisa ikut."


Mereka sampai di depan mobil, lalu Logan membuka bagasi mobil, meletakkan tas-tas itu sambil berkata, "Ya, makanya itu," pintu bagasi ditutup, Logan berputar ke hadapan Anna, "aku tidak mau mengecewakan mereka. Lebih baik kalau aku datang dan membuat mereka senang."


Logan berjalan ke arah pintu mobil untuk pengemudi, dan Anna tetap mencecar dengan nada menyindir. "Tidak perlu kalau hanya mencari muka."


Tiba-tiba pria itu mengarahkan tatapan dingin menusuk ke arah Anna, setelah pintu terbuka. Tentu saja, Anna tersentak dengan mata membulat. Seram sekali tatapan dari wajah tampan pria itu, buat bulu romanya meremang.


"Masuk saja ke mobil, tak perlu berkomentar," sahut Logan dalam dan mengancam.


Bibir Anna mengerucut, melirik ngeri tapi tatapan menantangnya tetap mengarah pada Logan.


"Iya!" sahut Anna ketus, berusaha menutupi rasa gugupnya.

__ADS_1


Tak ada gertakan lagi, Logan masuk mobil, Anna pun demikian. Dan mobil dilajukan Logan menuju rumah mertuanya.[]


__ADS_2