Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Semu


__ADS_3

Anna memakaikan dasi suaminya seraya tersenyum. Ia senang karena Logan kembali bersemangat bekerja, meskipun ia masih mengkhawatirkan kesehatan Logan.


"Sudah," kata Anna, kedua telapak tangannya masih menempel di dada suaminya. Ia mendongak, memberikan senyuman cantiknya agar Logan lebih bersemangat.


"Aku pasti terlihat tampan karenamu," seloroh Logan, seperti biasa mengandalkan kenarsisannya.


Bibir Anna dimanyunkan mencemooh. "Aku nggak bilang kok," sahut Anna sarkas.


Logan menarik pinggang Anna lembut ke dalam dekapannya. "Istriku ini benar-benar, ya? Kenapa sulit sekali mengakui ketampananku? Kau suka nonton drakor, 'kan? Aku mempunyai keturunan darah Korea, dan pastinya ketampananku tidak kalah dengan mereka," ujarnya bangga.


Diam-diam Anna tersenyum geli. Memang, mata sipitnya yang agak membulat terlihat menawan, dengan garis wajah tegasnya. Anna tak bisa menampik bahwa Logan memang setampan aktor Korea.


"Kan cuma punya darah keturunan, tapi bukan berarti bisa disamakan dengan mereka," sahut Anna, semakin gencar menjahili Logan.


"Aduh, sakit hati jadinya." Logan berseru dengan nada jengkel, tapi hanya pura-pura. "Cuma kau istri yang mengatakan bahwa pria lain yang lebih tampan dari suaminya."


"Yang aku bilang memang kenyataan kok," ledek Anna, lalu ia tertawa kecil seraya mendorong pelan tubuh Logan.


Namun, Logan tak mau melepaskan pelukan itu, pinggang Anna ditarik lagi dalam dekapan, bahkan mempereratnya. "Istri yang nakal," godanya, suara paraunya terdengar sensual. "Aku akan menghukum istri yang seperti itu."


Anna tertawa kecil, menantang kejahilan Logan. "Hukuman yang seperti apa?"


Lirikan mata Logan turun ke bawah, mengarah pada bibir mungil merah jambu yang menggemaskan itu. "Akan kugigit bibir itu sampai kau meminta ampun."

__ADS_1


"Nanti saja!" Anna menghela Logan, saat pria itu akan mendekati wajahnya pada Anna. "Kau mau berangkat ke kantor, 'kan."


"Nanti kapan? Malam?" protes Logan sarkas. "Mana bisa. Aku kan belum boleh menggaulimu."


"Memangnya berciuman akan selalu berakhir dengan seperti itu saja?" sahut Anna tergelak, berjalan menghampiri tas kerja Logan yang tergeletak di atas ranjang. Kemudian, tas itu diberikan pada suaminya seraya berkata lagi. "Hari ini, aku mau ke tempat orangtuaku. Nanti jemput, ya?"


Logan jadi teringat pada kecelakaan waktu itu, ia jadi ragu untuk kembali menyetir sendiri. "Memangnya, kapan mau pergi?" tanya Logan, tak menjawab permintaan Anna.


"Nanti sebelum makan siang," jawab Anna, setelah berpikir sejenak.


"Kalau begitu, aku jemput kau nanti, kita ke sana bersama-sama. Tapi, aku cuma mengantarkan saja, ya?"


"Kenapa nggak sekalian menemui ayah dan mama?"


"Em ... aku sibuk habis makan siang." Logan akhirnya memilih berbohong.


"Ya sudah." Anna menghela napas, tak mau memaksa. "Nanti, kabarin aku kalau kau mau OTW."


"Oke!" Logan menyahuti riang dan tersenyum lebar.


Anna merangkul lengan suaminya, pergi bersama keluar dari ruangan menuju ruang makan. Di sana, papa dan mama sudah makan duluan. Elina menyambut anak dan menantunya dengan hangat seperti biasa, sementara Matthew mengunyah makanan tanpa menoleh pada mereka. Ekspresi pria itu tampak murung.


Anna terheran melihat papa mertuanya itu, lalu melirik mama mertuanya dengan harapan mendapat jawaban. Namun, Elina hanya menaikkan kedua bahunya dan tersenyum tipis. Anna menduga, mungkin terjadi masalah di perusahaan.

__ADS_1


Lalu, tatapannya dialihkan pada Logan. Jika memang perusahaan dalam kondisi seperti itu, kenapa Logan tidak mengatakan apa pun? Apa Logan minum wine kemarin karena memikirkan masalah yang sedang menimpa perusahaan?


...💍...


Logan membetulkan jasnya seraya berjalan cepat di lorong bersama dengan Gery. Katanya, mereka sudah menemukan investor baru yang siap bekerja sama dengan perusahaan mereka. Dan sekarang, investor itu sudah berada di ruang rapat bersama dengan Matthew.


Namun, Gery justru berjalan resah di belakangnya. Logan tidak tahu siapa investor yang akan dihadapinya nanti. Mulutnya terus ditahan untuk mengucapkan sepatah katapun.


"Gery," panggil Logan, membuat Gery terkesiap.


"Iya, Pak," sahut pria itu tak bersemangat.


"Kosongkan jadwalku setelah jam makan siang. Aku ingin menemui istriku nanti." Logan berpesan.


Gery mencari dan membaca jadwal Logan di tablet. "Kebetulan jadwal Bapak kosong jam segitu," ujarnya, dan Logan tersenyum puas mendengarnya.


"Bagus!"


Sedikit lagi, mereka sampai di ruang rapat. Logan mempercepat langkahnya, begitu juga dengan sekretarisnya. Gery lebih dulu sampai di depan pintu, menarik knop dan membukakan pintu untuk bosnya.


Logan bersemangat masuk ke dalam seraya mengulas senyuman khasnya. Namun, seketika ia terpaku di depan pintu, kala melihat dua orang wanita yang sangat dikenalnya sedang menoleh padanya begitu mereka menyadari kehadirannya.


Logan mengernyit kesal. Apa-apaan semua ini? Maksudnya, investor mereka Nina dan ibunya?[]

__ADS_1


__ADS_2