Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Aku Harus Rela


__ADS_3

Logan berjalan gontai kembali ke ruangan Elina di rawat. Dahi yang mengernyit, menunjukkan beban yang sedang dipikirkannya. Ia tertegun dan mematung, menemukan Anna tengah duduk di kursi depan ruangan.


Matanya menyendu, menghampiri gadis itu perlahan. "Kenapa di duduk di luar?" tanyanya, membuat Anna tersentak karena tadi sempat melamun.


"Ah, enggak. Itu ... Kenan lagi jenguk mama. Kan, nggak boleh banyak-banyak orang yang masuk ke dalam kamar," jawab Anna agak terbata.


Oh, benar juga. Padahal, Logan mau menegurnya tadi. Jadi, tak ada pembicaraan lagi setelah ini. Logan duduk di samping, menghadap ke depan sambil menunduk. Sebenarnya, bukannya tidak ada yang mau dibicarakan. Namun, ia ragu untuk membahas soal Nina karena antara rasa gengsi dan tidak enak hati jika Anna salah paham.


"Soal Nina...." Anna perlahan menoleh dan menegakkan kepalanya ke arah Logan, menunggu pria itu kembali melanjutkan ucapannya. "Dia menderita amnesia karena kecelakaan."


"Oh," kata Anna sambil menganggukkan kepala.


Kok reaksinya biasa saja? Logan heran, sampai alisnya naik sebelah. Ia kira, Anna akan terkejut. Benar-benar, ia tak paham apa isi kepala cantik gadis itu. Okelah, ia akan lanjutkan lagi niatnya, mau Anna paham atau tidaknya.


"Nina tidak ingat kalau kami sudah putus. Jadi, aku akan berpura-pura di sisinya dulu."


Sambil menatap lurus ke depan, Anna berkata datar. "Ya, aku akan membantu menutupi hubungan kita."


Malah Logan yang dibuat tercengang. Anna sangat mengerti situasinya, jadi ia tak perlu menjelaskan lagi apa yang harus dilakukan gadis itu. "Iya," angguk Logan. "Aku harap, kamu bisa bersabar untuk menahan diri."


Terdengar suara helaan napas berat dari Anna. "Tak perlu kamu bilang," Lalu, Anna menoleh sambil tersenyum palsu yang lebar, "aku juga sudah tahu. Selama ini aku sudah terbiasa bersabar berada di dalam pernikahan tanpa cinta ini."


Ocehan ini ... apa sebuah sindiran? Kenapa hati Logan merasa tidak nyaman mendengarnya? Ponsel Logan berdering di dalam saku celananya. Anna melirik, Logan pun melihat ke arah yang sama. Akan tetapi, pria itu enggan untuk mengangkatnya, sebab sudah tahu siapa si peneleponnya.


"Kenapa nggak diangkat?" tanya Anna, seolah-olah tidak tahu, dan menyembunyikan kekecewaan di balik sikap polosnya.


Logan kikuk, mencari-cari alasan. "Tidak begitu penting," jawabnya setengah hati.


"Angkat saja. Siapa tahu penting." Anna memalingkan wajah untuk menutupi wajah muramnya.


Tapi, dering ponselnya sudah berhenti, dan itu membuat Logan lega tapi hanya sesaat. Lima detik berlalu, ponsel berdering kembali, padahal Logan baru saja ingin fokus pada Anna.


Kesal, Logan memejamkan erat. Mau itu dari Nina atau bukan, ia akan menegaskan untuk tidak menganggunya. "Halo," sahutnya agak ketus.

__ADS_1


"Logan, kok jawabnya kayaknya gitu?" sambut Nina, nada manja berpura-pura merajuk.


Pria itu menghela napas, terpaksa bersikap lunak. "Iya, ada apa?"


"Kayaknya, kamu sekarang berubah, ya? Susah banget nyebut nama aku. Padahal, aku suka banget waktu kamu panggil sebut namaku."


Itu dulu. Sekarang Logan sulit melakukan hal itu lagi untuk Nina, apalagi di depan Anna. "Ada apa, Nina?" ucapnya tercekat, sembari melirik Anna dengan gugup.


"Kamu di mana? Aku ingin menjenguk mama Elina."


Gemas sekali, seakan Logan ingin menyahuti Nina begini: "Mamaku bukan ibu mertuamu. Yang pantas menyebutnya begitu cuma Anna!".


Tapi yang Logan menelan air liurnya, lalu berkata setengah hati, "Aku sedang di luar."


"Di luar kamar mama maksudnya. Soalnya, aku udah mau sampai di tempat kamu, lho."


Logan mendelik dengan mulut ternganga, melirik ke sekitar lorong, lalu tatapannya terhenti pada sisi kiri Anna, di mana sekitar 5 meter lagi Nina akan mendekat padanya.


Anna beranjak, wajahnya memucat karena terkejut, perlahan berdiri bersama dengan Logan.


"Logan, bagaimana kabar mama Elina?" Nina langsung bergelayut manja, melingkarkan tangannya di lengan Logan.


Tak perlu bingung untuk mencari jawabannya, Kenan keluar dari kamar Elina bertepatan dengan itu. Nina menoleh padanya, tak menyangka akan kemunculannya.


"Kenan? Kamu di sini? Kamu apa kabar?" sapa Nina berseru riang.


Tidak butuh lama bagi Kenan untuk keluar dari ketercengannya. Sikap santai dan senyum renyahnya terukir di wajah tampannya. "Seperti biasa, tapi tambah ganteng." Selorohan Kenan tetap tidak mencairkan suasana; hanya Nina yang tertawa, Tita hanya meringis, sementara Logan melirik murung pada Anna yang tengah tertunduk.


"Eh!" Nina memiringkan badannya sedikit, berseru begitu menyadari keberadaan Anna. "Kamu bukannya ... ah! Gebetannya Kenan? Siapa namanya?"


"Anna!" sahut Logan, tak terima Anna disebut begitu. Dalam hati, ia menjerit geram: "Dia istriku, bukan gebetannya Kenan!"


Nina tercengang, cukup tak menduga juga kalau Logan tiba-tiba menjawabnya begitu. Logan menyadari, langsung berubah sikap dan mendeham grogi.

__ADS_1


"Iya, namanya Anna." Kenan yang dapat membaca situasi, membantu Logan mengalihkan perhatian Nina.


"Oh! Tapi mau sampai kapan jadi gebetan, hah? Pacaran dong," timpal Nina, setelah tertawa kecil.


Ketika tatapan Nina teralihkan, rahang Logan mengeras sambil menatap Anna. Akan tetapi, kepalan tangannya yang kuat tak luput dari pandangan Nina. Setelah menatap Kenan dan Anna, Nina melirik tak sengaja ke arah kepalan tangan Logan, lalu mengalihkan tatapannya ke wajah pria itu dengan heran.


"Logan? Kamu kenapa?" tanya polos Nina setelahnya.


"Ah!" Logan terkesiap, sigap menatap pada Nina. "Enggak kok aku...."


"Masa? Tapi kenapa tangan kamu terkepal begitu?" cecar Nina, merasa tak beres.


"Em ... aku ... aku ... aku cuma nahan kentut! Ya! Kentut." Spontan, Logan menemukan alasan aneh itu, lalu tertawa dipaksakan. "Maaf, ya. Aku lagi sakit perut."


"Ooooo," timpal Nina sambil tertawa cukup keras. "Ya udah, kamu ke kamar mandi dulu deh. Aku mau jenguk mama Elina."


"Nina, apa kamu yakin mau jenguk tante Elina yang lagi tidur?" tanya Kenan.


"Oh! Mama lagi tidur? Ya udah, lain waktu aja deh." Mudah sekali Nina terpengaruh. Sehabis itu, ia mengalihkan tatapan pada Logan sambil mempererat dekapannya lengannya. "Sayang, kita ngobrol di kafe dekat rumah sakit, yuk! Aku mau melepas kangen."


Anna menaikkan pandangannya sedikit, muram melihat adegan yang membuatnya tak tahan untuk tetap di sini. Tita peka pada keadaan dan perasaan Anna. Maka, ia pun meraih tangan Nina, dan menariknya sedikit ke arahnya sambil berkata:


"Nina, balik yuk! Kamu kan harus istirahat."


"Tapi, aku cuma mau ngobrol sebentar sama Logan. Kamu nggak ngerti, ya? Aku itu kangeeeeeen banget sama Logan," protes Nina, lalu menarik tangannya dari pegangan Tita.


"Pak Logan belum sarapan, 'kan? Bagaimana kalau Nona Nina ajak pak Logan makan?" timpal Anna, memaksakan senyum.


Yang benar saja! Apa gadis ini sudah gila mengompori orang lain untuk bersama dengan suaminya? Logan menoleh dengan mata mendelik, rasa geram bergejolak sambil melesatkan tatapan pada istrinya itu.


"Oh, benarkah? Ya udah kalau gitu," seru Nina bersemangat. "Logan, yuk, kita ke kafe itu!"


Anna menunduk, tak kuasa melihat tatapan Logan yang dingin. Jadi, maunya Anna begini? Baiklah, ia akan menurutinya. Lagi pula, memang ia sendiri yang semula mencetuskan rencana untuk menutupi hubungannya dengan Nina.

__ADS_1


Maka, ia pun tak menolak kala Nina menariknya pergi dari hadapan Anna. Namun, tatapannya tak lepas dari gadis itu beberapa saat, meskipun Anna tak melihat ke arahnya.[]


__ADS_2