
"Aku akan berusaha mengejar cintaku. Aku akan memperjuangkan cintaku."
Anna langsung menyibakkan selimut dari wajahnya kala kata-kata yang Woojin ucapkan tergiang-ngiang di telinganya. Kenapa Anna mudah sekali terpengaruh begini? Ucapan, ekspresi Woojin, bahkan debaran jantungnya masih terasa.
"Padahal, yang dia ucapkan belum tentu buat aku. Tapi ... kenapa aku yang jadi deg-degan?" gumam Anna, tanpa terasa pipinya memerah. "Seolma...."
Plak! Anna memukul pipinya, rasa perih langsung terasa. Kenapa ia harus menduga sesuatu hal yang belum pasti.
"Ini pasti sugesti?" serunya, sontak beranjak dari pembaringan. "Hati aku terlalu lembut, makanya gampang terhanyut oleh kata-kata kayak gitu. Walaupun nggak selalu gitu sih?"
Ah! Dari pada memikirkan hal itu, lebih baik bangun dari tempat tidur, merenggangkan badan, lalu jalan ke kamar mandi. Hari Senin akan jadi hari tersibuk. Lebih baik kalau pergi agak lebih pagi untuk menghindari lalu lintas yang padat.
Anna tiba di kantor dengan senyum ceria. Dan hari ini ia tak berpapasan dengan Woojin. Belum sepenuhnya hari ini loh! Anna kira, Woojin tidak masuk kerja lagi, sebab batang hidungnya tak tampak di lift.
Anna memasuki ruang kerjanya dengan senyum merekah bagai bunga. Namun, ternyata Woojin muncul di depan pintu, yang membuatnya sontak berbalik dengan gugup.
"Uh, si*all!" umpat Anna, matanya terpejam erat.
Bukannya masuk ke dalam ruangan, Anna malah terus berjalan tanpa arah. Woojin tercengang, mengejarnya sambil berseru memanggilnya.
"Anna-ssi! Anna! Mau ke mana?"
"Aduh! Malah ngejar lagi!" gerutu Anna panik. Tapi, kemudian langkahnya terhenti karena menyadari kekeliruannya. "Eh? Eeeehhh? Ngapain aku malah menghindari dia? Emang aku salah apa? Kan aku sama dia nggak ngapa-ngapain? Aduh, Anna! B3go banget sih? Sampai salting gitu!"
"Siapa yang salting?" sahut Woojin, yang suaranya terdengar di belakangnya.
Anna tersentak dengan mata mendelik. Lagi, ia gugup, malu sebab ucapan Woojin yang menggema di telinganya.
Woojin terheran, Anna tak kunjung berbalik. Maka, Woojin bergeser ke hadapan Anna, yang memucat kala tatapan mereka saling bersirobok. Woojin tersenyum renyah, tapi efeknya malah membuat jantung Anna berdebar tak keruan.
"Mau ke mana sih? Udah waktunya masuk kerja loh," kata Woojin. Meski gayanya cupu, sikapnya manis seperti anak kucing.
Anna terkesima lagi, tetapi kemudian menyadari bahwa tak seharusnya begini. Anna memperbaiki sikapnya, diusahakan mengubah postur tubuhnya lebih santai.
"Tadi aku pikir ada yang kelupaan," jawab Anna, nyatanya masih grogi. Dan supaya tak terlihat bahwa itu sekadar alasan, Anna berpura-pura merogoh tasnya. "Tapi, kayaknya nggak ada yang ketinggalan. Yuk, balik ke ruang kerja!"
__ADS_1
Anna berjalan duluan untuk menghilangkan kegugupannya. Ia menghela napas berkali-kali hingga perasaan itu lenyap. Dan sesampainya di meja kerja, Anna gegas membuka laptop, berkas tanpa melirik Woojin lagi.
Namun, saat Anna melirik pada ponselnya, jadi teringat sesuatu. Lantas, diraihnya ponsel itu, mengetik beberapa kata, dan mengirimkannya pada kontak yang dipilihnya.
...💍...
Matthew dan Elina tengah bersantai di ruang tamu. Elina menyuguhkan teh kamomail kesukaan suaminya. Keduanya menikmati waktu seraya tersenyum bahagia dan cerita masa lalu yang mengharukan.
Hari ini Matthew tidak bekerja karena Gery diperintahkan Logan untuk mengurus perusahaan sementara waktu. Logan akan kembali dalam waktu dekat ini, setelah urusannya selesai.
Suara bel terdengar, pelayan menawarkan diri untuk membuka pintu. Bersamaan dengan itu sebuah pesan masuk ke ponsel Elina. Senyumnya merekah mendapati pesan dari Anna. Matthew memperhatkan, lalu bertanya.
"Senang banget? Pesan dari siapa?"
"Dari Anna," jawab Elina seraya membuka pesan itu.
Baru akan membacanya, pelayan datang di hadapan mereka. Elina dan Matthew mengalihkan tatapan, apalagi saat si pelayan menyampaikan sesuatu.
"Tuan, Nyonya. Ada tamu dari Korea. Katanya mau ketemu sama Tuan dan Nyonya."
"Baik, Tuan."
Pelayan itu pergi. Elina menghempaskan ketercengangannya dengan melanjutkan membaca pesan dari Anna. Dan saat itu juga, ekspresi Elina langsung berubah.
"Kayaknya, aku tahu siapa tamu kita itu," kata Elina, menyodorkan ponselnya pada Matthew.
Beginilah isi pesan dari Anna: "Ma, kemarin waktu di pemakaman, aku ketemu sama ayah kandungnya Logan. Dia minta alamat Mama di Jakarta, dan aku kasih. Katanya dia mau ketemu sama Mama, papa, dan Logan."
Bertepatan setelah selesainya Matthew membaca pesan, Park Jiwon dan anak perempuannya memasuki ruangan. Keduanya membungkuk pada Elina dan Matthew yang beranjak dari sofa dengan tercengang.
"Hello. I'm Jiwon Park. And she is my daughter, Yeonjin Park," kata pria tua bertongkat kayu itu, memperkenalkan diri.
Matthew dan Elina saling melirik, lalu membungkuk hormat dan memperkenalkan diri pada pria itu. Matthew mempersilakan tamunya untuk duduk, setelah itu Elina memerintahkan pelayan untuk menyuguhkan minuman.
"I got a message from my daughter in law. She says you met her at the funeral (saya mendapatkan pesan dari menantu saya. Katanya, Anda menemuinya di pemakaman)." Elina memulai seraya tersenyum ramah.
__ADS_1
Park Jiwon mengangguk dan tersenyum. "And I asked her for your address (saya meminta alamat Anda padanya)," jawabnya.
"Unfortunately, Logan isn't here (tapi sayangnya, Logan sedang tidak di sini)," timpal Matthew. "So you can't see him (jadi, Anda tidak bisa menemuinya)."
Soal itu Park Jiwon sudah tahu. Meski kedatangannya kurang tepat, pria itu tetap akan menemui pasangan suami-istri yang telah membesarkan anaknya.
"Does not matter. Anna already told me (tidak masalah, Anna sudah memberitahukannya pada saya)," jawabnya, senyumnya agak memudar. "I came here because I wanted to meet you. I know, saying thank you isn't enough. You guys have raised Logan very well. I would give anything to you as my gratitude (kedatangan saya ke sini karena ingin menemui kalian. Saya tahu, ucapan terima kasih tidak cukup. Kalian sudah membesarkan Logan dengan sangat baik. Saya akan memberikan apa pun pada kalian sebagai rasa terima kasih saya)."
Mencengangkan, tapi cukup mengesankan. Matthew dan Elina tak dapat berkata-kata untuk beberapa saat. Mereka tersenyum sungkan, lalu Matthew menjawab dengan bijak.
"We loved Logan like our own son. You don't need to be shy. We sincerely care for him (kami sangat menyayangi Logan seperti anak kandung kami. Anda tak perlu sungkan. Kami tulus merawatnya)." Elina mengangguk setuju dengan jawaban suaminya.
"Thankfully, Logan was raised by good adoptive parents. I feel bad for leaving him (syukurlah, Logan dibesarkan oleh orangtua angkat yang baik. Saya jadi merasa buruk karena telah meninggalkannya)." Park Jiwon menunduk muram, malu sekaligus merasa bersalah karena perbuatan di masa lalu yang tak termaafkan.
"Don't talk like that, sir. Everyone makes mistakes, and you already know yours (jangan bicara seperti itu, Pak. Semua orang punya kesalahan, dan Anda sudah menyadari kesalahan Anda)," tegur Elina dengan lembut dan perhatian. Ia iba melihat pria tua itu berkubang dalam penyesalan.
"I doubt Logan will ever forgive me (saya ragu, Logan akan memaafkan saya)."
Matthew dan Elina juga ragu. Mengingat sifat Logan yang sekarang lebih dingin sesudah bercerai dengan Anna. Tapi, sebagai orangtua, mereka akan berusaha membujuknya, dan mereka menjanjikan itu pada Park Jiwon.
...💍...
Acara makan malam kantor lagi. Karena proposal yang Anna buat berhasil dipilih, timnya mengadakan tradisi itu. Sayangnya, yang seharusnya mendapatkan selamat tidak hadir di sana. Anna tidak bisa makan daging babi dan minuman alkohol. Jadi, ia memilih pulang.
Setelah turun dari bus, Anna membeli beberapa bahan makanan di minimarket, lalu pulang ke rumah. Matanya agak berat, dan langkahnya sempoyongan.
Di depan pintu masuk Goshiwon, ia melihat sebuah mobil mewah berwarna hitam terpakir. Anna mengabaikannya, terus berjalan menuju pintu.
Tiba-tiba pintu mobil terbuka, Anna masih tak mengindahkan. Sampai akhirnya, suara sahutan membuat gerakannya terhenti, dan mendelik.
"Hai, Anna. Apa kabar?"
Anna tahu persis itu suara Nina. Anna berbalik untuk memastikan. Anna semakin terkejut, bahwa sosok wanita di depannya memang Nina.
Wanita itu ... bagaimana dia bisa mengetahui keberadaan Anna di sini?[]
__ADS_1