Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)
Selamat Tinggal, Ma


__ADS_3

Matthew berjalan cepat menuju ruang rapat, setelah mendengar bahwa beberapa orang pemengang saham perusahaan Jo Grup datang ke Jakarta.


"Pasti ulah Charlote!" gerutunya geram, napasnya terengah-engah.


Harun, pengacara yang mendampingi Matthew menyusulnya dengan bersusah payah. "Matt, tenangkan dirimu. Kita berjalan perlahan sambil membicarakan hal ini. Kita belum terlambat untuk menghadiri rapat itu.


Sahabatnya itu benar, dan Matthew memperlambat langkahnya. Napasnya kembali diatur menjadi normal dan tenang. Harun pun mensejajarkan diri di sampingnya sambil melakukan hal sama.


"Matt, Charlote mungkin menggunakan suara dari pemegang saham untuk melawanmu," kata pria berkacamata, yang rambutnya dipenuhi oleh uban sepenuhnya.


"Suara?" Matthew mengernyitkan dahi.


"Iya. Aku yakin, dia memiliki sebuah strategi untuk mengubah keputusan para pemegang saham, agar membelot padanya." Harun tak memberikan penjelasan langsung di lorong ini, karena ia akan membahasnya nanti di ruang rapat.


Matthew dan Harun masuk ke dalam ruangan itu, begitu sampai di sana sambil mencoba menghela keresahan mereka, dan membetulkan jasnya. Ada anggota pemengang saham yang sangat dikenal olehnya, yaitu ketiga sahabat karibnya; Fritz, Frans, dan Kevin. Ketiganya langsung menghampiri dan menjabat tangan matthew dan Harun, begitu mereka sampai di sana.


"Selamat pagi, semuanya," kata Matthew, memberikan kata sambutan.


"Saya mendengar kabar bahwa kalian semua sudah repot-repot datang ke sini untuk membicarakan sesuatu dengan saya."


"Ya, kau benar, Matthew," jawab Kevin, yang merasa tak perlu membuang waktu. "Saya mendengar bahwa 7 orang pemegang saham ingin membicarakan soal kualitas Logan sebagai ahli waris perusahaan kita."


Kemudian, Fritz menambahkan sambil melirik ketujuh orang itu dengan sinis. "Mereka beranggapan, bahwa Logan tidak pantas memegang status itu karena Logan hanya anak pungut."


Matthew berpikir, jemarinya saling terjalin di depan di hidungnya. "Apa kalian bertiga mempermasalahkan hal itu?" Pertanyaan ini hanya menguji ketiga sahabatnya.


Dan Franzlah yang menjawabnya. "Kita sudah membicarakan ini." Franz menyandarkan diri pada punggung kursi dengan santai. "Dan tidak ada masalah bagi saya soal ini. Selama ini, kita tahu kualitas Logan dalam menggendalikan perusahaan. Dan kami percaya akan hal itu."


Charlote tersenyum mencemooh. "Hmm ... itu hanya cara pandang dari sahabatnya. Tentu, kalian tidak akan enak melakukan penolakan."


Ketiga pria bule itu, ditambah Matthew, menoleh pada Charlote yang sedang mengipasi dirinya dengan sebuah kipas berbulu warna hitam. Wanita itu tersenyum, merasa menang, tak peduli wajah garang yang ditunjukkan oleh para pria itu.


"Maaf, Nyonya. Kami memiliki prinsip saat berbisnis. Kami tidak memandang sesuatu hal secara subjektif, melainkan secara objektif," sahut Fritz, merasa tidak terima.


"Coba kalian lihat!" Franz menunjuk pada ketujuh para pemegang saham. "Apakah kinerja Logan selama ini buruk? Pernahkah dia menjatuhkan perusaahan? Selama ini, dia yang memajukan perusahaan kita. Lantas, kenapa kalian meragukannya hanya karena dia seorang anak pungut?"

__ADS_1


"Dan lagi!" seru Kevin cepat menambahkan. "Logan hanyalah calon. Posisi pemilik perusahaan masih milik Matthew. Kenapa harus membicarakan hal ini sekarang?"


Ucapan yang menyakinkan membuat ketujuh para pemegang saham goyah. Mereka saling berdiskusi menyatakan pendapat. Matthew, Harun, dan ketiga sahabatnya tersenyum. Charlote tidak goyah, masih tersenyum optimis untuk menggoyahkan para pemegang saham. Ia menegakkan badan, menutup kipasnya, lalu meletakkannya di atas meja.


"Oya? Lalu, bagaimana dengan kasus Logan yang telah menghamili seorang wanita di luar nikah? Skandal itu bisa membuat harga saham turun kalau sampai tercium oleh masyarakat."


"Charlote, Diam!" bentak Matthew, menggebrak meja, sehingga semua orang terkejut dan menoleh padanya. Alih-alih mundur, Charlote malah tersenyum merendahkan.


"Matthew, tenanglah," kata Harun, agak berbisik.


Suasana tegang di ruangan itu menguasai, riuh para pemegang saham terdengar. Yang bersikap santai di sini hanya Fritz. Pria itu duduk tenang, tersenyum geli sambil memutar bangkunya.


"Apa kau lupa dengan yang terjadi pada Matthew?" katanya. "Hamil di luar nikah bukan hal tabu bagi negara kita. Saat hal itu diketahui oleh publik, tidak mempengaruhi perusahaan kita." Memang kenyataan hal itu tak bisa dipungkiri.


Senyum Matthew terkembang mengarah pada ketiga sahabatnya, karena para pemegang saham menyetujui ucapan Fritz. Charlote tak senang, tetapi tetap tak ingin menyerah. Tatapan murkanya diarahkan pada orang-orang yang ia minta dukungannya.


Sontak mereka terhenyak dan menundukkan kepala. Namun, akhirnya ada salah satu dari ketujuh orang itu terpaksa angkat bicara demi Charlote.


"Tapi tetap saja, Logan hanya anak adopsi. Dia bukan bagian dari keluarga Jonathan, meskipun pak Matthew telah memberikan nama belakangnya untuk Logan." Bagus! Sorak Charlote dalam hati, tersenyum lebar. "Perlakuannya akan berbeda ketika dia mendapatkan hak waris padanya. Tentu, dia akan semena-mena. Seorang anak kandung saja bisa tega pada orangtuanya karena haus kekuasaan. Nah, apalagi Logan, yang hanya anak pungut."


Matthew menggebrak meja sambil beranjak dari kursi, mengacungkan telunjuk dan melotot pada pria itu. "Jangan bicara sembarang! Tahu apa kalian soal Logan? Kalian tidak berhak menilainya tanpa tahu yang sebenarnya! Logan anak yang tahu diuntung. Dan kalian, cuma orang-orang yang dibayar oleh wanita tamak itu!"


Wajah-wajah pucat terlihat di wajah ketujuh orang itu. Semuanya bungkam, Charlote membuang muka sambil menggerutu. "Dibayar? Aku bahkan tidak memiliki uang. Bagaimana bisa kau menuding kami seperti itu?" balas Charlote, meski gugup, tapi tetap berusaha tenang.


Harun tersenyum, lantas berdiri, saatnya ia beraksi. Sebuah flasdisk dikeluarkan dari sakunya. Ia menghampiri laptop, menyalakan layar proyektor, lalu memutar sebuah video yang direkam secara diam-diam saat Charlote mengundang para pemegang saham untuk makan malam istimewa.


Kamera itu merekam dengan jelas bahwa Charlote memberikan mereka cek yang memilki nominal uang cukup fantastis. Wajah mereka seketika memucat dan langsung menunduk.


"Bagaimana aku bisa mempercayai kalian?" sindir Matthew sinis, matanya menyala bagai api yang membara. "Sudah bertahun-tahun kalian menjadi rekan bisnisku, tapi kalian mengkhianatiku seperti ini? Apa kalian tahu wanita seperti apa yang kalian bela? Dia wanita tamak yang hanya suka menghambur-hamburkan uang, meninggalkan anaknya demi berfoya-foya dengan warisan papa saya, lalu datang meminta hak dengan mengatasnamakan keadilan untuk anaknya."


Matthew menggebrak meja lagi. Dengan begitu, ia baru puas karena bisa meluapkan emosi yang tertahan di dalam dadanya sejak tadi. Pandangannya mengarah pada Charlote, tetapi wanita itu tidak dapat membalas tatapannya.


Kemudian, Matthew mengganti arah pandangannya pada 7 orang yang sedang menunduk kuyu. Senyumnya terkembang sinis dan menghina. "Jika kalian masih ingin bekerjasama denganku, kembalikan uang yang sudah diberikan Charlote pada kalian. Aku anggap, pembicaraan ini sudah selesai!"


"Tidak, belum selesai, Matthew!" seru Charlote, tiba-tiba beranjak dari kursinya. Ia masih belum kalah. Tatapannya mengarah pada 7 orang tadi. "Sebegitu mudahnya kalian goyah hanya karena itu?"

__ADS_1


"Nyonya Charlote," interupsi seorang wanita paruh baya, agak lantang. "Saya tidak bisa membela seorang ibu yang telah menelantarkan anaknya."


Tatapan Charlote garang sambil memiringkan kepala. "Apa? Kau percaya pada ucapan omong kosong itu, Madam Stefanie?"


Wanita yang bernama Stefanie itu mengeluarkan cek yang diberikan Charlote waktu itu, lalu menggesernya ke hadapannya. Gerakan itu juga dilakukan oleh 6 orang lainnya, lalu seorang pria bertubuh tambun dan rambut yang dipenuhi uban berkata:


"Maaf, Nyonya Charlote. Kami lebih mempertahankan kerjasama bisnis kami, daripada mengurusi ketamakan Anda. Sebaiknya, Anda menyerah pada ambisi Anda."


Charlote terngaga. Jemarinya terkepal hingga memutih, lalu ia mendengus. Suara pintu terbuka mengalihkan pandangan. Seseorang muncul, dan semua orang langsung terkejut, termasuk Charlote.


"Aurellie?" gumamnya memelan. Wanita berusia 35 tahunan itu menatapnya penuh tekad dalam beberapa saat, lalu berkata dengan tegas dan lantang, tapi tak bermaksud menyakiti.


"Hentikan, Ma." Permintaan dari seorang anak yang sudah ditelantarkan, tetapi masih tersimpan nada kelembutan, berharap dapat melunakkan hati sang ibu. "Aku tidak meminta Mama melakukan ini," kata Aurellie lagi, tatapannya mulai sendu, sambil menghampiri Charlote. "Aku tidak menuntut hakku karena aku sudah mendapatkan yang seharusnya."


Ketamakkan masih menguasainya. Justru ia yang malah berusaha meluluhkan hati Aurellie dengan meraih tangannya dan menatap mengiba. "Tidak, Sayang. Sebagai salah satu putri papamu, kau berhak untuk mendapatkan lebih dari seharusnya!"


Ditinggal oleh seorang ibu adalah hal tersedih yang pernah dirasakan. Namun, hati Aurellie bertambah hancur karena sang ibu memperalatnya hanya demi mendapatkan harta.


Aurellie menghempaskan tangan wanita itu, merasa bahwa tangan kotor itu tak pantas menggenggam tangannya. "Kalau Mama masih bersikeras, aku akan menuntutmu balik atas kasus penelantaran anak. Gugatan Mama terhadap kak Matthew hanya akan sia-sia saja."


Rahang Charlote mengeras, dengan mata menyipit. "Kau mengancamku?" tanyanya, ucapannya dalam dan geram.


"Aku menegaskan," balas Aurellie, begitu dingin, seakan hatinya telah membeku bagai gunung es. "Pikirkan baik-baik. Aku akan tetap menerimamu sebagai nenek dari anak-anakku, atau berakhir dengan kekalahan dan tinggal di panti jompo. Itu tempat yang pantas bagi ibu sepertimu."


Ucapan yang mengejutkan, tak pernah terbayangkan akan keluar dari mulut wanita berhati lembut itu. Matthew jadi cemas.


"Aurellie," imbaunya, sekaligus menegur wanita itu dengan lembut.


Aurellie menoleh sejenak dengan mata basah. "Enggak, Kak. Mama harus tahu betapa sakitnya penantianku, berharap mama datang sambil memelukku saat masih kecil. Kupikir, kematian papa akan membawa mama lebih dekat denganku, tapi nyatanya ... mama semakin menjauh." Ia melihat Charlote menunduk, entah itu tanda penyesalan atau malah sebaliknya.


Meskipun ia kecewa pada sikap mamanya, Aurellie masih berharap bahwa wanita itu menyesali perbuatannya. "Aku tidak berharap apa pun darinya kecuali kasih sayang," lanjut Aurellie. "Tapi jika dia masih bersikeras, jangan harap aku akan menganggapnya sebagai ibuku."


Penolakan yang menyakitkan dan kejam. Sebegitukah rasa bencinya terhadap sang ibu? Charlote tak bisa berkata dengan kepala menunduk dan mata mendelik. Aurellie berbalik sambil menyeka air matanya. Ia menghampiri Matthew, yang iba padanya, mengusap lembut pundak adiknya.


"Kau baik-baik saja?" tanyanya, yang dijawab oleh anggukan kepala dari Aurellie. Matthew menyudahi pertemuan, lantas semua orang keluar dari dalam ruangan, meninggalkan Charlote sendirian.[]

__ADS_1


__ADS_2