
Logan melonggarkan dasinya saat masuk ke dalam kamar tidur. Tidak biasanya Anna tidak menyambutnya, tapi Logan tak mempermasalahkannya. Mungkin saja, istrinya sedang lelah atau ketiduran menunggunya.
Dan memang benar, Logan mendapati Anna tengah tertidur pulas di ranjang dengan posisi membelakanginya. Logan tersenyum, ia berjalan menuju kamar mandi tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
Begitu pintu kamar mandi tertutup, mata Anna langsung nyalang. Percakapannya dengan Nina tidak bisa membuatnya tidur. Ia sengaja berpura-pura terlelap kala Logan masuk ke dalam kamar untuk menghindari pria itu. Sebab, seharian ini ia menangis, dan ia tak ingin Logan menyadari bahwa matanya sembab.
Setelah badan bersih dan berganti pakaian, Logan naik ke ranjang. Anna kembali memejamkan mata, tak menunjukkan pergerakan supaya Logan percaya pada aktingnya.
Padahal, Logan sedang ingin bermesraan dengan istrinya setelah pulang kerja. Tapi, karena Anna sudah tidur, Logan tidak akan mengganggunya. Ia hanya mendekap tubuh Anna dari belakang, lalu memejamkan mata. Seperti ini saja sudah menghilangkan kepenatannya.
Mata Anna kembali nyalang. Perlakuan yang ditunjukkan Logan membuat hatinya mencelus. Air mata tak dapat ditahan untuk menggenang di pelupuk mata.
Kenapa mereka harus berada di situasi seperti ini? Anna harus bisa merela Logan yang sangat dicintai demi kepentingan keluarga Jonathan. Anna sudah memutuskan untuk bercerai dengan Logan tanpa membicarakannya dengan pria itu.
...💍...
Nina turun ke ruang makan agak terlambat. Kedua orangtuanya sudah berada di meja makan seraya menyantap daging panggang. Nina menghampiri mereka dengan senyum riangnya, lalu duduk di hadapan Diana.
"Pagi, Pa, Ma," sapanya, kedua orangtuanya dengan kompak membalas sapaannya. "Lagi ngomongin apa sih? Kayaknya seru."
"Hari ini, J.Group sedang melakukan rapat soal nasib Logan di perusahaan," jawab Diana, senyum kejamnya terulas.
"Wah, menarik," timpal Nina, meraih garpu dan pisau ketika pelayan menyajikan roti dan daging panggang di mejanya.
"Nasibnya bukan tergantung pada para pemegang saham, tapi pada kita," tambah Diana. "Jika Matthew dan Logan sudah mengambil keputusan, kita tinggal melakukan tugas kita."
"Sayang, cara ini agak licik." Jiwa pebisnis suami Diana tiba-tiba luntur karena sifat murah hatinya. "Kenapa harus repot-repot membuat mereka hancur cuma demi menikahkan Logan dengan Nina? Pria yang lebih baik dari Logan banyak, anak kita pantas mendapatkan hal itu."
"Tapi," sahut Diana santai, tapi sebenarnya perasaannya gusar. "Yang dicintai Nina cuma Logan seorang. Biarlah, lakukan saja apa yang Nina mau."
"Diana," decak suaminya. "Nina sangat berharga. Aku ingin Nina mendapatkan yang terbaik."
__ADS_1
"Yang terbaik bagiku adalah kebahagiaannya!" timpal Diana, mulai geram. Dan itu membungkan mulut suaminya.
Nina merasa tak berselara berada di pertengkaran ini. Diam dan berpura-pura tidak peduli lebih baik. Sifat keras kepalanya juga mengindahkan apa yang diucapkan papanya tadi. Bagaimanapun, Nina harus mendapatkan Logan kembali!
Seorang pelayan masuk ke dalam ruang makan sambil membawa sebuah map cokelat. Dia menghampiri Nina, lalu memberikan paket itu padanya.
Diana dan papanya merasa penasaran, lalu Diana mencecarnya. Nina tak langsung menjawab, membaca alamat pengirim yang tertera di depan amplop.
"Surat dari firma hukum," gumam Nina mengernyit.
Nina merasa heran setelah membacanya. Tapi, begitu melihat nama Anna yang tertera di sana, Nina langsung bersemangat membukanya dengan bibir tersenyum merekah.
Di dalamnya terdapat sebuah berkas yang berisi beberapa lembar kertas. Nina bergegas membacanya, perlahan di setiap kata demi kata untuk memastikan bahwa ia tak salah mengartikan kalimat yang tertulis di sana.
Hatinya bersorak girang. Sarapan terlupakan, Nina beranjak dari kursinya, lalu menatap Diana. "Ma, aku ikut ke kantor sama Mama, ya?" pintanya.
"I-iya. Tapi, memang ada apa?" tanya Diana bingung.
...💍...
Suasana ruang rapat menegangkan. Logan, Matthew, dan teman-temannya pasrah dengan keputusan rapat ini. Senyum semringah para pemegang saham tergambar di wajahnya, seakan mereka telah menunggu keputusan ini sejak lama.
Seorang pria yang menjadi perwakilan dari pemegang saham berdiri seraya memegang secarik kertas. Ia mendeham sebelum berkata. "Kami akui, Logan pernah membawa kejayaan pada perusahaan kita. Tapi, akibat kelalaiannya, kita mengalami kerugian besar. Skandal yang dilakukannya juga tidak bisa diterima. Maka dengan ini...."
Ponsel salah satu pemegang saham berbunyi. Pria bertumbuh tambun itu menoleh dan berhenti melanjutkan ucapannya, apalagi orang itu mengacungkan telapak tangannya.
"Maaf, saya terima telepon dulu sebentar," kata pria berkacamata itu.
Pembacaan keputusan tertunda sejenak, pria yang membacakan keputusan tadi kembali duduk dengan raut wajah bingung seraya menatap pada orang di sebelahnya.
Logan dan Matthew saling pandang. Dahi mereka mengernyit, penasaran mengapa rapat ini tertunda hanya karena hal itu.
__ADS_1
Tak lama kemudian, pria itu kembali masuk ke dalam ruangan. Dia menatap pada pria bertumbuh tambun tadi, menghampirinya, lalu membisik sesuatu. Setelah itu, pria itu duduk ke tempatnya, pembacaan keputusan dilanjutkan kembali.
"Kita lanjutkan, ya?" kata pria bertubuh tambun itu. "Tapi, meski begitu, kami masih memberikan kesempatan bagi Logan untuk tetap pada posisinya. Logan tidak jadi dipecat!"
Matthew yang tadinya tertunduk lesu, mengangkat wajahnya dengan tercengang, lalu tersenyum pada Logan. Begitu juga dengan Logan, ia tak menyangka masih diberi kesempatan.
Logan dan Matthew menjabat tangan para pemegang saham sebelum mereka membubarkan diri. Setelah itu, Matthew memeluk Logan dengan haru dan lega.
"Syukurlah, Nak. Kau masih diberi kesempatan," ucap Matthew.
"Iya, Pa." Logan tanpa sadar mengangguk.
Lantas, mereka keluar dari ruang rapat menuju ruang kerja masing-masing. Namun, mereka tercengang melihat beberapa orang pemegang saham sedang mengobrol dan berjabatan tangan dengan Diana.
Logan mengernyit, mencurigai suatu yang tak beres.
Menyadari keberadaan Logan, Matthew dan teman-temannya, Diana dan Nina menoleh padanya seraya tersenyum. Lantas, Nina menghampiri Logan, dan menyapa.
"Logan, selamat, ya?" Nina mengulurkan tangannya.
Apa dia berharap Logan akan menyambut jabatan tangan darinya? Itu hanya mimpi. Logan melewati Nina dengan acuh tak acuh.
Nina tak kecewa, justru senyum liciknya terkembang. Ia berbalik sedikit, lalu berkata, "Seharusnya, kau berterima kasih, sebab aku yang menyelamatkanmu."
Logan menoleh, alisnya meninggi sebelah. "Maksudmu?"
Nina memberikan amplop cokelat yang sejak tadi dipegangnya erat. Amplop itu adalah senjata rahasianya yang akan membuat Logan takluk padanya, mau tidak mau.
Logan menerima amplop itu dengan perasaan curiga. Ia langsung mengeluarkan isinya, lalu membacanya.
Raut wajah Logan perlahan berubah. Nina tersenyum senang melihat ekspresi syok yang diperlihatkan Logan saat ini. Nina tahu, Logan pasti akan meminta penjelasan darinya, tetapi ia tak sabar untuk mengatakannya duluan.
__ADS_1
"Apa cuma segitu rasa cinta Anna padamu, sampai dia menggugat cerai padamu?" sindirnya halus.[]