
Wajah Park Jiwon berseri ketika duduk di hadapan Logan. Anna membuat janji temu dengannya dan Park Jiwon mengundang mereka ke rumah mewah yang asri.
Logan cukup takjub bahwa ayahnya memang sekaya itu. Logan mendengar bahwa ayah kandungnya adalah pemilik perusahaan global Shinyang Grup. Namun sayang, sang ayah tak punya penerus karena anak perempuan satu-satunya bukan anak kandungnya. Meski begitu, Park Jiwon menyayanginya seperti anak sendiri.
Suguhan teh telah dihidangkan di hadapan Anna dan Logan. Suasananya canggung, tak ada ucapan setelah saling menyapa satu sama lain. Anna berpikir untuk meninggalkan Logan dan ayah kandungnya untuk berbicara. Tapi, pantasnya pakai alasan apa? Anna memikirkan sembari menyeruput tehnya.
"A! Cheoseongeo. Sillyehamnida meonjeo jeonhwaleul badeusibsio (ah! Maaf, saya mau permisi angkat telepon dulu)," kata Anna, beranjak dari sofa seraya memperlihatkan ponselnya.
Entah ini alasan yang buruk dan terlalu kentara bohongnya, Anna mencemaskan hal itu. Tapi, yang terpenting Anna bisa memberikan kesempatan bagi ayah dan anak itu untuk berbicara lebih leluasa.
Park Jiwon memulainya dengan memperhatikan kepergian Anna sejenak seraya berkomentar. "Anna-neun joheun yeojaya. Anna-wa gyeolhonhage doen geoseun haengunimnida (Anna wanita yang baik. Kau beruntung menikahinya)."
Logan diam-diam tersenyum bangga istrinya mendapat pujian. "Geuttae, naege mueose daehae iyagihago sipseumnikka? (Waktu itu, apa yang ingin Anda bicarakan dengan saya?)," tanyanya, tanpa basa-basi lagi.
Park Jiwon kecewa mungkin Logan merasa tak nyaman berbicara dengan ayah kandung yang telah membuangnya. Park Jiwon menabahkan hati dan mengerti. Maka, ia menjawab dengan tetap bersikap bijak.
"Geu jeone, dangsinege sagwahago sipseumnida. Nan neowa ne eommaleul chabeolyeosseo (sebelumnya, saya meminta maaf padamu. Saya telah membuangmu dan ibumu)," ujar Park Jiwon, lalu membungkuk dalam.
Logan terenyuh, tapi tak mau menunjukkannya. Sikap dinginnya yang tenang menutupinya. "Iyagileul deuleosseumedo bulguhago, ajig jigjeob haemyeongeul deudgo sipeo (walaupun saya sudah mendengar ceritanya, saya tetap ingin mendengar langsung penjelasannya dari Anda," kata Logan.
Park Jiwon mengangkat wajahnya, terpana sekaligus terharu. Apa harapannya mendapatkan maaf dari anaknya akan terwujud. Senyum simpul Park Jiwon menandakan kebahagiaan. Kedua pria itu mulai mengobrolkan hal yang ingin mereka sampaikan.
...đź’Ť...
Anna menatap wajah Logan. Suaminya tengah fokus menyetir dan melihat ke arah jalan. Anna tersenyum, Logan pun menyadarinya sebab tak sengaja meliriknya.
"Kenapa? Kok kayaknya senang banget?" tanya Logan menggoda.
"Senanglah!" seru Anna ceria, menyandarkan diri di jok mobil. "Karena suamiku menjadi pria paling lembut dan baik hati. Bagaimana rasanya setelah memaafkan ayahmu? Bukankah lebih melegakan?"
Logan akui itu, tetapi ia ingin mengolok-olok Anna dulu. "Nggak, biasa aja," sahut Logan.
__ADS_1
Sekonyong-konyong Anna menoyor bahu Logan seraya berseru. "Ih! Kamu benar-benar berhati batu!"
Logan terkekeh. "Nggak kok. Oke, oke, aku kasih review jujur. Em ... agak sedikit melegakan sih?" Akhirnya meralat ucapannya, daripada bahunya kena toyoran keras lagi dari istrinya.
Anna tersenyum bangga. "Benar, 'kan? Walaupun sedikit, setidaknya perdamaian lebih bagus daripada terus-terusan salah paham," sahut Anna, kini mengelus sayang pundak Logan.
Logan tersenyum senang sambil tetap fokus menyetir. Anna benar, hubungan antara ayahnya dan dirinya lebih baik, mungkin ia akan bersilahturahmi dengannya meski tidak sering, dan membicarakan soal bisnis bersama.
"Ngomong-omong, permintaan keduanya apa?" cetus Logan tiba-tiba teringat.
Ekspresi wajah Anna berubah muram, menunduk, mengunci bibirnya sejenak. Anna ragu apa akan meminta hal itu. Takutnya, akan ada pertengkaran di sini.
"Nanti saja kalau sudah sampai di rumah," jawab Anna memelan.
Logan penasaran, tetapi heran. Apalagi melihat air muka Anna berubah dari ceria menjadi murung. "Ya udah. Kau pasti lelah. Istirahatlah dulu, nanti aku bangunkan kalau sudah sampai di apartemen."
Namun, mata Anna tetap nyalang seraya memalingkan wajah ke jendela mobil. Tatapan kosong, merenung sendu. Logan memperhatikan dalam diam. Untuk mengusir keheningan, Logan menghidupkan radio, yang pas sekali memutar lagu Lee Hi yang berjudul "Only One".
Sebelum mencapai ke rumah, Logan berhenti di sebuah restoran cepat saji. Logan menepuk pelan pundak Anna, bermaksud membangunkannya.
Anna pura-pura tersentak dan mengucek matanya, lalu senyum palsunya terkembang. "Ada apa, sayang?"
"Kau ingin makan sesuatu. Akan aku pesankan. Kita makan di rumah," jawab Logan. "Aku nggak tega menyuruhmu memasak karena kau sedang kelelahan."
"Apa saja. Aku tidak mempermasalahkannya."
Logan paham, lalu turun dari mobil, memasuki restoran cepat saji. Tak lama kemudian, Logan kembali seraya membawa kantong yang berisi makanan pesanan mereka. Saat Logan masuk ke dalam mobil, ia melihat Anna tengah terpejam dengan kepala bersandar di pintu mobil.
Logan menghela napas. Jika seperti itu, kepala Anna bisa terbentur. Maka, Logan mengambil bantal leher, yang kemudian dikalungkan ke leher Anna dan mengubah posisi jok mobil. Setelah itu, barulah Logan melajukan mobil.
Anna yang sedang berpura-pura tidur terenyuh, semakin iba saja hatinya. Sebegitu cintanya Logan padanya.
__ADS_1
Mobil sudah sampai di apartemen. Anna bangun kala mobil berhenti di tempat parkir. Logan mendekap tubuhnya begitu Anna turun dari mobil. Anna tercengang sekaligus canggung. Anna tidak biasa mendapatkan perhatian seperti ini.
Namun, akhirnya Anna menerimanya, ikut tersenyum bersama dengan Logan. Pasangan itu berjalan bersama menuju unit apartemen mereka. Kebahagian seakan hinggap untuk beberapa waktu.
Anna dimanjakan oleh perhatian pria itu. Sebelum tidur, mereka makan malam. Yang menghidangkan makan malam adalah Logan—pria itu yang mengajukan diri. Anna disuruh duduk di kursi meja makan, sementara Logan mengeluarkan makanan dari plastik dan menghidangkannya.
"Yuk, kita makan," kata Logan seraya duduk di hadapan Anna.
Sebenarnya Anna tidak selera makan. Anna menatap makanan itu untuk beberapa saat. Namun, karena Logan telah memesankannya, Anna berusaha menelan makanan itu sampai habis.
"Itu kebab Turki, jadi pasti halal. Aku pernah survey ke sana, dan pemiliknya memang imigran Turki yang cukup lama tinggal di sana," kata Logan, daripada hening selama makan.
"Aku tahu," timpal Anna. "Akan aku habiskan."
Logan tak begitu yakin dengan ucapan Anna. Sejak tadi, Logan melihat kejanggalan dari sikap Anna yang tiba-tiba lebih banyak diam. Apa dia sakit?
"Sayang, ada apa sih? Kamu dari tadi diam aja, kayak nggak bersemangat. Kamu sakit?" tanya Logan, akhirnya mencetuskan isi pikirannya.
Anna terdiam dengan mata membulat menatap Logan. Kebab yang sisa setengah Anna letakkan di bungkusan karton, menghela napas seraya menimbang-nimbang. Tapi kemudian, Anna berkata:
"Soal permintaan kedua. Kau mau menyanggupinya, 'kan?"
Semakin janggal saja. Logan berpikir sebelum menjawab. "Iya, aku udah janji. Kenapa memangnya?" Dugaan buruk muncul seketika saat itu.
Jawaban Anna pada ponsel yang dikeluarkan dari sakunya. Anna menghubungi nomor kontak seseorang, kemudian memberikan ponselnya pada Logan begitu teleponnya tersambung.
Logan menerimanya seraya mengenyit. Di layar ponsel tidak tercantum nama kontak. Tapi dari nomornya, sepertinya nomor Indonesia. Logan merasa gugup dan firasat tidak enaknya semakin kuat. Ponsel itu diletakkan di dekat telinganya, mendengarkan suara sahutan yang tak asing.
"Halo, Anna?"
Logan mendelik, sontak melemparkan tatapan terkejut pada Anna. Namun, Anna menghindari tatapan itu, menunduk suram.
__ADS_1
"Apa-apaan ini, Anna?" tanya Logan dingin bercampur geram tertahan, meletakkan kasar ponsel Anna ke meja. "Kenapa kau menyuruhku berbicara dengan Nina?"[]