Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Pilihan yang bahagia


__ADS_3

"Aku putus asa waktu dokter bilang bahwa aku akan sulit memiliki anak. Nasib Nina hampir sama denganku, tapi menurutku dia lebih tragis dariku. Harapannya benar-benar pupus untuk memiliki anak. Orang yang dicintainya akan meninggalkannya," ucapnya lirih.


Logan menghela napas, bukannya marah, melainkan memahami kelembutan hati Anna. Ia tak menginterupsi, mengalihkan tatapan pada jendela besar di sana.


"Maafkan aku, Logan. Aku memang tidak bisa berbagi cinta dengan Nina. Tapi, Nina hanya ingin tetap bersama denganmu, orang yang dicintainya, harapan satu-satunya untuk tetap hidup," lanjut Anna.


Logan mengatup bibirnya, melirik dan meraih jemari Anna yang tengah mendekap cangkir kopinya. Anna menatapnya, senyum Logan menular padanya.


"Harusnya Nina malu padamu. Aku akan cari solusi terbaik untuk menyelesaikannya," kata Logan, sama sekali tak murka seperti malam tadi. Logan berkepala dingin menghadapinya.


...💍...


Kenan membeku dengan mulut setengah terbuka, melihat kamar mandi ruang inap Nina kosong. "Ke mana wanita itu?" gumamnya memucat.


Kenan gegas pergi dari tempat itu seraya menghubungi Logan. Namun, ia berhenti langkah saat tatapannya tak sengaja mengarah pada ranjang. Logan mengangkat teleponnya dan berseru, tetapi Kenan fokus mendekati ranjang, melihat lebih dekat benda yang ada di atasnya.


"Halo, Kenan? Ada apa? Apa ada kabar tentang Nina?" Logan berseru lagi.


Namun, ponselnya dijauhkan dari telinganya, Kenan meraih sebuah berkas yang tergeletak di atas ranjang. Kenan membacanya, dahinya mengernyit. Kemudian, ponselnya kembali didekatkan ke telinganya.


"Logan, Nina pergi," gumam Kenan datar.


"Pergi?" sahut Logan berseru kaget, Anna ikut terkejut mendengarnya. "Pergi gimana maksudmu, Kenan?"


Kenan mematikan ponselnya, Logan berseru heran berkali-kali, lalu menatap layar ponselnya.


"Ada apa, Logan? Siapa yang pergi?" tanya Anna, melihat Logan jadi ikutan cemas.


Logan hanya melirik tanpa menjawab, ia kembali akan menghubungi Kenan. Namun sebelum tombol "dial" ditekannya, Kenan mengirimkan beberapa pesan ke nomornya.


Kenan mengirim dua buah foto. Foto pertama adalah secarik berkas gugatan cerai yang telah dibubuhi tanda tangan Nina. Lalu, foto kedua adalah pesan yang ditulis tangan oleh Nina.


Logan mengernyit membaca. Kenapa tiba-tiba? Bukankah Nina tak mau melepaskan Logan? Tapi, kali ini Nina berubah pikiran?


Jawaban atas pertanyaan itu terjawab di sebuah surat tulisan tangan Nina. Logan membacanya seraya bersuara agar Anna mendengarnya.


"Saat aku mendengarkan pertengkaran Logan dan Anna semalam, aku menyadari bahwa sampai kapanpun aku tidak akan pernah menemukan celah di hati Logan untukku. Anna terlalu baik dsn berbesar hati. Logan benar, aku egois, aku yang telah menghancurkan hubungan mereka. Kenapa Anna masih mau memberiku kesempatan? Padahal aku tak pantas mendapatkannya. Maafkan aku, Anna, Logan. Aku tahu, kenapa Logan begitu mencintai Anna. Aku akan pergi. Jadi, Logan, tolong maafkan mama. Semoga Logan dan Anna bahagia selamanya."


Anna mendengarkan, mencerna perkataan dengan cemas. "Nina pergi dalam keadaan seperti ini. Apa dia baik-baik saja?" gumamnya.


Logan menggenggam tangan Anna. "Nina telah membuka hati dan pikirannya. Dia kembali menjadi gadis bijak yang aku kenal. Dia akan baik-baik saja," ucap Logan.


Anna percaya, tapi masih cemas. Logan beranjak dari kursi, lalu memeluk Anna dari belakang, mengelus lengannya lembut untuk mengusir keresahannya.


...💍...


6 bulan kemudian


Anna memasukkan barang-barangnya yang ada di meja kerjanya ke dalam sebuah kardus. Gaeun membantunya dengan wajah muram. Anna menatapnya iba, lalu merangkulnya seraya tersenyum getir.


"Kaja! (lepaskan aku!)," rutuk Gaeun merajuk. "Jaegyeyag wae anhae? Seoul-i pyeonhaji anh-eusingayo? (kenapa tidak diperbaharui kontraknya? Apa kau tidak betah di Seoul?)."


"Anni. Seoul-eseo jeongmal jibcheoleom neukkyeojyeoyo. Geunyang ... na jakareutalo dol-agaya (nggak. Aku betah di sini. Cuma ... aku harus kembali ke Jakarta)," jawab Anna.


"Dangsin-ui nampyeon? (karena suamimu?)," tanya Gaeun lirih, dan Anna mengangguk. "Ok. Hajiman, Eonni naleul bangmunhagi wihae Seoul-e kanda? (tapi, Kakak harus mengunjungiku. Janji?)."


Anna tersenyum, menjabat uluran tangan Gaeun, lalu memeluknya erat seperti adiknya sendiri. Perpisahan ini diakhiri dengan tangis haru. Beberapa teman kerjanya menyambut perpisahannya, sebelum Anna meninggalkan ruang kerjanya.

__ADS_1


Anna menatap gedung tempatnya bernaung, air matanya berlinang, tapi kemudian tersenyum seraya menyeka air matanya. Lalu, ia berbalik, menghampiri masa depannya yang tengah menunggunya di samping mobil sport putih.


Logan baru saja menelepon seseorang. Ia menyadari keberadaan Anna ketika memasukkan kembali ponselnya ke saku mantelnya. Anna tersenyum lebar, mencemooh pada mobil Logan.


"Wah, udah ganti mobil aja nih? Padahal, jadi pengangguran selama 6 bulan ini."


"Ya dong? Aku kan bukan pengangguran biasa," balas Logan, bernada bercanda. Lalu, ia membukakan pintu mobil. "Silakan masuk, Tuan Putri."


"Terima kasih, Pangeran bermobil putih," seloroh Anna, sembari masuk ke mobil ia tertawa kecil.


...💍...


Alunan lagu karya Mozart mengalun memenuhi aula konser. Jari lentik dan halus itu menari luwes di atas tuts. Sang pianis tersenyum memainkan lagu terakhir yang dimainkannya pada konsernya ini.


Tepuk tangan meriah bergema di tempat itu, setelah lagu terakhir usai. Nina beranjak dari kursi, membungkuk anggun di depan penonton. Nina langsung turun ke ruang rias, padahal ada beberapa tamu yang menunggunya. Tapi, ia lebih ingin menemui seseorang yang sangat dirindukannya.


Seseorang itu kini sedang berada dalam gendongan Diana, menangis sejak tadi. Nina menghampiri seraya mengulurkan kedua tangannya. Digendongnya gadis kecil berusia 5 bulan itu. Dan yang benar saja, tangisan sang balita langsung berhenti.


"Kan ada nenek? Kenapa Evelyn masih menangis?" kata Nina lembut, lalu mengecup kening Evelyn.


Diana tersenyum melihat Nina begitu bahagia. Evelyn, bayi yang Nina adopsi 5 bulan lalu itu mengubah hidupnya. Nina bergairah kembali berlatih piano dan mengadakan konser. Nina menjadi lebih dewasa dan sabar kala menjadi ibu asuh. Bagi Nina, Evelyn kebahagiannya.


"Evelyn, ikut Mama, yuk!" kata Nina seraya menyusui bayi itu dengan susu formula yang dibuatkan oleh Tita.


"Kau mau memperkenalkannya pada publik?" tanya Diana berseru kaget.


"Memang kenapa?" Nina sontak menoleh. "Kan semua orang sudah tahu soal Evelyn. Lagi pula, Evelyn menjadi bintang sejak dipublikasikan. Banyak yang ingin bertemu dengannya."


"Ya sudah, tapi jangan dipaksakan. Mama takut, Evelyn tak nyaman nanti." Diana memberi saran, masih meragukan ide Nina.


"Baiklah, Ma," sahut Nina, lalu menatap sayang pada Evelyn.


...💍...


Namun, Logan berencana untuk memperbaiki hubungan mereka segera. Tak sabarnya ingin memboyong Anna kembali ke kediaman keluarga Jonathan.


Logan menghela napas panjang di depan rumah Anna. Hatinya resah, juga cemas jika diamuk oleh mertuanya jika ia datang nanti. Tapi, setelah cukup lama berpikir, akhirnya Logan mengetuk pintu rumah.


Anna sedang berada di ruang tamu bersama dengan Tasya. Begitu terdengar suara ketukan pintu, Anna menoleh ke pintu, menegang.


"Siapa itu?" seru mama, yang langsung keluar dari dapur.


Anna sigap berdiri di depan mama. "Biar aku yang membukanya," katanya kikuk.


Anna menghampiri pintu, membuka pintu perlahan, melongokkan wajahnya sedikit. Ia panik saat melihat sosok suaminya. "Logan?" tanyanya, suaranya agak berbisik.


"Kenapa?" tanya Logan, melihat ekspresi Anna jadi ikutan gugup.


"Nggak apa-apa sih? Kamu udah siap?"


"Sebenarnya, aku sama gugupnya kayak kamu, tapi—"


Pintu terbuka lebih lebar, Tasya muncul dengan mata membulat. Anna dan Logan menoleh padanya, terlihat panik seperti pasangan yang terciduk selingkuh.


"Kakak sama Bang Logan ngapain di sini? Masuk, yuk!" kata Tasya, tak memahami keadaan.


Meski tak siap, mau tak mau Anna membawa Logan masuk. Tasya memanggil ayah dan mamanya, berkumpul di ruang tamu. Logan duduk di hadapan mereka, gugup, tak berani menatap mertuanya. Sementara Anna, deg-degan di dapur seraya membuatkan teh untuk tamu dan orangtuanya.

__ADS_1


"Kamu ngapain di sini?" tanya mama, dingin dan mulai terdengar geram. "Bukannya kamu dan Anna sudah bercerai?"


Logan menelan air liurnya, perlahan berani mengangkat kepalanya. "Saya ke sini ingin meminta rujuk dengan Anna. Dan satu lagi, Mama, Ayah, saya dan Anna belum bercerai," kata Logan, jantungnya hampir copot karena takut salah ucap.


"Apa?" seru mama murka, sontak Anna dan Logan menoleh berbarengan dengan mata mendelik. "Jelas-jelas Anna sudah menggugat kamu!"


Logan menunjukkan berkas yang dibawanya, membuka halaman pertama. "Saya tidak menandatanganinya. Dan saya selama ini rutin mengirimkan nafkah lahir pada Anna, meskipun diam-diam."


Anna yang telah menyuguhkan teh di atas meja, membantu Logan membujuk orangtuanya. Anna berlutut di hadapan mereka. "Ma, Yah. Selama ini kami telah tinggal bersama, kami belum bercerai. Tolong, setujui, ya? Kami ingin kembali rujuk. Kami saling mencintai."


Adnan dan Tasya mendengarkan di anak tangga menuju lantai atas. Remaja itu berkomentar pelan. "Pasangan so sweet."


Tapi, Tasya menyenggol lengannya, menegurnya.


"Apa? Kalian tinggal bersama di Korea selama ini?" pekik mama, tak bisa menahan amarahnya. "Mama tidak heran jika Anna berbuat gila, tapi kamu Logan ... kamu juga ikut-ikutan? Kalian pikir pernikahan ini main-main apa?"


Mama beranjak dari tempat duduk, lalu mengayunkan toyoran telapak tangannya ke arah Logan. Pria itu melindungi dirinya dengan lengannya seraya menjerit pelan. Ayah berusaha menahan istrinya, sementara Anna melindungi Logan.


"Ma, setop! Jangan sakiti ayah dari anakku!" pekik Anna, sehingga mama berhenti memukul, dan tatapan tercengang semua orang mengarah padanya.


Logan menghadap pada Anna dan menggenggam tangannya. "Kamu ngomong apa, sayang?"


Anna tersenyum haru seraya mengangguk. "Aku tes tadi pagi. Aku positif hamil, Logan," katanya.


"Benarkah?" seru Logan riang, sontak memeluk Anna dan mencium keningnya.


Amarah mama langsung lenyap begitu mendengar bahwa keluarga ini akan kehadiran seorang cucu. Mama menghampiri Anna, memeluknya sayang.


"Anna, selamat, ya? Ya Tuhan, terima kasih," kata mama, menegadah mengucapkan syukur.


Tasya tersenyum pada kakaknya, dan berkata, "Selamat, ya, Kak."


Masalah ini terselesaikan, Logan diizinkan membawa Anna. Tapi, mama ingin Logan menginap malam ini, mama ingin menghidangkan makan malam atas berita kehamilan Anna.


Selesai makan malam, Anna dan Logan duduk di teras rumah. Anna menyuguhkan teh. Keduanya duduk bersama, saling menggenggam tangan, menatap langit malam yang cerah.


"Happy ending akhirnya," gumam Logan, tersenyum.


"Hmm...." Anna mengangguk.


"Anna," panggil Logan, menepuk pahanya. "Duduk sini."


"Emang nggak keberatan nanti?"


"Nggak. Kan aku udah sering gendong kamu ke ranjang," sahut Logan jahil.


"Ih! Dasar!" Anna berpura-pura jengkel, padahal tersenyum malu.


Anna menurut, duduk pangkuan Logan. Kedua lengan pria itu mendekap pinggang Anna, lembut mengelus perut rata Anna. "Kali ini, aku akan menjaganya baik. Dia akan terlahir ke dunia ini untuk melengkapi pernikahan kita."


Air mata Anna tak terasa tergenang. Ia mengangguk, mengiyakan ucapan Logan. "Iya, sayang. Aku juga akan melindunginya dan melahirkannya dengan selamat."


"Aku mencintaimu, Anna," bisik Logan di telinga Anna.


Anna berbalik, menatap Logan. "Aku juga mencintaimu, Logan."


Jemari Logan menyentuh dagu Anna, mengarahkan tatapan pada bibirnya. Lamat-lamat, keduanya saling mendekatkan wajah, lalu Logan menyematkan kecupan penuh kasih dan gairah. Keduanya larut dalam kebahagiaan abadi yang hanya dipisahkan oleh maut.

__ADS_1


...[TAMAT]...


__ADS_2